Halo!

Pengemis Tua Aneh Chapter 05

Memuat...

Sebentar saja kedua orang itu hanya merupakan dua gulung sinar yang saling gulung dan saling sambar. Tiba-tiba terdengar suara Kiu-thou-lomo berteriak.

“Siong Gak dan Siong Gi! Tidak lekas bantu, mau tunggu apa lagi?” Kedua muridnya mengerti maksud gurunya maka mereka lalu maju menyerang dan membantu gurunya. Kini si pengemis dikeroyok tiga, tapi ia hanya tertawa bergelak saja dan berkata.

“He, siluman kepala sembilan! Pantas kepalamu sembilan, tidak tahunya kau benar- benar curang. Terpaksa aku harus mengambil jiwamu karena kau hanya mengotori dunia belaka!” Sehabis berkata demikian, Kang-lam Koay-hiap lalu berseru keras dan tongkatnya menyambar bagaikan kilat.

Serangan ini luar biasa cepatnya hingga tahu-tahu iblis tua kepala sembilan menjerit ngeri dan lambungnya kena dihajar hebat oleh tongkat lawannya. Ia kerahkan tenaga dalam untuk menahan pukulan itu, tapi ia tidak kuat. Ujung tongkat itu hancur ketika membentur lambungnya yang telah terisi penuh oleh hawa yang ia kumpulkan untuk menolak pukulan, tapi ia mendapat luka dalam yang hebat dan setelah menjerit sekali lagi ia roboh dan mati di saat itu juga.

“He, kalian dua orang muda, hentikan seranganmu dan jangan mencari mati dengan sia-sia!” Kang-lam Koay-hiap menegur dengan suara keren. Kedua murid iblis tua itu, Siong Gak dan Siong Gi, menjadi keder dan terpaksa hentikan serangan mereka.

“Sekarang bawalah jenazah suhumu dan kuburlah dengan baik sebagaimana mestinya. Jadikanlah peristiwa ini sebagai contoh dan jangan kalian tiru kelakuan suhumu yang tak benar ini. Nah, pergilah!”

Kedua murid ini dengan bercucuran airmata lalu mengangkat mayat suhunya dan pergi dari situ cepat.

Lie Ti segera memburu maju dan jatuhkan diri berlutut di depan Kang-lam Koay- hiap.

“Sungguh saya berhutang budi besar sekali kepada locianpwe! Kau telah tolong jiwaku, itu masih tak berarti banyak. Tapi kau telah menolong jiwa anak-anakku, keluargaku, ah locianpwe. Tak tahu saya harus bagaimana menyatakan terima

kasih saya .... dan tadi .... tadi sore kami telah menghinamu ampun. Locianpwe, ampunkan kami yang bermata buta ” karena terharu dan berterima kasih sekali,

Lie Ti menangis tersedu-sedu sambil peluk kedua kaki pengemis itu.

Kang-lam Koay-hiap angkat bangun hartawan yang berlutut sambil menangis itu, dan berkata perlahan.

“Kalau tidak ada putera bungsumu, siapa sudi mencampuri urusan ini?” Kemudian pengemis tua itu menghela napas dan menambahkan.

“Mari kita turun, tak baik bercakap-cakap di atas genteng!”

Maka turunlah mereka. Di dalam gedung ternyata semua orang sudah bangun dan berada dalam keadaan ketakutan. Mereka tahu bahwa di atas genteng sedang terjadi pertempuran dan menyangka bahwa yang datang mengganggu tentu serombongan perampok.

Kini melihat bahwa Lie Ti dan Kong Liak tak kurang suatu apa, mereka merasa

girang dan lega. Tapi alangkah heran mereka ketika melihat pengemis yang sore tadi membikin heboh di luar gedung kini turut masuk bersama majikan mereka.

Lie Ti segera menceritakan kepada isterinya tentang kedatangan musuh ayahnya yang hendak menuntut balas dan tentang pertolongan yang diberikan untuk menolong mereka sekeluarga oleh pengemis ajaib itu.

Mendengar itu, nyonya Lie tak ragu-ragu lagi segera berlutut di depan Kang-lam Koay-hiap menghaturkan terima kasih. Juga kedua putera Lie yang berada di situ disuruh menghaturkan terima kasih.

Lie Kiat lakukan hal itu dengan ragu-ragu dan keningnya dikerutkan. Ia merasa sangat rendah harus berlutut kepada seorang gembel kotor yang sore tadi membikin ia malu dan dimarahi ayahnya. Namun karena takut kepada ayahnya ia berlutut juga, namun kedua matanya memandang kepada pengemis itu dengan marah.

Kang-lam Koay-hiap tahu akan hal ini dan ia menghela napas. Tapi rasa tidak senangnya lenyap se gera ketika Lie Bun berlutut pula lalu berdiri dan memeluk dia dengan senangnya.

“Aku sudah duga, kakek tua! Kau tentu gagah perkasa!”

Kang-lam Koay-hiap peluk Lie Bun dengan mesra dan wajahnya berseri-seri.

“Lie-wangwe, puteramu yang ini pantas sekali menjadi cucu Lie-enghiong, ayahmu yang gagah perwira! Sayang ia tidak belajar silat.”

“Ayahku almarhum biarpun ia sendiri pandai ilmu silat, tapi ia selalu melarangku belajar silat hingga aku menjadi seorang yang tidak becus apa-apa, biarpun di luar tahunya aku sudah belajar sedikit ilmu silat. Aku tahu maksud ayahku, yang selalu menyatakan bahwa ahli silat hanya memancing permusuhan belaka. Tapi sekarang buktinya, aku yang tidak pandai silat, masih saja didatangi orang jahat. Coba kalau tidak tidak ada locianpwe, entah bagaimana nasibku sekeluarga. Kalau saja ilmu silatku setinggi ayah dulu, tidak nanti orang jahat dengan mudah dapat mengganggu!” Hartawan she Lie menghela napas menyatakan penyesalannya. Lalu sambungnya.

“Karena itulah maka timbul niatku untuk menyuruh kedua puteraku belajar silat dan aku mendatangkan Kong-kauwsu ini. Dan mulai besok kedua puteraku ini harus belajar silat dengan rajin.”

“Itu bagus!” Pengemis itu mengangguk-angguk. “Mereka bertulang baik dan berbakat untuk menjadi ahli-ahli silat tinggi.”

Tiba-tiba Lie Bun majukan diri berlutut di depan pengemis itu. “Aku ingin belajar silat padamu saja, kakek tua!”

Kejadian yang tak tersangka-sangka ini membuat semua orang tertegun. Lie Ti segera memberi tanda kepada Lie Kiat untuk meniru perbuatan adiknya, tapi Lie Kiat menyebirkan bibirnya dan mendekati Kong Liak lalu berkata.

“Aku ingin berguru pada Kong pek-pek saja.”

Kang-lam Koay-hiap angkat mukanya dan tertawa bergelak-gelak. Ia memandang Lie Bun yang berlutut dan mengusap-usap rambut kepalanya. “Anak baik anak baik

...” Lalu ia lanjutkan kata-katanya kepada Lie-wangwe.

“Lie-wangwe, sebelum aku sampaikan permintaanku padamu, puteramu sudah mendahuluiku. Sebenarnya aku hendak mengajukan sebuah permintaan yakni aku minta puteramu Lie Bun ini menjadi muridku. Aku hendak ajak dia pergi merantau sambil mendidik dia menjadi orang pandai.”

“Locianpwe telah menolong jiwa kami sekeluarga, maka sudah tentu permintaan ini kami terima dengan senang hati, cuma saja, mengapa locianpwe hendak membawa pergi Lie Bun? Tidakkah lebih baik kau tinggal saja di rumah kami dan menghajar anak-anakku di sini? Kau takkan bersusah payah lagi merantau, tak tentu tempat tinggal, disini akan kami sediakan segala keperluan locianpwe.”

Kang-lam Koay-hiap tertawa. “Maksudmu memang baik, wan-gwe. Tapi pendapatmu keliru. Memang, merantau dan miskin di luar tak tentu makan dan tak tentu tidur, mengandalkan belas kasihan orang untuk makan, mengandalkan emper rumah orang untuk tidur, adalah hidup yang tidak enak. Jauh lebih senang tinggal di rumah gedung yang indah dan mewah ini, tiap hari duduk makan minum menikmati bunga-bunga dalam taman. Akan tetapi, apa yang tidak enak bagi jasmani, selalu mendatangkan keuntungan bagi rohani. Dengan mengurungnya dalam gedung indah, dan tidak mengenal artinya susah dan menderita, orang takkan mengenal sarinya hidup, takkan mengenal kewajiban hidup, takkan tergerak hatinya mengenal kesengsaraan sesama manusia, dan tak mungkin orang itu menjadi seorang pendekar budiman dan gagah. Biarlah Lie Bun ikut aku, aku hendak mengajarnya menjadi seorang manusia sejati, hendak menggemblengnya lahir bathin.”

Lie-wangwe tak berani membantah, karena dalam lubuk hatinya ia mengakui kebenaran segala ucapan pengemis aneh itu. “Tapi aku tidak akan memaksa, terserah yang hendak menjalani.” Kang-lam Koay- hiap berkata lagi, lalu berpaling kepada Lie Bun yang masih duduk mendengarkan dengan penuh perhatian. “Lie Bun bagaimanakah? Sanggupkah kau pergi merantau dengan aku, hidup sengsara, kurang makan dan pakaian, tidur di mana saja?”

Wajah Lie Bun berseri. “Bebas lepas bagai burung di udara?”

Pengemis itu memandangnya heran lalu tersenyum senang, tapi ia masih hendak mencoba berkata.

“Dan kau tidak akan tinggal di rumah gedung lagi, jauh dari ayah ibu, jauh makan enak, jauh pakaian tebal dan indah. Beranikah kau?”

Tiba-tiba wajah berseri itu berubah muram dan perlahan-lahan air matanya menitik turun. Lie Bun menengok dan memandang ayah ibunya yang duduk di situ. Melihat ibunya mulai menangis, Lie Bun bangun dan lari menubruk.

“Ibu ... anak akan kembali kelak ...” Dan ibunya memeluknya dengan terharu.

“Kalau kau tidak tega tinggalkan ayah ibumu, aku takkan memaksamu ikut, A Bun!” kata Kang-lam Koay-hiap.

Lie Bun mendengar kata-kata ini lalu melepaskan pelukan ibunya, gunakan kedua tangan menghapus airmata, lalu berlari dan berlutut kehadapan pengemis tua itu sambil tertawa. Ia lalu berkata dengan suara tetap.

“Aku ikut, suhu! Kemana saja dan bilamana!”

Kang-lam Koay-hiap menjawab. “Kalau begitu, sekarang juga kita pergi!” “Baik, suhu!”

Semua orang terkejut mendengar ini, terutama ayah ibu Lie Bun.

“Locianpwe, apakah tidak bisa berangkat besok hari saja? Sekarang sudah jam malam dan hawa di luar sangat dingin,” kata Lie Ti.

Kang-lam Koay-hiap tidak menjawab, hanya bertanya kepada muridnya. “Beranikah kau berangkat sekarang juga muridku?”

Siapa Kang-lam Koay-Hiap?

“MENGAPA tidak berani, suhu?” jawab Lie Bun gagah hingga gurunya tertawa senang.

“A Bun, anakku! Kau belum berkemas. Barang-barang yang harus kau bawa sebagai bekal belum disediakan,” kata ibunya. “Tidak usah, Lie-hujin. Tak perlu membawa apa-apa. Kami akan berangkat begini saja,” kata Kang-lam Koay-hiap.

“Begitu saja? Apakah anakku tidak membawa pakaian, tidak membawa selimut, tidak membawa uang?” nyonya itu bertanya heran dan khawatir.

Pengemis itu menggeleng kepala perlahan dan pasti. “Hayo! Muridku kita berangkat.”

Lie Bun lalu bangun dan lari ke ibunya. Ia peluk kaki ibunya dan berkata. “Selamat tinggal, ibu. Anak pasti akan kembali dengan selamat.” Lalu ia berlutut di depan ayahnya dan berkata singkat. “Ayah, selamat tinggal.” Lalu ia menghampiri pengemis tua itu.

“Marilah suhu. Teecu sudah siap!” katanya dengan suara tetap.

Diam-diam Kang-lam Koay-hiap kagum dan bangga akan ketetapan hati muridnya. Iapun lalu lambaikan tangan kepada Lie-wangwe dan berkata.

“Sampai jumpa pula!”

Setelah berkata demikian, Kang-lam Koay-hiap pegang lengan Lie Bun dan sekali bergerak saja tubuhnya melesat ke atas genteng dan sekejap kemudian murid dan guru itu sudah lenyap tak tampak bayangannya.

Pada saat itu barulah nyonya Lie menangis tersedu-sedu dan menaggil-manggil nama Lie Bun. Suaminya menghibur dan berkata dengan halus.

Post a Comment