Halo!

Peninggalan Pusaka Keramat Chapter 06

Memuat...

Wajah Tao Cu Hun berubah hebat. Terdengar dia menggumam seorang diri. "Tidak bertemu dengan orang lain selamanya?" Baru saja ucapannya selesai, dari luar kabin terdengar suara siulan yang aneh. Sret! Sret! Berbunyi dua kali. Dua batang pedang menembus jendela kabin itu.

Penerangan di dalam kabin sebetulnya agak suram. Tetapi ketika kedua buah pedang tadi menembus jendela, tiba-tiba saja pandangan menjadi silau. Ternyata kedua batang pedang itu terdiri dari emas dan perak, yakni Pat Kua Kim Gin Kiam yang terkenal di dunia kang ouw. Tanpa perlu ditanyakan, mereka sudah paham bahwa pasangan suami istri Lie Yuan sudah menyusul datang.

Rupanya sejak kepergian Tao Cu Hun beserta istri dan putrinya, perasaan pasangan suami istri Lie Yuan semakin benci. Juga mendapat sebuah ingatan secara tidak terduga- duga. Apabila Tao Heng Kan melarikan diri lewat jalur sungai tentu orang itu tidak bisa lari terlalu jauh. Malah ada kemungkinan dia bersembunyi di perahunya sendiri. Karena itu Lie Yuan segera mengatakannya kepada Kuan Hong Siau. Kemudian serombongan orang secara diam-diam menyusul ke perahu Tao Cu Hun. Sedangkan keempat orang yang sedang berada di dalam kabin perahu justru sedang ribut dengan masalahnya sendiri. Belum lagi kebingungan dengan bayangan yang tinggi kurus tadi. Maka mereka tidak menyadari bahwa ada serombongan orang sudah sampai di depan geladak perahu mereka. Sampai kedua batang pedang emas dan perak ditusukkan ke dalam jendela, mereka baru terkejut setengah mati.

Reaksi Tao Ling paling cepat, begitu melihat kedua batang pedang itu, dia langsung menarik tangan kokonya kemudian didorong ke dalam ruangan satunya. Di kabin itu sendiri, Tao Cu Hun masih berdiri dengan termangu-mangu. Sementara itu, kedua batang pedang tadi bergerak sehingga jendela kabin tersebut menjadi terbabat dan terlihat celah yang besar. Lie Yuan dan istrinya, Lim Cing Ing menerobos masuk saat itu juga.

"Dimana anak jadah itu?"

Perasaan Sam Jiu Kuan Im Sen Cing seakan diganduli beban yang berat. Baru saja dia berniat mengarang sebuah kebohongan, tahu-tahu sesosok bayangan sudah berkelebat masuk. Jenggot yang putih mengibar-ngibar, Kuan Hong Siau juga sudah menghambur masuk ke dalam perahu itu.

"Tao tayhiap, Sen lihiap, peristiwa ini terjadi di rumah kediamanku, biar bagaimana aku tidak bisa berdiam diri, harap kalian tidak menyalahkan aku!" kata orang tua itu.

Hati Sen Cing bagai disayat sembilu.Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Sepatah kata pun tidak sanggup diucapkannya. Lie Yuan malah memper-dengarkan suara tawa yang aneh.

"Tadi kami mendengar suara si anak jadah itu, mana mungkin dia bersembunyi di tempat lain. Suruh keluar, cepat!" bentaknya.

Sepasang pedang emas dan perak kembali diadukan. Terdengar suara trang! Dua berkas cahaya memijar. Sinarnya menyelimuti seluruh kabin perahu itu. Tao Cu Hun juga menggerakkan pedang Hek Pek Kiamnya.

"Kalian ingin berkelahi?"

"Manusia she Tao, kau lupa dengan kata-katamu sendiri di taman bunga rumah Kuan loya?"

Kenyataannya Tao Cu Hun memang mengeluarkan perkataan bahwa dia sendiri tidak akan melepaskan Tao Heng Kan apabila kepergok olehnya. Sebetulnya da lam hati dia masih mempunyai pikiran yang sama. Tetapi biar bagairnana hubungan seorang ayah dan anak tidak bisa disamakan dengan orang lain. Apabila meminta dia menyerahkan anaknya sekarang, hatinya diliputi kebimbangan juga. Suasana di dalam kabin, hening mencekam untuk sesaat. Tiba-tiba Tao Ling berteriak dengan keras.

"Koko! Kau tidak boleh keluar!"

Dalam waktu yang bersamaan terdengar ben-takan Tao Heng Kan.

"Kau jangan mengurus aku!" Sesosok ba-yangan melesat, tahu-tahu Tao Heng Kan sudah keluar dari tempat persembunyiannya.

Pasangan suami istri Lie Yuan meiihat musuh besar mereka. Mata merah menatap dengan kemarahan yang berkobar-kobar. Sepasang pedang perak dan emas diluncurkan, sehingga tim-bul cahaya yang menyilaukan mata. Tampak pedang itu berhenti di depan Tao Heng Kan.

Pemuda itu tidak menghindar. Lie Yuan membentak dengan suara keras.

"Anak jadah, tahukah kau saat kematianmu sudah tiba?" bentak Lie Yuan.

Sen Cing bermaksud mencegah, tetapi tangannya ditarik oleh Tao Cu Hun dan digenggam erat-erat. Sam Jiu Kuan Im Sen Cing menolehkan kepalanya. Tampak wajah suaminya menyiratkan penderitaan yang tidak terhingga. Hati wanita itu ikut merasa perih. Dia sadar watak suaminya selama ini jujur dan menjunjung tinggi keadilan. Walaupun urusan ini menyangkut putranya sendiri, dia juga tidak sudi membantah hati nuraninya. Lim Cing Ing maju beberapa langkah. Sepasang pedang emas dan perak menuding jantung dan punggung Tao Heng Kan dari depan dan belakang. Lie Yuan menggeretakkan giginya erat-erat.

"Anak jadah, putra kami tidak mempunyai permusuhan apa pun denganmu, mengapa kau membunuhnya dengan cara demikian keji?" bentak laki-laki setengah baya itu. Mimik wajah Tao Heng Kan juga menyiratkan penderitaan, tetapi penampilannya tetap tenang. Dia melirik sekilas kepada kedua orang tua dan adiknya, kemudian menarik nafas panjang. Tetapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Lie Yuan menolehkan kepalanya kepada Kuan Hong Siau. "Kuan loya, kau adalah tuan rumah, bagaimana harus menyelesaikan urusan ini, kami meminta pendapatmu!"

Kuan Hong Siau menyahut dengan tegas. "Membunuh orang harus diganti dengan nyawa!"

"Tepat!" kata Lie Yuan dan Lim Cing Ing serentak. Tenaga dalam dikerahkan pada lengan kanan, asal didorong sedikit saja kedua batang pedang itu pasti menembus jantung dan punggung Tao Heng Kan.

Tao Cu Hun, Sen Cing, dan Tao Ling melihat orang yang mereka cintai akan menerima hukuman mati. Tetapi mereka tidak sanggup memberikan bantuan sedikit pun. Dengan hati perih sekali, cepat-cepat mereka memaiingkan kepala karena tidak sanggup melihat kematian Tao Heng Kan. Jika mendengar suara jeritan Tao Heng Kan berarti tiba saatnya nyawa pemuda itu meninggalkan raganya.

Tetapi setelah menunggu sekian lama, masih belum juga terdengar suara apa pun. Tanpa dapat menahan perasaan heran, mereka bertiga menolehkan kepalanya. Tampak Tao Heng Kan memejamkan matanya menunggu kematian. Lie Yuan masih menudingkan pedangnya ke arah jantung Tao Heng Kan, demikian pula istrinya juga menudingkan pedangnya ke bagian punggung pemuda itu. Wajah mereka menyiratkan kemarahan, tetapi mereka masih belum menusukkan pedangnya.

Sen Cing tidak tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi, dia membentak dengan suara tajam, "Manusia she Li, mau bunuh silakan! Mengapa kalian menyiksanya sedemikian rupa?" Orang yang sudah mati sudah terbebas dari segalanya. Keadaan apa pun tidak dirasakan lagi. Dia juga tidak merasakan adanya penderitaan. Rasa sakit hanya dialaminya beberapa saat sebelum menjelang kematian. Sen Cing mengira kedua orang itu sengaja tidak turun tangan segera agar putranya merasa menderita. Penyiksaan bathin ini sungguh mengerikan, lebih menyakitkan daripada penyiksaan badan.

Kuan Hong Siau yang memperhatikan dari samping juga mempunyai pemikiran yang sama. "Lie lote, cepat turun tangan!" Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba Kakek Kuan melihat kejanggalan pada diri suami istri Lie Yuan.

"Lie lote, kenapa kau?" tanya Kakek Kuan bingung.

Tetapi baik pedang ernas Lie Yuan maupun pedang perak Lim Cing Ing tidak menyahut sepatah kata pun. Bahkan mereka tidak bergerak sama sekali. Mereka bagai patung yang berdiri tegak.

Saat itu, Kuan Hong Siau sadar telah terjadi sesuatu yang tidak wajar. Bahkan Tao Cu Hun, Sen Cing dan Tao Ling juga dapat merasakannya. Tapi mereka masih belum yakin. Kalau dilihat dari keadaan mereka, tampaknya pasangan suami istri Lie Yuan telah tertotok jalan darahnya oleh seseorang. Namun peristiwa ini rasanya tidak masuk akal!

Karena bukan saja pasangan suami istri itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi, bahkan orang-orang yang ikut hadir di perahu itu juga mempunyai kepandaian yang tidak rendah. Mengapa tanpa terlihat apa pun yang mencurigakan tahu-tahu pasangan suami istri itu telah tertotok jalan darahnya?

Kuan Hong Siau maju dua langkah, tangannya menepuk pundak Lie Yuan. Terdengar suara Trang! Pedang emas di tangan laki-laki itu terjatuh ke lantai perahu, Lie Yuan juga terkulai jatuh. Baru saja tubuh Lie Yuan terkulai jatuh, seseorang sudah menerobos ke dalam kabin sambil berseru, "Tia, Ma . . . apakah dendam koko sudah terbalas?"

Orang itu putra kedua pasangan suami istri Lie Yuan, Lie Cun Ju. Begitu masuk, dia melihat musuh besar mereka masih berdiri dalam keadaan baik-baik saja, malah ayahnya yang terkulai di atas lantai perahu. Hatinya tersentak sekali.

"Tia, Ma . . . apa yang terjadi?"

Kuan Hong Siau mengibaskan tangannya.

"Jangan cemas!" Tubuhnya bergerak seperti angin berhembus. Dia sudah berdiri di samping Lim Cing Ing dan menyentuh tangannya sedikit. Kembali terdengar suara Trang! Pedang perak terjatuh, Lim Cing Ing sendiri juga menggubrak ke belakang.

Tao Ling yang melihat keadaan itu, cepat-cepat menarik tangan Tao Heng Kan. Lie Cun Ju melesat seperti anak panah. Dipungutnya pedang emas dan perak yang terjatuh di atas lantai.

"Tia, Ma . . . sebetulnya apa yang terjadi pada diri kalian?"

Karena paniknya dia sampai tidak menyadari bahwa ayah ibunya tidak mungkin menjawab per-tanyaannya itu. Sedangkan Kuan Hong Siau menepuk beberapa bagian tubuh Lie Yuan dan Lim Cing Ing berkali-kali. Maksudnya ingin membebas-kan jalan darah mereka yang tertotok. Tetapi cara apa yang digunakan seseorang untuk menotok jalan darah Lie Yuan dan istrinya, ternyata Kakek Kuan tidak mengetahuinya.

Post a Comment