Sungai besar di dekat lembah Pa Tung, ber-pusat pada air terjun yang tinggi. Gerakan arusnya deras sekali sehingga membahayakan perahu kecil. Apalagi menjelang malam hari air meluap tinggi sampai di daratan. Entah sudah berapa banyak perahu kecil yang terbalik kemudian tenggelam di sungai itu.
Biasanya perahu-perahu yang ingin melanjutkan perjalanan selalu berhenti dan berlabuh di desa kecil yang ada di kaki lembah itu. Para pelancong menginap satu malam, menunggu keesokan harinya untuk melanjutkan perjalanan
Hari itu, menjelang matahari terbenam. Dari kejauhan tampak dua buah perahu besar. Kedua perahu itu merupakan perahu bagus yang sering tampak berlalu lalang di sepanjang perairan itu. Bagian geladaknya iebar, di dalamnya terdapat kabin yang luas.
Kedua perahu besar itu perlahan-lahan bergerak menuju tepian dermaga. Di atas dermaga itu sudah menanti belasan orang. Pemimpin kelom-pok orang-orang itu adalah seorang laki-Iaki yang sudah lanjut usia dengan jenggot panjang yang sudah memutih. Usianya mungkin sudah lebih dari tujuh puluh tahun Tapi semangatnya masih menyala-nyala dan penampilannya masih gagah. Sedangkan yang lainnya juga tergolong para laki-laki dan perempuan yang biasa berkecimpung di dunia kangouw.
Di atas geladak kedua perahu besar juga berdiri sekitar delapan orang. Tampak di antaranya dua pasang suami istri, beberapa pemuda dan pemudi. Mungkin putra putri kedua pasang suami istri itu.
Ketika orang-orang yang menunggu di atas dermaga melihat perahu itu sudah berlabuh di tepian dermaga, mereka pun berkasak kusuk.
"Apakah benar kedua perahu ini?" ujar seorang wanita setengah baya.
"Tidak salah lagi. Kau tidak lihat lambang Pat Kua emas yang tergantung di atap perahu? Kecuali Pat Kua Kim Gin Kiam (pedang emas Pat Kua) Lie Eng Hiong, siapa lagi yang berani menggantungkan lambang itu di perahunya?" jawab teman-teman-nya.
"Aneh. Menurut berita yang tersiar di luaran, Lie Eng Hiong akan datang ke Si Cuan, tidak ada orang yang mengiringinya. Siapa kira-kira yang di perahu besar satunya lagi?" Orang- orang yang ada di atas dermaga itu menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Pemimpin yang telah berumur tujuh puluhan itu.
"Di kolong langit ini ada dua keluarga pedang yang ternama. Apakah kalian tidak tahu?" ujar pimpinan dengan nada keras.
"Ah! Kuan loya cu, maksudmu pasangan yang berdiri di atas perahu satunya lagi itu Pat Sian Kiam (pedang delapan dewa) Tao Cu Hun, Tao tayhiap dan istrinya?" ujar wanita setengah baya.
"Tidak salah. Hari ini kita dapat bertemu langsung dengan dua keluarga pedang paling ternama di dunia kang ouw dan berbincang-bincang. Bukankah hal ini merupakan suatu kejadian yang sangat menggembirakan?" Kakek itu berkata sambil mengelus-elus jenggotnya.
Wajah orang-orang itu langsung berseri-seri. Mereka semuanya terdiri dari orang-orang yang berjiwa gagah. Mereka sependapat bahvva dapat bertemu dengan Pat Kua Kim Gin Kiam, Lie Yuan dan istrinya, serta Pat Sian Kiam Tao Cu Hun suami istri memang merupakan hal yang sangat menggembirakan.
Ketika pembicaraan itu berlangsung, perahu sudah merapat di titian bambu dermaga. Tanpa menunggu para penumpang perahu itu meloncat turun, orang-orang itu segera menghambur ke depan menyambut kedatangan dua keluarga pedang itu.
Seorang laki-laki berusia setengah baya dengan vvajah berbentuk persegi segera menyongsong ke depan.
"Kuan loheng, tidak disangka, tiga tahun kita tidak bertemu, tapi tampang loheng masih seperti dulu!" kata laki- laki setengah baya itu dengan suara lantang.
"Lie lote, ini yang disebut mendapat berkat dari Thian yang Kuasa!" Kakek Kuan tertawa terbahak-bahak.
Laki-laki berwajah persegi yang ternyata pendekar pedang kenamaan Lie Yuan segera menunjuk kepada seorang laki-laki bertampang kalem dan lebih mirip pelajar.
"Mari, mari . . .! Aku pertemukan kalian agar dapat berkenalan. Kuan loheng, ini Tao Cu Hun Tao tayhiap yang terkenal dengan gelar Pat Sian Kiam, dan yang ini istrinya Sam Jiu Kuan Im (Dewi Kuan Im bertangan tiga) Sen Cin.
"Yang ini Cuan Tung tayhiap, Kuan Hong Siau, Kuan loya!" ujar Toa Cu Hun setelah merangkapkan kedua telapak tangannya seraya menjura hormat.
"Gang yang kecil man a dapat dibandingkan dengan jalan raya? Mengapa ada beberapa tokoh setempat yang mendengar Lie lote akan datang berkunjung dan sengaja menunggu di situ," ujar Kuan Hong Siau seraya tertawa terbahak-bahak.
Sembari berkata, Kuan Hong Siau segera memperkenalkan orang-orang yang datang ber-samanya kepada kedua jago pedang ternama itu. Mereka juga termasuk tokoh-tokoh yang cukup mempunyai nama sehingga baik Tao Cu Hun suami istri mail pun Lie Yuan suami istri merasa sungkan.
"Kalian berdua jago pedang kenamaan tentunya bertemu di perjalanan bukan?" tanya Kuan Hong Siau.
"Dugaan Kuan loya memang benar," sahut Tao Cu Hun. "Kalau liongwi tidak keberatan, bagaimana kalau malam ini
menginap di rumahku yang buruk? Kebetulan hari ini hari Tiong Ciu (Tanggalan Cina Bulan delapan tanggal lima helas), kita dapat menikmati bulan purnama sambil meminum arak serta mengobrol tentang para enghiong yang ada di dunia ini, bukankah ini merupakan acara yang menyenangkan?"
"Kuan loya sangat menghormati kami, tentu tidak enak hati apabila kami menolaknya," sahut Tao Cu Hun.
Seluruh rombongan itu terdiri dari dua puluhan orang. Mereka segera meloncat ke atas dermaga dengan wajah berseri-seri. Hanya ada seorang pemuda yang terus mengernyitkan keningnya. Seakan hatinya sedang dilanda berbagai pikiran yang ruwet.
Pemuda itu berusia sembilan belasan. Dari sepasang alisnya tersirat kegagahan. Wajahnya tampan dengan postur tuhuh yang indah. Dia terus berdiri di belakang pasangan suami istri Tao Cu Hun. Memang pemuda itu anak pasangan suami istri itu. Namanya, Tao Heng Kan. Ketika semua orang naik ke atas dermaga, dia bukan saja berjalan di bagian paling belakang, malah meng-ulurkan tangan meraba-raba gagang pedang di pundaknya. Wajahnya menyiratkan kegelisahan, jauh berbeda dengan sikap sehari-harinya. Gerak gerik Tao Heng Kan ini tidak terlepas dari tatapan mata adiknya, yaitu Tao Ling. Usia gadis itu lebih muda dari abangnya dua tahun, tapi termasuk gadis yang mengalami pertumbuhan pesat. Tinggi tubuhnya sudah hampir sama dengan Tao Heng Kan. Pinggangnya ramping dan wajahnya cantik. Dia sengaja memperlambat jalannya.
"Koko, apa yang kau risaukan?" Gadis itu bertanya kepada abangnya dengan suara berbisik.
"Oh! Tidak ada apa-apa!" jawab Tao Heng Kan seraya tersentak dari larnunannya.
"Koko, jangan berbohong. Kalau ada apa-apa, seharusnya kau bicarakan denganku. dengan demikian kita bisa merundingkannya bersama.”
Tao Heng Kan mempercepat langkah kakinya seakan ingin menghindari Tao Ling.
"Sungguh tidak ada apa-apa. Kau jangan curiga yang bukan-bukan!" katanya.
Tao Ling menatap bayangan punggung abangnya. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman manis. Kemudian bergegas mendahului abangnya. Tetapi dia tidak mendesak abangnya dengan pertanyaan lagi. Karena itu hati Tao Heng Kan juga menjadi lega.
Kurang lebih setengah kentungan kemudian, mereka sudah sampai di rumah Kuan loya. Ba-ngunan rumah itu besar sekali. Pada masa mudanya Kuan Hong Siau mendirikan sebuah perusahaan piau ki (pengawalan barang-barang kiriman). Sampai lima tahun yang lalu, orang tua itu mengundurkan dari usahanya. Selama empat puluh tahun, barang-barang yang pernah dikawal oleh Ceng Eng piau ki (Ekspedisi Elang Hijau) belum pernah terjadi kehilangan sekali pun. Sungai teiaga dari utara sampai selatan, baik tokoh go-longan hitam ataupun putih tidak ada yang berani menyentuh sedikit pun barang- barang kawalan Ceng Eng piau ki itu. Pokoknya asal melihat bendera bergambar seekor elang berwarna hijau yang sedang membentangkan sayapnya, orang-orang dunia kang ouw menaruh sikap hormat dan tidak berani mengganggu. Kalangan dunia kang ouw sungguh tidak mengerti mengapa lima tahun yang lalu, tiba-tiba Kuan Hong Siau mengumumkan bubarnya Ceng Eng piau ki. Bahkan orang tua itu menyatakan dengan tegas bahwa mulai saat itu, Ceng Eng piau ki tidak ada lagi di dunia kang ouw.
Gedung yang besar itu dibangun setelah Kuan Hong Siau mengundurkan diri. Begitu masuk pintu gerbang, tampaklah sebuah ruang penerimaan tamu yang sangat luas. Kuan Hong Siau mengajak para tamunya menuju taman bunga di bagian belakang gedung itu.
Di dalam taman bunga sudah tersedia beberapa buah meja dengan hidangan lengkap di atasnya. Setelah berbasa basi sejenak, para tamu pun duduk di bangku-bangku yang tersedia dan berbincang-bincang sambil menikmati hidangan.
Malam semakin larut, rembulan menggantung tinggi di atas cakrawala. Sinarnya terang karena bulan purnama bercahaya penuh. Bunga-bunga dan pepohonan tersorot cahaya rembulan sehingga membuahkan pemandangan yang indah. Bagian atasnya laksana dilapisi cahaya keperakan.
Kuan Hong Siau memerintahkan para pelayan-nya untuk memadamkan lentera. Bersama para tamunya, dia melanjutkan obrolan sambil meneguk arak. Meskipun malam sudah semakin larut, namun tidak ada seorang pun yang merasa mengantuk. Mereka masih menikmati malam yang indah dan ingin berbincang-bincang dengan semangat menyala-nyala.
Suara pembicaraan bersimpang siur. Riuh rendah tiada hentinya. Tiba-tiba wanita setengah baya yang pertama-tama mengajukan pertanyaan kepada Kuan Hong Siau itu menggebrak meja keras-keras. Brakkk!
"Cio losam, kentut busuk! Aku bilang Pat Kua Kim Gin Kiam Hoat lebih hebat daripada Pat Sian Kiam Hoat!" teriaknya keras-keras.
Orang yang dipanggil Ci losam adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih. Tubuhnya tinggi besar, wajahnya merah padam. Hal ini mem-buktikan bahwa dia sudah mulai mabuk. Tam-paknya dia juga tidak bersedia mengalah. Meja di depannya digebrak sekuat tenaga. Brakkkk!
"Kongsun Ping, senjata yang kau gunakan hanya berupa golok bercagak, mana mungkin kau memahami keindahan ilmu pedang!"