"Tia, pinjam pedang Hek Pek Kiam-mu (pedang hitam putih)," ujar Tao Heng Kan.
Tao Cu Hun melirik sekilas ke tengah arena yang akan dijadikan ajang pertandingan. Dia melihat tangan Li Po menggenggam sebuah pedang yang berkilauan. Tidak diragukan lagi pedang itu pedang pusaka. Apabila menghadapinya dengan pedang biasa, putranya pasti akan mengalami kerugian. Meskipun hatinya enggan memperlihatkan Hek Pek Kiamnya di depan umum, tapi dalam keadaan seperti sekarang ini mau tidak mail dia harus meminjamkannya kepada putranya.
Dia mengulurkan tangannya mengeluarkan pedang berikut sarungnya, lalu diletakkannya di atas meja.
“Heng Kan, gunakanlah bagian tubuh pedang, jangan menggunakan ujungnya!”
Lie Yuan yang duduk di sebelahnya memperdengarkan suara tawa yang dingin. Tao Heng Kan segera meraih pedang dari atas meja dan Sret! Pedang itu dihunusnya. Tadinya orang-orang yang berkumpul di taman bunga itu mendengar nada perkataan Tao Cu Hun yang berat sekali, mereka mengira Hek Pek Kiam pasti merupakan sebatang pedang pusaka yang langka pula. Namun setelah Tao Heng Kan menghunus pedang itu, hampir saja semuanya tertawa geli.
Rupanya panjang pedang itu tidak lebih dari tiga ciok. Lebarnya malah seiebar em pat jari tangan. Sungguh berbeda dengan pedang umumnya. Bagian tubuh pedang berwarna hitam pekat. Tidak menyorotkan sedikit sinar pun. Sedangkan bagian atasnya berwarna putih kelabu, seperti logam biasa yang belum diasah. Tidak ada keistimewaannya sama sekali. Kalau dibandingkan dengan pusaka yang ada di tangan Li Po, sungguh bagaikan bumi dan langit.
Hanya Kuan Hong Siau yang mengetahui bahwa nama besar Tao Cu Hun bukan sekedar nama kosong. Meskipun Hek Pek Kiamnya tidak menunjukkan keistimewaan apa-apa, tapi kemungkinan juga merupakan sebatang pedang pusaka yang langka. Sebentar lagi apabila dalam pertandingan ada salah satu pihak yang mengalami cedera, tentu hatinya menjadi tidak enak, karena bertolak belakang dari tujuannya semula. Dia pun mengelus-elus jenggotnya sambil tertawa lebar. "Keponakan berdua, pertandingan ilmu untuk melihat kehebatan masing-masing adalah hal yang lumrah. Jangan sampai ada yang melukai lawannya, batasnya hanya boleh saling menuhi saja!" kata orang tua itu.
Li Po segera menyahut dengan lantang.
"Keponakan akan menurut, terima kasih atas perhatian Kuan cianpwe!"
Tao Heng Kan tidak menyahut sepatah kata pun. Perlahan- lahan dia maju ke depan sejauh belasan tindak. Sepasang matanya tidak berkedip sekali pun dan memandang Li Po lekat-lekat.
Kedua pemuda itu berjalan ke depan sampai jarak mereka tinggal lima enam langkah. Tangan Li Po terangkat ke atas, dengan perlahan-lahan dia menggerakkan pedangnya. Gagang pedang berada di sebelah bawah. Kedua jari tangannya yang Iain lurus ke samping. Ini merupakan jurus pembukaan dari Pat Kua Kim Gin Kiam.
Pat Kua Kiam Hoat sendiri berasal dari sumber Pat Kua, semuanya terdiri dari delapan jurus. Setiap jurusnya mempunyai puluhan perubahan yang mempunyai keistimewaan masing-masing. Gerakannya lebih memberatkan kelincahan tubuh. Kalau ditinjau dari dunia bulim saat ini, nama Pat Kua Kim Gin Kiam sudah terkenal di seluruh dunia.
Jurus pembukaan yang dikerahkan oleh Li Po tampaknya sederhana saja, tetapi apabila sudah dimainkan setiap perubahan akan mengejutkan.
"Silakan!" Li Po membentak dengan suara Ian-tang.
Tubuh Tao Heng Kan agak limbung, kakinya sempat terhuyung-huyung sampai tiga langkah, tetapi tidak sampai terjatuh. Akhirnya dia dapat berdiri dengan tegak.
"Silakan!" bentak Tao Heng Kan pula. Li Po segera menggerakkan sebelah kakinya ke depan, pedang di tangannya bergetar kemudian menjulur ke luar. Yang menjadi sasarannya pun-dak sebelah kanan Tao Heng Kan. Gerakannya gesit dan indah. Tampak Tao Heng Kan menggeser pundaknya ke kiri sedikit dan bagian tubuh pedang einas itu pun melesat melalui samping pundaknya. Tubuh Tao Heng Kan membungkuk sedikit. Jurus yang digunakannya tadi langsung diubah, sekarang dia mengerahkan jurus Kakek Tua Menunggang Keledai.
Pat Sian Kiam Hoat sebetulnya merupakan perubahan dari Ilmu Delapan Dewa Mabuk. Jurus ilmu pedang memang mengandung banyak keanehan membuat orang sulit memahaminya.Dibandingkan dengan Pat Kua Kim Gin Kiam Hoat, kedua-duanya mempunyai keistimewaan masing- masing.
Begitu jurus Kakek Tua Menunggang Keledai dikerahkan, tampak TaoHengKanmerebahkan tubuhnya di atas tanah seperti orang mabuk, pedangnya menyerang dari bawah ke atas.
Hati Li Po agak mendongkol. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
-- Pedang di tanganku ini dapat membelah logam apa pun seperti menebas tanah. Mengapa aku tidak mengutungkan pedangnya dulu baru berusaha meraih kemenangan? —.
Setelah mengambil keputusan demikian, pedang emas di tangannya segera digerakkan. Cahaya seperti pelangi berpijaran, dengan jurus Tegak Ke Atas, Lurus Ke Bawah, serta menggunakan unsur Pat Kua, pedangnya meluncur ke depan tubuh Tao Heng Kan. Dengan demikian dia berhasil menahan serangan pemuda itu.
Sementara Li Po dan Tao Heng Kan mulai bergebrak, orang-orang yang berkumpul di tempat itu memperhatikan dengan menahan nafas. Meskipun mereka baru bertanding sebanyak tiga jurus, tetapi kehebatan yang terkandung di dalam setiap jurus yang mereka kerahkan bukan dapat dipahami oleh setiap orang. Mungkin hanya pasangan suami istri Lie Yuan, Tao Cu Hun, dan Kuan Hong Siau serta beberapa lainnya yang dapat melihat dengan jelas. Mereka mempunyai perasaan yang sama, jurus yang dilancarkan oleh Li Po terlalu hebat. Apabila Tao Heng Kan tidak sempat menghindarinya, kemungkinan dadanya akan tertancap pedang emas Pat Kua Kiam itu.
Tampak Tao Heng Kan mengubah gerakannya dengan sekonyong-konyong. Secara cepat dia menarik kembali pedangnya, kemudian tubuhnya mencelat ke udara. Tujuan Li Po ingin mengutungkan pedang hitam putih Tao Heng Kan. Melihat pemuda itu menarik pedangnya kembali, dia tidak mengurungkan niatnya. Kakinya malah maju ke depan dua langkah dan terus pedangnya menyapu ke arah pedang Tao Heng Kan.
Tao Heng Kan tidak dapat menghindarkan diri lagi. Terpaksa dia menyambut serangan pedang Li Po dengan kekerasan. Terdengar suara Trang! Kumandangnya memenuhi seluruh taman bunga. Kemudian keduanya tersentak mundur masing-masing sejauh dua langkah.
Li Po berdiri dengan tertegun ketika mengetahui bahwa Pat Kua Kiamnya ternyata tidak berhasil mengutungkan pedang di tangan Tao Heng Kan yang seperti besi rongsokan. Dia semakin terkejut ketika melihat bagian atas pedangnya sendiri ternyata gompal sedikit.
Li Po khawatir hal itu dilihat oleh orang lain. Cepat-cepat dia memiringkan tubuhnya dan menutupi pedang yang tergenggam di tangannya
Diam-diam dia melirik orang-orang yang berkumpul di sana. Rasanya tidak ada seorang pun yang memperhatikan hal itu. Hati Li Po cemas sekali. Dia sadar pedang yang digunakannya itu ibarat nyawa ayahnya sendiri. Sekarang dialah yang mem-buat pedang itu jadi gompal. Seandainya hal ini diketahui oleh ayahnya, dia pasti akan mendapat hukuman berat. Apabila dia tidak berhasil mengalahkan lawannya, kemungkinan hukuman yang akan diterima lebih berat lagi. Hatinya panik bukan kepalang, dia langsung mengerahkan jurus lainnya. Hanya sebentar dia sempat berdiri tertegun, kemudian secara mendadak melancarkan tiga jurus serangan. Semuanya diarahkan ke bagian tubuh Tao Heng Kan, sehingga tubuh pemuda itu seakan diliputi oleh cahaya pedang. Kecepatannya jangan ditanyakan lagi!
Tao Heng Kan juga langsung mengerahkan Pat Sian Kiam Hoat. Dalam sekejap mata tubuh keduanya berkelebat kesana kemari secepat kilat. Cahaya pedang Pat Kua Kiam berpijar dan memercikkan cahaya ke mana-mana. Tiga puluhan jurus telah berlalu. Masih juga belum dapat ditentukan siapa yang lebih unggul di antara kedua pemuda itu.
Kuan Hong Siau segera menggebrak meja sembari mengeluarkan suara siulan yang panjang.
"Puas sekali! Ternyata ilmu pedang kalian berdua seimbang! Keponakan sekalian, harap berhenti!"
Tao Heng Kan dan Li Po sama-sama menyadari bahwa bukanlah hal yang mudah bagi mereka untuk menjatuhkan lawannya. Li Po yang mendengar teriakan Kuan Hong Siau segera meluncurkan sebuah serangan kemudian mencelat mundur ke belakang serta berdiri dengan tegak.
Pada dasarnya pertandingan yang berlangsung di antara kedua orang itu hanya ingin menunjukkan kehebatan masing- masing. Tidak ada perselisihan apa pun apalagi dendam di antara mereka. Karena dianggap seimbang, Li Po segera mencelat ke belakang. Seharusnya Tao Heng Kan juga melakukan tindakan yang sama. Tetapi tidak disangka, sepasang kaki Tao Heng Kan malah menutul, orang dan pedangnya sekaligus meluncur ke depan mengincar bagian dada Li Po. Gerakan ini merupakan salah satu jurus terhebat dari Pat Sian Kiam yakni Mempersembahkan upeti kepada Kaisar.
Perubahan yang sekonyong-konyong ini tidak disangka oleh siapa pun. Li Po juga berdiri dengan mata membelalak. Untuk sesaat dia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Orang- orang yang berkumpul di tempat itu hanya dapat menjerit histeris. Ibu Tao Heng Kan, Sen Cing segera membentak dengan suara keras.
"Heng Kan, kau sudah gila?"
Serrr! Beberapa hatang senjata rahasia berbentuk biji teratai meluncur ke depan.