“Kalau begitu bukankah totiang ini Hoan Tin-cu Totiang yang bergelar Liok-chiu0sian Si-Dewa-tangan- enam? Sungguh bahagia aku yang muda dapat berjumpa dengan totiang yang telah membuat nama besar! Tapi apa maksud totiang untuk menjajal Kiam-hwat mu yang sudah terkenal itu kepada seorang muda seperti aku? Harap totiang suka pikir-pikir kembali. Kalau totiang dapat kalahkan aku hal ini tidak menguntungkan totiang juga tak berarti apa-apa. Tapi sebalinya kalau sam pai kiamhwatmu kalah olehku, bukankah hal ini akan membuat totiang merasa malu dan aku merasa tidak hati saja?” Ucapan ini biarpun kelihatan rendah dan halus namun juga mengandung ejekan dan memandang rendah kepada Kwie-san- kiamhwat. “Souw sicu! Kepandaianmu sudah begitu hebat, apa pula kau adalah murid Gak Bong maka biarpun seandainya aku jatuh dalam tanganmu aku takkan merasa malu bahkan merasa terhormat. Tentu saja kalau kau mampu jatuhkan aku!”
Ong Kang Ek merasa tidak enak sekali menghadapi adu mulut ini maka buru-buru ia berkata: “Hoan totiang dan Souw Sicu yang terhormat. Saya tidak ada perlunya hal ini dilanjutkan, karena membikin kita semua tidak enak saja. Memang maksud Hoan totiang baik, yakni untuk menambah pemandangan kita dan juga untuk meramaikan pesta ini tapi hendaknya diingat bahwa Souw Sicu belum bertanding dengan puteriku, hingga kalau dia harus bermain-main dulu dengan totiang, maka tentu hal ini kurang adil, apalagi berusan Souw Sicu telah melayani saudara-saudara yang lain.”
Hoan Tin-cu tertawa bergelak-gelak. “Aku orang tua tidak tahu diri memang menjadi gangguan saja. Tadi aku minta kepada Souw Sicu, tapi ternyata kau ingin lekas-lekas melihat pemuda ini mengadu kepandaian dengan anakmu. Biarlah aku mundur saja juga tentu saja Souw Sicu lebih senang bertanding dengan Ong siocia dari pada dengan aku si tua bangka!”
Bukan main panas hati Thian In mendengar olok-olokan ini. Ia menghadapi Ong Kang Ek dan menjura: “Ong Lo-enghiong, perkenankanlah kiranya siauwtit melayani Hoa Totiang barang sepuluh jurus sebagai tanda hormat kepadanya dan juga untuk menggembirakan pesta ini.” Terpaksa Ong Kang Ek mengangguk dan tinggalkan panggung dengan hati cemas karena ia tahu betapa lihainya pendeta tinggi kurus itu.
“Ha, ha! Harimau muda yang gagah berani.” Sikapmu ini membuat aku makin kagum, anak muda. Keluarkanlah pedangmu dan mari kita main-main sebentar agar kurasai sampai di mana kelihaian ilmu pedang turunan Gak Bong! Jangan kau takut, aku tak begitu kejam untuk mencelakai seorang muda.
Kata-kata ini sangat memandang rendah hingga tanpa banyak cakap lagi Souw Thian In lolos pedangnya dari pinggang. Sementara itu Hoan Sin-cu juga telah cabut pedang dari punggungnya dan dengan jumawa sekali ia gerak-gerakkan pedang itu di tangan kanan hingga bersuitan mendatangkan angin dingin. Thian In maklum akan kelihaian orang tua itu, maka ia berdiri masang kuda-kuda dengan tenang dan waspada. Kemudian ia berkata halus:
“Hoan Totiang kau mulailah dulu.”
Setelah perdengarkan suara tawa yang nyaring, Hoan Tin-cu segera gerakan pedangnya mengirim serangan pertama. Gerakan pedangnya memang cepat sekali, ditambah pula dengan gaya-gaya palsu dengan jalan putar-putar dan obat abitkan pedang itu bagaikan permainan pedang yang kacau, tapi yang sesungguhnya merupakan rangkaian serangan berbahaya. Tapi Thian In biarpun masih muda, namun ia tergembleng hebat oleh gurunya hingga ia dapat berlaku tenang sekali dan tidak bingung karena gerak- gerak palsu itu. Dengan gerakan Hui-pau-liu-cwan atau Air terjun bertebaran, ia dapat menangkis serangan Hoan Tin-cu dengan mudah sekali. Hoan Tin-cu terkejut juga melihat serangannya dapat dipunahkan demikian mudah, lebih-lebih ketika ia rasakan betapa tangkisan pedang. Thian In membuat tangannya tergetar, ia menjadi hati-hati dan berbareng penasaran sekali. Ia perdengarkan siulan keras dan tahu-tahu ia robah gerakan pedangnya. Kini ia mainkan tipu-tipu terlihai dari Kwie-sankiamhwat. Pedangnya berubah menjadi segulungan sinar putih berkeredupan yang mengurung Thian In.
Untuk sesaat Thian In terdesak dan ia merasa betapa Kwie-san-kiamhwat benar-benar lihai, cepat gerakannya dan kuat tenaga serangannya. Namun ia telah mendapat petunjuk istimewa dari Gak Bong Tosu bagaimana harus menghadapi ilmu pedang Kwie-san maka dengan cepat Thian In lalu mainkan gerakan Dinding besi membendung banjir. Pedangnya diputar sedemikian cepatnya hingga merupakan sinar bulat besar yang menjaga dan melindungi seluruh tubuhnya hingga jangankan senjata lawan, bahkan air hujanpun agaknya sukar untuk menembus dinding kuat yang terbuat dari mata pedangnya itu! Beberapa kali ujung pedang Hoan Tian-cu hendak menerobos masuk, tapi selalu dapat terpental keluar kembali karena tangkisan pedang Thian In.
Melihat betapa serangan-serangannya tak berhasil sedangkan pemuda itu hanya membela diri saja dan belum balas menyerang, Hoan Tin cu merasa penasaran dan marah karena ia anggap Thian In mengalah yang berarti menghina dan memandang rendah: Maka ia berseru keras:
“Souw Sicu, balaslah menyerang! Jangan takut aku takkan terluka oleh pedangmu.
Sambil tangkis sebuah tusukan, Thian In menjawab: “Baik, totiang, aku sudah terima pengajaranmu.” Sekarang silahkan menerima pertunjukanku. Awas pedang!” berbareng dengan teriakan ini tiba-tiba Thian In gerakkan pedangnya dengan tipu La-liong-sin yauw atau Naga-emas-mengulet. Tiba-tiba saja Thian In membuat gerakkan memutar dan secepat kilat pedangnya membalik dan meluncur dalam serangan berbahaya. Hoan Tian Cu yang sudah siap sedia tak menjadi gentar, bahkan ia berteriak: “Bagus!” sambil tersenyum dan gerakkan pedangnya menangkis, Thian In tarik kembali senjatanya dan membuat serangan baru yang tidak kurang berbahaya. Hoan Tian Cu tak menjadi gugup dan bergerak cepat dalam menangkis dan balas menyerang dengan keluarkan tipu-tipu yang paling diandalkan, tapi keadaan mereka seimbang. Thian In menang gesit dan menang tenaga, tapi kalah ulet dan kalah tenang.
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan memuji. Semua merasa heran dan memandang karena dalam keadaan setegang itu tak seorangpun berani menganggu dengan suara maupun tepuk tangan. Ternyata yang bertepuk tangan itu adalah Kam Ciu. Pemuda sastrawan ini yang menganggap permainan kedua orang itu sangat menarik agaknya tidak tahu sama sekali bahwa permainan yang indah dipandang itu mengandung ancaman-ancaman maut bagi kedua belah pihak! Sambil bertepuk tangan pemuda itu memandang pertempuran dengan mata bersinar, sinar dan mulut tersenyum-senyum. Sikapnya bagaikan seorang anak menonton pertunjukkan tari- tarian! Orang-orang di dekatnya terpengaruh oleh kegembiraan pemuda itu hingga merekapun ikut gembira, untuk sesaat melupakan ancaman bahaya bagi yang bertempur. Tapi tak lama kemudian melihat betapa kedua orang itu berputar-putar dalam pertarungan yang semakin sengit, mereka diam lagi dan memandang dengan hati diliputi penuh ketegangan.
Kini hanya Kam Ciu saja yang masih merasa gembira. Ia sabar-sabar bertepuk tangan dan berteriak-teriak! “Lihat, lihat...Aduh bagusnya tarian losuhu itu seperti seekor ular!” Para ahli silat diam-diam merasa geli mendengar ini, lebih-lebih ketika Kam Ciu berteriak lagi: “Permainan pedang mereka mengingatkan aku akan pertemupran ular dan burung garuda. Pernah kumelihatnya! Tapi ketika burung terbang dan menyambar, ularpun kalah!”
Tak seorangpun perdulikan ocehannya itu walaupun kata-katanya cukup keras. Sesaat kemudian keadaan pertempuran berubah. Agaknya Thian In merobah gerakannya. Ia gunakan ginkang atau ilmu ringankan tubuh yang hebat dan yang tadi telah dipertunjukkan ketika melawan empat pemuda. Tubuhnya kin berkelebat ke kanan-kiri dan kadang-kadang berputar-putar lalu loncat ke atas dan menyerang dari belakang dan dari atas. Terpaksa Hoan Tin-cu mengikuti gerakan-gerakan lawan yang gesit bagaikan burung itu! Payah ia putar-putarkan, makin cepat Thian In berputar di lingkungan luar makin cepat pulalah ia harus berputaran hingga sebentar saja ia merasa pusing dan pandangan matanya kabur: Hoan Tin Cu merasa sibuk menghadapi serangan-serangan Thian In yang tak terduga dan yang dilancarkan dari segenap penjuru, bahkan sering kali di atas.
Makin riulah tepuk tangan Kam Ciu dan mulutnya tiada hentinya berkaok-kaok: “Bagus....bagus....! Nah, lihat tuh...sekarang benar-benar ular melawan burung! Aduh bagusnya...”
Kini kata-kata gembira dari Kam Ciu ini mendapat perhatian semua orang karena betul-betul keadaan yang bertanding di atas panggung adalah seperti seekor ular dan seekor burung sedang berlagak! Thian In merupakan burung yang tangkas dan besar terbang ke sana kemari mengelilingi ular dan tiap ada kesempatan ia menyerang bagaikan burung mematuk. Sedangkan Hoan Thian Cu berada di tengah bagaikan ular menanti untuk menangkis atau tiba-tiba menyerang kalau lawannya mendekat.
Hoan Tin Cu sudah merasa lelah dan pusing. Ia tak tahu bahwa jika dilanjutkan akan kalah maka ketika pedang Thian In menyambar lagi, ia tidak menangkis, tapi berkelit sambil loncat ke belakang.
“Betul lihai! Betul kata orang, guru harimau murid naga. Terima kasih atas pengajaranmu, Souw Sicu.”
Thian In buru-buru menjura. “Totiang kau telah mengalah sungguh membuat aku bersukur. “Tapi ia salah sangka kalau ia kira bahwa pendeta itu benar-benar mau mengaku kalah, karena dengan wajah muram Hoan Tian-cu berkata:
“Souw Sicu, jika kau mau menghargai aku orang tua nanti pada permulaan musim Chun tahun depan kuundang kau ke Kwie-san di mana sekali lagi aku minta pengajaranmu.
Terkejutlah Thin In mendengar ini, tapi dasar ia seorang muda yang tabah, ia tersenyum pahit sambil menjawab: “Jadi totiang masih penasaran? Baiklah kalau ada aral melintang, pasti aku akan memenuhi permintaanmu.” Hoan Tin-cu lalu menjura kepada Ong Kang Ek sambil berkata: “Ong Enghiong, pinto tak dapat mengawani lebih lama lagi. Terima kasih untuk arakmu dan selamat berpisah!” Tuan rumah tak sempat menjawab karena tamunya telah memutar tubuh dan bertindak pergi. Ketika lewat di depan ruang di mana anak-anak muda berduduk, tiba-tiba berhenti di depan Kam Ciu dan ia berkata sambil angkat tangan menjura kepada pemuda itu yang masih duduk sambil tersenyum memandangnya:
“Anak muda kau seorang kutubuku lain kali janganlah banyak mulut bila menonton orang mengadu silat!”
Ong Kang Ek dan Giok Cu terkejut melihat gerakan Hoan Tin-cu karena itu adalah sebuah gerakan serangan yang dilakukan dengan kerahkan tenaga dalam untuk merobohkan orang tanpa menjamah kulitnya! Ong Kang Ek tidak ingin melihat Kam Ciu dicelakakan, maka hampir saja ia loncat mencegah, sedangkan Giok Cu juga siap sedia dengan piauw di tangan. Tapi ternyata Hoan Tin-cu tidak jadi seorang anak muda karena buktinya Kam Ciu masih saja duduk dengan tertawa. Totiang itu untuk sejenak memandang wajah pemuda sastrawan yang tidak menjawab kata-katanya tapi hanya tertawa geli saja, kemudian tanpa banyak berkata lagi pendeta itu panjangkan langkah dan lari pergi!”
Kam Ciu gunakan jari telunjuk menuding ke arah punggung Hoan Tin-cu dan tertawanya makin keras bergelak. Ong Kang Ek mendongkol juga melihat sikap pemuda itu. Ia segera loncat mendekati dan berkata:
“Gan Hianti lain kali harap jangan suka goda orang. Tahukah kau bahwa hampir saja kau mengalami bencana maut?”
Kam Ciu memandangnya dengan tak mengerti. “Bencana maut? Mengapa Ong lopeh.