Halo!

Pengemis Tua Aneh Chapter 07

Memuat...

Ia perhatikan pengemis itu. Tubuhnya kurus kering dan berpenyakitan karena kurang makan. Kulit tubuhnya kotor karena tidak dirawat, tapi sepasang matanya yang membayangkan putus asa dan penderitaan besar itu mempunyai biji mata yang bulat dan besar. Anak ini sudah cukup menderita hingga batinnya telah mempunyai dasar yang kuat, pikirnya. Mengapa tidak? Maka ia mengambil keputusan.

“Berdirilah kau anak muda, dan ikutlah padaku jika kau ingin mengubah jalan hidupmu!”

Pengemis muda itu walaupun tidak mengerti betul apa arti kata-kata pendeta itu, cepat berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala menyatakan terima kasihnya. Lalu ia berdiri dan berjalan mengikuti hwesio itu yang bertindak pergi keluar dari kota itu, tanpa pamit kepada kenalannya yang tadi membujuk-bujuknya untuk menjadi guru anaknya.

Pengemis muda itu ketika ditanya oleh Gwat Leng Hosiang, mengaku bernama Siok Ki dan berasal dari Kang-lam. Ia tidak ingat she nya lagi dan tidak tahu siapa orang tuanya, karena sepanjang ingatannya, ia sudah hidup seorang diri mengemis sepanjang jalan hingga hidupnya terlunta-lunta sampai ke kota Lok-yang.

Setelah dibawa ke bukit Hwan-tien-san dan menjadi murid tunggal Gwat Leng Hosiang, Siok Ki bekerja membersihkan kelenteng itu dengan rajin sekali hingga

Gwat Leng Hosiang suka kepadanya. Kemudian setelah diberi pelajaran silat, ternyata Siok Ki mempunyai bakat yang baik dan tekun belajar. Agaknya pengemis muda

yang telah hidup menderita itu ingin menjadi seorang berguna. Pernah secara iseng suhunya bertanya.

“Siok Ki, kalau engkau sudah tamat belajar dan menjadi seorang yang berkepandaian tinggi dan kembali ke masyarakat ramai, kau hendak bekerja apakah?”

Untuk beberapa lama Siok Ki tak dapat menjawab dan berpikir keras. Kemudian ia menjawab dengan suara tetap.

“Suhu, teecu telah terangkat dari lumpur kehinaan oleh suhu dan menerima budi yang tak terkira besarnya. Akan tetapi, teecu bersumpah bahwa selama hidup teecu akan tetap menjadi seorang pengemis, pengemis yang akan menjalankan tugas kewajiban seorang yang berkepandaian. Teecu akan selalu menjadi pengemis agar teecu selamanya tak lupa akan budi kecintaan suhu, dan agar teecu selalu ingat bahwa di dunia ini masih banyak sekali orang-orang yang nasibnya seperti teecu ketika belum bertemu dengan suhu, hingga teecu akan selalu ingat untuk menolong nasib mereka yang bersengsara.” Gwat Leng Hosiang tersenyum. “Aku setuju kepada maksud dan cita-citamu, Siok Ki, asal saja kau tidak melewati batas-batas yang telah ada pada setiap perbuatan di dunia ini. Aku yakin kau tidak akan mengganggu atau berbuat jahat terhadap sesama hidup, karena kau pernah menderita dan merasakan sendiri betapa sengsaranya hidup menderita. Tentu kau tidak tega untuk membikin orang menderita, bukan? Tapi hanya satu hal yang harus kau ingat baik-baik, Siok Ki, yaitu sedapat mungkin jangan

sekali-kali kau menerima seorang murid!”

Kaget dan heranlah Siok Ki mendengar pesan suhunya ini.

“Mengapa suhu?” Bukankah suhu juga mengangkat teecu sebagai murid? Kalau teecu tidak menerima murid kelak, maka kepandaian yang suhu ajarkan akan habis sampai

di tangan teecu saja, siapakah yang akan melanjutkan dan memelihara kepandaian dan ilmu-ilmu dari Hwan-tien-pai?”

Gwat Leng Hosiang tersenyum. “Memang demikianlah pendapat orang banyak. Tapi bagiku, baik ilmu silat kita musnah dari pada terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat yang menggunakan ilmu silat Hwan-tien-pai hanya untuk melakukan kejahatan belaka. Kalau hal ini terjadi, maka biarpun aku sudah mati, arwahku takkan dapat tenteram melihat betapa ilmu silat yang kuciptakan digunakan orang untuk melakukan kejahatan. Dan lagi, aku khawatir kalau-kalau kelak mengalami nasib seperti dongeng tentang guru silat yang dilawan muridnya sendiri, jika kau menerima murid.”

“Bagaimanakah dongeng itu, suhu?”

“Beginilah dongengnya. Di jaman dulu terdapat seorang gagah perkasa yang sangat tinggi ilmu silatnya hingga ia terkenal sebagai guru silat yang paling pandai di seluruh Tiongkok dan mendapat julukan jago silat nomor satu di dunia. Kemudian ia mempunyai seorang murid yang sangat disayangnya karena murid itu pandai dan rajin. Semua ilmu kepandaian yang dimilikinya diturunkan semua kepada muridnya itu hingga pada suatu hari guru silat itu sudah kehabisan ilmu untuk diajarkan pula. Semua kepandaian yang dimilikinya sudah diketahui oleh muridnya. Hal inipun ia beritahukan kepada muridnya itu. Tidak disangka sama sekali olehnya bahwa murid

yang diluarnya tampak baik dan taat itu ternyata mengandung niat jahat di dalam hati. Murid itu merasa iri hati dengan nama julukan suhunya sebagai jago sulat nomor satu di dunia, dan ingin merebut gelar itu dari tangan gurunya. Ia pikir bahwa setelah kepandaiannya setingkat dengan gurunya, tentu ia dapat mengalahkan gurunya itu karena ia menang tenaga dan lebih awas, sedangkan gurunya sudah mulai tua. Dengan pikiran ini, ia lalu dirikan panggung lui-tai dan menantang gurunya sendiri untuk adu kepandaian. Tentu saja suhunya merasa terkejut. Ia minta waktu selama tiga hari dan selama itu ia merasa sedih dan menyesal. Sedih mengapa murid yang disayangnya itu ternyata hanya seorang manusia durhaka, dan menyesal mengapa ia turunkan seluruh kepandaiannya kepada murid jahat itu. Pada hari ketiga, tiba-tiba ia teringat bahwa ada semacam ilmu silat yang belum ia turunkan kepada muridnya itu. Maka pada waktu pertempuran dilakukan dengan disaksikan oleh ribuan orang, pada saat gurunya itu terdesak oleh muridnya, ia gunakan ilmu yang belum diajarkan kepada muridnya karena lupa dan terlewat itu, hingga ia berhasil merobohkan dan membinasakan murid jahat itu. Semenjak itu maka semua guru silat tidak berani turunkan semua ilmu kepandaian mereka kepada murid-murid dan selalu menyimpan sepuluh bagian untuk diri sendiri.” “Teecu akan perhatikan semua petunjuk dan nasehat suhu, dan teecu takkan sembarangan menerima murid, kecuali kalau memang teecu lihat ia benar-benar seorang calon yang baik dan bersih.”

Gwat Leng Hosiang tersenyum. “Aku percaya kepadamu, Siok Ki. Dan jangan kira bahwa aku setuju dengan pikiran umum untuk menyimpan sepuluh bagian dari kepandaian untuk diri sendiri. Kalau demikian halnya dengan semua guru silat, maka tak lama lagi ilmu silat dari bangsa kita akan musnah dari permukaan bumi, atau setidaknya akan merosot nilai dan tingkatnya. Kau belajarlah beberapa tahun lagi dan semua ilmu yang kumiliki tentu akan kuturunkan semua kepadamu, muridku.”

Siok Ki berlutut dan menyatakan terima kasihnya. Semenjak saat itu, ia belajar dengan lebih rajin hingga beberapa tahun kemudian tamatlah ia. Ia telah belajar sepuluh tahun lebih dan memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya. Tapi ia tidak mau turun gunung dan selalu melayani suhunya yang sudah tua sampai Gwat Leng Hosiang meninggal dunia karena usia tua.

Setelah ditinggal mati oleh gurunya, barulah Siok Ki turun gunung sebagai seorang pengemis. Ia merantau dan mengembara di seluruh propinsi dan malang melintang di dunia kang-ouw dengan sebatang tongkatnya.

Entah berapa ratus penjahat yang telah dirobohkannya, entah berapa ribu orang yang telah ditolongnya, tapi selamanya ia bertindak dengan bijaksana dan penuh kegagahan hingga ia mendapat julukan Kang-lam Koay-hiap atau pendekar aneh dari Kang-lam.

Ia disebut aneh karena selalu muncul sebagai seorang pengemis dan selalu bekerja seorang diri dengan diam-diam.

Kang-lam Koay-hiap memegang teguh sumpahnya dan selalu hidup sebagai seorang pengemis. Ia tidak kawin selama hidupnya dan tidak mau menerima murid. Akhirnya ia bertemu dengan keluarga Lie yang ditolongnya dari pembalasan dendam Kiu-thou- lomo yang telah lama diincarnya karena si iblis tua itu seringkali berbuat jahat dan sewenang-wenang.

Dalam pertemuan itu, ia melihat Lie Bun yang menarik hatinya.

Pada pertemuan pertama saja ia telah dibikin terharu oleh sikap anak itu yang membelanya hingga ia mengalirkan air mata. Selama hidupnya, selain suhunya yang telah meninggal dunia, baru pertama kali itulah ada seorang yang hendak membelanya. Dan orang itu ialah Lie Bun si anak kecil.

Demikianlah riwayat singkat dari Kang-lam Koay-hiap yang kini tampak sedang

berlari-lari dengan muridnya untuk menghilangkan hawa dingin pada waktu pagi-pagi sekali sebelum fajar menyingsing itu.

Ketika matahari mulai mengintip di ufuk timur dan burung-burung berkicau di pohon- pohon, Kang-lam Koay-hiap ajak muridnya berhenti di luar sebuah kampung.

Lie Bun berhenti dan mengatur napasnya yang terengah-engah, tapi tubuhnya kini terasa hangat dan segar. “Lelah?” gurunya bertanya.

“Sedikit,” jawab murid itu dan mereka duduk di atas akar sebatang pohon.

Sambil beristirahat, Kang-lam Koay-hiap mulai memberi pelajaran kepada muridnya tentang teori-teori ilmu silat tingkat permulaan. Karena tubuhnya terasa segar pada pagi-pagi hari itu, pelajaran yang diberikan gurunya kepadanya diterima dengan mudah dan cepat dimengerti. Melihat kecerdikan muridnya itu, Kang-lam Koay-hiap sangat gembira. Ketika disuruh mengulang pelajaran-pelajaran itu, Lie Bun dapat mengingat semuanya di luar kepala. Karena girangnya, pengemis itu memeluk tubuh muridnya, mengangkatnya tinggi-tinggi dan melemparnya ke udara untuk diterima dan dilempar kembali ke atas.

Lie Bun sangat senang dan memekik-mekik kegirangan karena iapun hanya seorang anak-anak yang masih suka bermain-main.

Setelah hari mendekat siang, Kang-lam Koay-hiap ajak muridnya masuk ke kampung itu untuk mengemis. Tentu saja Lie Bun tidak bisa melakukan pekerjaan ini dan hatinya merasa perih dan malu sekali.

“Mengapa malu? Kita tidak mencuri, tapi minta dengan jujur. Kita ketuk pintu hati manusia untuk menguji perikemanusiaan mereka. Kita tidak minta banyak-banyak, hanya dua mangkuk nasi, semangkuk untukmu dan semangkuk untukku!”

“Tapi, apakah orang lain tidak akan memaki kita malas, suhu?”

Gurunya tersenyum dan teringat masa mudanya. Dulu semua orang juga memakinya sebagai seorang pemalas.

“Biarlah kita dianggap malas, muridku. Tapi asal saja kita jangan malas. Bukankah kau tidak malas dan akan rajin mempelajari ilmu silat yang kuajarkan padamu?

Bukankah itu juga pekerjaan yang membutuhkan seluruh tenaga dan pikiranmu?” “Dan kau sendiri kau bekerja apa suhu?”

Kang-lam Koay-hiap tertawa bergelak-gelak. “Kerjaku kerjaku tentu saja

Post a Comment