Giok Cu heran mendengar nama itu. Siapakah orang yang bergelar pendekar aneh tanpa bayangan ini? Mengapa dia begitu berpengaruh hingga berani menetapkan peraturan yang berlaku bagi orang-orang kang-ouw? “Tak perduli siapa, biar si tanpa bayangan maupun si seribu bayangan, tapi peraturan itu tak berlaku bagiku!” katanya marah. “Suruh si tanpa bayangan datang ke sini, biar aku bicara padanya tentang peraturan!”
“Jangan kau hina Koay-hiap.” Si gemuk pendek menegur. “Biarpun peraturannya tak berlaku bagimu, namun kami tetap mentaatinya.”
“Jadi kalau kuambil perak hartawan kejam dan pembesar jahat kalian akan menghalangi?” tanya Giok Cu sengit.
“Di kota kami ini tidak ada hartawan kejam dan pembesar jahat. Baik kau mencari korban di tempat lain saja, jangan sampai terdapat salah paham dengan kami.”
“Persetan dengan kamu orang! Aku tidak takut kepada kalian!”
“Pek I Lihiap, jangan kau andalkan namamu yang baru saja muncul dan jangan pula kau nodai nama baikmu yang baru mulai mengharum itu. Ketahuilah jika kau melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh Koay-hiap, maka di mana-mana kau akan menemui musuh karena banyak orang gagah akan marah padamu.”
Giok Cu ragu-ragu. “Siapa sih Bu-eng-cu Koay-hiap itu? Dan kalian ini siapa pula?”
“Karena kau orang baru maka kau belum mengenal Koay-hiap. Tapi di daerah ini kau akan selalu mendengar namanya disebut orang. Adapun akan hal kami bertiga, kami hanya orang-orang tak berarti. Di sini kami disebut orang Kiciu-sam-eng, tiga orang gagah dari Kiciu.”
Giok Cu mengingat-ingat. Pernah ia mendengar dari ayahnya dulu menyebut-nyebut nama ini. “Kenalkahkalian dengan Sian-kiam-bu-tek?” sengaja ia sebut gelar ayahnya untuk memancing.
Ketiga orang itu maju mendekat dan memandang penuh perhatian. “Sian-kiam-bu-tek? Mengapa kau sebut Ong enghiong?
“Karena Sian-kiam butek Ong Kang Ek adalah ayahku.”
“Maaf, maaf. Si gemuk menjura dengan hormat dan senyum ramah menggantikan kemarahan yang tadi telah membayang di wajahnya.” Kami tidak tahu bahwa Pek I Lihiap adalah puteri Ong Lo-enghiong. Bolehkah kami bertanya di mana tempat tinggal ayahmu sekarang? Kami adalah kawan-kawan baiknya.”
Ditanya demikian itu, sedihlah hati Giok Cu dan tiba-tiba ia menangis. Ketiga orang itu heran. “Ada apakah, lihiap?”
“Ayah...ayah telah meninggal dunia. Kalau dia masih hidup, masakan aku sampai terlantar dan hendak. mencuri uang orang?”
Kagetlah tiga orang itu mendengar hal ini. “Silahkan turun dan duduk di dalam, lihiap. Mari kita bercakap- cakap di dalam.”
Giok Cu tidak membantah lagi dan ia segera mengikuti mereka loncat ke dalam di mana terdapat meja bundar dengan banyak kursi. Tiga buah lilin menerangi kamar itu. Setelah duduk, barulah mereka tanyakan perihal kematian Ong Kang Ek.
Giok Cu tidak pernah ceritakan mereka perihal Thian In yang secara tidak langsung menjadi sebab kematian ayahnya. Ia hanya ceritakan bahwa ayahnya meninggal karena sakit jantung.
Dan sekarang lihiap hendak menuju kemanakah?
Giok Cu menghela napas. “Ah, kemana? Entah. Aku sendiripun tidak tahu kemana aku menuju. Jika aku duduk di atas kudaku, aku biarkan saja kuda itu lari sesukanya. Aku hanya ingim merantau dan berkenalan dengan orang-orang gagah.
“Kau bersemangat seperti ayahmu, nona. Kebetulan sekali jika kau ingin bertemu dengan orang gagah, ikutilah kami besok malam. Di bukit Bong san akan diadakan pertandingan adu silat antara kaum kami di kota ini dan rombongan piauwsu dari Kun Lim.
Giok Cu tertarik sekali hatinya dan minta keterangan lebih jauh. Si gemuk saudara tertua dari Kiciu san eng, secara ringkas menutur:
Di kota kiciu ini banyak terdapat ahli-ahli silat yang dulunya terpecah-pecah menjadi beberapa golongan. Mereka itu terdiri dari guru-guru silat, pengantar-pengantar barang atau piauwsu, kepala-kepala perkumpulan dan cabang-cabang atas. Karena mereka keturunan berbagai-bagai cabang, maka seringkali terjadi keributan di antara mereka. Kami sendiri bertiga saudara yang menjadi guru silat, sering pula ribut dengan lain golongan. Karena pertentangan ini, tidak jarang terjadi kurban jiwa dan banjir darah, hingga kota menjadi tidak aman. Pada suatu hari kurang lebih setahun yang lalu datanglah dua orang di kota ini. Mereka itu bukan lain orang tua yang sangat terkenal namanya yakni Hong-san Lo-in dan muridnya. Kedatangan orang tua yang gagah perkasa itu mendatangkan perubahan besar. Pada waktu itu mendatangkan perubahan besar. Pada waktu itu orang gagah dari berbagai golongan mengadakan pertemuan di luar kota untuk bertempur mati-matian. Di luar kota terdapat bukit Bong-san, dan di situlah kami berkumpul. Pada saat pertempuran dimulai, datanglah Hong-san Lojin yang memisah. Ia larang kami berkelahi dan kataku siapa yang tidak turut berarti menjadi lawannya. Tadinya kami andalkan banyak orang mengeroyoknya, tapi satu demi satu kami dijatuhkan! Muridnya yang bukan lain ialah Bu-eng-cu Koayhiap hanya berdiri memangku tangan sambil tertawa haha hihi, sama sekali tak ikut turun tangan dan biarkan gurunya menghajar kami seorang diri. Akhirnya kami menyerah kalah dan berjanji akan menurut nasehatnya, yaitu kami takkan mengacau kota lagi dan takkan mengadakan permusuhan-permusuhan. Ia mengancam kami jika ada yang membikin rusuh di kota Kiciu-kwan tentu ia akan datang menghukumnya. Tapi memang benar kata orang-orang tua bahwa lebih mudah menggembala seratus ekor kerbau daripada mengatur sepuluh orang manusia. Setelah Hong-san Lojin dan muridnya pergi, para jago silat di Kiciu- kwann mulai lagi dengan permusuhan-permusuhan dan perkelahian-perkelahian mereka.
“Sebulan kemudian setelah Hong-san Lojin pergi permusuhan makin menghebat hingga kampung- kampung pun ikut berpihak dan perkelahian perseorangan menjadi permusuhan kampung lawan kampung!! Tiba-tiba datanglah Bu-engcu Koay-hiap, murid dari Hong-san Lojin. Karena dulu anak muda itu tidak membantu gurunya maka kami tidak tahu sampai di mana kelihaiannya. Tapi setelah ia bergerak, celakalah kami semua! Semua orang yang melanggarpesan Hong-san Lojin dan yang memulai adakan permusuhan-permusuhan mendapat hajaran keras bahkan sampai beberapa orang dihancurkan tulang lengannya hingga tak dapat berkelahi lagi! Tak seorangpun dapat melawannya. Kalau gurunya lihai, muridnya ini agaknya lebih hebat lagi. Gurunya dulu masih murah hati, tapi Bu-engcu Koay-hiap bertindak tegas dan keras. Ia lalu adakan peraturan-peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun. Kemudian ia pilih ketua untuk mengatur. Oleh Koay-hiap kami bertiga dianggap yang paling kuat dan boleh dipercaya, maka kepada kamilah, tugas itu diberikan.
“Biarpun peraturan-peraturannya keras, namun Koay-hiap berhati baik sekali. Ia gunakan pengaruhnya untuk membujuk para hartawan di kota ini untuk menyediakan belanja guna kami sekalian. Para hartawan juga dengan rela suka memberi sumbangan karena semenjak saat itu harta benda mereka aman tak pernah terganggu. “Sampai di sini ketiga saudara itu menawari minum kepada tamunya.
Giok Cu mendengarkan dengan kagum. Ia teringat ketika dulu Thian In mengamuk, sebutir batu kecil menotok pemuda gagah itu dan membuatnya tak berdaya. Ayahnya lalu menyebut-nyebut nama Hong-san Lojin. Baru sambitan batu kecil saja sudah dapat merobohkan seorang yang demikian gagah seperti Thian In, maka kini ia mendengar penuturan Kiciu Sam-eng ia tak merasa heran lagi.
“Dan tentang pertandingan besok malam, bagaimanakah itu?” tanyanya.
Si gemuk menghela napas. “Memang musim bunga tak dapat berlangsung selamanya. Pasti datang lain musim yang menggantinya. Keadaan kami yang aman tentram inipun rupanya harus ada penggoda dan perubahannya. Dulu Bo-eng-cu Koay-hiap pesan bahwa jika ada sesuatu ketidaksesuaian paham orang- orang yang bersangkutan hanya memperbolehkan mengadakan perundingan atau pertandingan di atas bukit Bong-san. Pertandingan ini sifatnya hanya mengadu kepandaian saja, tidak boleh saling bunuh. Siapa yang menang berhak majukan dua buah usul dalam persoalan itu, yang kalah hanya berhak pertahankan sebuah usul saja. Nah, sebulan yang lalu datanglah rombongan piauwsu dari Kun-lim mengantar barang melalui kota ini. Menurut peraturan rombongan itu harus memberi uang sumbangan lima ratus tail. Mereka penasaran sekali, walaupun uang sumbangan diberikan, tapi mereka minta bertemu besok malam di bukit Bong-san, karena katanya mereka tidak setuju dengan peraturan ini. Nah, kami bertiga sebagai ketua harus mewakili semua golongan datang ke sana mengadu kepandaian, dengan beberapa orang yang cukup gagah dari kota ini. Kebetulan lihiap berada di sini, jika hendak menambah pengalaman, kami persilahkan ikut ke sana.”
Giok Cu tertarik sekali. “Sebetulnya urusan ini tiada sangkut pautnya dengan aku. Tapi karena akan ada adu silat maka hal itu tentu menarik sekali. Baik, besok malam aku datang ke sini untuk bersama cuwi pergi ke Bong-san. Tapi harap sam-wi suka beritahukan nama kepadaku. Namaku Ong Giok Cu.”
Si gemuk pendek tertawa girang. “Kau polos dan jujur lihiap, seperti ayahmu pula. Kami bertiga she Liok, aku yang tertua bernama An, ini yang kedua bernama Wan, dan yang ketiga Kay. Kami bertiga tidak berkeluarga dan hidup sebagai pengajar silat pasaran.”