Halo!

Peninggalan Pusaka Keramat Chapter 05

Memuat...

"Tia, ma ... seandainya koko sampai berhasil ditangkap oleh mereka . . ."

Baru berbicara sampai di situ, Tao Ling melihat wajah ayahnya yang angker dan menghijau. Orang yang melihatnya pasti ketakutan. Rupanya dia menyadari perbuatan abangnya itu sudah cukup menyakitkan hati ayahnya. Tentu ayahnya tidak akan mengakui lagi Tao Heng Kan sebagai putranya. Apabila ketiga orang tadi berhasil mengejar abangnya dan menyeretnya ke depan ayahnya, laki-iaki setengah baya itu juga tidak akan menghalangi mereka membunuh Tao Heng Kan.

Tidak lama kemudian Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan sudah kembali lagi. Tiba-tiba terdengar suara desiran senjata tajam, sebuah batu besar yang ada di hadapan Tao Cu Hun langsung terbelah menjadi empat bagian.

Perlahan-lahan Tao Cu Hun mendongakkan wajahnya. Sepasang mata Lie Yuan merah mem-bara dan mendelik kepadanya.

"Manusia she Tao, aku ingin mendengar tanggapanmu mengenai persoalan ini!" bentaknya keras-keras. Wajah Tao Cu Hun nmsih menghijau. Lim Cing Ing segera menghunus pedang peraknya.

"Untuk apa mengoceh panjang lebar dengan-nya?" kata Lim Cing Ing.

Cring! Pedangnya meluncur ke depan. Ujungnya bergetar dan dapat terlihat jelas bahwa wanita itu mengincar empat jalan darah utama di dada Tao Cu Hun. Seandainya sampai terkena serangan itu, jangan kan pedang tajam, dengan ujung jari saja nyawa seseorang sulit dipertahankan.

Tapi Tao Cu Hun tetap tidak bergerak, meskipun sepasang matanya melihat cahaya berkelebat. Tampaknya laki-iaki itu sudah pasrah mengorbankan jiwanya di ujung pedang perak milik Lim Cing Ing. Tiba-tiba istrinya Sam Jiu Kuan Im membentak keras, "Tunggu dulu!"

Wuutt! Trang! Cahaya melintas, Sen Cing menggunakan goloknya menahan serangan Lim Cing Ing. Golok Sen Cing membentur pedang Lim Cing Ing sehingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga.

Lim Cing Ing memperdengarkan suara tawa yang dingin, "Heh! Sejak tadi kau memang sudah harus turun tangan!" katanya sinis.

Kaki Lim Cing Ing bergerak menggeser ke samping satu langkah. Dalam waktu yang bersamaan, dia memutar pedangnya dan melancarkan sebuah serangan kembali. Timbul bayangan cahaya pedang yang berderai di bawah cahaya rembulan, menyilaukan pandangan mata. Ilmu silat kedua wanita ini memang mempunyai keunggulan masing- masing.

Melihat Lim Cing Ing melakukan penyerangan kembali, Sen Cing lalu mengambil tindakan mempertahankan diri. Sekali lagi goloknya mengibas ke depan menahan serangan Lim Cing Ing. Cepat dia mencelat mundur dan mengeluarkan sebuah pecui yang panjang. Pecut itu merupakan senjata lentur dan dapat digerakkan sesuka hati. Batikan dengan hve kang yang kuat, pecut itu dapat menjadi tegak lurus bagai sebatang tombak. Ketika masa mudanya, Sen Cing pernah melanglang buana di dunia kang ouw dengan pecut saktinya itu.

Tampak Sen Cing tidak membalas serangan. Rupanya mengingat bahwa kesalahan memang terletak pada pihak anaknya sendiri. Maka dia hanya berdiri tegak.

"Lie lihiap, kau sudah gila? Segala dendam harus ada awalnya, mengapa kau menyerang kami?"

Lim Cing Ing tertegun sejenak. Dia tidak menyangka lawannya akan mengeluarkan kata-kata seperti itu.

"Orang yang barusan membunuh itu memangnya bukan anakmu?" bentaknya tidak mau kalah.

Mimik wajah Sen Cing menyiratkan penderitaan yang tidak terkirakan, namun jawabannya terdengar tegas.

"Lie lihiap, kau anggap siapa kami Miami istri? Orang itu sudah melakukan kejahatan yang tidak terampunkan, apakah kami masih bersedia mengakuinya sebagai anak?"

Hati Tao Ling tersentak mendengar perkataan ibunya. "Ma!"

"Kau jangan ikut campur!" Sen Cing membentak dan mengibaskan tangan.

Tao Ling tidak berani bicara lagi. Dia menggeser kembali ke samping ibunya.

"Apakah persoalannya harus diselesaikan begitu saja?" bentak Lim Cing Ing.

"Para tokoh di sini dapat dijadikan saksi. Tao Heng Kan merupakan penjahat yang harus kita hadapi bersama, tidak terkecuali kami suami istri," kata Tao Cu Hun dengan tegas.

Wajah Lie Yuan semakin membesi. "Bagus sekali! Kuan loya, mari kita teruskan meneguk arak sambil menikmati indahnya rembulan!" Tadi mereka sudah mencari di sekitar rumah itu namun tidak berhasil menemukan bayangan Tao Heng Kan. Dia yakin anak muda itu sudah melarikan diri lewat jalur sungai.

Keperihan di hati Lie Yuan dapat dibayangkan. Namun dia masih menjaga nama baiknya sendiri. Lagipula dia yakin dengan ketenaran namanya di dunia kang ouw, bukan hal yang sulit untuk menangkap Tao Fleng Kan. Apalagi Tao Cu Hun sendiri sudah menyatakan tidak mengakui lagi pemuda itu sebagai anaknya. Dengan demikian percuma saja dia bicara banyak. Terpaksa dia menahan kemarahannya dan berlagak bersikap seorang pendekar besar.

Tapi baru saja terjadi peristiwa yang niengejut-kan, siapa yang sempat memikirkan soal minum arak ataupun menikmati indahnya rembulan?

Tidak ada seorang pun yang bersuara, apalagi Cio losam dan Kongsun Ping, mereka berdua seperti tersumpal mulutnya, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

Lim Cing Ing mengeluarkan delapan buah lencana berbentuk pat kua yang sebelahnya berwarna emas dan sebelahnya lagi berwarna perak.

"Cun Ju!" panggil Lim Cin Ing dengan suara lantang.

Putra kedua pasangan suami istri Lie Yuan bernama Lie Cun Ju. Usianya masih muda sekali. Paling-paling tujuh belas tahun. Cepat-cepat dia menyahut panggilan ibunya.

"Ma, ada apa?"

"Bawa lencana ini dan minta para jago di sungai telaga untuk menangkap Tao Heng Kan!" Lim Cing Ing menyerahkan delapan lencana pat kua ke tangan Cun Ju.

Kuan Hong Siau juga menurunkan perintah kepada para anak buahnya untuk segera meringkus Tao Heng Kan apabila mereka menemukannya.Wajah Tao Cu Hun, Sen Cing dan Tao Ling semakin kelam.

"Kami mohon diri!" ucap Tao Cu Hun dengan nada berat.

Kuan Hong Siau juga tidak menahan mereka. Ketiga orang itu kembali ke perahunya sendiri. Tapi baru saja niereka menginjakkan kakinya, hati mereka tersentak bukan main!

Ternyata lampu di kabin perahu itu masih menyala. Lewat jendela kertas mereka melihat dua sosok bayangan. Yang satu tinggi kurus, tidak mirip dengan manusia normal. Sedangkan bayangan yang lainnya tidak asing lagi bagi mereka. Dia justru Tao Heng Kan yang tadi menimbulkan bencana besar.

Tao Cu Hun, Sen Cing dan Tao Ling mengeluarkan desahan panjang. Keluhan ketiga orang itu mengandung makna yang berlainan. Hati Tao Ling terkejut, dia menyesalkan kokonya yang tidak tahu mati, bukannya lari jauh-jauh agar tidak terkejar malah bersembunyi di dalam perahu. Watak Tao Cu Hun polos dan jujur. Sejak kematian Li Po, dia sudah tidak mengakui Tao Heng Kan sebagai anaknya. Yang aneh justru bayangan yang satunya, entah siapa orang itu? Sedangkan Sen Cing biar bagaimana pun tetap menyayangi putranya sendiri. Dia merasa marah tapi juga cemas.

Begitu terdengar suara keluhan dari mulut ketiga orang itu, Tao Heng Kan langsung berdiri tegak. Dalam waktu yang bersamaan, pandangan ketiga orang itu menjadi buram. Bayangan yang berbentuk tinggi kurus itu tiba-tiba menghilang, bahkan dengan ketinggian ilmu yang dimiliki oleh Tao Cu Hun dan Sen Cing masih belum sanggup melihat bagaimana cara orang itu pergi.

Mula-mula Tao Ling yang melontarkan seruan.

"Koko, mengapa kau tidak melarikan diri sejauh-jauhnya?" seru Tao Ling.

"Aku . . . aku .. ." Sikap Tao Heng Kan gugup sekali. Belum lagi dia sempat mengatakan apa-apa, Tao Cu Hun sudah melangkah ke depan dan me-ngirimkan sebuah pukulan. Tubuh Tao Heng Kan tergetar mundur dua langkah. Tao Cu Hun mengi-kutinya. Dirampasnya pedang Hek Pek Kiam yang masih tergenggam di tangan anaknya.

"Anak jadah!" bentaknya marah.

Baru melontarkan cacian itu, hatinya terasa pedih sekali. Wajahnya mengerut-ngerut kemudian dipalingkan ke arah lain. Tangannya bergerak dan menggetarkan pedangnya ke depan.

Tao Heng Kan tidak menghindar. Wajahnya menyiratkan perasaan serba salah.

"Tia!" panggilnya.

"Tia, jangan melukai koko!" Tao Ling juga ikut berteriak.

Sebetulnya, mana tega Tao Cu Hun membunuh anaknya dengan pedang sendiri? Tapi perbuatan Tao Heng Kan sudah kelewat batas. Dia sudah melukai lawannya dalam pertandingan ilmu kemudian malah membunuhnya dengan keji. Seandainya dia sendiri tidak membunuhnya, orang lain pasti menginginkan kematian anaknya itu. Kefika dia menjulurkan pedangnya ke depan, dia mendengar suara panggilan kedua anaknya. Tangannya jadi lemas seketika. Luncuran pedangnya juga tidak sekuat tadi. Sen Cing segera menggerakkan sebelah kakinya menendang pedang Hek Pek Kiam sehingga hampir saja terlepas dari genggaman Tao Cu Hun. Setelah itu dia rnenghambur dan menghadang di depan anaknya.

"Cu Hun, tadi di dalam kabin ini masih ada orang lain, cepat cari!" katanya untuk mengalihkan perhatian suaminya.

"Koko, siapa orang yang bersama denganmu tadi?" tanya Tao Ling. Meskipun kabin perahu itu cukup luas, tapi tidak banyak barang yang ada di dalamnya. Begitu masuk tadi, ketiga orang itu sudah memperhatikan keadaan sekitarnya. Tidak tampak ada orang yang menyembunyikan diri. Terpaksa mereka menunggu jawaban dari Tao Heng Kan. Tetapi jawaban anak muda itu justru membuat mereka semakin bingung.

"Di dalam kabin ini tidak ada siapa-siapa, aku hanya seorang diri di sini!"

Tao Ling menghentakkan kakinya di atas Iantai perahu dengan kesal.

"Koko, mengapa kau masih tidak berterus terangjuga?

Sebetulnya mengapa kau membunuh Li Po?"

Tiba-tiba Tao Heng Kan menyurut mundur satu langkah, dia membalik ke arah jendela. Pat Sian Kiam Tao Cu Hun langsung membentak.

"Anak jadah! Jangan harap bisa melarikan diri!” Sen Cing cepat menghadang ke depan anaknya.

"Cu Hun! Kau hanya mempunyai seorang putra!" teriaknya.

"Aku tidak mempunyai putra seperti dia!" sahut Tao Cu Hun sepatah demi sepatah.

"Kau tidak punya, aku punya!" kata Sen Cing kesal. Wajah Tao Cu Hun semakin kaku.

"Hari ini apabila kita tidak membunuhnya, bagaimana kelak kita bisa menemui para sahabat di dunia kangouw?"

"Jangan kata hal ini tidak diketahui siapa pun, seandainya pun ada yang mengetahui, apa salahnya tidak bertemu dengan orang lain seumur hidup? Cu Hun, kau lupa apa tujuan kita datang ke Si Cuan?"

Post a Comment