Halo!

Pengemis Tua Aneh Chapter 11

Memuat...

“Tidak boleh masuk, di luar saja!” kata mereka sambil mendorong orang yang berani mendekat.

Di tengah-tengah pekarangan yang luas, tepat di depan kelenteng itu, telah didirikan sebuah panggung lui-tai yang tingginya tidak kurang dari tiga tombak hingga kelihatan nyata dari luar pekarangan. Di sekeliling panggung itu terdapat kursi-kursi yang puluhan jumlahnya.

Pada saat orang-orang berjejal-jejal di luar pekarangan, tiba-tiba tampak seorang pemuda berpakaian penuh tambalan menyusup di antara orang banyak. Ia adalah seorang pemuda yang berwajah hitam dan buruk karena kulit mukanya penuh tanda cacar. Tapi jika orang memandang penuh perhatian, dibalik keburukannya itu tampak sesuatu yang menyenangkan hati dan menimbulkan sayang pada wajah itu. Entah karena bibirnya yang berbentuk indah dan selalu tersenyum itu.

Rambutnya digelung ke atas dan diikat dengan sehelai ikat rambut warna kuning. Bajunya sukar disebut warnanya, segala warna terdapat di situ karena puluhan tambalan baju itu berwarna berlainan. Celananya pendek hanya sampai di bawah lutut hingga tampak betisnya yang padat kuat dan berkulit halus, jauh berbeda dengan kulit mukanya yang buruk.

Kakinya telanjang tidak bersepatu, tapi tampak bersih, bahkan kuku kedua kakinya terpelihara baik-baik. Pinggangnya yang kecil diikat sabuk kain kuning pula.

Pemuda ini bukan lain ialah Lie Bun. Ia tinggalkan suhunya yang duduk beristirahat di bawah pohon di pinggir jalan. Kemudian pemuda ini mengikuti orang banyak itu yang menuju ke depan kelenteng. Ketika Lie Bun sedang mendesak maju, ia kena desak seorang tua yang memandangnya dengan bersungut-sungut.

“Di mana matamu, anak muda? Kaki orang kau injak saja seenaknya!” dengus orang tua itu.

Lie Bun terkejut dan menengok ke bawah. Ternyata kaki orang tua itupun telanjang. Ia tersenyum dan berkata halus.

“Maafkanlah, lopeh, aku tidak sengaja. Kalau kau merasa sakit, kau balaslah injak kakiku agar hilang marahmu.”

Kata-kata ini diucapkan dengan sewajarnya dan sungguh-sungguh hingga orang tua itu tidak jadi marah, bahkan ia memandang kepada Lie Bun dengan senang. Jaranglah dijumpai seorang pemuda demikian sopan santun dan lemah lembut.

“Eh, kau tentu bukan orang sini, suaramu berbeda,” katanya.

Lie Bun hanya mengangguk sambil tersenyum senang melihat bahwa orang tua itu tak jadi marah. “Lopeh, sebenarnya aku tadi sedang terheran-heran karena hendak melihat apa yang terjadi di sini. Sebetulnya ada terjadi apakah maka semua orang berkumpul di sini, lopeh?”

Permusuhan Bu-gi-hwee dan Sin-seng-hwee

ORANG tua itu agaknya senang sekali melihat ada orang bertanya kepadanya dan memberi kesempatan kepadanya untuk bercerita, maka ia lalu tarik tangan Lie Bun diajak keluar dari tempat yang berjejalan itu. Mereka lalu keluar duduk di atas rumput yang tumbuh di pinggir jalan.

Mula-mula orang tua itu agak heran melihat pakaian dan keadaan Lie Bun, tapi karena pada masa sesukar itu memang banyak orang kelihatan seperti pengemis. Ia lalu tidak perdulikan lagi.

“Kelenteng ini adalah tempat berkumpul atau pusat perkumpulan Bu-gi-hwee, sebuah perkumpulan yang kuat di kota ini, karena Coa-tihu sendiri ikut menjadi pengurus.

Juga banyak hartawan di sini ikut pula menjadi penyokong hingga kedudukan Bu-gi- hwee sangat kuat. Untuk memilih anggota, maka selalu diputuskan oleh para pengurus, karena tidak sembarang orang boleh masuk menjadi anggota. Beberapa bulan yang lalu, seorang hartawan besar hendak masuk menjadi anggota. Tapi karena ia orang baru di kota ini dan pula pernah terjadi pertengkaran antara dia dengan seorang pengurus, hartawan she Kwa itu ditolak. Inilah yang menimbulkan hal kehebohan hari ini. Hartawan ini lalu masuk diperkumpulan Sin-seng-hwee yang berada di kota Nam-kiang yang tak jauh dari sini. Dan dengan adanya Kwa-wangwe

di situ, maka perkumpulan itu menjadi besar dan kuat karena Kwa-wangwe selain kaya, juga ia mempunyai jago-jago silat yang berkepandaian tinggi. Selain itu ia mempunyai keluarga yang berpengartuh di kota raja, karena anak perempuannya kawin dengan seorang pembesar berpangkat teetok.”

“Setelah merasa diri kuat, maka mulailah terjadi persaingan di antara Sin-seng-hwee dan Bu-gi-hwee, yang terjadi karena para anggota dan anak buahnya meniru sikap ketua masing-masing. Sebenarnya di antara Kwa-wangwe dan para pengurus Bu-gi- hwee hanya ada sedikit ketidak cocokan, tapi oleh para anggotanya persaingan itu dibesar-besarkan.”

Ketika mendengar betapa orang tua itu ceritanya berkepanjangan, Lie Bun bertanya dengan halus.

“Lopeh, biarlah hal itu tak usah kita percakapkan. Yang hendak kuketahui hanya lui- tai ini apa maksudnya dan dibuka oleh siapa?”

Empe itu merasa kurang senang karena ceritanya diputus oleh pendengarnya, tapi karena pemuda itu bicara dengan gaya sopan dan halus, ia hanya berkata.

“Yang sedang kuceritakan ini langsung berhubungan dengan panggung lui-tai hari ini. Biarlah kupersingkat ceritaku. Permusuhan antara Bu-gi-hwee dan Sin-seng-hwee menjadi-jadi dan para hartawan dan bangsawan di kota Tung-kiang ini mengadakan adu jago dengan taruhan bahwa yang kalah harus membubarkan perkumpulannya dan menggabung kepada perkumpulan yang menang. Maka didirikanlah panggung lui-tai ini untuk mengadu jago.”

Lie Bun terheran mendengar ini. “Dan yang mengadakan adu jago ini termasuk pembesar-besar sendiri?”

Empe itu mengangguk. “Ya, selain pertaruhan di antara kedua perkumpulan, banyak juga uang dipertaruhkan di antara para hartawan. Kabarnya sampai puluhan ribu tail perak!”

“Siapakah yang akan diadunya?” Lie Bun bertanya dengan hati tertarik sekali. “Siapa lagi kalau bukan guru-guru silat kedua pihak? Aku sendiri tidak tahu siapa,

tapi yang pasti tentu akan terjadi pertempuran hebat dan mati-matian karena kedua

pihak mempunyai ahli-ahli silat yang pandai. Kabarnya akan diajukan masing-masing tiga jago silat!”

Mendengar keterangan ini, Lie Bun merasa tertarik sekali dan mereka berdua segera mendesak kembali ke tengah untuk menonton pertandingan hebat yang akan diadakan. Anak muda ini merasa sangat gembira hingga melupakan gurunya dan ia mendesak sampai di depan sekali, di mana berdiri penjaga-penjaga yang melarang orang luar memasuki pekarangan itu.

Ternyata kini kursi-kursi di pekarangan yang mengelilingi lui-tai telah penuh diduduki orang. Bagian kiri diduduki oleh rombongan tuan rumah, pembesar-besar dan hartawan-hartawan Tung-kiang, sedangkan di bagian kanan diduduki oleh pihak tamu dari Nam-kiang. Di atas panggung telah berdiri seorang tua berpakaian bangsawan, dan dibelakangnya berdiri tiga orang-orang tua yang tampak gagah.

Bangsawan itu menjura ke arah tempat duduk para tamu dan berkata dengan suara lantang tapi hormat.

“Cuwi sekalian yang terhormat. Sebagaimana diketahui, pertandingan yang diadakan hari ini ialah untuk mengakhiri persaingan yang berbahaya. Agar terdengar jelas oleh semua yang berkumpul di sini, kami ulangi peraturan-peraturan pertandingan dan pertaruhan-pertaruhannya yang telah dibuat di atas kertas perjanjian, yakni pertandingan diadakan tiga kali di antara tiga calon atau jago yang diajukan kedua pihak. Pertandingan ini diserahkan kepada mereka yang bertanding untuk mengadakan perjanjian sendiri, hendak pakai senjata atau tangan kosong. Akibat luka atau mati tidak ditanggung oleh jago masing-masing. Dan yang kalah dalam pertandingan ini telah berjanji hendak membubarkan perkumpulannya dan sebagai tanda tunduk, hendak menggabungkan diri kepada perkumpulan yang menang dan dianggap sebagai cabang perkumpulan itu. Sudah jelaskan?”

Terdengar jawaban-jawaban yang menyatakan bahwa keterangannya telah jelas dan disetujui. Kemudian pembesar itu melanjutkan kata-katanya.

“Dan sekarang kami perkenalkan jago-jago kami, yakni jago-jago Tung-kiang. Pertama adalah losuhu Cee Un yang berjuluk It-ci Sin-kang Si jari lihai, kedua adalah losuhu Bu Swat Kay berjuluk Tiat-tauw-ciang Si kepala besi dan yang ketiga adalah losuhu Ouw-bin-liong Kwee Ong Si naga muka hitam. Kini kami persilakan cuwi mengajukan jago-jago dari Nam-kiang.”

Wakil Nam-kiang, seorang hartawan yang bertubuh gemuk dan pandai silat juga, loncat naik ke panggung. Ia membungkuk dan menjura ke arah rombongan tuan rumah dan berkata.

“Cuwi sekalian. Kami dari Nam-kiang telah siap dengan tiga jago kami. Pertama- tama akan maju jago ketiga dari pihak kami, yaitu losuhu Teng Ho Kong.” Ia lalu

loncat turun kembali dan pihak tuan rumah juga loncat turun, kecuali jago ketiga yang menunggu munculnya lawannya. Teng Hok Kong adalah seorang tosu berbaju putih. Ketika tosu ini loncat ke atas panggung, gerakannya demikian ringan dan lemah hingga diam-diam Lie Bun kagum, karena ia maklum bahwa tosu ini tentu tinggi ilmu silatnya.

Kwee Ong yang menjadi jago ketiga dari Tun-kiang, segera menyambut kedatangan lawannya dengan menjura. Ia sudah cukup kenal nama Teng tosu yang lihai, maka ia berlaku hati-hati dan bertanya.

“Teng tosu hendak memberi pengajaran dengan cara bagaimanakah? Bersenjata atau bertangan kosong?”

Teng tosu balas menjura. “Pinto adalah tamu, maka terserah kepada tuan rumah hendak memberi suguhan bagaimana.” Kata-kata ini halus tapi mengandung tantangan jumawa hingga Kwee Ong telah dapat dipanaskan hatinya.”

“Kalau begitu, biarlah kita mengadu kepandaian secara bebas,” jawabnya yang lalu disetujui oleh lawannya.

“Teng tosu, sebagai tamu jangan sungkan-sungkan, mulailah!”

Tosu itupun tidak banyak bicara lagi. Dengan seruan “Awas serangan!” ia maju menyerang. Gerakannya cepat dan ringan, menandakan ginkangnya yang tinggi. Tapi Kwee Ong yang mendapat julukan Si Naga Muka Hitam bukanlah lawan yang ringan.

Ia loncat berkelit dan balas menyerang dengan hebat. Suara para penonton yang tadinya berisik menjadi diam dan sunyi karena semua mata dan perhatian ditujukan ke arah mereka yang berkelahi di atas panggung.

Ternyata kedua lawan itu berimbang sekali. Teng tosu gesit dan cepat, Kwee Ong kuat dan gerak kakinya tetap. Mereka tidak berkelahi secara main-main, tapi mengeluarkan kepandaian simpanan dan berusaha menjatuhkan lawan dengan pukulan-pukulan maut.

Post a Comment