Halo!

Peninggalan Pusaka Keramat Chapter 11

Memuat...

Ahli senjata rahasia mana pun di dunia ini, sangat mementingkan unsur kecepatan, kuat, dan tepat. Tentu saja bagi orang yang tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat tinggi, dia dapat menggerakkan senjata rahasia dengan lambat tanpa mengurangi kekuatan maupun ketepatannya. Bahkan ada beberapa yang sanggup menyambit dan menarik kembali senjata rahasianya sesuka hati. Tapi hal ini hanya dapat dilakukan orang tertentu, yakni yang iwekangnya sudah mencapai taraf sempurna.

Berpuluh-puluh butir mutiara itu meluncur dari kejauhan dan mengayun-ayun seperti mengambang di atas permukaan air. Ketika sampai di depan mata mereka, keadaannya masih tetap sama. Sungguh tak dapat dibayangkan sampai dimana taraf tenaga dalam yang dimiliki orang yang melontarkannya!

Ketika Tao Ling masih termangu-mangu, puluhan hutir mutiara itu mulai tampak berubah. Terdengar suara desiran. Puluhan butir mutiara itu berputaran sehingga membentuk cahaya yang indah. Kemudian melesat secepat kilat lewat di samping kedua remaja itu, lalu menghilang begitu saja.

"Tao kouwnio, pasti cianpwe itu sedang menunjukkan jalan keluar bagi kita. Cepat kita ikuti untaian mutiara tadi!" ujar Lie Cun Ju.

Tadinya Tao Ling masih tidak yakin di tempat itu ada seorang tokoh berilmu tinggi. Tetapi setelah melihat ilmu yang dilancarkan melalui mutiara itu, akhirnya gadis itu pun percaya juga. Dia tidak berani menetap di sana lama-lama. Dengan mengikuti sisa berkas kilauan mutiara tadi, mereka melesat pergi. Tampak sebuah batu besar yang berbentuk aneh menghadang depan mereka. Namun mereka masih mengikuti lintasan kilauan cahaya tadi. Keduanya memutar ke sebelah kanan dan menerobos bebatuan yang bercelah. Tiba-tiba pandangan mata menjadi terang. Mereka sudah sampai di tepian sungai.

Lie Cun Ju dan Tao Ling dilanda perasaan tercekam. Cepat- cepat kedua remaja itu berlari menuju rakit yang telah mereka buat dari batang pohon. Ketika Tao Ling berlari sejauh beberapa langkah, dia melihat ada sedikit titik kilauan di atas tanah. Hatinya menjadi penasaran. Dengan cepat dia berlari kembali lalu memungut benda itu. Dia tidak sempat memperhatikan dengan seksama. Namun dia yakin yang dipungutnya itu untaian mutiara yang melayang-layang tadi. Dimasukkan-nya benda itu ke dalam saku celana kemudian berlari menyusul Lie Cun Ju yang sudah berada di atas rakit.

Dua remaja itu menggunakan ranting pohon untuk mengayuh rakit. Tidak ada lain yang terpikir kecuali meninggalkan tempat itu sejauh-jauhnya. Ketika menjelang pagi, mereka melihat sebuah perahu besar sedang melaju di tengah sungai yang luas.

Lie Cun Ju dan Tao Ling merasa lapar setengah mati. Belum lagi rasa lelah karena mendayung rakit sepanjang malam. Tanpa memperdulikan siapa pemilik perahu itu, mereka berteriak keras-keras meminta pertolongan. Tidak lama kemudian ada orang yang melemparkan seutas tali kepada mereka dan secara bergantian mereka pun naik ke atas perahu.

"Cun ke (Tukang perahu), terima kasih atas pertolongannya. Kalau boleh kami masih ingin merepotkan sedikit yaitu meminta sedikit makanan. Kami merasa berterima kasih sekali!"

Lie Cun Ju mengira tukang perahu itu pasti senang mendengar kata-katanya yang sopan. Tidak disangka-sangka orang itu malah bertanya dengan suara yang dingin, "Siapa kalian?" Mendengar pertanyaan itu, Tao Ling dan Lie Cun Ju segera mendongakkan wajah dan menatap dengan seksama. Tampak orang itu masih menggenggam seuatas tali yang digunakannya untuk menolong mereka. Orang itu bukan tukang perahu seperti yang dtduga Tao Ling maupun Lie Cun Ju, melainkan seorang manusia aneh. Tubuhnya tinggi kurus, pakaiannya serba hitam. Wajahnya mengenakan sebuah topeng berwarna merah darah. Penampilannya sungguh menyeramkan. Seandainya mereka tidak mendengar orang itu berbicara, mungkin mereka mengira telah bertemu dengan setan sungai.

"Siapa Anda sendiri?" Tao Ling balik bertanya.

"Kalian berdua membawa pedang ernas dan perak, tentunya putra putri dari Pat Kua Kim Gin Kiam bukan?" ujar orang aneh itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Begitu bertemu muka, orang itu sudah bisa menebak asal usulnya, bahkan menyebut gelar ayahnya, Lie Cun Ju terkejut sekali. Tetapi reaksinya sungguh cepat, dia menjawab.

"Pat Kua Kim Gin Kiam memang orang tuaku. Akan tetapi yang ini putri dari Pat Sian Kiam Tao Cu Hun, Tao tayhiap. Entah apa gelar Anda?"

Orang itu hanya tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan mengeluarkan suara siulan yang aneh dua kali. Sejenak kemudian terdengar balasan suara siulan yang sama dari dalam kabin perahu. Namun suara siulan balasan itu sebanyak tujuh kali.

"Liong wi silakan rnasuk ke dalam kabin!" kata orang itu Tao ling melirik ke arah Lie Cun Ju. Kebetulan pemuda itu

pun sedang menoleh kepadanya. Mereka sama-sama merasa bimbang karena tidak tahu tokoh mana atau siapa yang berada di dalam perahu itu. Tetapi mereka berada di tengah sungai, sedangkan rakit mereka telah terapung jauh. Kecuali masuk ke dalam kabin, memang tidak ada car a lainnya yang dapat ditempuh.

Mereka saling melirik lagi sekilas, seakan mengisyaratkan agar meningkatkan kewaspadaan. Tangan mereka masing- masing meraba pedang di pinggang. Agar dapat berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Kemudian kedua remaja itu mengikuti orang tadi masuk ke dalam kabin.

Mereka melihat depan kabin yang terselubung sebuah tirai tebal. Dengan berdampingan, Tao Ling dan Lie Cun Ju masuk ke dalam kabin. Tetapi baru saja mereka melangkah masuk, ada serangkum angin yang kuat menerpa ke arah mereka.

Keduanya rnerupakan putra putri dari tokoh yang terkenal. Mereka langsung sadar bahwa saat itu mereka telah dibokong oleh seseorang. Keduanya segera menghentikan langkah kaki mereka dan serentak menghunus pedang pusaka. Cahaya emas dan perak memijar, Lie Cun Ju mengerahkan jurus Matahari menggeser arah dan Tao Ling menggunakan jurus Merited mempertahankan negara, keduanya segera melancarkan serangan ke depan.

Kedua jurus yang dimainkan mereka merupakan jurus yang hebat dari Pat Kua Kiam Hoat dan Pat Sian Kiam Hoat. Di dalam hati mereka yakin jurus ini dapat menahan serangan orang yang membokong tadi. Baru saja pedang mereka gerakkan ke depan, dan belum sempat melakukan perubahan apa pun. Tahu-tahu pedang di tangan mereka tiba-tiba berubah menjadi berat dan tidak dapat digerakkan sama sekali.

Baik Tao Ling maupun Lie Cun Ju tersentak kaget hatinya. Saat itu mereka baru memperhatikan keadaan di dalam kabin. Rupanya tadi keduanya tiba-tiba dibokong oleh seseorang. Sehingga belum sempat memperhatikan keadaan di dalamnya.

Saat itu mereka baru melihat kabin perahu itu luas sekali. Di bagian tengah-tengah terdapat tiga buah kursi. Bagian kiri duduk orang yang menolong mereka tadi. Sedangkan di sebelah kanan seorang perempuan. Perempuan itu juga mengenakan pakaian serba hitam serta sebuah topeng bervvarna merah muda sebagai penutup wajah. Kursi yang di tengah kosong.

Tampak di sisi kiri kanan ketiga kursi itu berbaris helasan orang seperti elang yang membentangkan sayapnya. Sebeiah dalam orang yang paling tinggi dan terus menurun ke ujung orang yang paling pendek. Semuanya mengenakan pakaian hitam dan mengenakan topeng yang sama.

Di hadapan Lie Cun Ju dan Tao Ling berdiri seorang laki-laki bertuhuh pendek dan gemuk. Bagian wajahnya juga ditutupi topeng merah. Kedua lengannya terjulur ke depan. Ternyata dia mencapit bagian tengah pedang emas dan perak dengan kedua jari tangannya.

Lie Cun Ju dan Tao Ling sadar, ilmu kepandaian mereka masih cetek. Tetapi setidaknya mereka yakin ilmu yang diwariskan oleh orang tua mereka bukan ilmu sembarangan. Saat ini ternyata belum sejurus pun ilmu mereka dikerahkan, tahu-tahu pedang mereka sudah tercapit oleh laki-laki bertubuh gemuk pendek itu. Hal itu tidak terbayangkan oleh mereka sebelumnya.

Hati Lie.Cun Ju dan Tao Ling menjadi panik. Dua remaja itu saling melirik seakan mengambil sebuah keputusan. Lebih baik berusaha menarik kembali pedang, urusan lainnya belakangan. Tetapi orang bertubuh pendek gemuk itu masih tetap mencapit tubuh pedang mereka. Meskipun Tao Ling dan Lie Cun Ju sudah mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki, pedang itu tidak bergerak sedikit pun. Maju tidak bisa, ditarik pun tidak bisa.

Tiba-tiba Lie Cun Ju dan Tao I Jug merasa ada serangkum tenaga yang menerpa ke arah mereka dari bagian tubuh pedang. Tangan mereka merasa kesemutan dan tidak dapat ditahan lagi kelima jari tangan pun merenggang. Pedang emas dan perak terjatuh di atas lantai perahu.

Setelah pedang pusaka terlepas dari tangan, hati Tao Ling dan Lie Cun Ju semakin tercekat. Serentak mereka melangkah mundur ke pintu kabin. Tapi orang-orang yang berdiri di kiri kanan ketiga kursi langsung bergerak menghadang di pintu.

Mereka sadar, laki-laki bertubuh gemuk pendek itu saja tidak mungkin terhadapi, belum lagi orang lainnva. Maka pcrcuma saja memberikan perlawanan. Karena itu mereka membatalkan niat semula dan berdiri tegak menunggu perkembangan berikutnya.

"Mengapa Anda sembarangan merebut pedang pusaka dari tangan kami?" tegur Lie Cun Ju.

Orang bertubuh gernuk pendek itu tertawa terkekeh-kekeh. Suara tawanya aneh sehingga menimbulkan kesan menyeramkan dan membuat bulu kuduk TaoLing maupun Lie Cun Ju jadi merinding. Orang itu membalikkan tubuh dan berjalan ke tengah kabin. Dia duduk di kursi tengah yang kosong itu. Topeng di wajahnya bergerak-gerak ketika dia menoleh ke kiri dan kanan.

"Kedatangan kita kembali kesini, boleh dikatakan tidak diketahui seorang pun. Tetapi sekarang malah dipergoki kedua anak muda ini. Kita harus menggunakan cara membunuh agar ini mulut mereka bungkam. Kalau tidak pasti akan terjadi kerugian yang besar di pihak kita," ujar orang bertubuh pendek gemuk itu.

"Apa yang dikatakan toako memang benar!" sahut orang yang duduk di sampingnya, sambil menganggukkan kepala.

Pembicaraan mereka seperti diucapkan sepatah demi sepatah. Tetapi bagi pendengaran Tao Ling dan Lie Cun Ju, justru menimbulkan kesan menakutkan. Ada satu hal lagi yang membuat pikiran mereka resah, yaitu mereka belum pernah mendengar orang menceritakan tokoh-tokoh seperti orang- orang di hadapan mereka. Tampang dan penampilan mereka begitu misterius.

Tampak laki-laki bertubuh gemuk pendek itu mendongakkan wajahnya. Matanya menyorotkan sinar yang tajam menatap Lie Cun Ju serta Tao Ling lekat-lekat. Pandangan matanya membuat hulu kuduk Tao Ling meremang kembali. Diam-diam Tao Ling mengulurkan tangannya dan meraih semua senjata rahasianya yang ada untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.

"Sebetulnya, kami tidak ingin turun tangan mencelakai siapa pun. Akan tetapi gerak gerik kami ini tidak ingin diketahui oleh orang lain. Sedangkan tanpa disengaja kalian sudah naik ke atas perahu kami. Biar bagaimana pun jejak kami sudah bocor. Terpaksa kami memilih jalan memhunuh agar mulut kalian hungkam. Seandainya kalian masih mempunyai pesan yang ingin disampaikan kepada sanak saudara, silakan katakan saja. Kami pasti akan menyampaikannya!" ujar lelaki bertubuh pendek gemuk itu.

"Kami . . ." ujar Lie Cun Ju terputus.

Orang bertubuh gemuk pendek itu menjulurkan tangannya menahan perkataan Lie Cun Ju.

Post a Comment