“Eh, kongcu, jangan main-main. Ia kuat sekali, mungkin dia siluman suka makan orang,” si tukang kebun mencegah takut.
“Tutup mulutmu, pengecut!” Lie Kiat lalu lari ke dalam.
Orang banyak merasa heran dan penonton bertambah banyak. Orang-orang yang tahu duduk peristiwanya ribut menceritakan kepada yang baru datang. Semua ingin sekali melihat bagaimana Lie Kiat akan mengusir pengemis bandel itu.
Tak lama kemudian tampak Lie Kiat mendatangi dari belakang. Di tangan kanannya terdapat sebuah ceret air besar dan dari mulut ceret itu tampak uap mengepul ke atas. Orang-orang yang dapat menduga isi ceret itu memuji kecerdasan pemuda tanggung ini karena isi ceret itu adalah air mendidih yang agaknya hendak digunakan oleh Lie Kiat untuk menyiram dan mengusir si pengemis tua.
Lie Kiat angkat tinggi ceretnya dan berkata kepada orang banyak. “Lihat, apakah dia akan tetap membandel terhadapku?”
Kemudian ia membentak kepada pengemis tua itu. “Eh, gembel tua. Hayo kau bangun dan menggelinding pergi. Kalau tidak, aku akan membuatmu menjadi kepiting rebus!”
Orang banyak tertawa mendengar kelakar ini, tapi si pengemis agaknya tidak mendengar dan tetap mendengkur.
Lie Kiat menjadi tidak sabar dan ia tuangkan air mendidih itu sedikit ke atas tubuh si pengemis. Tapi sebelum air menimpa tubuhnya, pengemis tua itu tiba-tiba seperti orang yang ngelindur dan berguling ke kiri hingga air itu tumpah di lantai, sedikitpun tidak mengenai tubuhnya.
Lie Kiat menjadi penasaran dan kini ia tuangkan lagi air mendidih keluar dari mulut ceret ke arah kepala pengemis. Tapi kembali pengemis tua itu menggelinding kesana kemari seperti orang ngelindur. Matanya tetap meram, mulutnya mengigau tak tentu maksudnya, tubuhnya bagai tak sengaja bergulingan, tapi dengan tepat sekali menghindari serangan air mendidih yang menyiramnya.
Pada saat itu dari dalam gedung keluar seorang anak laki-laki berlari-lari. Ketika dilihatnya Lie Kiat menyiram tubuh seorang pengemis tua dengan air panas sedangkan tubuh itu tampak bergulingan seperti orang kesakitan, anak tanggung itu berteriak keras. “Twako, jangan berlaku kejam!” dan anak itu segera mencoba untuk merampas ceret dari tangan Lie Kiat.
Ternyata anak itu adalah Lie Bun, putera kedua dari keluarga Lie. Berbeda dengan Lie Kiat yang tampan dan ganteng, Lie Bun berwajah buruk karena ketika kecil kulit mukanya dimakan penyakit cacar. Kulit mukanya menjadi hitam dan bopeng, tapi sepasang matanya bersinar lembut.
Ketika melihat adiknya datang menghalangi perbuatannya terhadap pengemis tua itu, Lie Kiat menjadi marah.
“Pergi kau, topeng setan!” bentaknya. Jika sedang bertengkar atau marah kepada adiknya, Lie Kiat selalu panggil adiknya dengan nama poyokan “topeng setan”.
Tapi Lie Bun tetap hendak merampas ceret itu sambil berkata tetap. “Kesinikan ceret itu, jangan kau ganggu orang tua tak berdaya.”
Lie Kiat tidak mau memberikan ceretnya hingga kedua kakak beradik itu berebut dan ceret berisi air panas itu ditarik sana sini. Ceret itu menjadi miring dan airnya tumpah keluar menyiram muka Lie Bun!
Tapi pada saat berbahaya itu, mendadak pengemis tua yang tadinya tidur mendengkur loncat dan menyambar tubuh Lie Bun hingga anak itu terhindar dari bahaya air mendidih yang akan merusak mukanya yang sudah rusak. Semua orang berseru kaget tapi merasa bersyukur ketika melihat bahwa Ji-kongcu telah selamat. Orang-orang biasa menyebut Lie Bun Ji-kongcu atau kongcu kedua.
Tapi pada saat itu dari dalam gedung terdengar salak anjing yang ramai karena tiga ekor anjing yang besar dan galak berlari keluar menyerbu. Lie Kiat telah berada di belakang ketiga anjing itu sambil menyuruh anjing-anjing itu menyerang si pengemis tua.
“Hayo, Belang! Gigit orang tua itu! Naga, Harimau, serbu pengemis itu!”
Ketiga anjing yang bernama Belang, Naga dan Harimau itu lari maju dan bingung melihat demikian banyak orang, karena mereka tidak mengerti harus menyerang siapa.
“Hush! Belang, Harimau, Naga... Pergi kau!” Lie Bun yang berada di situ menghadang dan dengan suara keras memerintah binatang-binatang itu kembali.
Ketiga anjing itu makin bingung karena menghadapi dua macam perintah dari dua tuan muda itu, maka mereka hanya berputar-putar di emper sambil menyalak-nyalak keras.
Lie Kiat menjadi marah dan mendorong adiknya hingga roboh. Kemudian ia memerintah lagi. “Hayo, serbu! Gigit pengemis ini!”
Tapi ketiga anjingnya masih saja bingung dan menyerang ke arah orang banyak hingga orang-orang menjadi panik dan lari berserabutan. Anjing-anjing itu makin liar melihat orang-orang berlari-lari ketakutan, maka mereka menjadi sangat galak. Tapi tiba-tiba saja pengemis tua itu loncat dengan tongkat di tangan kanan. Ia bergerak tiga kali dan tahu-tahu ketiga ekor anjing yang besar dan liar itu rebah tak berkutik lagi.
Keadaan yang tadinya ramai kini menjadi sunyi. Orang-orang berhenti berlari dan dengan tindakan kaki perlahan mereka kembali ke tempat itu dengan mata menatap bangkai-bangkai anjing yang menggeletak di situ.
Dari kepala anjing-anjing mengalir darah dan setelah orang-orang itu dekat dan memandang dengan penuh perhatian, mereka menjadi heran sekali. Ternyata di kepala ketiga ekor anjing itu, tepat di tengah-tengah jidat di antara kedua mata, terdapat luka bekas tusukan tongkat bambu pengemis itu.
Kini perhatian semua orang tertuju kepada pengemis yang aneh itu. Baru terbuka mata mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang yang berkepandaian tinggi, maka pandangan mereka terhadap pengemis tua itu berubah, kini penuh kagum dan takut.
Lie Kiat memang anak yang bengal dan tabah, juga ia sangat cerdik. Sayang sekali anak yang tampan ini terlalu dimanja hingga berwatak buruk, sombong dan suka mengganggu orang. Kini melihat ketiga anjingnya binasa, ia menangis keras lalu berlari-lari masuk sambil memaki-maki pengemis itu.
“Tolong ...... ada pengemis tua bunuh anjingku ...... tolong !” Demikian ia
berteriak-teriak sambil lari ke dalam. Tentu saja teriakannya ini mengejutkan orang- orang dalam gedung hingga semua pelayan keluar dan menunda pekerjaan mereka. Juga Lie-wangwe keluar dari kamarnya ketika mendengar ribut-ribut ini. Kemudian semua orang menuju keluar, didahului oleh Lie Kiat yang masih menangis.
Melihat bahwa kakaknya telah menimbulkan keributan, Lie Bun menjadi marah sekali. Ia memang tahu akan kejahatan dan kenakalan kakaknya itu dan sering kali semenjak kecilnya ia bertengkar dengan kakaknya. Tak terasa pula ia berpaling
kepada pengemis tua yang sedang memandang dengan senyum manis hingga tiba-tiba timbul hati iba dan kasih terhadap orang tua itu. Ia maju menghampiri dan memegang tangan kakek itu, lalu berkata perlahan.
“Jangan takut, kakek tua, biar aku yang membelamu!”
Orang-orang di situ menjadi heran melihat sikap Lie Bun dan makin besar keheranan mereka ketika tiba-tiba pengemis tua itu gunakan tangan untuk mengelus-elus kepala Lie Bun sambil menangis sesenggukkan. Juga Lie Bun berdongak memandang muka pengemis yang sedang menangis sedih itu. Tapi ia tidak mengerti mengapa mulut kakek itu tetap tersenyum, aneh betul. Belum pernah ia melihat orang menangis sambil tersenyum.
Sementara itu, Lie Kiat sudah tiba di situ. Sambil menuding ke arah pengemis itu, ia berkata kepada ayahnya yang menyusul di belakangnya. “Nah, ini dia pengemis gila itu ayah! Itu lihat di sana yang menggeletak itu adalah bangkai si Belang, Harimau dan Naga!” kemudian ia menangis lagi.
Lie Ti memandang ke arah bangkai ketiga anjing itu, kemudian ia menatap wajah pengemis itu dengan penuh perhatian. Kebetulan pengemis itu sedang memandangnya pula hingga pandang mata mereka bertemu. Lie Ti terkejut dan buru-buru tundukkan mukanya karena dari kedua mata pengemis itu seakan-akan menyambar keluar cahaya kilat yang memedaskan matanya. Ia heran melihat puteranya yang kedua masih
berdiri di dekat pengemis itu sambil memeganggi tangan kiri kakek itu. “Lie Bun, kau sedang apa disitu?” tegur ayah itu.
“Ayah, jangan menyalahkan kakek ini, ayah!” Lie Bun berkata dengan berani sambil memandang ke arah Lie Kiat dengan marah.
“Kenapa A Bun. Bukankah ia ganggu kakakmu dan membunuh mati ketiga anjing kita?” tanya Lie Ti pula.
“Semua salah kami, ayah. Salah twako dan aku sendiri. Twako dan aku bertengkar berebut ceret berisi air panas hingga ceret itu miring dan air panas yang keluar hampir saja menyiram mukaku. Baiknya ada kakek ini yang menolongku hingga mukaku
tidak sampai tersiram air mendidih. Lalu datang ketiga anjing itu hendak mengamuk, dan kakek tua ini hanya hendak menolong orang banyak dari amukan anjing-anjing itu.”
“Benarkah cerita adikmu?” tanya Lie-wangwe kepada Lie Kiat.
“Be ..... benar ayah.” Lie Kiat terpaksa mengangguk karena betapapun juga
adiknya telah membelanya juga. “Tapi, pengemis tua itu sejak tadi siang telah tidur di emper kita, ayah. Ia membikin kotor tempat ini dan tidak mau disuruh pergi. Semua orang membantu untuk menariknya keluar, tapi ia tetap berkeras tak mau pergi.
Karena itu aku ... aku ambil air ... dan ... dan ”
“Kau gunakan untuk apa air panas itu?” Tiba-tiba Lie Ti menegur putera sulungnya dengan suara keras.
Lie Kiat tak berani mengaku, dan tiba-tiba pengemis itu tertawa bergelak. “Sudahlah wan-gwe, anakmu mengambil air panas hanya untuk memberi minum
padaku. Urusan anak-anak tak perlu diperpanjang, wan-gwe. Aku tadi terlampau lelah
dan di luar sangat panas, maka aku pinjam empermu sebentar untuk beristirahat. Siapa nyana tukang kebunmu mengganggu tidurku dan memaksaku pergi. Baiknya
puteramu yang kedua ini cukup berbudi baik.” Kemudian pengemis itu tertawa bergelak-gelak kembali.
“Meneduh di tempat orang lain perlu permisi dulu, lopeh. Kalau aku tahu lopeh perlu mengaso, tentu saja aku akan persilahkan kau masuk saja ke dalam.”
“Ha ha ha! Kalau aku mengaso di emper mengapakah? Gedungmu begini besar, begini mewah, empermu saja begini besar. Kurasa terlampau besar kalau kau tempati sendiri. Apakah emper yang merupakan lebihan gedungmu yang tidak kau pakai ini terlalu berharga untuk digunakan sebagai tempat mengaso sebentar saja oleh orang serendah aku?”