Kedua mata Lie-wangwe memancarkan sinar marah.
“Lopeh, salahkah aku karena aku kaya? Salahkah aku kalau gedungku besar, emper rumahku lebar? Memang aku mengadakan larangan untuk orang mengganggu ketentraman rumahku atau membikin kotor gedungku. Kalau memang ada yang hendak berteduh, silahkan masuk saja, tentu akan kuterima dengan baik. Tapi janganlah gunakan paksaan untuk melanggar larangan yang telah diadakan.”
Kembali pengemis itu tertawa keras. “Kau bersemangat, wan-gwe. Pantas kedua puteramu juga berdarah panas! Tapi kau jujur. Hmm, jarang orang kaya seperti kau memiliki sifat baik ini!” Pengemis itu mengangguk-angguk.
“Lopeh, silahkan masuk dan duduk di dalam. Berilah kesempatan kepada kami untuk menyatakan terima kasih kami atas pertolonganmu kepada anak kami.”
Pengemis itu angkat kedua lengannya ke atas. “Sayang, ... sayang hari telah malam. Bukan waktunya bersenang-senang. Lain kali mungkin kau harus sediakan arak banyak sekali untukku, wan-gwe. Nah, selamat berpisah sampai berjumpa pula!”
Tanpa menanti jawaban, pengemis tua itu angkat kaki pergi dari situ sambil menyeret tongkatnya.
Lie Ti menegur puteranya yang sulung. “A Kiat, kau belum juga dapat mengubah adatmu yang kasar dan nakal. Jangan kau kira aku tak dapat tahu atau menduga apa yang telah terjadi. Anjing-anjing itu takkan dapat keluar kalau tidak ada yang melepaskannya. Jika kau tidak ubah kelakuanmu yang sembrono ini, lain kali kau bisa terbitkan bencana besar atas dirimu sendiri. Contohlah adikmu, dia lebih bijaksana.”
Mendapat teguran ini, diam-diam Lie Kiat merasa sakit hati dan gemas kepada Lie Bun. Memang telah berkali-kali ia ditegur ayahnya yang memuji-muji Lie Bun. Tapi ia tahu betapapun juga ayahnya lebih sayang padanya dari pada sayangnya pada Lie Bun, dan hal ini menghibur hatinya yang panas dan dendam.
Malam hari itu Lie Ti tengah bercakap-cakap dengan seorang guru silat yang sengaja didatangkan dari Lam-bu-koan untuk mengajar kedua puteranya. Guru silat itu baru saja datang dan disambut oleh Lie Ti dengan girang. Ia telah lama kenal dengan guru silat itu karena guru silat itu pernah menjadi pemimpin piauw-kiok atau perusahaan asuransi pengantar barang-barang dagangan (semacam ekspedisi) yang menjadi langganan ayahnya. Kini setelah menjadi tua, piauwsu itu yang bernama Kong Liak, mengundurkan diri dari pekerjaannya dan untuk melewati waktu senggang, ia menerima beberapa orang murid yang berani membayar mahal. Telah lama Lie Ti yang juga paham ilmu silat, berniat untuk menyuruh kedua puteranya belajar silat. Kemudian ia teringat akan Kong Liak yang segera diundangnya untuk mengajar Lie Kiat dan Lie Bun. Kong Liak menerima undangan ini dengan gembira karena ia tahu akan kebaikan Lie Ti. Maka sore hari itu ia tiba di gedung Lie-wangwe yang lalu menjamunya dengan hidangan lezat dan mereka mengobrol dengan gembira sekali. Ketika mereka berdua sedang makan minum dengan gembira, seorang pelayan datang menyerahkan sehelai surat kepada Lie Ti yang menyambutnya dengan heran.
“Dari siapakah surat ini?” tanyanya.
“Hamba tidak tahu, loya, karena tahu-tahu surat itu sudah terletak di depan pintu luar. Entah siapa yang menaruhnya di sana.”
Kemudian pelayan itu mengundurkan diri.
Dengan tenang Lie Ti buka lipatan surat dan membacanya.
Tiba-tiba wajahnya berubah dan keningnya berkerut. “Hm, apa artinya ini?” katanya perlahan hingga membuat Kong Liak memandangnya. Guru silat ini kenal kesopanan maka tadi ketika Lie-wangwe membaca surat, ia tidak mau melihatnya, hanya melanjutkan minum arak.
Kini mendengar kata-kata Lie Ti, mau tidak mau ia tertarik juga. Tapi ia hanya memandang, tidak berani bertanya.
“Kong-kauwsu, sungguh terjadi perkara yang aneh.”
“Apa maksudmu, Lie-wangwe?” tanya guru silat itu heran. “Ini bacalah sendiri!”
Kong Liak menerima surat itu dan membacanya. Surat itu ditulis dengan coretan yang bertenaga dan hanya merupakan pemberitahuan pendek saja. Sebagai seorang yang berpengalaman, Kong Liak berlaku hati-hati dan membaca isi surat itu untuk kedua kalinya. Surat itu berbunyi demikian,
Lie-wangwe.
Akan terjadi hal yang tak terduga malam ini. Kau dan guru silat she Kong jangan terlalu banyak minum arak. Bersiaplah.
Surat itu tidak ditandatangani hingga tidak diketahui siapa yang menulisnya.
“Bagaimana pendapatmu, Kong-kauwsu?” Lie Ti bertanya dengan hati tidak enak, walau sama sekali tidak merasa takut.
Untuk sesaat lamanya Kong Liak tidak dapat menjawab, hanya gosok-gosok keningnya. Kemudian ia berkata,
“Kalau melihat gaya isi surat ini, penulisnya tak bermaksud buruk. Bahkan surat ini dibuat untuk memberikan peringatan kepada kita. Tapi apakah yang dimaksud dengan kejadian tak terduga itu? Apakah malam ini kau telah berjanji hendak bertemu dengan seseorang?”
Lie Ti gelengkan kepala. Tiba-tiba Kong Liak bertanya dan memandang tuan rumah tajam.
“Apakah wan-gwe mempunyai musuh yang kiranya malam ini hendak datang membalas dendam?”
Murid Pengemis Sakti
LIE Ti terkejut. Ia mengingat-ingat, tapi lalu menjawab dengan suara pasti. “Selama hidup aku belum pernah menanam bibit permusuhan dengan siapa juga. Tapi hal itu bisa terjadi dalam dunia perdagangan hingga tidak mungkin ada yang menanam dendam dalam hati.”
“Adakah terjadi hal-hal yang ganjil akhir-akhir ini?” Kong Liak bertanya kembali.
Melihat perhatian besar yang dicurahkan oleh guru silat itu, hati Lie Ti merasa terhibur juga dan diam-diam ia merasa berterima kasih.
“Memang ada terjadi sesuatu, yakni kalau hal itu boleh dianggap peristiwa ganjil. Bahkan terjadinya baru saja sore tadi sebelum kau datang.”
Ia lalu menceritakan halnya pengemis tua yang membunuh mati tiga anjingnya. Kong Liak tertarik.
“Cerita wan-gwe kurang jelas, bisakah tukang kebun itu dipanggil untuk mengulangi cerita ini?”
Tukang kebun itu lalu dipanggil menghadap dan dengan jelas sekali ia tuturkan peristiwa yang baru terjadi tadi sore tadi. Setelah mendengar puas, Kong Liak lalu menyuruh tukang kebun itu pergi. Ia mengangguk-angguk dan berkata sungguh- sungguh.
“Kalau mendengar cerita tukang kebun tadi terang pengemis tua itu bukanlah orang sembarangan. Ia tentu seorang pengembara yang berkepandaian tinggi, kalau bukan seorang hiapkek budiman, tentu seorang penjahat yang menyamar.”
Kemudian Kong Liak kerutkan kening dan beberapa kali menghela napas. “Ah, kini setelah mendengar cerita ini, keadaan jadi makin ruwet bagiku. Terang bahwa pada saat ini di sekeliling kita terdapat dua pihak, yakni pihak yang bermaksud jahat dan pihak yang bermaksud baik. Dan di pihak manakah pengemis tua itu berdiri? Dia itu merupakan penulis surat peringatan ini ataukah sebaliknya dia yang akan menimbulkan hal yang tak terduga sebagaimana yang dimaksud dalam surat ini?” Kembali guru silat itu menarik napas dalam dan wajahnya menjadi muram. Nafsu minumnya lenyap.
Namun sebaliknya Lie-wangwe dapat menetapkan hati dan kegembiraannya kembali. Hatinya memang tabah sekali, maka ia angkat cawan araknya dan berkata. “Ah, Kong-kauwsu, tak perlu kita pusingkan kepala karena surat begini saja. Bagaimana kalau surat ini buatan seseorang yang hendak membuat lelucon? Hayo minumlah arakmu, dan jangan pikirkan hal yang gila ini.”
Tapi Kong Liak cukup banyak mengalami hal-hal yang aneh dan berbahaya hingga ia selalu waspada dan berhati-hati. Ia geleng kepala dan berkata.
“Lie-wangwe, kalau memang surat ini bohong, besok malam masih banyak waktu bagi kita untuk minum dan bergembira. Tapi malam ini kurasa lebih baik kita berhati- hati dan menjaga keamanan. Biarlah aku menjaga di atas genteng malam ini, untuk menjaga kalau-kalau benar datang seorang penjahat yang hendak mengganggu.”
“Tak usah repot-repot, Kong-kauwsu. Tak perlu kita menjaga di atas genteng. Aku sudah membuat tempat penjagaan yang nyaman dan enak. Kau ikut saja nanti.”
Kong Liak tidak mau mendesak lebih jauh, dan ia terpaksa mengawani hartawan itu makan minum sungguhpun ia batasi minum dan menjaga agar jangan sampai mabok.
Setelah kenyang dan hari telah mulai malam, Lie Ti ajak Kong Liak ke taman belakang. Kemudian dari situ mereka loncat naik ke atas genteng rumah belakang yang pendek.
Di dekat wuwungan yang menyambung dengan genteng rumah besar, Lie Ti buka sebuah pintu rahasia dan mereka masuk ke loteng tersembunyi yang tak tampak dari luar. Ketika mereka berjalan menuju ke atas melalui sebuah tangga, ternyata bahwa loteng itu menembus ke wuwungan yang paling atas, dan di bawah genteng di atas terdapat sebuah kamar kecil di mana telah tersedia dua buah pembaringan.
Dari tempat itu mereka dapat mengintai keadaan di atas genteng dengan jelas, karena di situ terdapat lobang-lobang yang tertutup kaca. Dengan sembunyi di situ, mereka dapat melihat orang-orang yang datang dari segala penjuru di atas gedung tanpa terlihat sedikitpun oleh lawan atau musuh. Dan pada genteng yang terdekat terdapat jendela yang dapat dibuka dari dalam hingga mudah bagi mereka untuk menyerbu keluar kalau perlu.
Kong Liak merasa kagum dan girang sekali melihat tempat persembunyian yang hebat dan dipasang dengan cerdik ini.
Dengan terus terang ia memuji kecerdikan hartawan itu.
“Aku bukan orang yang memiliki kepandaian silat tinggi, maka bagiku lebih aman kalau mengintai dan menjaga dari sini,” katanya sambil tertawa.
Di tempat itu mereka dapat melanjutkan percakapan mereka dengan gembira sambil memandang ke arah mega-mega putih yang tersorot sinar bulan purnama. Dari jendela di atas itu mereka dapat memandang keadaan sekitar gedung hingga tak sukar bagi mereka untuk menjaga karena jika ada orang mendatangi gedung itu melalui jalan atas, pasti akan terlihat oleh mereka. Lie Ti sengaja membawa arak dan pipa tembakau, hingga mereka bisa mengobrol sambil minum arak dan isap tembakau. Hawa malam itu dingin, memang selalu pada musim panas hawa malam sangat dingin.
Pada waktu peronda kota membunyikan tanda waktu yang kesebelas dan waktu hampir tengah malam, Lie Ti mulai mengantuk dan beberapa kali menguap perlahan.
“Wan-gwe, kalau lelah tidurlah dulu, biarlah aku menjaga sendiri di sini!” kata Kong Liak.