“Jadi kau adalah anak perempuan wanita ini?” katanya menunjuk lukisan ibu Giok Cu. Gadis itu bingung dan hanya mengangguk dengan hati berdebar kacau.
“Jadi kau...kau anak Can Kwei Lan??
Kembali Giok Cu hanya bisa mengangguk. Sementara itu, Ong Kang Ek telah loncat mendekati dan bertanya: “Apa artinya ini? Hiansay, apa hubunganmu dengan dia?” tanya kepada Thian In sambil menunjuk gambar isterinya.
“Jadi....kau ini...pemuda yang direbutnya dari tangan dan hati ibuku?? Kali ini Thian In menunjuk ke arah Ong Kang Ek dengan mata menyala. Ong Kang Ek mundur beberapa tindak dengan muka pucat.
“Siapakah kau?” tanyanya.
“Masih ingatkah kau akan seorang gadis yang hancur kalbunya karena perbuatan dan ketidak setiaanmu? Ingatkah kau kata Eng Hong?”
Makin pucatlah wajah Ong Kang Ek. “Apa...apakah hubunganmu dengan Eng Hong?”
Muka Thian In yang tadinya pucat kini berubah merah dan suaranya terdengar seram ketiak ia menjawab keras: “Eng Hong adalah ibuku. Wanita digambar ini adalah musuh ibuku yang harus kubunuh. Tapi karena ia telah mendahului tinggalkan dunia ini sekarang kau dan anaknya harus ganti jiwa! Thian In tutup kata- katanya dengan loncat menerjang Ong Kang Ek. Serangan ini hebat ho-tok-hu atau Bangau-putih-totol- ikan, pukulan yang dibarengi tenaga dalam hingga kalau sampai ke sasarannya pasti orang takkan kuat menahan. Dalam terkejut dan bingungnya. Ong Kang Ek sempat loncat ke samping dan berkata:
“Hiansay, tahan dulu! Segala persoalan bisa diurus. Ingat kepada isterimu!”
“Hm, siapa sudi menjadi mantumu? Siapa sudi menjadi mantu Can Kwei Lan yang sudah merusak hidup ibuku? Ini hari kalian berdua atau aku harus rebah di tanah menjadi mayat!”
Karena sedih, malu, dan marah hampir saja Giok Cu jatuh pingsan. Kini timbullah marahnya. “Bangsat rendah, berani kau hina orang sesukamu. Kau ingin adu jiwa? Baik, nonamu antar kau ketemui ibumu di neraka. Giok Cu mata gelap dan balas memaki karena merasa marah ibunya dihina. Kemudian maju menyerang. Thian In berkelit dan membalas dengan serangan maut! Kali i ni mereka tidak main-main seperti di atas panggung dulu. Mereka gunakan serangan-serangan berbahaya. Tapi mana Giok Cu dapat melawan pemuda yang lihai itu? Sebentar saja ia terdesak dan sibuk menangkisi dan berkelit.
Ong Kang Ek berkali-kali minta Thian In bersabar dan menahan marahnya, tapi tidak diperdulikan oleh pemuda itu. Akhirnya, melihat gadisnya terdesak, Ong Kang Ek menjadi marah dan maju mengeroyok! Pesta menjadi kacau balau. Tamu-tamu lari keluar dan yang agak berani menonton dari tempat agak jauh. Sedangkan Kam Cu dengan garuk-garuk kepala dan banting-banting kaki mendekati sambil berkaok-kaok: “Saudara Thian In!! Ong siocia!! Ong lopeh!! Berhentilah aduh celaka, bagaimana ini? Jangan berkelahi,
nanti kena bencana. Aduh, bagaimana ini??” Pemuda sastrawan ini lari hilir mudik dengan bingung, kemudian ia duduk sambil tutup muka dengan kedua tangan dan geleng-geleng kepala.
Pertempuran makin hebat. Mereka bertiga gunakan tangan kosong karena tidak sempat mengambil senjata. Namun, biarpun bertangan kosong, pukulan-pukulan yang mereka layangkan tidak kalah berbahayanya dengan serangan senjata tajam. Sekali saja kena terpukul atau tertendang tepat banyak harapan putus nyawanya.
Souw Thian In benar-benar gagah. Biarpun dikeroyok oleh ayah dan anak yang lihai itu, ia masih dapat menyerang lebih banyak daripada diserang. Beberapa kali hampir saja Giok Cu terkena pukulan maut. Pada saat itu Souw Thian In keluarkan ilmu silat simpanannya, yaitu jurus Kiauw-ta Sina, semacam ilmu silat gabungan dari cabang Butong dan Siauwlim. Ilmu silat ini telah dijadikan dengan cermat dan mahir hingga kali ini Ong Kang Ek dan Giok Cu terdesak mundur. Dengan beringas dan kejam bagaikan seekor harimau menubruk mangsanya, Thian In kerahkan tenaga menyerang Giok Cu. Gadis itu berkelit ke samping tapi malang baginya, kakinya terbentur menjadi belakangnya hingga ia terhuyung ke kanan. Saat itu digunakan oleh Thian In untuk mengirim pukulan maut ke arah lambung Giok Cu. Ong Kang Ek melihat bahaya ini berteriak keras karena ia tak keburu menolong. Berbareng dengan teriakan Ong Kang Ek dan jeritan Giok Cu, tiba-tiba Thian mengerang kesakitan dan sebelum pukulannya mengenai lambung Giok Cu, pemuda itu roboh terguling.
Giok Cu merasa heran dan keringat dingin mengucur dari jidatnya karena baru saja ia terlepas dari bahaya maut. Ia berdiri terengah-engah sambil menyusut keringatnya. Sedangkan Ong Kang Ek tak kurang herannya karena ia tak mengerti bagaimana Thian In bisa roboh. Giok Cu yang menyangka ayahnya telah menjatuhkan Thian In tidak seheran ayahnya, dan kini melihat calon suaminya rebah tak berkutik di atas lantai hatinya menjadi hancur. Ia jatuhkan diri di atas sebuah kursi dan menangis tersedu-sedu.
Sementara Ong Kang Ek menghampiri tubuh Thian In dan memeriksanya. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat tubuh pemuda itu lemas tak berdaya karena pengaruh totokan. Ia meraba-raba dan mendapat kenyataan bahwa yang tertotok adalah jalan darah Thian-hu-hiat. Maka tak habis herannya memikirkan bagaimana pemuda ini sampai tertotok dan oleh siapa? Tiba-tiba matanya melihat sebutir batu kerikil bundar di dekat tubuh itu dan air mukanya berobah pucat. Ia dapat menerka bahwa Thian In telah ditotok dengan sambitan batu kecil itu. Dan sepanjang pengetahuannya, yang dapat melakukan ilmu sambit selihai ini hanya seorang locianpwee yang bergelar Hong-san-lojin si Orang tua dari Hongsan! Ia tahu bahwa Hong san lojin seorang pertapa yang beradat aneh dan berkepandaian sangat tinggi, tapi semua ini hanya pernah didengarnya saja karena belum pernah ia melihat orangnya!
Sedang ia melamun demikian, datanglah Kam Ciu berlari-lari dan berlututlah anak muda itu di dekat Thian In sambil bertanya Ong lopeh, matikah dia? Ah celaka...bagaimana ini Ong lopeh?”
Tapi Ong Kang Ek tak memperdulikannya bahkan lalu berdiri dan setelah memandang keempat penjuru, ia berteriak memanggil: Hongsan Locianpwee, silahkan turun, siauwtee ingin menghaturkan terima kasih!” Tapi biarpun berteriak berkali-kali, tak seorangpun menjawab. Sementara itu para tamu telah pergi keluar semua hingga keadaan di situ sunyi.
“Ong lopeh, mengapa kau panggil-panggil orang yang tidak ada? Siapakah yang kau cari?” tanya Kam Ciu tak sabar.
“Penolong kami adalah Hongsan Lojin, tapi orang tua itu tidak mau muncul,” kata Kang Ek sambil menghela napas, seakan-akan berbicara kepada diri sendiri.
“Kalau tidak mau datang itu berarti bahwa ia memang hendak membantu dengan secara sembunyi. Perlu apa dicari-cari. Kalau ia mau bertemu, perlu apa ia membantu dengan sembunyi?”
Ong Kang Ek anggap pernyataan Kam Ciu itu benar juga, maka ia berjongkok kembali memeriksa keadaan Thian In. Pemuda itu telah sadar tapi belum dapat gerakkan tubuhnya karena masih dalam keadaan tertotok. Beberapa kali Ong Kang Ek mencoba untuk punahkan totokan itu, tapi sia-sia. Thian In telah tertotok dengan cara asing bagi jago tua itu hingga ia tak berdaya.
“Eh, eh, kenapa ditotok-totok? Kau hanya membikin ia sakit saja Ong lopeh. Setahuku kalau orang jatuh pingsan, ia diberi jahe dan telur mentah.” Kemudian Kam Ciu berlari ke dalam rumah dan minta kepada pelayan supaya disediakan telur mentah dan jahe. Setelah dapat barang-barang itu, ia segera berlari menghampiri Thian In dan gunakan telur dan jahe mencekok mulut pemuda itu. Dan betul saja! Thian In bergerak perlahan dan sebentar lagi ia telah bisa bangun duduk!
Ong Kang Ek merasa heran tapi ia segera berkata kepada Thian In: “Souw enghiong, sekarang engkau harap suka berlaku tenang dan ceritakan kepada kami mengapa kau tiba-tiba hilap.” Ong Kang Ek tidak mau menyebutnya hiansay atau anak mantu lagi.
Thian In berdiri dan setelah memandang kepada Kam Ciu beberapa lama, ia menghela napas..”Sudahlah kalian mendapat bantuan orang pandai, sungguh mataku buta. Biar lain kali saja aku minta pengajaran lagi.” Ia hendak bertindak pergi, tapi Ong Kang Ek menahannya sambil bertanya.
Nanti dulu, Souw enghiong. Kau tadi mengaku putera Eng Hong. Di manakah dia itu sekarang?” “Ia telah mati karena karena kau!”
“Souw enghiong. Kau anak muda yang tidak tahu duduknya persoalan. Hal itu terjadi ketika kau belum terlahir mana kau tahu duduk persoalan?”
“Aku tidak perduli bagaimana duduk persoalannya. Tapi ibu ketika hendak tinggalkan aku telah berpesan agar aku balaskan sakit hatinya kepada isterimu yang telah meninggal itu. Kini musuh ibuku telah mati,
kepada siapa aku harus balas dendam selain kepada suami dan anaknya? Tapi aku telah gagal, biarlah memang kepandaianku yang rendah. Biar lain kali kita berjumpa pula! Dan dia hendak pergi. “Saudara Thian In, benar-benar secupat itukah pandanganmu?” tiba-tiba Kam Ciu maju dan pegang ujung lengan baju Thian In. Pemuda yatim piatu itu memandang kepada Kam Ciu dengan mata bersinar, lalu tiba-tiba ia menjura: “Kau....kau aku kecewa padamu!” Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia loncat pergi!
Kam Ciu hanya menghela napas, memandang kepada Ong Kang Ek dan Giok Cu lalu angkat pundak dan geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba Giok Cu menangis terisak-isak sambil jatuhkan kepala di atas meja. Ong Kang Ek memandang ke arah anaknya. Wajahnya makin pucat dan murung. Ia merasa terharu dan sedih sekali. Ia cukup maklum akan kehancuran hati Giok Cu. Kemudian tiba-tiba orang tua ini menjerit keras sambil pukul-pukul dadanya seakan-akan orang yang hendak menghukum dirinya sendiri, lalu dari mulutnya tersembur darah segar dan ia roboh pingsan!
Ong lopeh....Ong lopeh!! Nona...lekas....lekas....ah, bagaimana ini??” Kam Ciu menjerit-jerit hingga Giok Cu terkejut. Melihat keadaan ayahnya, gadis itu loncat menubruk dan ikut menjerit-jerit: “Ayah ayah!”
Pelayan-pelayan datang menolong dan orang tua itu diangkat ke dalam kamar. Ong Kang Ek mendapat serangan jantung dan penyakitnya makin berat hingga berkali-kali jatuh pingsan. Giok Cu yang merasa bingung dan tidak mempunyai keluarga lain, minta dengan sangat kepada Kam Ciu agar suka tinggal lebih lama di rumah itu. Permintaan ini diluluskan oleh pemuda itu yang merasa sangat kasihan melihatnya. Ong Kang Ek biarpun sedang sakit tahu juga akan bantuan pemuda itu, maka ia panggil Kam Ciu dan duduk di pembaringan.