Kang-lam Koay-hiap sekali lagi geleng-geleng kepala. “Apa perlunya mengetahui nama? Asal saja kau dapat melihat kembali ke jalan yang benar dan menjaga nama besarmu sebagai seorang dari kalangan rimba hijau yang gagah dan tahu akan keadilan dan kejujuran, masak kau khawatir akan terganggu oleh orang-orang tua tak berharga seperti aku ini? Nah, kalian kembalilah dan kasihanilah orang-orang kampung yang telah cukup miskin dan menderita ini!”
Kepala rampok dan para anak buahnya masih merasa penasaran karena pengemis tua yang lihai itu tidak mau memberitahukan namanya. Tapi mereka tidak berani memaksa. Ketika kepala rampok itu lewat dekat Lie Bun, ia mendumel perlahan.
“Aneh benar kakek itu!”
Mendengar ini, dengan tersenyum Lie Bun berkata kepadanya. “Memang, ia pendekar aneh dari Kang-lam, tentu saja aneh!” Mendengar ini, Koay-to-ong terkejut sekali. Ia cepat berpaling dan berkata. “Jadi ia Kang-lam Koay-hiap? Celaka, aku telah bersalah kepadanya!” Ia cepat putar tubuh memandang kakek itu, tapi Kang-lam Koay-hiap telah berjalan tereok-seok sambil menyeret tongkat bambunya, menuju ke warung tadi untuk melanjutkan tidurnya yang telah terganggu.
“Locianpwe, maafkanlah kami yang tidak mengenal orang tua yang gagah perkasa!” Kepala rampok itu berteriak. Tapi Kang-lam Koay-hiap seperti tidak mendengar teriakannya itu dan terus masuk ke dalam warung.
“Tentu saja suhuku suka maafkan kau. Kalau tidak, apa kau kira kau akan dapat pergi lagi?” Lie Bun berkata.
Kepala rampok itu menghela napas dan ia lalu cemplak kudanya dan memberi tanda kepada semua anak buahnya untuk cepat-cepat pergi dari situ. Suara kaki kuda yang gemuruh itu makin lama makin melemah, kemudian hilang di balik bukit.
Penduduk kampung keluar dari tempat persembunyian mereka dan dengan berdesak- desakan hendak memasuki warung itu. Tapi Lie Bun mencegahnya di depan pintu dan berkata. “Suhu sedang tidur, jangan ganggu dia!”
Penduduk kampung yang berterima kasih dan anggap Kang-lam Koay-hiap sebagai dewa penolong, menahan-nahan murid dan guru itu supaya suka tinggal di kampung itu untuk beberapa lama. Tapi Kang-lam Koay-hiap yang tidak suka akan sikap mendewa-dewakan dari mereka, segera ajak Lie Bun melanjutkan perjalanan mereka.
Ia meninggalkan pesan kepada para penduduk agar lebih mempererat kerja sama dan persatuan di antara mereka sendiri, juga agar mereka itu lebih memperhatikan nasib orang lain yang sedang ditimpa kesengsaraan dan kekurangan hingga dengan jalan bergotong royong mereka akan merupakan penduduk kampung yang bersatu padu dan kuat hingga tidak mudah diganggu gerombolan perampok.
Baru setelah terjadi peristiwa itu, tahulah Lie Bun akan pekerjaan suhunya, yakni mengulurkan tangan mengerahkan tenaga untuk membela mereka yang tertindas dan membasmi yang jahat. Diam-diam ia kagum sekali dan tekun belajar silat di bawah bimbingan Kang-lam Koay-hiap yang lihai dan luar biasa.
Kang-lam Koay-hiap melihat ketekunan dan kerajinan murid tunggalnya, merasa gembira sekali dan ia menggembleng muridnya itu dengan sungguh hati dan tak mengenal lelah.
Sementara itu, mereka terus merantau dan Kang-lam Koay-hiap sengaja ajak muridnya itu melalui daerah-daerah yang berbahaya hinga berkali-kali mereka mengalami pertempuran-pertempuran hebat dan dimana saja mereka berada, selalu Kang-lam Koay-hiap turunkan tangan besi kepada para penjahat dan ulurkan tangan hangat kepada mereka yang kedinginan dan kesusahan.
Hal ini memang disengaja oleh Kang-lam Koay-hiap karena ia hendak mempertebal rasa perikemanusiaan yang memang telah bersemi di dalam jiwa muridnya. Ia hendak menggembleng muridnya itu supaya kelak menjadi seorang pendekar yang selain gagah perkasa, juga berjiwa luhur dan pembela keadilan dan kebenaran berdasarkan rasa perikemanusiaan.
Waktu berjalan cepat sekali hingga tak terasa lagi empat tahun telah lewat. Keadaan Tiongkok di waktu itu sangat kacau karena kaisar yang memegang tampuk pemerintahan sangat lalim dan hanya mementingkan pelesir dan senang-senang saja. Kaisar lalim ini tidak atau sedikit sekali memperdulikan keadaan negara dan rakyatnya hingga boleh dibilang ia telah melepaskan tangan dari kemudi dan menyerahkan kemudi pemerintahan kepada para pembesar tinggi yang pandai ambil muka dan yang berhati srigala.
Dengan sifatnya yang menjilat-jilat, para durna itu dapat merebut kedudukan- kedudukan baik dan kepercayaan kaisar hingga mereka dapat meninabobokan kaisar lalim itu yang tenggelam dalam siraman arak wangi, belaian tangan-tangan halus para selir yang tak terhitung banyaknya, di tambah pula dengan hiburan-hiburan berupa tari-tarian dan seni suara yang memabukkan dan membuat ia seakan-akan hidup dalam surga. Ia tidak sadar sama sekali betapa para durna itu menetapkan bermacam-
macam peraturan seperti menambah beban rakyat dengan pajak-pajak yang berat, dan tidak tahu sama sekali bahwa di bawah matanya terjadi gejala-gejala yang membuat rakyatnya tertindas dan sengsara sekali.
Para pembesar dari yang tinggi sampai yang paling rendah meniru keadaan kaisarnya, yakni semua hendak hidup mementingkan diri sendiri, hendak tenggelam dalam laut kesenangan dan untuk memenuhi nafsu angkara murka ini. Tiada lain jalan bagi mereka selain memeras rakyat. Lain jalan ialah menghubungi para hartawan dari siapa mereka mendapat uang sogokan yang besar jumlahnya, dan sebaliknya si hartawan lalu memeras rakyat dengan jalan menghisap tenaga mereka.
Celakalah rakyat kecil. Mereka bekerja seperti kerbau, membanting tulang memeras keringat. Para buruh bekerja mati-matian untuk memakmurkan majikannya yang hanya goyang-goyang kaki sambil isap huncpwe menikmati sedap harumnya tembakau. Para petani bekerja melebihi kerbau untuk menggendutkan perut tuan tanah yang sudah gendut. Dan semua itu hanya untuk dapat menerima sekepal makanan tiap hari untuk mencegah mereka dari pada bahaya maut kelaparan.
Bila musim kering tiba, maka sudah tidak mengherankan lagi bila di sana sini terdapat orang-orang mati kelaparan. Pada waktu seburuk itu, tidak heranlah hika terdapat hal- hal yang ganjil seperti berikut.
Di dalam gudang-gudang para hartawan dan para pembesar bertumpuk padi dan gandum yang sampai membusuk di makan ulat karena banyaknya hingga berlebih- lebihan sedangkan di luar gudang-gudang itu mayat-mayat rakyat kecil mati bergelimpangan karena kelaparan.
Ada pula hakim-hakim dan jaksa-jaksa yang menjatuhkan keputusan dari perkara
yang diadilinya bukan berdasarkan duduknya perkara, tapi berdasarkan besarnya uang sogokan. Yang lebih kuat dan memberi terbanyak, pasti menang dalam perkara itu.
Di tiap kampung muncullah raja-raja kecil, yakni tuan-tuan tanah dan para hartawan. Mereka ini merupakan raja-raja kecil, karena mereka untuk membela kepentingan sendiri sengaja membentuk barisan-barisan pengawal atau tukang pukul. Mereka tak segan-segan membuat peraturan-peraturan yang khusus berlaku bagi daerah atau kampungnya, peraturan yang dipaksakan kepada rakyat kecil, terutama kepada para petani miskin.
Demikianlah, maka jika para penindas rakyat itu hidup dalam alam penuh kesenangan dunia, adalah si rakyat kecil yang hidup dalam neraka dunia. Hanya mata para orang- orang gagah dan patriot sajalah yang dapat melihat betapa keluhan-keluhan dan jeritan-jeritan rakyat membumbung tinggi ke angkasa meminta keadilan kepada Tuhan yang Maha Esa.
Kang-lam Koay-hiap dan muridnya termasuk orang-orang yang melihat keadaan buruk ini dan karenanya orang tua itu makin giat mengulurkan tangan membantu kehendak Thian yang mendengarkan jerit dan keluh manusia-manusia sengsara itu.
Seringkali Kang-lam Koay-hiap berkata kepada muridnya.
“Lie Bun, kau lihat baik-baik. Beginilah keadaan dunia. Kau lihat saja, masih adakah orang yang pamntas disebut manusia? Tak usah kita melihat iblis-iblis yang menjelma menjadi hartawan-hartawan kikir dan pembesar-pembesar curang. Baiklah kita melihat kepada orang-orang kecil sendiri. Keadaan mereka yang sangat buruk itu memaksa mereka gunakan kelicikan dan kecurangan untuk dapat sekedar mengisi perut. Mereka saling tipu untuk dapat memberi makan kepada anak isterinya. Kau lihatlah! Bukankah ini mengerikan? Kita tidak berdaya, muridku, maka kita harus bertindak menurut takaran tenaga dan kemampuan yang ada pada kita saja. Pertama- tama kita janganlah sampai terbawa arus berbahaya dan buruk ini. Jangan sampai kita ikut menurutkan nafsu hati merugikan orang lain. Kedua, kita harus turun tangan dan membereskan segala yang tampak tidak lurus dan tidak adil. Kalau perlu, untuk membela keadilan, boleh kita pertaruhkan jiwa kita.”
Lie Bun yang telah menjadi seorang pemuda dewasa berusia kurang lebih lima belas tahun, mendengarkan nasehat suhunya dengan hormat. Dalam empat tahun ini, ia telah mengenal pribadi suhunya sebagai seorang yang tidak hanya memiliki kepandaian tinggi, tapi juga memiliki jiwa yang luhur dan pengertian tentang hidup yang dalam.
Selama empat tahun itu, Lie Bun betul-betul memperoleh gemblengan hebat, karena tidak saja ia digembleng dalam hal pelajaran ilmu silat tinggi, tapi juga ia mendapat gemblengan ilmu bathin yang dalam dan mendapat pengalaman yang luas karena biarpun pengalaman itu hanya terjadi selama empat tahun, namun karena selama itu ia mengalami peristiwa-peristiwa hebat, maka telah membuka matanya dan mempertajam ingatannya.
Pada suatu hari, di kota Tung-kiang kelihatan ramai sekali dan banyak orang tampak hilir mudik memenuhi jalan raya. Pada wajah mereka tampak jelas bahwa swsuatu yang menarik hati terjadi di kota itu. Mereka bergegas-gegas dan nampaknya riang gembira seperti orang yang hendak menonton sesuatu. Ternyata bahwa mereka itu sebagian besar menuju ke sebuah kelenteng besar yang mempunyai pekarangan luas sekali. Orang-orang berjejal-jejal di luar, karena pekarangan itu dipagari kokoh kuat sedangkan pada pintu pagar ada beberapa orang yang tinggi besar bersenjata di tangan berdiri menjaga dan melarang orang-orang yang hendak masuk.