.... balas membalas agaknya hukum karma terjadi cepat sekali. Lebih baik begitu,
Lie Bun. Hutangku lunas sudah! Kau tak perlu mencari Bok Bu Hwesio untuk membalas sakit hati. Aku tidak merasa sakit hati padanya. Ingat! Kau tak boleh
mencari dia untuk membalas dendam! Kalau kau bertempur dengan dia karena urusan lain, apa boleh buat. Tapi jangan sekali-kali karena membalas dendam. Jangan kau
ikat dirimu dengan rantai karma, muridku ”
Karena keadaannya memang payah sekali ditambah ia telah mengumpulkan tenaga terakhir untuk memberi wejangan ini, sehabis bicara, Kang-lam Koay-hiap muntahkan darah lagi dan napasnya empas-empis.
Lie Bun terkejut sekali, tapi ia tidak berdaya, hanya airmatanya saja menitik turun dan ia gunakan tangannya mengurut-urut dada suhunya.
Biarpun keadaannya sangat parah, tapi guru yang sangat menyinta muridnya itu gunakan waktu semalam penuh untuk mengatur napas dan kekuatannya untuk memberi nasehat-nasehat dan wejangan-wejangan penting kepada muridnya. Lie Bun dengan terharu sekali bersumpah hendak menjujung tinggi semua nasehat suhunya dan hendak menjaga nama suhunya sampai akhir hayat.
Agak lega tampaknya orang tua itu, mendengar sumpah Lie Bun. Kemudian sambil pegang pundak muridnya yang berlutut di sebelahnya, Kang-lam Koay-hiap berkata lirih.
“Lie Bun, jangan kau membohong pada gurumu. Agaknya kau tidak dapat melupakan puteri dari Lo-wangwe, bukan? Aku telah beberapa kali melihat kau diam-diam melukis wajah gadis itu di atas tanah. Lie Bun, jangan kau lemah dan menyerah terhadap perasaan itu. Bukankah kau laki-laki? Kau pulanglah dan mintalah orang tuamu untuk melamar gadis itu, kalau kau setuju. Orang tuamu cukup kaya untuk melamar anak Lo-wangwe. Tapi pesanku, jangan hanya mengutamakan kebagusan lahir dalam perkawinan, muridku. Kebahagiaan suami isteri tidak tergantung dari wajah tampan dan cantik! Kau perhatikan ini baik-baik!”
Lie Bun merasa terharu sekali. Sungguh suhunya seorang guru yang mulia dan sangat memperhatikan muridnya seperti kepada anaknya sendiri. Hal-hal yang begitu dirahasiakan dapat juga diketahuinya. Menjelang fajar, Kang-lam Koay-hiap, kakek gagah perkasa yang selama hidupnya sengaja menjadi pengemis, hiapkek budiman yang telah banyak sekali melepas budi kebaikan menolong sesama hidup, menghembuskan napas terakhir hanya di jaga oleh Lie Bun, muridnya yang menangis sedih sambil peluki mayat gurunya yang tercinta itu.
Betapapun juga kakek pengemis itu boleh merasa bangga dan puas karena setidaknya ada seorang yang dengan tulus menangisi kepergiannya, tidak seperti tangis-tangis yang sering terdengar pada upacara-upacara kematian.
Karena kelenteng itu kosong dan tiada penghuninya, maka Lie Bun lalu menggali tanah di pekarangan kelenteng sebelah belakang dan dengan penuh khidmat ia kubur jenazah suhunya baik-baik.
Kemudian Lie Bun berangkat menuju ke kota Bi-ciu di mana ayah dan ibunya tinggal. Ia telah mendapat petunjuk dari suhunya jalan mana yang harus di tempuh untuk menuju ke kota itu. Tongkat bambu suhunya ia bawa. Ia tempuh perjalanan dengan cepat dan hanya berhenti bila mana perlu saja hingga lima hari kemudian, ia telah tiba di kota Tong-kwang yang ramai karena kota di tepi sungai Lung-kiang ini memang terkenal dengan perdagangan dan hasil bumi.
Karena Lie Bun masih melanjutkan kebiasaan suhunya, yakni mengemis, maka ia mengikuti orang banyak yang menuju ke satu jurusan. Ia duga tentu ada tempat yang ramai hingga orang-orang itu pergi ke sana. Tidak tahunya, orang-orang itu menuju ke rumah Ong-tihu yang penuh dengan para tamu.
Tihu ini sedang merayakan pesta ulang tahunnya dan tentu saja sebagai seorang pembesar berpengaruh, ia mempunyai banyak kenalan dan yang hadir dipesta itu terdiri dari orang-orang gagah dan para pejabat pemerintahan.
Melihat ini, Lie Bun sudah hendak pergi lagi, tapi tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh seorang laki-laki yang berkata kepada kawannya.
“Pertandingan silat nanti tentu hebat dan ramai.”
“Ah, aku sih tidak ingin menonton silatnya hanya ingin melihat keindahan wajah dan bentuk badan Ong-siocia kalau sedang bersilat,” jawab kawannya.
“Hush! Jangan keras-keras, kalau terdengar oleh mereka, kau akan celaka!”
Mendengar akan diadakan pertandingan silat, Lie Bun menjadi tertarik sekali dan ia mendesak maju.
Ternyata di ruang depan yang penuh tamu itu, ditengah-tengah telah dibangun sebuah panggung rendah untuk bermain silat. Tapi berbeda dengan panggung-panggung lui- tai yang biasa, panggung ini selain rendah juga dihias segala macam bunga-bunga kertas yang indah dan beraneka warna hingga kehilangan sifat menyeramkan yang
ada pada panggung tempat mengadu kepandaian yang umum. Lie Bun merasa heran dan ingin tahu orang macam apakah yang akan bertanding di atas panggung macam itu.
Tak lama kemudian, terdengar tepuk orang ramai dari para tamu dan dari dalam keluarlah seorang gadis berpakaian merah.
Lie Bun kagum melihat kecantikan gadis itu dan pakaian gadis yang sangat mewah dan indah itu menambah kecantikannya.
Sebatang pedang bersarung merah pula tergantung di pinggangnya. Biarpun ia harus akui bahwa gadis itu cantik sekali, namun lirikan mata dan senyumannya mendatangkan rasa tidak suka dalam hati Lie Bun. Gadis genit dan manja, pikirnya.
Ong-tihu memperkenalkan puterinya kepada para tamu dan kemudian setelah menjura kepada semua tamu, Ong-siocia loncat ke atas panggung dan mulai bersilat dengan tangan kosong.
Gerakan-gerakannya memang indah dan lemas hingga mengagumkan mereka yang menonton, sedangkan Lie Bun diam-diam merasa tertarik sekali karena ilmu silat gadis itu bukanlah ilmu silat yang rendah.
Apalagi setelah Ong-siocia cabut pedangnya dan bersilat pedang, mau tidak mau Lie Bun kagum juga. Ia tahu bahwa ilmu pedang gadis itu adalah dari cabang Hwa-san yang telah bercampur dengan lain cabang. Tapi geraknya terlatih sempurna hingga bukan saja indah di pandang, juga cukup lihai kalau dipakai bertanding.
Karena tempat itu berdiri agak jauh dari panggung, maka ketika Ong-tihu berkata sesuatu sebagai pengumuman. Ia tidak mendengar jelas. Kemudian Ong-siocia menghentikan permainannya dan mundur ke dalam.
Setelah itu berturut-turut tampil ke panggung orang-orang muda yang muncul dari para tamu.
Mereka seorang demi seorang bersilat seorang diri. Orang pertama sampai ketiga hanya memiliki kepandaian silat rendah saja maka setelah mereka bersilat, mereka dipersilahkan turun kembali.
Tapi orang keempat yang bersilat dengan ilmu silat cabang Siauw-lim, agaknya menarik hati Ong-siocia yang menonton dari sebelah dalam. Ia lalu keluar dan setelah saling hormat, keduanya lalu bertanding silat.
Kini mengertilah Lie Bun bahwa anak gadis Ong-tihu itu sombong sekali dan ingin memperlihatkan kelihaiannya. Agaknya gadis baju merah itu sengaja memilih orang- orang yang agak tinggi kepandaiannya untuk dijajal. Yang berkepandaian rendah tidak menerima penghormatan untuk beradu tangan dengannya.
Ia tidak tahu sama sekali bahwa di samping ini, gadis itu mempunyai maksud lain. Gadis yang dimanja ayahnya ini sebenarnya sedang memilih-milih seorang pemuda yang sekiranya pantas menjadi pasangannya. Telah berkali-kali ia dilamar orang, tapi selalu ditolaknya. Hal ini diam-diam diketahui oleh para tamu. Maka pada kesempatan ini pemuda yang memiliki sedikit ilmu silat tentu tidak menyia-nyiakan waktu. Karena siapa tahu mereka akan “kejatuhan bintang”, atau setidaknya mereka akan merasa puas kalau bisa bersilat bersama gadis juwita yang sombong itu.
Karena menganggap bahwa gadis itu sombong dan jumawa, maka timbullah niat dalam hati Lie Bun untuk mencoba kepandaiannya.
Sementara itu, dengan mudah saja gadis baju merah itu dapat merobohkan lawannya yang pertama.
Tempik sorak menyambut kemenangannya ini dan pemuda yang tertelentang jatuh hanya meringis kesakitan dan merangkak dari tempat itu menuju ke sebuah bangku.
Maka pemuda-pemuda lain mulai bersilat pula. Setelah enam orang memperlihatkan kepandaiannya, pemuda ketujuh baru terpilih dan dianggap cukup pandai untuk melayani Ong-siocia.
Pemuda itu tampan dan gagah, tapi kepandaiannya juga masih jauh di bawah gadis itu hingga dalam beberapa puluh jurus saja ia terdesak hebat.
Tapi anehnya, Ong-siocia agak merasa kasihan untuk menjatuhkannya, maka beberapa kali ia hanya gunakan jari tangannya menowel dan menampar saja. Hal ini memang tak dapat terlihat oleh orang biasa, tapi bagi Lie Bun tampak jelas hingga diam-diam ia merasa jengah dan mukanya menjadi merah. Ia anggap gadis itu terlalu sekali mempermainkan orang. Akhirnya pemuda itupun terdesak ke pojok dan loncat turun mengaku kalah.
Setelah beberapa pemuda naik dan tidak diterima, yakni tidak dianggap cukup pandai, Lie Bun tak dapat menahan dorongan hatinya lagi. Ia loncat secepat kilat hingga tak ketahuan orang dan tahu-tahu ia telah berada di atas panggung setelah pemuda kedelapan turun.
Orang-orang merasa heran melihat dia. Dari mana datangnya pemuda pengemis ini? Memang keadaan Lie Bun sangat ganjil. Di antara orang-orang yang berpakaian mewah dan gagah, ia tampak lucu sekali. Bajunya penuh tambalan, celananya hanya sampai di bawah lutut, sedangkan kedua kakinya telanjang.
Tiba-tiba terdengar bentakan halus dari dalam.
“Hai, pengemis busuk, siapa suruh kau naik ke panggung?”
Lie Bun berpaling ke arah Ong-siocia yang memakinya itu dan makin gemaslah ia.
“Bukankah kau sedang mencari lawan yang tangguh?” tanya Lie Bun sambil tersenyum.
Ong-siocia membuang muka dan wajahnya yang cantik itu menjadi merah karena marah. “Ha! Siapa sudi bersilat dengan kau yang buruk rupa dan kotor ini!”
Kata-kata itu menikam betul ulu hati Lie Bun. Ia tidak merasa sakit hati disebut buruk rupa karena ia memang telah maklum betapa mukanya tidak dapat disebut tampan. Tapi sikap gadis itulah yang memuakkan hatinya.
Dengan sengaja ia berkata keras agar terdengar oleh semua tamu.