Kalau Liok An bertubuh gemuk pendek, adalah Liok Wan bertubuh tinggi besar dan Liok Kay sebaliknya tinggi kurus. Mereka bertiga terkenal sebagai orang-orang gagah yang berkepandaian tinggi dan berwatak jantan.
Kemudian Giok Cu berpamit dan kembali ke hotelnya. Ia masuk ke kamarnya dengan jalan tadi, yaitu dari jendela kamarnya. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika ia keluar dari pintu, pengurus rumah penginapan yang sudah penuh uban di kepalanya, menghampirinya dengan senyum ramah dan sikap menghormat.
“Siocia, maaf kalau kami berlaku kurang hormat kepadamu, karena kami tidak tahu bahwa siocia adalah tamu terhormaat dari Liok Sam enghiong.”
Semenjak saat itu Giok Cu mendapat pelayanan istimewa, juga kudanya mendapat rawatan baik sekali hingga gadis itu merasa berterima kasih kepada Liok An bertiga berbareng kagumi pengaruh ketiga saudara itu.
Sore harinya ia pergi ke rumah ketiga saudara Liok dengan naik kuda. Mereka ternyata sudah siap untuk berangkat dan semuanya berkuda. Selain saudara Liok, ada pula empat orang-orang muda yang bertubuh kuat dan hebat gerak-geriknya hingga mudah saja diduga bahwa mereka itupun bukanlah orang-orang yang lemah. Ketujuh orang itu kesemuanya membawa senjata lengkap. Dari kantung piauw yang tergantung di pinggang Liok Kay, tahulah Giok Cu bahwa yang melepas piauw kepadanya semalam adalah si tinggi kurus itu. Ketika melihat bahwa gadis itu memandang kantung piauwnya Liok Kay tersenyum malu dan Giok Cu tersenyum juga sambil berkata:
“Kepandaianmu melempar piauw sungguh hebat, saudara Liok Kay,” kata-kata pujian ini membuat wajah Liok Kay menjadi merah.
“Aah, kau membikin aku malu Lihiap,” jawabnya merendah. Keempat kawan mereka melihat seorang gadis muda yang cantik jelita, mereka menjadi heran dan khawatir. Biarpun mereka telah mendengar dari ketiga saudara Liok, bahwa wanita itu bukan lain ialah Pek I Lihiap yang lihai, namun mereka masih belum percaya penuh, lebih-lebih ketika melihat bahwa Pek I Lihiap hanya seorang gadis demikian muda dan halus gerak-geriknya. Namun mereka tidak berani berkata apa-apa, hanya diam-diam khawatir kalau-kalau turutnya gadis ini akan membuat mereka merasa gembira akan pergi dengan seorang gadis demikian jelita!
Kebetulan malam itu terang bulan hingga perjalanan ke Bong-san yang tak berapa jauh itu mereka tempuh dengan mudah. Bahkan pemandangan sepanjang jalan sangat indah menarik. Cahaya bulan yang menimpa hutan-hutan dan jurang-jurang mendatangkan cahaya kuning kehijau-hijauan dengan dasar hitam. Jalan yang mereka lalui adalah jalan lebar yang berputar-putar mengelilingi bukit itu. Ketika mereka sampai di dekat puncak yang tak berapa tinggi, tampaklah sinar api di atas puncak.
“Itulah Kwan-in-bio ke mana kita menuju. Liok An menunjuk dengan jarinya untuk memberitahu Giok Cu. Setelah berkata demikian mereka percepat larinya kuda hingga tak lama lagi sampailah mereka di depan bio atau kelenteng itu.
Di depan kelenteng telah menanti belasan orang, dan kuda-kuda mereka ditambatkan pada pohon-pohon cemara di sebelah kiri bio. Belasan orang itu rata-rata bertubuh gagah dan pakaian mereka menyatakan bahwa mereka terdiri dari para piauwsu, yakti penjaga atau pengawal kiriman barang-barang berharga, jadi semacam usaha ekspedisi. Di pinggang mereka tergantung pedang atau golok. Tiga buah lampu teng dan lima buah obor menerangi tempat itu. Giok Cu mengerling tajam dengan penuh perhatian. Rombongan piawsu itu dikepalai oleh seorang laki-laki setengah tua bertubuh tinggi dengan muka kuning yang pada saat itu memandang dengan sikap garang dan gagah.
“Itulah dia Oey-bin-hauw Thio Kiat si Harimau muka kuning.” Liok An berbisik kepada Giok Cu yang berada di sampingnya. Ia adalah ketua rombongan itu.
Si Harimau muka kuning maju tiga langkah dan menjura kepada Liok An yang sudah turun dari kudanya. “Nyata sekali. Kiciu Sam-eng pegang janji, kami rombongan piauwsu dari Kunlim merasa girang sekali.
Liok An si gemuk pendek mewakili rombongannya membalas hormat dan berkta dengan senyum dingin: “Thio Piauwsu dan rombongan sudah lama menanti? Baik sekali! Thio Piawsu membawa rombongan yang jauh lebih besar daripada rombongan kami sudah tahukah peraturan pibu (adu silat) di bukit ini?”
Oey-bin hauw Thio Kiat tertawa mengejek. Tak perlu takut, tak usah cemas, kami bukanlah golongan pengecut yang mengandalkan banyak orang untuk menghina orang lain. Kalau kami tidak salah dengar, peraturan pibu di sini ialah mengajukan Jago dengan jumlah yang sama untuk dicoba kepandainnya menurut tingkat masing-masing. Kulihat cuwi datang dengan delapan orang. Baiklah kamipun akan majukan delapan orang saja untuk mengukur tenaga dan kepandaian cuwi.”
“Jangan salah lihat, Thio Piauwsy,” kata Liok An sambil mengerling ke arah Giok Cu. “Li-enghiong yang berada di sini bukanlah termasuk anggota rombongan kami, tapi hanya sebagai tamu terhormat kami yang sengaja datang untuk menonton atau boleh juga dianggap sebagai saksi!” Liok An orangnya memang cerdik, ia maklum bahwa nona itu tentu lihai, maka ia sengaja beri kedudukan saksi kepada Giok Cu agar kalau dipihak lawan ada yang berlaku curang, Pek I Lihiap akan tersinggung dan turun tangan.
Thio Kiat perlihatkan sikap tak senang dan memandang ke arah Giok Cu dengan menghina. “Tak percayakah cuwi kepada kami hingga mesti membawa saksi segala? Tapi biarlah kami tak menaruh keberatan. Nah, marilah kita mulai saja. Harap majukan jago nomor tujuh!”
Setelah berunding dengan kedua saudaranya, Liok An lalu majukan seorang pemuda yang bertubuh kuat. Dari pihak lawan maju seorang piauwsu berusia kira-kira lima puluh tahun.
Semua orang mengelilingi tempat pibu yang diterangi sinar lampu dan obor itu. Keadaan tegang, semua orang diam tak bersuara bagaikan orang-orang yang menonton dua ekor ayam jago berkelahi. Menurut peraturan yang diadakan oleh Bu-eng-cu yang mereka segani, pibu ini tidak boleh gunakan senjata tajam jadi kedua jago itu maju dengan tangan kosong. Senjata-senjata yang mereka bawa itu hanya untuk menambah keangkeran dan untuk menjaga kalau-kalau pihak lawan berlaku curang.
Jika dilihat sepintas lalu, yang sedang berkelahi bukanlah lawan yang seimbang karena yang seorang pemuda kuat dan yang lain hanya seorang kakek kurus. Tapi setelah mereka mulai bergerak saling serang, mudahlah dilihat bahwa pemuda itu jauh kalah lihai. Gerakan kakek itu gesit dan ilmu silatnya tinggi. Si pemuda hanya mengandalkan tubuh yang kuat dan ketabahan besar. Beberapa kali tubuhnya yang kebal itu dapat menahan pukulan kakek itu, tapi ketika pada jurus ketiga puluh kakek itu menyerang dengan tipu Hek-hauw-to-sim atau Macan-hitam-sambar-hati, pemuda itu tak sempat berkelit dan sodokan keras dari si kakek mampir di lambungnya hingga ia terpelanting roboh dan muntahkan darah! Pertandingan jago ketujuh ini dimenangkan oleh pihak piauwsu. Kawanan piauwsu menyambut kemenangan kawan mereka dengan tepik sorak gembira, sedangkan pihak jago-jago Kiciu dengan wajah muram menggotong jagoan mereka yang pingsan.
Kawan-kawan Liok An tebus kekalahan mereka dengan beruntun dua kali mengadakan pertandingan keenam dan kelima, tapi pertandingan keempat dimenangkan oleh pihak piauwsu. Dengan demikian keadaan masih dua lawan dua atau seri.
Jago ketiga dari pihak Kiciu keluarkan Liok Kay si tinggi kurus, yakni Kiciu-sam-eng yang ketiga, Giok Cu pernah merasai kelihaian sambitan piauw Liok Kay dan tahu bahwa orang ini mempunyai kepandaian yang lumayan juga. Gadis ini dengan penuh perhatian melihat ke arah rombongan piauwsu karena ingin sekali tahu bagaimana macam lawan Liok Kay. Diam-diam gadis ini di dalam hati mulai berpihak kepada orang- orang Kiciu ini karena menurut pandangannya mereka lebih sopan dan beraturan, beda dengan rombongan piauwsu dari Kunlim yang tampak sombong dan bahkan ketuanya memandang rendah dirinya.
Dari pihak piauwsu loncat keluar seorang kurus kering yang bermuka hitam. Melihat gerakan dan jari-jari orang yang bagaikan kuku garuda itu, terkejut dan cemaslah hati Giok Cu. Buru-buru ia dekati Liok Kay yang belum loncat ke lapangan dan berbisik.