Halo!

Pengemis Tua Aneh Chapter 08

Memuat...

menghajarmu dan selain itu, ah, lihat sajalah, nanti kau pun akan tahu sendiri.”

Beberapa hari kemudian tahulah Lie Bun apa yang dimaksudkan oleh gurunya dengan pekerjaan itu. Ketika itu mereka berjalan memasuki sebuah kampung di dekat hutan. Ketika mereka mengemis nasi, jangankan mendapat dua mangkuk nasi, sedangkan minta air saja tidak ada yang mau memberi.

Semua penduduk kampung itu bermuka muram dan mereka itu kebanyakan menutup pintu dan keadaan di situ miskin sekali.

Kang-lam Koay-hiap merasa heran sekali, kemudian ia mencari dan menjumpai beberapa orang pengemis tua yang kelaparan di pinggir kampung. Ia majukan pertanyaan yang dijawab oleh seorang pengemis dengan suara pilu bahwa kampung itu menghadapi saat kebinasaannya, seperti juga dirinya dan beberapa orang kawan lain yang sejak kemaren belum makan.

Lie Bun merasa kasihan sekali diam-diam ketika suhunya sedang bercakap-cakap dengan pengemis itu, ia pergi dan menuju ke sebuah warung nasi. Di situ ia mengemis dengan suara mohon dikasihani karena ada orang kelaparan yang kalau tidak lekas- lekas ditolong tentu mati.

Tukang warung marah-marah dan mengusirnya, tapi Lie Bun terkenal berwatak keras hati dan tidak mudah mundur. Ia majukan alasan-alasan, bahkan berani berkata.

“Apa kau bukan manusia? Di sana ada beberapa orang manusia lain yang sedang kelaparan dan hampir mati. Apakah untuk memberi semangkuk nasi saja kepada mereka kau merasa keberatan?”

“Anjing kecil tak tahu keadaan orang. Kau kira kami ini hidup makmur? Kami sendiri terancam bahaya. Siapa yang bisa menolong?”

“Sabarlah, kawan. Sebentar lagi kalian kutolong.” Tiba-tiba terdengar suara dan orang-orang di kedai itu melihat seorang pengemis tua berdiri di situ. Mereka anggap pengemis ini gila maka mereka mengomel panjang pendek.

“Mengapa datang lagi pengemis-pengemis yang mengganggu kita? Ah, dunia sudah penuh segala pengemis dan perampok.”

Kang-lam Koay-hiap yang telah menyusul muridnya dan memberi janji hendak menolong tak perdulikan sikap mereka, tapi ia langsung memasuki kedai itu dan cepat sekali ia mengambil lima potong kue kering yang terletak di atas meja. Orang-orang menjadi marah dan mengejarnya, tapi Kang-lam Koay-hiap rogoh bajunya yang

penuh tambalan dan dari dalam saku dalam ia keluarkan sepotong perak yang beratnya tak kurang dari lima tail.

“Ah, manusia-manusia mata duitan. Kalian ingin terima uang untuk menolong sesama manusia hidup yang kelaparan? Hm, kalau hidupmu hanya untuk mengejar uang saja, akan datang saatnya kalian mendapat celaka. Nah, ini ambillah uang ini untuk pembayar makanan yang kubawa!”

Ia lempar potongan perak itu di atas tanah dan sambil membetot tangan muridnya. Ia tinggalkan tempat itu, cepat menuju ke tempat di mana para pengemis itu rebah kelaparan menanti datangnya maut.

Kue itu dibagi-bagi dan para pengemis itu berlutut menghaturkan terima kasih. Pada saat itu datanglah orang-orang kampung yang tadi berkumpul di kedai beramai-ramai.

“Losuhu, tunggulah! Maafkan kelakuan kami tadi. Bukanlah kami orang-orang kejam dan mata duitan, tapi sebenarnya kami sendiri sedang berada dalam keadaan yang membutuhkan.” “Aku sudah tahu. Bukankah kalian diganggu oleh perampok-perampok yang tinggal di hutan itu? Kalian diperas dan dirampok sampai habis? Nah, bukankah tadi aku sudah berkata hendak menolong kalian?” kata Kang-lam Koay-hiap tak acuh.

“Maafkan kami, losuhu. Kalau memang losuhu ada kepandaian, tolonglah kami demi perikemanusiaan, demi Tuhan yang Maha Esa.” Orang-orang itu meratap dan kini bahkan ada beberapa orang yang berlutut memohon-mohon.

Kang-lam Koay-hiap tiba-tiba pukulkan ujung tongkatnya ke atas tanah dan membentak. “Kalau begitu, mengapa kalian sendiri tidak berperikemanusiaan dan tidak mau menolong beberapa orang yang sedang kelaparan ini?”

“Ampun, losuhu .... kami sedang bingung dan tak tahu harus berbuat apa ”

“Dengarlah, kamu semua. Aku mau menolong kalian, tapi kalian harus berjanji bahwa mulai saat ini kalian harus lempar jauh-jauh sifat kikir dan mementingkan diri sendiri itu. Kalian harus saling bantu dan menolong mereka yang sengsara. Ingatlah bahwa tiap manusia ini tak mungkin berdiri sendiri di muka bumi tanpa saling bantu dan saling tolong. Jangan hanya ingin ditolong oleh orang lain saja tapi diri sendiri tidak sudi mengulurkan tangan memberi bantuan kepada orang yang sedang sengsara.

Kalau kalian mau berjanji, aku pengemis miskin akan membantumu. Tapi, kalau tidak, aku bahkan ingin membantu perampok menghabiskan harta bendamu!”

Pekerjaan Pengemis Aneh

DENGAN menangis dan beramai-ramai mereka berlutut dan berjanji, bahkan ada beberapa orang yang serentak maju dan menarik bangun para pengemis yang kelaparan tadi dan membimbingnya ke dalam warung untuk diberi makan minum.

“Nah, kalau begitu, sediakan makan minum yang enak untuk aku dan muridku. Soal perampok-perampok kecil itu serahkan saja kepadaku.”

Beramai-ramai mereka kembali ke warung tadi dan orang-orang sibuk menghidangkan makanan enak-enak untuk Kang-lam Koay-hiap dan muridnya. Melihat makanan yang lezat-lezat itu, walaupun di rumahnya dulu Lie Bun sering makan masakan-akan yang lebih mewah dan lezat, namun karena perutnya sekarang

sedang lapar sekali, ia segera serbu hidangan itu dengan lahap tanpa sungkan-sungkan lagi. Gurunya pun demikian hingga sebentar saja guru dan murid itu berlomba makan hingga perut mereka menjadi penuh.

Kang-lam Koay-hiap elus-elus perutnya yang kenyang, lalu ia rebahkan diri di atas bangku panjang dan tidur mendengkur. Lie Bun tertawa geli melihat suhunya dan ia sendiri lalu keluar dari warung dan mendekati rombongan anak-anak yang sedang main-main di luar. Tapi anak-anak itu melihat seorang pengemis kecil mendekati mereka, lalu pada menjauh dan memandangnya dengan menghina.

Lie Bun biarpun baru beberapa hari saja menjadi pengemis, namun ia sudah biasa akan pandangan menghina dari orang lain padanya hingga ia tidak menjadi marah. Bahkan ia lalu ambil sebutir batu yang runcing dan gunakan itu untuk menggurat- gurat tanah. Dulu di rumahnya ia pernah diajar menggambar oleh guru sekolahnya dan agaknya ia memang berbakat melukis.

Anak-anak yang menjauhkan diri ketika melihat pengemis kecil itu menggurat-gurat di atas tanah, menjadi tertarik dan ingin tahu. Beberapa orang anak mendekat dan ketika mereka melihat lukisan kerbau yang indah, mereka maju makin dekat dan sebentar lagi semua anak yang tadi menjauh telah merubung Lie Bun.

“Bagus kerbau bagus!” mereka bersorak dan seorang anak berkata.

“Gambarkan burung untukku!”

Lie Bun menengok sambil tersenyum girang ketika melihat semua anak-anak merubungnya, maka ia segera gunakan tangan kiri membersihkan batu-batu kecil dan daun-daun kering dari permukaan tanah dan mulai menggambar burung yang indah. Kembali anak-anak bersorak riang.

Tak lama kemudian semua anak minta digambarkan, hingga halaman di situ penuh dengan lukisan segala macam binatang.

Sorakan yang saling susul dari anak-anak itu tiba-tiba mendapat sambutan sorakan lain yang keras sekali. Mendengar suara sorakan yang datangnya dari arah hutan itu, semua anak-anak yang tadi tertawa-tawa lalu menangis dan lari pulang ke masing- masing rumahnya.

Orang-orang tua juga tampak bergemetaran dan lari masuk ke dalam rumah lalu kunci pintu rumah dari dalam.

Lie Bun melihat betapa sebentar saja kampung itu menjadi kosong dan sunyi. Cepat- cepat ia masuk ke warung dan mendekati gurunya yang masih mendengkur.

Di dalam warung itupun berkumpul banyak orang, karena sebagian besar orang kampung sengaja mendekati pengemis tua yang telah berjanji hendak menolong mereka. Tapi alangkah kaget dan kecewa mereka ketika melihat betapa pengemis itu masih saja enak-enak mengorok di bangku panjang, sedangkan kawanan perampok telah datang menyerbu.

Beberapa orang lalu maju menghampiri kakek itu dan berbisik-bisik memanggil. “Losuhu ... losuhu bangunlah, mereka telah datang!”

Lie Bun melihat suhunya diganggu, lalu mencegah mereka dengan berkata keras.

“Kalian ini tidak tahu aturan. Orang sedang tidur diganggu. Tidak percayakah kalian kepada suhu?”

Tentu saja orang-orang itu tidak puas mendapat jawaban ini karena kini telah terdengar suara kaki kuda di depan warung itu bahkan terdengar bentakan-akan para perampok.

“Mana orang? Hayo, lekas keluar!” Mendengar ini semua orang di dalam warung itu menggigil dan berjongkok sambil tutupi muka.

Pada saat itu, tiba-tiba dari luar terdengar suara yang parau dan keras tertawa bergelak dan berkata. “Ha ha ha! Bagus sekali semua lukisan ini. Eh, orang dalam warung, siapakah yang melukis semua gambar di tanah ini? Pelukisnya lekas keluar!”

Lie Bun memang seorang anak pemberani. Mendengar pertanyaan ini, keluarlah ia tanpa ragu-ragu dan berjalan tenang menghampiri para perampok itu. Ia melihat seorang yang bertubuh tinggi besar bagaikan seorang raksasa telah turun dari kuda dan berdiri menundukkan kepala memandang ke arah lukisan-lukisannya.

Agaknya orang itu adalah kepala perampok, karena para perampok-perampok lain berdiri agak jauh dengan sikap menghormat, juga pakaian mereka tidak sehebat kepala rampok tinggi besar ini. Yang membuat ia tampak gagah menyeramkan adalah cambang bauknya yang kaku dan mengacung ke sana-sini, sedangkan dipinggangnya tergantung sebilah golok besar yang mengkilap dan tajam, karena golok itu telanjang tak bersarung.

Kepala rampok itu mendengar ada orang keluar dari warung, lalu memandang. Alangkah herannya ketika melihat bahwa yang keluar hanyalah seorang anak kecil berusia belasan tahun. Ia makin tertarik dan heran melihat betapa anak itu dengan tabah dan tidak ragu-ragu berjalan menghampirinya dengan muka terangkat. Ternyata muka anak yang agak buruk itu mempunyai sepasang mata yang tajam dan bersemangat.

“He, anak kecil! Mau apakah kau keluar?” bentaknya dengan suara sengaja dikeraskan untuk menakut-nakuti.

“Bukankah tadi kau menanyakan pelukis semua gambar ini?” Lie Bun balas bertanya.

Makin heran kepala rampok itu. Ia bongkokkan tubuh untuk dapat menentang mata anak berwajah buruk itu.

“Apa katamu? Tahukah kau siapa yang melukis semua ini?” “Tentu saja tahu karena yang melukisnya adalah aku sendiri!”

Kepala rampok itu dongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

Post a Comment