“Anak kecil, kau bohong! Kau lancang sekali. Tahukah kau siapa kami yang datang ini?”
Lie Bun mengangguk sederhana. “Kalian adalah perampok-perampok jahat!” Terbelalak mata kepala rampok itu, dan ia mulai menganggap anak ini berotak miring.
“Kalau kau tahu kami perampok, mengapa kau berani main-main? Aku akan membunuhmu!” “Mengapa? Karena aku berani keluar?”
“Tidak, karena kau membohong! Mana kau becus membuat lukisan sebagus ini?”
Marahlah Lie Bun. Ia segera membungkuk dan memungut sepotong kayu tajam, lalu berkata.
“Kau lihatlah. Aku akan melukis kau!”
Kemudian sambil memandang-mandang muka kepala rampok itu, Lie Bun membuat corat-coret di atas tanah dan sebentar saja ia telah dapat membuat coretan kasar dari wajah seorang yang mirip wajah kepala rampok itu.
“Lihatlah!” Dan kepala rampok itu lalu memandang lukisan itu dari dekat. Ia heran sekali karena coretan itu memang menggambarkan wajah orang yang hampir sama dengan wajahnya sendiri kalau ia sedang bercermin di dalam air.
“Kau pandai melukis anak kecil. Tapi tetap saja kau harus dibunuh, karena kau berani dan kurang ajar!”
“Kau takkan dapat membunuhku,” jawab Lie Bun tenang. Kembali orang tinggi besar itu terperanjat. “Apa? Mengapa?” “Suhuku takkan mengizinkan kau membunuhku!”
“Ha ha! Kau pengemis kecil mempunyai suhu? Tentu suhumu pengemis jembel tua. Mana dia?”
“Aku ada di sini, siapa mencari pengemis jembel tua?” tiba-tiba terdengar jawaban dan ketika Lie Bun menengok, maka suhunya telah berjalan menghampiri mereka dengan tindakan kaki perlahan dan tenang. Nyata bahwa suhunya masih merasa malas meninggalkan bangku panjang tempat tidurnya tadi.
Melihat seorang kakek pengemis yang pakaiannya penuh tambalan dan celananya pendek hanya sampai di lutut dan kakinya telanjang itu, kepala rampok memandang rendah.
“Orang-orang kampung di sini agaknya berani mampus betul, tidak patut menyambuyt kedatangan kami dengan mengeluarkan para jembel yang berbau busuk!”
“Monyet besar, kami golongan pengemis masih jauh lebih harum jika dibandingkan dengan kamu perampok-perampok rendah!” jawab Kang-lam Koay-hiap dengan senyum menghina.
Mendengar hinaan ini, kepala perampok itu menjadi marah sekali. Matanya melotot merah dan ia pandang pengemis tua itu dengan marah. “Apakah kau cari mampus?” bentaknya lalu ia berpaling ke arah anak buahnya. “Bakar semua rumah dan lempar jembel busuk ini ke dalam api!”
Dari rombongan perampok terdepan maju tiga orang yang menjadi thauwbak- thauwbak atau pemimpin-pemimpin kecil. Mereka siap hendak memberi perintah kepada para liauwho untuk melakukan tugas ini.
Tapi tiba-tiba Kang-lam Koay-hiap gerakan tangan kanannya ke arah mereka bertiga sambil berseru.
“Jangan berani bergerak!” Dari tangan Kang-lam Koay-hiap menyambar keluar beberapa buah batu kecil yang ternyata telah digenggam sejak tadi. Batu-batu kecil itu menyambar ke arah ketiga thauwbak itu dan heran sekali, tanpa dapat mengeluarkan sepatah pun kata atau jeritan, tubuh ketiga pemimpin itu menjadi lemas dan roboh, karena dengan jitu sekali batu-batu itu dapat menotok jalan darah mereka.
Hal ini menimbulkan gempar di kalangan anak buah perampok, bahkan kepala perampok sendiri menjadi terkejut dan marah. Ia belum dapat menduga bahwa itu adalah serangan lweekang yang tinggi dan hanya mengira bahwa secara kebetulan saja kakek pengemis itu dapat merobohkan ketiga pembantunya, atau kakek itu menggunakan senjata rahasia yang lihai. Dengan teriakan keras, ia cabut goloknya yang mengeluarkan sinar mengkilap.
“Pengemis tua! Kau berani sekali mengganggu anak buahku. Tidak tahukah kau siapa yang berhadapan denganmu?”
Kang-lam Koay-hiap geleng-geleng kepalanya dengan perlahan, lalu menjawab. “Mana aku kenal dengan segala cacing tanah!”
Merahlah wajah kepala rampok tinggi besar itu. “Dengarlah, jembel tua bangka! Tay- ongmu ini adalah Koay-to-ong dari Sansee. Kalau kau memang termasuk orang kang- ouw, hayo kau merayap pergi sebelum golokku minum darahmu yang tak berharga!”
Kang-lam Koay-hiap pandang tongkat bambu di tangannya sambil berkata perlahan.
“Orang tinggi besar ini julukannya Raja Golok Setan, tidak tahu goloknya itu dapat bertahan beberapa jurus terhadap kau, tongkat tua!”
Melihat sikap pengemis tua yang sangat memandang rendah padanya itu, Koay-to- ong merasa ragu-ragu, maka ia bertanya.
“Sebenarnya siapakah kau orang tua yang usil tangan dan suka mencampuri urusan orang lain?”
Kang-lam Koay-hiap menjawab tenang. “Koay-to-ong, tak perlu kiranya di sini kita mengobrol nama kosong. Kau seorang gagah yang telah membuat nama besar di kalangan kang-ouw. Mengapa kau tidak mau menjaga nama besarmu? Mengapa sekarang kau begitu rendah hingga mengganggu rakyat jelata yang memang hidupnya sudah sukar? Kalau kau merampok hartawan-hartawan pelit atau pembesar-pembesar penindas rakyat, aku orang tua takkan ambil perduli. Tapi, melihat kau telah berubah menjadi perampok kecil yang rendah dan tidak kenal malu hingga berani menyerbu kampung yang begini miskin, terpaksa aku biarpun sudah tua, melupakan kebodohan dan kelemahan sendiri dan akan kucegah perbuatanmu yang hina ini!”
“Jermbel tua sungguh sombong! Kau tahu apa tentang pekerjaan kami? Kau berani betul menasehati kami dan hendak mencegah pekerjaanku. Biarlah kubikin kau mampus lebih dulu sebelum aku melanjutkan pekerjaanku!”
“Itu lebih baik, boleh kau cobalah!”
Koay-to-ong tak sabar lagi. Ia putar-putar goloknya yang berat dan besar hingga menimbulkan suara bersuitan dan angin bertiup di sekelilingnya. Kemudian sambil membentak keras, ia kirim bacokan ke arah kepala Kang-lam Koay-hiap dengan tipu gerak Han-ya-pok-cui atau Burung gagak sambar air. Tapi kakek itu dengan tenangnya berkelit sedikit hingga golok besar itu mendesing menyambar di sebelah tubuhnya ke bawah. Ternyata Koay-to-ong memiliki ilmu golok yang hebat dan gerakannya cepat sekali. Ketika serangannya yang pertama ini gagal, maka ia teruskan Hong-sauw-pay-yap atau Angin sapu daun rontok, hingga golok itu dengan cepat sekali menyambar kedua kaki lawannya. Gerakan ini bagus dan berbahaya sekali hingga Kang-lam Koay-hiap memuji. “Bagus!” Lalu loncat cepat berkelit dengan gerakan Lo-wan-teng-ki atau Monyet tua loncati cabang, hingga sekali lagi serangan lawannya dapat digagalkan dengan mudah.
Makin marahlah Koay-to-ong betapa serangan-serangan hebat yang ia lancarkan itu dapat dikelit demikian mudahnya oleh lawannya, maka ia segera putar goloknya makin cepat dan mulai lakukan serangan bertubi-tubi sambil keluarkan ilmu golok Lo-han To-hwat dari cabang Siauw-lim-si yang terkenal lihai. Namun Kang-lam
Koay-hiap seorang tokoh kawakan yang sudah mahir sekali akan segala macam ilmu silat dari cabang manapun juga, tentu saja kenal baik ilmu golok ini hingga tanpa banyak kesukaran ia dapat kelit semua serangan.
“Orang tua busuk, hanya jangan bisa berkelit, kau balaslah menyerang!” kepala rampok itu memaki sengit karena merasa gemas sekali betapa kakek itu mempermainkannya dengan main kelit tanpa membalas sedikitpun juga. Ia ingin kakek itu membalas agar ia dapat gunakan tenaga tangkisannya membikin terpental tongkat bambu kecil itu.
Sementara itu Lie Bun yang nonton sambil nongkrong di pinggir, merasa senang sekali melihat betapa suhunya mempermainkan lawannya, maka tak terasa lagi ia tertawa terkekeh-kekeh, lalu berkata keras. “Suhu, mengapa kau tidak pukul pantatnya dengan tongkatmu?”
Mendengar anjuran muridnya, Kang-lam Koay-hiap lalu tertawa dan berkata, “Kau ingin dibalas? Nah, terimalah!”
Belum habis kata-kata terakhir diucapkan, tahu-tahu Koay-to-ong merasa pantatnya pedas ketika terdengar suara “plok!” dan tongkat bambu itu menghantam tubuh belakangnya. “Kurang ajar!” ia membentak dan menyerang lagi. Tapi kini ia merasa terkejut sekali karena kakek itu dengan luar biasa sekali telah melakukan serangan balasan hingga seakan-akan berubah menjadi empat orang yang menyerangnya dari segala penjuru.
Ujung tongkat bambu itu tampak di mana-mana mengancam jalan darahnya, hingga Koay-to-ong terpaksa gunakan ilmu golok yang dilakukan dengan bergulingan di atas tanah. Tapi betapapun juga ia menjaga diri, ujung tongkat itu tetap saja mengikutinya. Bahkan sewaktu-waktu demikian dekat di depan matanya seakan-akan hendak mencongkel keluar matanya.
Syukur sekali baginya bahwa Kang-lam Koay-hiap tidak hendak mencelakakannya. Kalau tidak, tentu sudah tadi-tadi ia tewas. Koay-to-ong loncat berdiri dari keadaan bergulingan, dan ketika tongkat menyambar ia sengaja gunakan goloknya menyabet sekuatnya.
Kang-lam Koay-hiap maklum akan maksud lawannya, maka ia lalu keluarkan keandalan dan memperlihatkan kelihaiannya. Ia sengaja adu tongkatnya dengan golok itu.
Dua senjata yang jauh bedanya, baik dalam ukuran maupun dalam beratnya itu, beradu dan “cring!” tahu-tahu golok besar itu terlepas dari pegangan Koay-to-ong yang merasa kulit tangannya seakan-akan dibeset dan golok itu terbang ke atas terputar-putar. Ketika golok menyambar turun, Kang-lam Koay-hiap gunakan tongkatnya menyabet miring dan golok itu lalu meluncur dan menancap di atas tanah sampai lebih setengahnya.
Melihat kehebatan kakek ini, pucatlah wajah Koay-to-ong. Ia segera menjura dalam dan berkata.
“Sungguh aku bermata buta tidak melihat seorang gagah di depan mata. Bolehkah siauwte mengetahui siapa nama losuhu yang mulia?”