Halo!

Pengemis Tua Aneh Chapter 14

Memuat...

“Tidak malukah kalian orang tua bangka mengeroyok seorang anak muda? Kalau kalian mau mengeroyok, keroyoklah aku tua sama tua!”

Ketika melihat siapa yang berada di depan mereka, Khong Tong Hwesio dan Cee Un berdiri dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

“Kang-lam Koay-hiap! Kesalahan apa yang telah kami perbuat hingga Koayhiap sampai turun tangan?” Cee Un bertanya sambil menjura.

“Kau secara pengecut mengeroyok muridku, masih bertanya salah apa lagi?”

Mendengar jawaban ini, Cee Un berdiri bingung. Tidak disangkanya sama sekali bahwa pemuda itu adalah murid Kang-lam Koay-hiap, pantas saja lihainya luar biasa.

Si jari lihai ini pernah mendapat hajaran keras dari Kang-lam Koay-hiap, maka ia sangat tunduk dan jeri.

Sebaliknya, biarpun pernah mendengar dan pernah melihat Kang-lam Koay-hiap, namun belum pernah ia merasai tangannya, maka Khong Tong Hwesio melihat betapa Cee Un nampak jerih. Ia lalu maju untuk mencari muka terang. Ia menjura sambil berkata, suaranya biasa, keras dan nyaring, sama sekali tidak menunjukkan takut atau jerih.

“Kang-lam Koay-hiap! Telah lama mendengar namamu yang besar, maka pinceng merasa senang sekali dapat bertemu muka. Muridmu ini lihai sekali hingga berturut- turut menjatuhkan jago-jago Tung-kiang dengan mudah. Tapi mengapa dia mengacau panggung lui-tai kami? Hal ini harap kau orang tua sudi pertimbangkan dan dapat menegurnya.”

“Khong Tong, hwesio sesat! Tak perlu kau banyak jual lagak, karena aku telah tahu betul keadaanmu dan orang-orang yang menyebut dirinya orang-orang gagah tapi sebetulnya hanya gentong-gentong nasi tiada guna belaka!”

“Hayo, Lie Bun, kita tinggalkan tempat kotor ini. Untuk apa meladeni segala macam anjing penjilat orang-orang kaya ini?”

Bukan main marahnya Khong Tong Hwesio mendengar kata-kata ini, maka ketika guru dan murid itu balikkan tubuh hendak loncat turun dari panggung, tiba-tiba ia keluarkan hui-to atau golok terbangnya yang kecil dan tajam sebanyak tiga buah. Lalu langsung ia sambitkan ke arah guru dan murid itu.

Sambitan ini, yang dilakukan dari jarak dekat, sangat berbahaya dan agaknya Lie Bun takkan dapat hindarkan dirinya pula. Tapi tanpa balikkan badan, Kang-lam Koay-hiap putar tongkatnya di belakang tubuhnya dan tubuh muridnya dan dua golok terbang dapat terpukul jatuh, sedangkan yang sebuah lagi terbang kembali ke arah Khong Tong Hwesio hingga dengan terkejut sekali hwesio itu loncat menyingkir.

Kang-lam Koay-hiap loncat pergi diikuti muridnya dan sebentar saja mereka lenyap dari pandangan mata. Semua orang yang melihat mereka dengan perasaan heran, terkejut dan kagum.

Kang-lam Koay-hiap lanjutkan perantauan mereka dan Lie Bun makin giat belajar silat karena pengalamannya di kota Tung-kiang menyatakan bahwa ia masih perlu mempertinggi kepandaiannya, karena ketika dikeroyok oleh Khong Tong Hwesio dan Cee Un hampir saja ia mendapat celaka.

Pada suatu hari, mereka tiba di kota Bok-chun yang ramai. Seperti biasa Kang-lam Koay-hiap ajak muridnya mengemis. Ketika mereka lewat di depan sebuah kelenteng yang besar dan memakai merek Ban-siu-tong di depannya, tiba-tiba seorang hwesio yang sedang duduk di pekarangan depan kelenteng itu memanggil mereka.

“Sahabat-sahabat mampirlah sebentar jika kalian butuh makan.”

Kang-lam Koay-hiap dan muridnya menengok dengan heran. Selama mereka merantau belum pernah ada orang menawari makan tanpa diminta. Ternyata yang menawari makan itu adalah seorang hwesio berusia kira-kira empat puluh tahun dan hwesio itu berdiri sambil tersenyum lebar kepada mereka.

Mata Kang-lam Koay-hiap sangat tajam, maka segera timbul curiganya melihat sinar mata hwesio itu. Ia mengangguk-angguk dan tarik tangan muridnya.

“Ah, kau tadi sebut makan?”

Hwesio itu tertawa melihat betapa pengemis-pengemis itu cepat sekali memperhatikan jika ditawari makan. Ia tidak marah mendengar tutur sapa pengemis tua yang kasar itu. Ia mengangguk. “Ya, makan! Kalian tentu lapar, bukan? Nah, marilah masuk dan kalian boleh makan sekenyangnya!”

Kang-lam Koay-hiap dan Lie Bun masuk ke pekarangan kelenteng itu dan mengikuti hwesio itu dari belakang. Guru dan murid itu makin curiga ketika melihat bahwa tindakan kaki hwesio itu sangat kuat dan tegap, tanda bahwa hwesio itu memiliki kepandaian silat tinggi.

Ketika tiba di ruang tengah, hwesio itu memanggil hwesio pelayan. “Uruslah kedua sahabat yang perlu ditolong ini dan berilah makan sampai kenyang.”

“Baik, suhu,” jawab hwesio pelayan yang membawa mereka ke ruang belakang. Di situ mereka berdua diberi makan cukup banyak hingga mereka dapat makan sekenyangnya. Hwesio pelayan itu digunakan oleh Kang-lam Koay-hiap untuk bertanya tentang hwesio yang baik budi itu.

“Dia adalah hwesio kepala kelenteng kami ini,” jawab hwesio pelayan. “Kelenteng ini hanya satu-satunya kelenteng di kota ini dan hwesio kepala memang terkenal baik budi dan dermawan. Semenjak Kak Pau Suhu ini mengepalai kelenteng kami, maka keadaan kelenteng menjadi baik dan banyak mendapat sumbangan karena Kak Pau Suhu terkenal pandai dan suci. Kau lihat, bahkan kepada pengemis-pengemis seperti kalian ia menaruh hati kasihan dan menolongmu.”

Kang-lam Koay-hiap mengangguk-angguk. “Apakah Kak Pau Suhu ini pandai ilmu silat?” tanyanya sambil lalu.

“Silat? Ah, setahuku, tidak. Tapi ia pandai tentang segala peraturan sembahyang, juga pandai liam-keng. Selain itu ia juga suci dan sakti, hingga beberapa kali ia diundang untuk mengusir siluman di beberapa rumah penduduk kota ini.”

“Apa? Mengusir siluman? Apakah di kota ini ada silumannya?” Hwesio pelayan itu tampak ketakutan dan menjawab perlahan.

“Banyak siluman, banyak ” dan ia tutup mulutnya karena pada saat itu Kak Pau

Hwesio muncul lagi dengan senyum manis di bibir.

“Sudah cukupkah, sahabat-sahabat?” tanyanya kepada guru dan murid itu. “Cukup, cukup terima kasih,” jawab Kang-lam Koay-hiap.

“Kalau kalian merasa lapar, maka datang sajalah ke sini tentu kami akan menolongmu,” kata Kak Pau Suhu dengan ramah.

Setelah meninggalkan kelenteng itu Kang-lam Koay-hiap bersungut-sungut seorang diri. “Mana ada hwesio sebaik itu? Palsu .... palsu selama hidupku belum pernah

kulihat hwesio mengurus pengemis!”

Ketika malam tiba, Kang-lam Koay-hiap berkata kepada Lie Bun. “Lie Bun, di kota ini tentu terjadi hal-hal yang tidak sewajarnya. Kata hwesio pelayan tadi, di sini banyak siluman dan bahwa Kak Pau Suhu pandai mengusir siluman. Ini adalah aneh dan kita harus selidiki!”

Guru dan murid itu lalu naik ke atas genteng rumah-rumah orang untuk menyelidiki. Setelah puas berkeliling dan bahkan menyelidik di atas genteng kelenteng Ban-siu- tong dan tidak dapat sesuatu yang mencurigakan, kedua guru dan murid itu lalu merebahkan diri di atas genteng rumah gedung besar yang terlindung tembok loteng dan sebentar kemudian keduanya mendengkur karena telah jatuh pulas enak sekali.

Kira-kira lewat tengah malam, tiba-tiba Lie Bun terjaga dari tidurnya karena tubuhnya digoyang-goyang oleh gurunya. Ia cepat bangun dan duduk tanpa membuka suara sedikitpun. Ia telah terlampau biasa menghadapi saat-saat berbahaya hingga biarpun baru saja bangun tidur, pikirannya telah bekerja dan seluruh tubuhnya telah siap menghadapi segala kemungkinan.

Suhunya menunjuk ke depan dan terlihat olehnya bayangan seseorang yang berloncatan di atas genteng dengan gerakan cepat. Bayangan itu mendekat dan ketika ia loncat ke atas genteng di mana Kang-lam Koay-hiap dan muridnya mendekam.

Tampaklah bahwa bayangan itu adalah seorang tinggi besar yang berpakaian serba putih, kepalanya memakai kerudung putih dan ia memakai kedok hitam.

Kemudian bayangan itu loncat ke lain genteng dengan gerakan yang cukup mengagumkan.

“Inilah agaknya siluman yang digemparkan orang,” kata Kang-lam Koay-hiap perlahan kepada muridnya. Kemudian ia memberi isyarat kepada Lie Bun untuk mengejar bayangan itu.

Ketika tiba di atas sebuah rumah gedung, bayangan itu berhenti sebentar sambil memandang ke sekelilingnya. Kang-lam Koay-hiap dan Lie Bun cepat mendekam di atas genteng sambil mengintai dari balik wuwungan. Mereka melihat betapa orang itu loncat turun ke dalam pekarangan gedung.

“Kau tunggu di sini dan pasang mata!” kata Kang-lam Koay-hiap kepada muridnya. Kemudian kakek itu loncat mengejar ke bawah. Lie Bun duduk di atas genteng sambil pasang mata dan telinga.

Kang-lam Koay-hiap dengan cepat sekali dapat mengetahui di mana adanya tamu malam itu. Ternyata bayangan itu telah memasuki sebuah kamar dan ketika Kang-lam Koay-hiap mengintai dari balik jendela, hampir saja ia terjang jendela itu untuk menyerang penjahat malam yang dikejarnya tadi. Karena ternyata kamar itu adalah kamar seorang siocia. Baiknya ia masih dapat menahan nafsunya untuk segera menyerang, dan mengintai lebih lanjut.

Penjahat itu gunakan tangan kiri membuka kelambu dan di dalamnya tampak seorang gadis sedang tidur nyenyak. Cepat sekali tangan kanan penjahat itu bergerak dan gadis itu telah tertotok. Kemudian penjahat baju hitam itu mengangkat dan memanggul tubuh siocia itu, lalu membawanya loncat ke atas genteng melalui pintu kamar yang terbuka. “Bangsat, jangan lari!” Kang-lam Koay-hiap membentak marah dan mengejarnya.

Penjahat itu terkejut sekali dan ia cepat berkelit ketika tahu-tahu di depannya ada seorang anak muda yang menyerang kepalanya. Penyerang itu adalah Lie Bun yang mendengar teriakan suhunya. Ternyata penjahat malam itu cukup gesit karena mudah saja ia berkelit dari serangan Lie Bun. Sementara itu, Kang-lam Koay-hiap telah tiba

di situ dan membentak.

“Bajingan, hayo kau lepaskan anak gadis itu!”

Penjahat itu tertawa keras dan melemparkan gadis itu ke atas.

Lie Bun, tolong dia!” kata Kang-lam Koay-hiap yang langsung menerjang penjahat

itu. Pertempuran hebat segera terjadi dan baru saja bertempur beberapa jurus, penjahat itu kaget sekali karena pengemis tua yang menyerangnya ini benar-benar lihai sekali hingga ketika lengan mereka beradu, ia merasa betapa lengannya sakit dan panas!

Post a Comment