Halo!

Peninggalan Pusaka Keramat Chapter 04

Memuat...

Julukan yang diberikan oleh orang-orang dunia kang ouw kepada wanita ini adalah Sam Jiu Kuan Im. (Dewi Kuan Im tangan tiga). Hal ini karena dia memang ahli am gi (senjata rahasia). Ilmu ini sudah dikuasainya dengan mahir. Sekali menjentikkan tangan, beberapa batang biji teratai yang terbuat dari besi segera meluncur ke tubuh pedang Hek Pek Kiam.

Sam Jiu Kuan Im Sen Cing seialu membawa berbagai senjata rahasia. Jenisnya tidak kurang dari delapan macam. Setiap kali diluncurkan seialu tepat sasaran. Tidak ada satu pun yang menim-bulkan suara keras, datang dan perginya seperti setan gentayangan. Belum sempat pedang Hek Pek Kiam mengenai dada Li Po, terdengar suara tring! Biji teratai tadi membentur tubuh pedang anaknya sendiri. Tapi pedang yang satu ini memang luar hiasa. Meskipun Sam Jiu Kuan Im seorang pendekar wanita yang terkenal dalam bidang senjata rahasia, tapi biji teratai yang membentur tubuh pedang Hek Pek Kiam hanya membuat pedang itu bergeser sedikit. Gerakannya tetap meluncur ke depan mengincar pundak Li Po. Bara saja Sen Cing berinaksud mengerahkan senjata rahasia lagi, periling Hek Pek Kiam sudah menembus pundak Li Po sedalam empat cun. Secepat kilat Li Po mencelat mundur, pedang Hek Pek Kiam tercabut keluar seiring dengan gerakan tubuhnya itu. Pada saat yang sama, orang-orang yang berkumpul di taman bunga itu sudah bangkit dari bangku masing-masing.

"Cu wi jangan bergerak, berhenti!" teriak Kuan Hong Siau. Suaranya bagai geledek yang bergemuruh di angkasa.

Tampak jenggotnya melambai-lambai dan tubuhnya sudah melesat ke depan. Tapi tepat pada saat itu juga, Tao Heng Kan sudah menghambur ke depan secepat kilat dan pedangnya dibalik-kan kemudian menikam bagian punggung Li Po.

Seandainya serangan Tao Heng Kan sebelumnya hanya ingin membuktikan bahwa Pat Sian Kiam Hoatnya tidak kalah dengan Pat Kua Kiam, meskipun perbuatannya agak telengas, tapi masih dapat dimaklumi orang-orang yang hadir di tempat itu. Namun saat ini Li Po sudah terluka. Tao Heng Kan malah melancarkan iagi serangan yang lebih keji. Hal ini membuktikan bahwa dia memang berniat menghabisi nyawa Li Po. Orang-orang yang hadir di tempat itu menjerit ngeri. Pasangan suami istri Tao Cu Hun dan putrinya Tao Ling lebih bingung lagi. Mereka tidak habis pikir, mengapa Tao Heng Kan yang selama ini berbudi luhur dan suka mengalah tiba-tiba berubah demikian drastis. . .? Mereka melonjak bangun dari tempat duduk masing-masing dan menghambur ke arah Tao Heng Kan.

Namun kejadiannya berlangsung terlalu cepat. Dengan menahan rasa sakitnya, Li Po membalikkan tubuh, dia mengangkat pedangnya ke atas seakan siap menghadapi musuh. Saat itu Tao Heng Kan sudah mengubah lagi jurus serangannya. Dia menggunakan jurus Matahari Bergeser Arah, pedangnya berkelebat, dia mengibas dari kiri ke kanan. Setelah itu bergerak ke bawah. Cahaya pedang berkelebat. Pedang Hek Pek Kiam telah menebas dari pundak kiri Li Po sampai ujung siku. Li Po menjerit ngeri. Tubuhnya terhuyung- huyung. Darah segar memercik ke mana-mana. Tampaknya luka yang diderita pemuda itu kelewat parah. Seandainya tabib sakti Hua To hidup kembali, belum tentu nyawa Li Po dapat dipertahankan!

Walaupun orang-orang yang hadir di tempat itu sudah menyadari maksud Tao Heng Kan yang tidak baik, tetapi mereka tidak menyangka anak muda itu masih melakukan penyerangan pada lawannya yang sudah terluka. Hal ini merupakan pantangan besar, juga merupakan perbuatan yang dianggap paling rendah oleh kalangan bulim. Orang-orang yang hadir jadi terpana. Sedangkan Tao Heng Kan menggenggam pedang Hek Pek Kiam dengan mendongakkan wajahnya.

"Koko! Kau ingin mati? Cepat lari!" teriak Tao Ling dengan panik.

Teriakan itu menyadarkan Tao Heng Kan. Juga menyentakkan kebengongan yang lainnya. Kuan Hong Siau melancarkan sebuah serangan ke depan. Pada saat itu tubuh Tao Heng Kan sedang melayang di udara. Dorongan angin kuat yang terpancar dari serangan Kuan Hong Siau membuat tubuhnya melambung semakin jauh.

Kuan Hong Siau mendongkol sekali melihat serangannya malah membuat pemuda itu berjarak semakin jauh dengan para tokoh yang berkumpul di tempat itu. Sementara itu, pasangan suami istri Li Yuan dan putra mereka yang satunya lagi, Lie Cun Ju langsung menghambur ke depan untuk melihat keadaan Li Po. Tapi pemuda itu hanya sempat mengucapkan sepatah kata . . .

"Balaskan dendamku!" Nafasnya pun terputus.

Lie Yuan tidak sempat bersedih hati. Dia memungut pedang emasnya yang tergeletak di atas tanah. Cring! Tubuhnya berdiri kembali dengan tegak.

"Mari kita kejar!" katanya dengan suara lantang. Lim Cing Ing juga mencabut pedang peraknya. Pat Kua Kim Gin Kiam memang terdiri dari sepasang pedang, yang satu terbuat dari emas, sedangkan pasangannya terbuat dari perak. Kedua orang itu mengikuti Kuan Hong Siau dari belakang. Mereka mengejar Tao Heng Kan yang sudah berada pada jarak kurang lebih belasan depa di depan. Baru saja mereka menggerakkan kakinya, terdengar suara bentakan yang nyaring.

"Cuwi, harap berhenti sebentar!" Sesosok bayangan herkelebat dan berhenti di depan Kuan Hong Siau. Dia adalah putri kedua pasangan Tao Cu Hun, Tao Ling.

Kuan Hong Siau sempat tertegun sejenak. Saat yang sekejapan mata saja, pasangan suami istri Lie Yuan sudah menyusul tiba. Putra mereka mati dalam keadaan yang membingungkan. Kebencian di hati meluap-luap. Melihat Tao Ling menghadang di depan mereka, sret! Srett! Dua batang pedang menyapu ke arahnya. Namun Tao Ling seorang gadis yang cerdas otaknya. Sejak semula dia sudah mengadakan persiapan. Cepat-cepat dia mencelat mundur sambil mengibaskan tangannya. Beberapa paku kecil melesat ke depan. Sekaligus dia juga berteriak dengan lantang.

"Kokoku itu selamanya tidak pernah melakukan kejahatan. Di balik semua ini pasti ada apa-apanya. Harap kalian jangan sembarangan mengambil tindakan!"

Ilmu silat Tao Ling kalau dibandingkan dengan Kuan Hong Siau, apalagi suami istri Lie Yuan tentu terpaut jauh. Ketika dia menyambitkan senjata rahasia berupa paku kecil, Kuan Hong Siau menghantamkan telapak tangannya ke depan. Puluhan paku kecil itu pun tersampok jatuh dan menimbulkan suara dentingan.

Kebencian dalam hati Lie Yuan tidak terhingga. Tapi biar bagaimana dia masih menjaga kedudukannya sendiri yang terpandang di dunia bulim. Tentu tidak baik baginya untuk melakukan penyerangan pada seorang angkatan muda seperti Tao Ling. Melihat Kuan Hong Siau menyampok jatuh berpuluh batang paku kecil tadi, dia juga menghantamkan sebuah pukulan ke arah sisa paku kecil itu.

Pat Kua Kiam Lie Yuan merupakan salah satu jago kenamaan di Tiong Goan. Tenaga dalamnya sangat tinggi. Ketika dia melancarkan sebuah pukulan ke depan, sisa empat batang paku kecil itu tertahan sekilas kemudian terpental kembali dan meluncur ke arah Tao Ling. Itu yang dinamakan senjata makan tuan!

Jelas Tao Ling sendiri juga menyadari bahwa kepandaiannya yang masih cetek tidak dapat diandalkan untuk menghadang Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan. Tetapi dia seorang gadis yang teliti. Selama dua hari ini dia sudah memperhatikan tingkah laku abangnya seperti janggal dan seakan menyimpan kesusahan yang tidak dapat dikatakan. Tetapi Tao Heng Kan selalu mengelak apabila gadis itu menanyakannya.

Hatinya memang sudah curiga, apalagi sekarang tanpa sebab musabab Tao Heng Kan membunuh Li Po. Meskipun dia tidak tahu mengapa, tapi dia yakin abangnya mempunyai alasan tersendiri. Tao Heng Kan seorang peniuda berjiwa besar, tidak mungkin dia mencelakai seseorang tanpa alasan atau penyebab tertentu.

Karena itu pula, dia bertekad menunda pengejaran Kuan Hong Siau dan yang lainnya, dengan mengandalkan beberapa puluh batang paku kecil tadi. Dengan demikian abangnya bisa berlari lebih jauh. Tapi dia tidak menyangka Lie Yuan akan menyampok senjata rahasianya bahkan membalik ke arahnya sendiri. Kekuatan tenaga Lie Yuan sungguh dahsyat. Saking terkejutnya, Tao Ling sampai menahan nafas. Tubuhnya bergetar dan saat itu juga keempat paku kecil yang disambitkan-nya tadi sudah menancap ke dalam pundaknya.

Setelah terluka, tubuh Tao Ling limbung. Pukulan yang dilancarkan Lie Hujin membawa angin yang kuat dan menerpa tubuhnya. Dia langsung jatuh terjerembab di atas tanah. Tiga sosok bayangan melesat lewat di atas kepalanya. Pikirannya masih sadar, dia tahu apabila kokonya saat ini sampai terkejar oleh ketiga orang itu, tidak lebih dari tiga jurus pasti tertangkap. Dengan demikian nyawanya juga tidak dapat dipertahankan. Dengan menahan rasa sakit, dia berjungkir balik di udara. Ketika tubuhnya membalik, tangannya mengibas sekali lagi. Segenggam jarum perak diluncurkannya ke depan.

Pada saat itu, Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan baru saja melesat lewat, sedangkan serangan jarum peraknya tidak menimbulkan suara sedikit pun. Tapi ketiga orang itu masing-masing menguasai ilmu yang tinggi. Sambaran angin dari belakang dapat terasa oleh mereka. Pasangan suami istri Lie Yuan menoleh dengan wajah menyiratkan kemarahan. Tao Ling takut mereka akan menghantam kembali jarum perak itu ke arahnya, cepat-cepat dia melesat secepat kilat dan menghindar sejauh-jauhnya.

Ketiga orang tadi menghentakkan kakinya untuk berjungkir balik di udara. Dengan demikian jarum perak yang dilontarkan Tao Ling tadi meleset lewat. Tetapi ketika mereka menjejakkan kakinya kembali di atas tanah. Tao Heng Kan sudah mencelat ke atas tembok pekarangan lalu meloncat turun.

Tao Ling segera menggulingkan tubuhnya di atas tanah menuju tempat ibunya berdiri. Wajah-nya pucat pasi.

"Ling ji, tahan sedikit rasa sakitnya!" ujar Sen Cing dengan menggeretakkan gigi.

Tangannya terulur dan menghantam pangkal lengan kanan gadis itu. PukuSannya yang kuat membuat keempat batang paku tadi tergetar dan mencelat ke luar. Tampak bercak merah di puncak gadis itu. Sen Cing mengeluarkan obat luka dan dibubuhkannya ke luka putrinya. Rasa sakit yang dirasa Tao Ling agak berkurang, dia baru bisa menghembuskan nafas lega.

Sementara itu, Kuan Hong Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan juga sudah mencelat ke atas tembok lalu mengejar Tao Heng Kan. Bangunan rumah Kuan Hong Siau ini letaknya di depan sungai. Tidak ada tempat lain yang dapat dijadikan pelarian kecuali sungai itu. Suami istri dengan masing-masing menggenggam sebatang pedang menyibakkan ilalang yang memenuhi sekitar sungai itu. Setiap kali pedang mereka bergerak, pasti ada serumpun ilalang yang terbabat putus.

Tao Ling melihat ketiga orang itu sudah mengejar ke depan rumah, tapi ibunya masih berdiri dengan termangu-mangu.

Post a Comment