Berpuluh jurus telah dilalui dan belum juga ada yang menang. Tapi karena beberapa kali beradu lengan, Teng tosu merasa betapa kulit lengannya sakit yang menyatakan bahwa ia kalah tenaga. Maka tanpa sungkan lagi ia loncat mundur sambil berseru. “Marilah kita mengadu senjata!” katanya sambil mencabut pedangnya dari punggung.
“Baiklah!” Kwee Ong menjawab dan ia ambil toyanya yang tadi ditaruh di pinggir panggung. Mereka saling serang lagi, kini lebih hebat karena menggunakan senjata. Penonton menjadi makin tegang dan silau karena sinar senjata yang diputar cepat itu. Terutama pedang Teng tosu ternyata hebat dan lihai hingga dengan gerak pedang Liang-gie-kiamhwat dari cabang Bu-tong-pai, ia berhasil mengurung lawannya dan mendesak hebat. Hal ini terlihat jelas oleh para penonton di sekeliling panggung, hingga tentu saja tamu-tamu menjadi girang. Sebaliknya tuan rumah menahan napas dengan penuh kekuatiran.
Setelah mendesak hebat, maka akhirnya Teng tosu berhasil mengirim tusukan maut ke arah tenggorokan Kwe Ong.
Tusukan ini sukar sekali ditangkis karena toyanya berada dalam kedudukan yang
sulit, maka terpaksa Kwee Ong ayun tubuh atasnya ke belakang hingga seperti hendak jatuh.
Dengan gerakan ini ia terluput dari tusukan pedang, tapi secepat kilat Teng tosu kirim tendangan ke arah lututnya hingga tak ampun lagi Kwee Ong roboh di atas panggung dan toyanya terlepas. Jatuhnya miring dan karena pening untuk sesaat ia tak dapat bangun. Ia rasakan lututnya sakit sekali, agaknya putus sambungannya.
“Kwee sicu, maafkan pinto yang kurang ajar!” Teng tosu berkata sambil maju hendak bantu membangunkan Kwee Ong. Tapi pada saat itu, ketika Teng tosu
membungkuk hendak pegang lengan Kwee Ong, dengan cepat dan tak terduga sama sekali, orang she Kwee itu ayunkan tangannya.
Sebatang piauw menyambar dan tepat menancap ditenggorokan Teng tosu yang roboh terguling tanpa dapat mengeluarkan suara lagi. Hal ini terjadi cepat sekali hingga hampir tidak diketahui orang, tapi Lie Bun melihatnya jelas sekali.
Anak muda yang berdarah panas ini segera maju hendak masuk ke pekarangan. Tapi kelima penjaga mencegahnya dengan lintangan tombak dan golok.
“Minggir kamu!” bentak Lie Bun dan entah bagaimana, tahu-tahu kelima penjaga itu terlempar kesana kemari dan jatuh tunggang langgang.
Semua penonton di luar pagar heran dan kagum sekali melihat sepak terjang anak muda itu, terutama kakek yang tadi bercerita kepada Lie Bun merasa terkejut dan heran. Lie Bun tak perdulikan seruan orang-orang itu, tapi terus saja loncat menghampiri panggung dan sebelum orang-orang yang duduk di sekitar panggung tahu apa yang terjadi dengan para penjaga itu, tahu-tahu tubuh Lie Bun telah melayang ke atas panggung.
Pada saat itu, kedua jago dari Nam-kiang melihat betapa kawan mereka dapat dirobohkan dengan cara yang sangat curang, merasa marah sekali dan berbareng meloncat ke atas panggung. Juga kedua jago dari Tung-kiang melihat pihak Nam- kiang loncat, ikut enjot tubuh ke atas.
Akan tetapi sebelum keempat jago dari kedua pihak itu sampai ke atas panggung, tahu-tahu Lie Bun telah mendahului mereka. Kwee Ong yang berhasil merobohkan Teng tosu dengan cara curang, ketika melihat berkelebatnya seorang pemuda ke atas panggung, menyangka bahwa itu tentu kawan Teng tosu hendak menuntut balas, maka ia cepat ayun lagi tangannya dan sebatang piauw meluncur ke arah tubuh Lie Bun yang belum turun kakinya.
Pemuda itu segera membentak. “Bangsat curang!” dan ia gunakan dua jari tangannya menyampok piauw yang terbang itu hingga dengan luncuran yang lebih cepat dari datangnya tadi, piauw itu terbang kembali menyerang tuannya.
Kwee Ong tak keburu berkelit karena hal ini sama sekali tidak disangkanya hingga tahu-tahu piauwnya sendiri telah menancap di lehernya dan ia berteriak ngeri.
Keempat jago yang kini telah naik ke panggung, dua dari Tung-kiang, dua lagi dari Nam-kiang, menjadi terkejut dan heran. Mereka tidak tahu dari mana datangnya anak muda yang lihai ini. Terutama pihak Tung-kiang yang melihat betapa kawan mereka dilukai, segera membentak nyaring.
“Bangsat kecil berani mati! Siapakah kau yang telah berani membunuh kawan kami?”
Sebelum Lie Bun menjawab, dua orang jago dari Nam-kiang yang juga telah naik dan marah melihat ada orang luar ikut campur hingga dapat menimbulkan dugaan buruk terhadap pihak Nam-kiang, membentak marah.
“Pengemis cilik kelaparan! Kenapa kau ikut campur urusan orang lain? Kami tidak sudi dibantu oleh siapapun juga?”
Lie Bun tersenyum dan memandang orang-orang kedua pihak berganti-ganti, lalu berkata sambil angguk-anggukan kepala.
“Memang sudah ku duga. Kamu semua bukanlah orang baik-baik, bukan orang-orang gagah di kalangan kang-ouw yang menjunjung tinggi kegagahan, tentu takkan sudi diperalat oleh orang-orang kaya dan berpangkat untuk saling menghantam sesama kaum dan golongan. Tapi aku tidak perduli semua ini. Kalian orang-orang tersesat mau saling hantam dan bunuh masa bodoh. Tapi di depan mataku jangan sekali-kali terjadi kecurangan seperti tadi. Biarpun yang bertempur hanya segerombolan anjing, kalau ada yang bermain curang, aku tak dapat tinggal diam. Aku paling benci melihat kecurangan!”
Semua orang heran sekali mendengar kata-kata yang sangat berani ini, dan banyak orang menyangka bahwa anak muda pengemis ini tentu berotak miring atau setidaknya seperempat gila.
Orang-orang yang tadi menonton di luar pagar, kini melihat betapa kelima penjaga itu dapat dilempar orang hingga merangkak bangun sambil pegang-pegang kepala yang bocor, beramai-ramai memasuki pintu pekarangan dan melihat ke atas panggung, karena mereka tahu bahwa sekarang akan terjadi perkelahian yang lebih hebat lagi.
“Bangsat kecil, kau memang harus dibikin mampus!” bentak jago kedua dari Tung- kiang yang bertubuh pendek besar dan kepalanya gundul. Inilah Tiat-tauw-ciang si kepala besi yang bernama Bu Swat Kay. “Benar, sebelum kita melanjutkan pertandingan ini, lebih dulu kita harus bereskan binatang ini!” jago pertama dari Nam-kiang berseru.
Sementara itu, kedua mayat dari Kwee Ong dan Teng tosu telah diturunkan orang hingga kini yang berada di atas panggung hanya tinggal Lie Bun yang dikurung oleh empat orang jago dari kedua pihak.
Lie Bun mendengar betapa jago-jago kedua pihak memusuhinya, tersenyum dan berkata.
“Memang seharusnya demikian. Kalau kalian berempat tak dapat menjatuhkan aku, apakah kalian masih ada muka untuk main pencak di sini memamerkan kepandaianmu yang tiada harganya ini? Hayo majulah kalian berempat, boleh coba- coba dengan siauw-yamu!”
Bukan main marahnya keempat orang itu. Mereka adalah jago-jago besar yang ternama dan memiliki kepandaian tinggi.
Jago pertama dari Tung-kiang yang bernama Cee Un dan berjuluk Si jari lihai adalah seorang tinggi kurus yang mahir sekali ilmu totok It-ci-tiam-hwat dan memiliki lweekang yang sudah mencapai tingkat tinggi. Selain menggunakan sebuah jari untuk menotok jalan darah lawan, Cee Un memiliki sebuah senjata yang aneh dan lihai, yakni sebatang pit kuningan yang dapat ia mainkan dengan berbahaya karena selain merupakan senjata yang dapat menembus kulit, mematahkan tulang, juga dapat digunakan untuk menotok jalan darah lawan yang berkulit tebal.
Jago kedua dari Tung-kiang juga seorang yang berkepandaian tinggi. Bu Swat Kay si kepala besi ini memiliki tenaga besar dan keistimewaannya ialah menggunakan kepalanya yang gundul licin untuk menghantam tubuh lawan. Jarang ada lawan yang dapat menahan benturan kepalanya yang lebih berbahaya dari pada serudukan kerbau jantan.
Juga jago-jago dari Nam-kiang tak boleh dipandang ringan. Yang ketiga saja, Teng tosu yang tewas karena kecurangan Kwee Ong sudah cukup lihai. Yang kedua ialah Liok Sat yang dijuluki Lutung Sakti, seorang bekas perampok ulung yang telah terkenal sekali akan ilmu pedang cabang Kun-lun yang telah tercampur dengan lain- lain cabang.
Yang pertama adalah seorang kang-ouw yang telah membuat nama besar, bukan karena kegagahannya saja, tapi juga karena kekejamannya. Ia adalah seorang hwesio cabul yang tersesat bernama Khong Tong Hwesio, seorang ahli dari cabang Siauw- lim-pai, tapi bukan murid langsung, hanya saja ilmu silatnya telah bercampur dengan ilmu silat Pek-lian-kauw. Khong Tong Hwesio ini masih menjadi murid keponakan dari Ang-koay-tojin yang terkenal dan ditakuti seluruh tokoh kang-ouw.
Demikianlah empat orang jago besar itu, tentu saja mereka merasa terhina sekali oleh anak muda yang tak mereka pandang sebelah mata itu.
Si kepala besi tak dapat menahan marahnya lagi, lalu berkata kepada kawan dan lawannya. “Saudara-saudara harap turun dulu, biar aku yang mengantar nyawa binatang jahanam ini ke neraka!”
Karena tidak sudi dianggap mengeroyok seorang anak muda yang usianya tidak lebih dari lima belas tahun, tiga jago lain lalu loncat turun dengan muka merah karena marah dan penasaran.
Lie Bun menghadapi si kepala besi. “Kalau tidak salah, tadi kau diperkenalkan sebagai seorang berkepala besi. Tidak tahu besi di kepalamu itu besi tulen atau palsu?”
Orang-orang luar yang kini telah mendesak masuk ketika mendengar ini tak dapat menahan geli hati mereka dan sambil ditahan-tahan mereka tertawa perlahan.
Bukan main marahnya si kepala besi hingga kepalanya yang licin gundul itu seakan- akan mengeluarkan asap. Ia gulung lengan bajunya dan Lie Bun juga meniru perbuatannya itu, ikut-ikut menggulung lengan baju hingga kembali orang-orang yang melihat tingkah lakunya yang lucu menjadi tertawa.
“Bangsat kecil, lihat saja dalam sepuluh jurus aku pasti akan menjatuhkan kau ke bawah panggung dengan napas putus!”
Lie Bun menjawab sambil meniru-niru gaya dan suara si kepala besi.
“Bangsat besar, lihat saja dalam lima jurus aku pasti akan menjatuhkan kau ke bawah panggung dengan napas empas-empis!”