Hubungan kedua remaja itu sudah semakin akrab. Rasanya agakjanggal kalau mengingat koko Tao Ling yang membunuh koko Lie Cun Ju. Bahkan orang tua mereka juga sudah saling memalingkan muka. Tetapi mereka berdua masih muda, jiwa mereka masih polos. Walaupun ketika baru hertemu, hati mereka merasa tidak enak juga, tetapi perjuangan di tempat terpencil selama sehari penuh membuat huhungan mereka jadi dekat kemhali. Bahkan Lie Cun Ju mengatakan 'orang tua kita' di hadapan Tao Ling.
Mereka segera merampungkan rakit tadi. Meskipun hati Tao Ling agak panik ingin mengetahui nasib orang tuanya setelah perahu yang mereka miliki terbelah menjadi dua bagian lalu tenggelam, tetapi dia lebih tidak puas dengan jawaban Lie Cun Ju mengenai tempat itu.
"Aku tidak percaya ada hutan rahasia yang menghadang di depan kita. Pasti ada yang aneh pada tempat itu," kata- katanya demikian tegas.
Mata Tao Ling mengedar ke sekeliling tempat itu dengan penasaran. Gadis itu melihat ada sebatang pohon yang tingginya niencapai kira-kira lima depa. Tampak pohon itu menjulang tinggi bagaikan tangga panjang. Wajah Tao Ling langsung berseri-seri.
"Sudah ada! Kita naik ke atas pohon itu agar kita bisa melihat ke bagian tengah hutan agar kita tahu keanehan apa yang terdapat di sana. Bagaimana menurut pendapatmu?"
Dalam hati Lie Cun Ju, Tao Ling adalah seorang gadis yang periang dan lincah. Walaupun di antara kedua keluarga niereka berlangsung pertikaian yang cukup dalam, tapi dalam hati kecilnya mengakui hahwa kesan gadis ini sangat baik baginva. Mendengar perkataan Tao Ling, dia segera mendongakkan kepalanya melihat ke arah pohon yang ditunjuk Tao Ling.
"Baik!"
Tanpa disadari, sepasang remaja itu bergandengan tangan dan berlari menuju pohon itu. Setelah sampai di bawah pohon. Tao Ling baru merasa bahwa kemesraan mereka sudah melampaui batas. (Perlu diketahui bahwa pada jaman itu laki-laki dan perempuan tidak boleh saling bersentuhan. walaupun hanya pegangan tangan saja, kecuali abang adik atau suami istri). Wajah Tao Ling merah padam, cepat-cepat dia melepaskan tangannya dari pegangan Lie Cun Ju.
Sepasang kaki gadis itu menghentak kemudian tuhuhnya pun mencelat ke atas. Tangannya terulur untuk meraih sebatang cabang pohon. Lie Cun Ju memandangi gerakan tubuh Tao Ling sampai terkesima beberapa saat. Setelah gadis itu sudah berhasil mcncapai ke atas pohon tiba-tiba mengeluarkan seruan terkejut. Lie Cun Ju lersentak sadar dari lamunan. Cepat dia mendongakkan wajahnya dan melihat ke atas. Tampak Tao Ling berdiri di atas sebatang ranting pohon. Sedangkan ranting itu agak lemas sehingga tubuh gadis itu berayun-ayun seakan setiap waktu.bisa terjatuh ke bawah.
"Tao kouwnio, kau tidak apa-apa?" tanyanya setengah berteriak.
"Cepatlah kau naik kemari! Cepat!" sahut Tao Ling.
Lie Cun Ju tidak tahu apa yang terjadi. Cepat-cepat dia melesat naik ke atas dan menerobos gerombolan daun yang lebat. Dia sempat mendengar gerakan tubuh Tao Ling. Ketika dia sudah mencapai ketinggian tiga depa lebih, dia mendongakkan kepalanya lagi. Tetapi dia tidak berhasil melihat gadis itu lagi.
Rupanya pohon yang mereka panjat itu sebatang pohon Liong Pek yang usianya mungkin sudah ratusan tahun. Daunnya lebat sekali. Sewak-tu pemuda itu ada di bawah pohon, dia bisa melihat pakaian Tao Ling yang berkibar-kibar sehingga tahu dimana gadis itu berada. Tetapi setelah dia naik ke atas, pandangan matanya terhalang oleh dedaunan yang rimbun sehingga tidak dapat melihat gadis itu lagi. Mendengar seruan Tao Ling seperti melihat sesuatu yang mengejutkan, dia menggerakkan tubuhnya untuk mencelat lebih tinggi lagi ke atas.
"Tao kouwnio, aku datang!" seru Lie Cun Ju
Lie Cun Ju melesat lagi stiengah depa. Rasanya jarak dirinya dengan puncak pohon tinggai sedikit lagi. Baru saja dia menarik nafas dalam-dalam untuk mencelat naik lagi, tiba-tiba bagian tengkuknya terasa geli, seperti ada orang meniup bagian belakang tengkuknya itu.
"Tao kouwnio, kau memang nakal!" kata pemuda itu sambil tertawa geli.
"Apanya yang nakal? Cepat kau lihat, pemandangan ini pasti belum pernah kau saksikan seumur hidup!" Suara Tao Ling berkumandang dari atas.
Lie Cun Ju terkejut sekali mendengar suara Tao Ling berkumandang dari atas. Tadinya rlia mengira gadis itu yang meniup tengkuknya sehingga terasa hangat dan geli. Oleh karena itu, dia mengatakan 'Tao kouwnio, kau memang nakal!' Tetapi dari nada Tao Ling saat ini, paling tidak gadis itu masih satu depa di atasnya. Walaupun ilmu silat Lie Cun Ju belum sampai taraf yang tinggi, tapi dia mengetahui dengan pasti bahwa seseorang yang jaraknya satu depaan tidak mungkin rnenghembuskan angin ke tengkuknya apalagi terasa hangat seakan ditiup dari dekat.
Tentu saja, kesadarannya tergugah. Ada orang lain di atas pohon ini keculai mereka berdua. Dan orang itulah yang mempermainkannya!
Berpikir sampai di sini, perasaan Lie Cun Ju jadi terkesiap. Cepat-cepat dia menolehkan kepalanya dan bermaksud membentak: 'Siapa?', tapi seluruh tubuhnya langsung bergetar, hampir saja pegangannya pada ranting pohon terlepas.
Rupanya tadi dia hanya memusatkan pikiran-nya untuk naik ke atas pohon, dia mengira di bagian belakangnya masih ada ranting pohon dengan dedaunan yang lebat. Kini tiba-tiba dia menolehkan kepalanya dan ternyata bagian belakangnya merupakan udara yang melompong dan tidak ada tempat persembunyian sama sekali. Lalu dari mana datangnya udara atau dengus nafas yang dirasakannya tadi?
Hati Lie Cun Ju dilanda kebingungan dan merinding. Cepat- cepat dia memanjat ke atas pohon dan tidak berani berdiam di tempat semula lama-lama. Sesampainya di puncak pohon, dia melihat wajah Tao Ling menyiratkan perasaan terkejut, matanya menatap ke depan seperti terkesima oleh suatu pemandangan. Cepat-cepat dia mengalihkan perhatiannya mengikuti arah mata Tao Ling. Dia langsung terpana.
Di bagian tengah hutan itu, ada sebidang tanah berbentuk bundar. Di bawah cahaya rembulan, di permukaan tanah itu timbul cahaya yang mengapung dan terang sekali. Cahaya itu begitu menyilaukan mata seperti lampu yang besar sekali menyorot dari atasnya. Bagi orang-orang sekarang mungkin merasa diri sendiri berada di alam dewa-dewi. Karena di alam manusia tidak mungkin ada cahaya sebesar itu. Juga tidak mungkin berkelip-kelip seperti penuh bertaburan bintang.
Lie Cun Ju mernandang dengan terkesima, tanpa sadar dia bertanya.
"Tao kouwnio, apa itu?"
Tao Ling menggelengkan kepalanya.
"Aku juga tidak tahu, mungkinkah sebuah danau kecil?" "Kalau benar danau, paling tidak airnya akan hergerak sedikit-sedikit, tetapi cahaya itu pasif, tidak bergerak sedikitpun."
"Mudah, untuk mengetahui benar tidaknya, biar aku coba sebentar!"
Pedang Lie Cun Ju dipindahkan ke tangan kiri, tangan kanan menyusup ke balik pakaian serta mengeluarkan tiga batang senjata rahasia. Baru saja dia ingin melemparkan tiga batang piau tadi ke berkas cahaya yang terlihat, Lie Cun Ju teringat hawa hangat yang terasa di tengkuknya.
"Tao kouwnio, tunggu sebentar. Aku rasa di pulau ini tinggal seorang tokoh sakti yang mengasingkan diri. Jangan sampai membuatnya marah, agar ada keuntungannya bagi kita!" katanya mengingatkan.
"Masa nyalimu begitu kecil?" Tao Ling menoleh sambil tersenyum.
Wajah Lie Cun Ju merah padam. Mana ada anak muda yang sudi dikatakan pengecut di depan seorang gadis cantik? Tetapi watak Lie Cun Ju selalu waspada.
"Tao kouwnio tadi ketika aku memanjat sampai pertengahan pohon ini, tiba-tiba aku merasa tengkukku ditiup oleh seseorang. Karena itu, aku teringat kembali dan mengingatkanmu."
"Tidak usah takut! Ada apa-apa, biar aku yang bertanggung jawab!" Kedua jari telunjuk dan jari tengahnya mengibas, terdengar suara Serrr! Beberapa batang senjata rahasia itu meluncur ke arah berkas cahaya yang terlihat. Tetapi ketika senjata rahasia itu hampir mencapai sasarannya, tiba-tiba seperti ada kekuatan yang tidak herwujud mengalahkan luncuran senjata rahasia itu sehingga bergerak ke samping lalu jatuh di atas tanah. Saat itu rembulan sedang bersinar penuh. Mereka dapat melihat jelas senjata rahasia itu mengilaukan sinar dan ter jatuh di atas tanah. Tao Ling jadi tertegun beberapa saat.
"Aneh! Senjata rahasiaku tadi, paling tidak dapat meluncur sejauh dua-tiga depa dan menancap ke dalam pohon sedalam setengah cun. Menga-pa tiba-tiba kekuatannya melemah malah terjatuh ke samping!"
Melihat kenyataan itu, Lie Cun Ju semakin yakin dengan dugaannya.
"Tao kouwnio, yang paling penting bagi kita adalah meninggalkan tempat ini. Tidak perlu perdulikan masalah lainnya!"
"Tidak bisa! Eh, bagaimana dengan ilmu gin kangmu?" Wajah Lie Cun Ju menyiratkan rona merah.
"Tenaga dalamku belum seberapa tinggi, sehingga ilmu gin kang juga biasa-biasa saja!"
"Coba kau lihat, bundaran cahaya itu, paling-paling berjarak sepuluh depaan dari tempat ini. Kita turun sedikit ke bawah lalu menggunakan bantuan ranting pohon mengayun ke tempat itu. Coba kau lihat apakah kita hisa mencapai bundaran cahaya tersebut?" ujar Tao Ling sambil menunjuk ke bawah.
"Rasanya aku tidak sanggup!" Lie Cun Ju menggelengkan kepala.
"Kalau begitu kau tunggu di sini, biar aku yang meloncat turun dan melihat apa sebenarnya bundaran cahaya itu. Nanti aku kembali lagi!"
Lie Cun Ju terkejut sekali mendengar Tao Ling ingin meloncat ke bundaran cahaya itu. Saat ini dia sudah mulai menaruh perhatian yang cukup besar pada Tao Ling. Bukan karena dia tidak yakin dengan ilmu gin kang gadis itu, melainkan dia khawatir di balik bundaran cahaya itu ada sesuatu yang membahayakan, Hatinya ingin mencegah, tetapi ketika dia melirik Tao Ling sekaligus melihat kepastian di wajah gadis itu, percuma melarangnya.
"Tao kouwnio, kalau kau hendak meloncat ke bundaran cahaya itu, biarlah aku menemanimu!" ucap Lie Cun Ju.
Hati Tao Ling tergerak, dia segera menolehkan wajahnya. Sepasang mata gadis itu menyiratkan sinar yang aneh. Tao Ling menatap Lie Cu Ju sambil mengerling beberapa kali.
"Tadi kau sendiri menyatakan bahwa ilmu gin kangmu belum sanggup meloncat ke bawah, mengapa sekarang tiba- tiba kau bersedia menemani aku?" tanya Tao Ling heran.
Lie Cun Ju masih muda belia dan tidak ada pengalaman menghadapi anak gadis. Sesaat dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Sekali lagi Tao Ling melirik kepadanya sambil tersenyurh manis.
"Tentu kau khawatir aku turun sendiri kesana maka kau bertekad menemaniku bukan?" tanya Tao Ling kembali.
Dengan susah payah Lie Cun Ju menganggukkan kepalanya. Tao Ling menarik nafas panjang.
"Lie .. . toako, ada sesuatu yang sejak tadi ingin kubicarakan denganmu."
"Silakan kouwnio katakan saja!" sahut Lie Cun Ju cepat. "Keluarga kita bertemu secara tidak terduga-duga di tengah
perjalanan. Dengan demikian kita jadi saling mengenal. Siapa
yang menyangka dalam waktu beberapa hari bisa terjadi peruhahan seperti ini. Lie toako, apakah kau membenci kokoku?"
"Iya!" sahut Lie Cun Ju tegas.