Halo!

Pendekar Wanita Baju Putih Chapter 10

Memuat...

“Hoan Tin-cu tadi sedang marah tapi kau tertawakan padanya hingga hampir saja ia gunakan pukulan gelap untuk membunuhmu. Untung saja ia dapat menahan napsunya, kalau tidak entah bagaimana jadinya. “Orang tua itu menghela napas.

“Hm, hm, kalau begitu ia bukan orang baik-baik,” kata Kam Ciu sambil mengangguk-angguk. Ia kalah bukan salahku, tapi karena kelemahan sendiri, mengapa ia marah kepadaku?”

Thian In yang sementara itu sudah turun dan menghampiri mereka, tepuk-tepuk pundak Kam Ciu sambil tertawa: “Mengapa ia marah padamu? Ah, saudaraku yang baik, karena sebenarnya kaulah yang membuat ia kalah olehku tadi!”

“Apa maksudmu?” pertanyaan ini diucapkan oleh Kam Ciu dan Ong Kang Ek dengan berbareng karena orang tua inipun heran mendengar pengakuan itu.

“Bukankah ketika kami sedang saling serang tadi kau berteriak-teriak mengatakan bahwa kami berkelahi bagaikan seekor ular dan seekor burung? Nah, pada saat itu barulah aku insaf dan mendapat akal untuk menjatuhkannya! Aku baru ingat bahwa ilmu pedang Hoan Totiang hampir sama jalannya dengan ilmu pedang Ouw-coa-kiamhwat yakni ilmu pedang ular telaga yang terkenal lihai dari Lam-san-pay dan biarpun gerakannya lambat, namun tangguh dan kuat sekali. Setelah mendengar teriakanmu, barulah aku ingat bahwa untuk melawan ini haruslah gunakan ginkang yang tinggi untuk mempermainkannya. Kebetulan sekali kepandaian ginkangku lebih tinggi darinya, maka aku lalu gunakan kegesitan untuk menyerang sambil berputaran dan berloncatan hingga ia menjadi pusing dan lelah. Bukankah ini berarti bahwa kau yang memberi jalan hingga ia mendapat kekalahan? Nah, karena itulah maka ia marah padamu.”

Mendengar keterangan ini, Kam Ciu tertawa lagi, kini tawanya gembira. “Kalau begitu, saudara Souw lain tahun kalau kau pergi ke Kwie-san kau harus ajak aku untuk menjadi penasehatmu!” Thian In hanya tersenyum, lalu ia berkata kepada Ong Kang Ek.

“Ong Lo-enghiong bagaimanakah sekarang? Apakah aku sudah memenuhi sarat untuk mencoba kepandaian puterimu?”

Ong Kang Ek tersenyum dan berkata: “Souw hiantit, kau sungguh gagah. Mana anakku yang bodoh berani unjuk kebodohannya di depanmu?”

“Eh, mana ada aturan begitu, lopeh?” bantah Gan Kam Ciu.” Biarpun kepandaian saudara Soaw ini cukup hebat, ia harus pula memenuhi apa yang telah dijanjikan tadi. Kalau ia tidak disuruh menghadapi Ong siocia, mana kita tahu siapa yang lebih unggul. Kata-kata ini dibenarkan oleh paramuda yang duduk di situ hingga apa boleh buat Ong Kang Ek pergi panggil puterinya yang duduk di ruang wanita, Giok Cu yang telah siap sedia segera loncat ke atas panggung dan berdiri dengan kepala tunduk karena sesungguhnya ia merasa malu untuk bertanding dengan pemuda yang telah memikat hatinya itu.

Souw Thian In pun tidak melewatkan ketika baik ini untuk menjajal kepandaian gadis jelita itu. Dengan gaya indah menarik, ia loncat ke atas panggung lalu berdiri di depan gadis itu sambil menjura memberi hormat yang dibalas oleh Giok Cu dengan muka merah. Alangkah girang, hati Thian In karena setelah berada dekat dengan nona itu barulah ia m endapat kenyataan bahwa Giok Cu benar-benar cantik jelita!

“Ong siocia, harap kau suka berlaku murah hati dan jangan turunkan tangan kejam kepadaku.” Kata Thian In sambil perlihatkan senyum manis.

“Souw enghiong jangan merendah,” jawab Giok Cu dengan suara merdu halus sambil cabut pedangnya dengan tangan kanan dan angkin suteranya dengan tangan kiri. Thian In mundur dua tindak lalu loloskan pedangnya pula.

Setelah saling mengangguk sekali lagi tanda hormat, Giok Cu mulai buka serangan dengan pedangnya, sementara sabuk-sutera merah di tangan kirinya bergerak bagaikan benda hidup membuat lingkaran melindungi seluruh bagian tubuh yang tak terlindung pedang. Gerakan bidadri menari selendang ini sungguh indah dipandang hingga Kam Ciu dengarkan seruan kagum dan sepasang mata tanya memancarkan sinar gembira. Melihat keadaan pemuda sastrawan ini Ong Kang Ek yang memandang dari samping diam-diam menghela napas dengan hati kasihan. Orang tua ini maklum betapa pemuda kutu buku ini mencinta dan merindukan Giok Cu, tapi apa mau dikata, pemuda lemah seperti tentu tidak seimbang dengan anak gadisnya yang gagah perkasa. Pikiran ini membuat ia menengok lagi ke arah panggung. Ternyata tanpa sungkan-sungkan lagi Giok Cu keluarkan serangan-serangan yang paling berbahaya. Agaknya gadis betul-betul hendak mencoba sampai di mana kelihaian ilmu silat pemuda baju biru ini maka ia kerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya. Tapi Thian In tidak menjadi gugup biarpun ia dikurung oleh sinar merah yang bergulung-gulung dan sinar putih yang berkeredep-keredep dari sabuk sutera merah dan pedang Giok Cu. Pemuda ini dengan sigapnya mainkan ilmu pedang angin taufan permainkan ombak, yaitu ilmu pedang ciptaan gurunya yang sengaja dimainkan untuk menjaga diri dari serangan musuh tangguh. Ilmu pedang ini jika dimainkan oleh tangan yang mahir dapat membuat pedang merupakan dinding baja yang menutup rapat diri si pemain hingga tak mudah untuk diserang. Pedang di tangan Thian In berputar cepat dan sebentar lagi Giok Cu merasa gelisah karena sedikitpun kedua senjatanya tak dapat mendekati tubuh pemuda itu.

Thian In tidak hanya membela diri. Di mana ada kesempatan, iapun kirim serangan-serangan berbahaya. Tapi di mata seorang ahli nyata sekali bahwa ia tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, karena beberapa kali pedangnya yang telah meluncur ke arah tubuh si gadis sengaja dibelokkan seakan-seakan pemuda itu takut kalau-kalau pedangnya akan betul-betul melukai tubuh lawannya. Hal ini pun diketahui pula oleh Ong Kang Ek yang merasa girang karena perbuatan pemuda itu menandakan bahwa ia ada hati terhadap Giok Cu. Hal inipun tak luput dari pandangan gadis itu sendiri hingga ia makin merasa bingung dan malu. Pada saat ketika pedang Thian In menyerang, Giok Cu berhasil melibat pedangnya dengan angkinnya, tapi ketika Thian In betot pedangnya, sabuk sutera merah itu terbawa oleh pedang! Giok Cu cepat meloncat ke belakang dan tanpa menoleh lagi ia lalu turun dari panggung dan lari ke dalam rumah!

Kam Ciu tertawa bergelak dan tepuk-tepuk tangan disusul oleh lain tamu hingga Thian In berdiri di atas panggung dengan muka merah dan memandang selendang merah yang masih tergantung di pedangnya! Ong Kang Ek melihat pula dan mengerti bahwa Giok Cu sengaja lepaskan angkinnya sebagai tanda menyerah dan juga tanda setuju kepada pemuda itu, maka tanpa ayal lagi ia loncat ke atas panggung.

“Souw hiantit, anakku yang bodoh mengaku kalah.” Kemudian ia iringkan pemuda itu turun dari panggung.

Habisnya acara itu dianggap sebagai habisnya perayaan, maka berangsur-angsur para tamu berpamit dan tinggalkan tempat itu.

Setelah tamu-tamu pulang, yang tinggal hanya Thian In dan Kam Ciu yang masih duduk bercakap-cakap dengan Ong Kang Ek. Ketika ditanya tentang orang tuanya, Thian In dengan sedih menjawab bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia dan bahwa ia adalah seorang yatim-piatu yang hidup sebatang kara, tak bersanak tak berkandang. Dalam percakapan mereka Thian In merasa suka kepada Kam Ciu yang biarpun hanya seorang siucay, tapi luas pandangannya. Kedua pemuda itu diminta dengan sangat oleh Ong Kang Ek untuk bermalam di rumahnya dan mendapat sebuah kamar besar yang dipakai oleh mereka berdua.

Malam hari itu Kam Ciu dipanggil oleh Ong Kang Ek yang berkata kepadanya: “Gan Hiantit, kau lihat sendiri tadi bahwa Souw hiantit telah memenuhi segala sarat untuk menjadi suami anakku. Aku telah setuju padanya dan Giok Cu juga tidak menolak. Sayang sekali pemuda itu telah yatim piatu dan tidak ada walinya. Kau adalah putera Saudara Gan Im Kiat yang sudah seperti saudara sendiri dengan aku. Maka Gan hiantit sukakah kau berlaku begitu baik hati untuk menjadi perantara atau wakil?”

Kam Ciu tekan perasaannya dan ia memandang kepada Ong Kang Ek dengan wajah agak pucat dan senyum getir di bibir. “Bagaimana maksudmu, Ong lopeh?”

Ong Kang Ek menghela napas. “Sebenarnya tidak pantas aku memilih kau untuk hal ini, hiantit, tapi apa boleh buat, selain kau selain kenal baik padaku, juga sekarang kenal baik kepada Souw hiantit pula. Maksudku, sukalah kau menjadi perantara untuk perjodohan anakku dan Souw hiantit, tidak hanya menjadi perantara, juga sebagai wali pemuda yatim piatu itu.

Biarpun ia telah menduga maksud Ong Kang Ek, namun masih Kam Ciu merasa betapa dadanya berdebar dan bibirnya gemetar. Ia mendapat pukulan batin yang hebat, karena ia sendiri pernah melamar Giok Cu dan ditolak, sekarang harus menjadi wali orang lain yang hendak mengawini gadis itu? Ah, alangkah berat tugas ini. Tapi ia paksa mulutnya bersenyum dan menyanggupi. Demikianlah, di dalam kamarnya, Kam Ciu utarakan maksud Ong Kang Ek. “Saudara Thian In, karena kau sebatang kara dan nona Giok Cu telah cukup umur, Ong lopeh menghendaki agar kau dan Ong socia kawin minggu depan ini.” Kam Ciu tutup pembicaraannya.

“Tapi...tapi...”

“Tapi, bukankah kau sudah setuju padanya?” tegur Kam Ciu melihat keraguan pemuda itu.

Thian In mengangguk, lalu menghela napas. “Baiklah kalau kau sudi menjadi waliku, saudara Kam Ciu.”akhirnya pemuda itu menyetujui. Dengan girang Kam Ciu sampaikan persetujuan ini kepada Ong Kang Ek.

Seminggu kemudian rumah Ong Kang Ek dihias sederhana. Ini adalah permintaan Souw Thian In, yakni tak perlu mengadakan perayaan besar. Tamu-tamu yang menghadiri perkawinan itu hanya penduduk kota Kam Leng yang telah dikenal dan para tetangga.

Ketika kedua penganten ditemukan, mereka berdua lalu dituntun ke meja sembahyang, di mana tergantung sebuah lukisan besar seorang wanita cantik. Ini adalah lukisan ibu Giok Cu yang telah meninggal dunia. Melihat gambar ibunya, Giok Cu jatuhkan diri berlutut di samping calon suaminya dan menangis. Thian In berbisik kepada Giok Cu: “Siapakah?”

“Ibuku,” jawab Giok Cu.

Thian In angkat muka memandang lukisan itu. Tiba-tiba wajahnya pucat bagaikan mayat, sepasang matanya terbelalak dan mulutnya terbuka dengan bibir menggigil. Ia gunakan tangan kiri yang gemetar untuk merogoh ke dalam bajunya, lalu tangan itu keluarkan segulung kertas. Ia cepat buka gulungan kecil itu Giok Cu yang melihat perbuatan calon suaminya dengan pandangan mata aneh hampir berseru karena terkejut dan herannya. Ternyata gulungan gambar itupun lukisan ibunya yang sedikitpun tak berbeda dengan lukisan yang tergantung di meja sembahyang itu!

Kini pandangan mata dan wajah Souw Thian In berubah keras. Ia berdiri dan bertolak pinggang sambil pandang Giok Cu dengan mata menghina.

Post a Comment