Halo!

Peninggalan Pusaka Keramat Chapter 08

Memuat...

Udara tiba-tiba menjadi gelap. Seperti akan terjadi hujan badai. Dari tadi Tao Ling tidak memperhatikannya. Sebetulnya ketika meninggalkan gedung Kuan Hong Siau, cuaca sudah mulai berubah. Mendung tebal menyelimuti seluruh daerah itu. Angin bertiup dengan kencang, ombak di sungai menggelora, satu menghempas yang lain dengan begitu besarnya sehingga sangat mengejutkan.

Berkali-kali Tao Ling menyembulkan kepalanya, namun setiap kali dia dihantam oleh ombak yang besar sehingga kepalanya terasa pusing. Permukaan sungai juga gelap gulita. Entah kemana perginya rembulan yang bersinar penuh tadi. Tao Ling sendiri tidak tahu di mana dirinya berada. Dia membiarkan arus sungai membawa dirinya. Setelah timbul tenggelam beberapa kali, akhirnya dia berhasil meraih sekeping papan.

Akhirnya sepanjang malam Tao Ling terombang ambing oleh ombak. Dia melihat matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur. Tetapi tiba-tiba turun hujan yang lebat. Begitu derasnya sehingga permukaan sungai mirip dengan panci berisi air mendidih. Kabut yang tebal melayang-layang. Matahari yang baru muncul sedikit segera tertutup kembali oleh awan yang tebal. Gadis itu semakin tidak jelas di mana dia berada. Sepanjang malam, dia dilanda perasaan lapar dan kedinginan. Letihnya tidak dapat dikatakan lagi. Dia hanya dapat pasrah terhadap nasib, tidak sanggup menemukan akal yang baik untuk menyelamatkan diri.

Lambat laun, hujan mulai reda. Tiba-tiba saja Tao Ling merasa gerakan air tidak sederas sebelumnya lagi. Dia sadar dirinya terbawa arus sepanjang malam. Paling tidak dia sudah hanyut sejauh dua-tiga ratus li. Saat ini air sungai tidak sederas tadi, mungkin dia sudah sampai ke bagian hulu sungai. Dia berusaha menyembulkan kepalanya. Tampak pemandangan di hadapannya tidak jelas. Tidak lama kemudian, gerakan tubuhnya semakin lambat. Dia merasa kakinya menyentuh sesuatu.

Hatinya tercekat, namun sesaat kemudian Tao Ling hampir menertawakan dirinya sendiri. Ternyata kakinya telah menginjak dasar sungai yang dangkal. Dia berdiri tegak. Batas permukaan air hanya sampai di dadanya. Dengan menyeret kakinya, gadis itu melangkah ke tepian sungai. Hujan masih turun rintik-rintik. Dia memperhatikan keadaan di sekelilingnya bagai terdampar di sebuah perbukitan yang kosong. Tidak ada rumah penduduk sebuah pun. Malah berkesan sedikit menyeramkan. Tapi Tao Ling bukan gadis penakut. Dia merambat ke atas tepian sungai dan menguatkan dirinya untuk melangkah ke depan sejauh kira-kira lima depa. Tao Ling sampai ke dalam sebuah hutan. Pohon-pohon yang tinggi dan lebat melindungi dirinya dari tetesan air hujan. Tidak berapa lama kemudian, dia melihat ada dua gubuk yang agak reot di hadapannya. Melihat gubuk itu, hati Tao Ling merasa gembira. Meski atap rumah gubuk itu sudah terkuak di sana-sini sehingga air hujan menembus celah itu dan jatuh menetes ke dalam, namun bagi Tao Ling saat itu bagaikan menemukan sebuah istana yang mewah.

Tao Ling masuk ke dalam pondok dan merebahkan tubuh di atas balai-balai tanpa memperdulikan keadaan tubuhnya yang basah kuyup. Tao Ling berbaring di atas balai-balai itu, dan telinganya masih mendengar suara rintik hujan yang semakin reda. Akhirnya dia pun tertidur dengan pulas.

Ketika terbangun dari tidur, Tao Ling melihat sinar mentari yang redup. Ternyata hari sudah menjelang siang. Tapi karena baru turun hujan deras, matahari masih menyembunyikan sebagian dirinya. Gadis itu mengeringkan pakaiannya dengan berjemur di bawah matahari. Setelah itu dia berjalan ke depan untuk melihat-lihat. Tao Ling tahu bahwa dia berada di daerah yang sangat luas.

Tetapi dia tidak melihat hal-hal tertentu, sehingga tidak dapat menentukan di mana dia berada. Entah utara, selatan, timur atau barat? Di sekelilingnva hanya terlihat pepohonan yang lebat. Sepert: berada di tengah hutan tak berpenghuni.

Diam-diam Tao Ling berpikir dalam hati. — Apabila aku membuat sebuah rakit dari batang pohon, mungkin aku bisa meninggalkan tempat ini --

Tetapi yang paling penting bagi Tao Ling sekarang adalah mencari makanan untuk mengisi perut. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dia melihat seseorang keluar dari hutan. Kedua orang itu saling menatap dan keduanya menjadi tertegun. Ternyata orang yang berjalan keluar dari hutan itu, bukan orang lain, melainkan Lie Cun Ju. putra pasangan suami istri Lie Yuan. Sebelah tangannya menggenggam pedang emas. sedangkan tangan yang satunya menggenggam pedang perak. Tidak terlihat sarung pedang menyelip di antara punggungnva. Tampaknva dia juga terhanyut oleh derasnya air sungai dan terdampar di tempat itu juga.

Sebetulnya tidak ada permusuhan antara keluarga Lie dengan keluarga Tao. Secara tidak terduga-duga mereka bertemu di tengah perjalanan sehingga terjadi perkenalan. Kesan yang didapat dari Li Po serta Lie Cun Ju dua bersaudara itu tidak jelek bagi Tao Ling. Tetapi sekarang kedua keluarga itu telah terjadi permusuhan yang dalam. Tao Ling juga tidak bermaksud menemui pemuda itu dalam keadaan seperti ini.

Setelah tertegun sejenak, Tao Ling cepat-cepat memalingkan vvajahnya dan menyimpang ke arah yang lain. Lie Cun Ju juga termangu-mangu heberapa saat, kemudian dia membalikkan tubuhnya berjalan ke arah yang Iain pula. Tapi seberapa besarnya tempat mereka terdampar itu? Setelah berputar-putar sekian lama, akhirnya mereka berpapasan lagi.

Tao Ling mengeluarkan suara dengusan dari hidung. Lie Cun Ju juga sedih mengingat kematian kokonya. Tapi walaupun usianya masih muda, Lie Cun Ju adalah seorang pemuda yang dapat membedakan baik dan buruk. Dia tidak menimpakan kesalahan kepada orang lain yang tidak bersangkutan, walaupun orang yang membunuh abangnya itu Tao Heng Kan, abang dari gadis di hadapannya itu.

"Tao kouwnio . . ." Lie Cun Ju menyapa Tao Ling.

Tao Ling tidak menyah ut sepatah kata pun. Lie Cun Ju menarik nafas panjang. "Tao kouwnio, di antara keluarga kita bisa terjadi peristiwa sedemikian rupa, aku benar-benar tidak menduganya!" sapanya lagi.

"Kenyataan memang sudah terjadi, apalagi yang dapat dikatakan?" sahut Tao Ling.

"Tao kouwnio, ada suatu masalah yang terus mengganjal di dalam hati ini, bolehkah aku menanyakannya?" kata Lie Cun Ju kembali.

"Mengenai apa?" Gadis itu balik bertanya sambil mengibaskan rambutnya yang masih basah.

"Tao kouwnio, tahukah kau apa sebabnya abangmu menurunkan tangan keji kepada Li Po kokoku?"

Sejak kejadian itu, Tao Ling juga dilanda kebingungan oleh pertanyaan yang sama. Sekarang dia mendengar nada suara Lie Cun Ju yang seakan tidak mengandung permusuhan dengannya. Dia pun menarik nafas panjang.

"Aku juga tidak tahu. Kokoku itu selamanya jujur dan baik hati. Tidak pernah aku melihat dia melukai seekor kucing pun."

"Apakah akhir-akhir ini, kokomu bergaul dengan orang yang jahat?"

Tao Ling menggelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin." Tao Ling menggelengkan kepala. Lie Cun Ju juga menarik nafas panjang.

"Peristiwa ini bukan main anehnya. Tadi malam, ketika perahu terbelah menjadi dua bagian, tanpa disengaja aku melihat seseorang bertubuh tinggi dan kurus. Seperti bayangan sebatang pohon dan membopong kokomu pergi. Orang itu meloncat ke atas permukaan air lalu melesat dengan mengapung di atasnya." Tao Ling terkejut setengah mati. Karena bayangan orang yang disebut oleh Lie Cun Ju itu, dia pun pernah melihatnya. Tarnpak Lie Cun Ju menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bingung.

"Tadinya aku mengira pandangan mataku kurang beres. Coba kau bayangkan! Setidaknva tokoh-tokoh di dunia bu lim ini sudah mempunyai pengetahuan yang lumayan. Orang tua kita sering menceritakan setiap tokoh bu lim yang namanya terkenal, sanggup rnelayang di atas permukaan air. Ilmu gin kangnya (Meringankan tubuh) sudah mencapai taraf tertinggi. Di dalam dunia ini ada berapa orung yang sanggup melakukan hal yang sama? Saat itu, aku panik sekali karena ingin menolong kedua orang tuaku, tidak disangka mereka tidak berhasil tertolong, malah aku yanj; dihempas ombak besar."

Perasaan anti pati di dalam hati Tao Ling terhadap Lie Cun Ju sudah semakin berkurang.

"Bagaimana dengan orang tuaku, apakah kau melihat mereka?" tanya Tao Ling.

Lie Cun Ju menggelengkan kepalanya, "Cuaca malam itu gelap sekali. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tao kouwnio, apabila kita bekerja sama membuat rakit dari batang-batang pohon, rasanya tidak sulit bagi kita untuk meninggalkun tempat ini." Sembari berkata, Lie Cun Ju mengulurkan pedang peraknya ke hadapan Tao Ling.

"Pedang perak itu pusaka warisan keluarga, apakah kau rela meminjamkannya kepadaku?" ujar Tao Ling dengan tersenyum.

"Mengapa Tao kouwnio mengucapkan kata-kata seperti itu?"Lie Cun Ju tertawa getir.

Tao Ling juga tidak sungkan lagi menerima pedang perak yang disodorkan Lie Cun Ju. Pedang itu tajam sekali. Sebentar saja mereka sudah berhasil menebang beberapa hatang pohon siong. Hari mulai gelap. Tao Ling merasa perutnya sakit karena menahan lapar.

"Kau tidak lapar? Bagaimana kalau kita mencari makanan di sekitar tempat ini?" tanyanya kepada Lie Cun Ju.

"Baiklah!" Kedua orang itu segera masuk ke dalam hutan, dan memutar satu kali. Tempat itu tampaknya tidak seberapa luas. Tetapi setelah kedua orang itu mengitarinya, mereka merasakan sesuatu yang aneh.

Ternyata setelah berjalan kesana kemari, mereka tetap kembali ke tempat semula. Tampaknya mereka tidak berhasil menyusup ke tengah hutan. Padahal arah yang dituju mereka itu menuju ke tengah hutan, namun entah mengapa tahu-tahu mereka kemhali lagi ke tempat semula.

Tidak lama kemudian, rembulan sudah menggantung di atas cakrawala. Mereka belum juga menemukan binatang buruan. Akhirnya Tao Ling memetik beberapa buah untuk mengisi perut.

"Apakah kau merasakan bahwa sejak tadi kita tidak bisa menemhus ke dalam hutan?" tanya Tao Ling keheranan.

"Memang aneh! Mari kita coba lagi!" sahut Lie Cun Ju.

Saat ini. perasaan anti pati Tao Ling terhadap Lie Cun Ju sudah sirna sama sekali. Dengan menggenggam pedang masing-masing mereka ber-jalan ke tengah hutan. Tetapi baru setengah perjalanan, mereka sudah kemhali lagi ke tempat semula.

Saat ini, kedua orang itu baru yakin, bahwa hutan itu mengandung keanehan. Tao Ling mempunyai watak serba ingin tahu, berkali-kali dia menyerukan kata aneh.

"Mungkin di dalam tempat ini terdapat hutan rahasia yang menghadang langkah kita sehingga tidak bisa terus ke dalam. Tao kouwnio, sebaiknya kita rampungkan rakit ini kemudian berusaha menemukan orang tua kita," ucap Lie Cun Ju kepada Tao Ling.

Post a Comment