Halo!

Pendekar Wanita Baju Putih Chapter 08

Memuat...

Lain-lain locianpowe terkejut mendengar ini. Mereka sudah kenal akan tabiat pertapa ini yang terkenal jujur dan terus terang, tapi tak suka mengalah dalam hal adu pedang!

Tapi Souw Thian In berlaku tenang saja, sambil menjura ia menjawab, “Terima kasih banyak, Totiang. Mudah-mudahan saja saya akan dapat penuhi janji dan tak usah rasakan kerasnya tanganmu!”

Kemudian dengan tenang, ia menghadapi keempat lawannya dan bertanya: “Tidak lekas turun tangan, kalian tunggu apa lagi?”

Keempat orang yang sudah merah itu makin mendongkol dan dengan berbareng mereka maju menerjang. Senjata-senjata mereka berkelebat ke arah tubuh Souw Thian In bagaikan air hujan, terutama golok dan sepasang siangkiam dari dua pemud aterakhir bergerak sangat cepat dan lihai. Para tamu terkejut, termasuk juga para locianpwe yang maklum betapa berbahayanya dikeroyok empat orang pemuda yang bersenjata tajam dan yang tidak lemah pula kepandaiannya itu. Hanya Kam Ciu yang masih tersenyum dan melihat pertempuran itu dengan mata bersinar hingga membuat seraong pemuda yang gagah dan duduk di sampingnya menjadi gemas berbareng geli karena ia maklum bahwa pemuda berpakaian anak sekolah itu masih tersenyum-senyum lantaran tidak mengerti dan tidak tahu betapa berbahaya dan terancam keadaan Souw Thian In yang dikeroyok itu.

Tapi tiba-tiba ia mendengar seruan heran dan kagum. Ia cepat memandang lagi ke arah panggung dan heran! Thian In tak tampak pula berada di atas panggung y ang tampak hanya keempat orang itu yang masih saja putar-putar senjata dan tusuk sana-sini. Di antara bayangan tubuh dan senjata mereka, tampaklah bayangan biru berkelebat demikian cepat gerakannya hingga tampa yang di atas panggung bukanlah empat orang pemuda gagah mengeroyok seorang tapi bagaikan empat orang kanak-kanan bermain-main dan mengejar-ngejar seekor kupu-kupu biru yang gesit dan liar!

Kalau penonton merasa kagum dan heran melihat pertunjukan ilmu ringankan tubuh yang begitu mahirnya, adalah keempat orang pemuda itu merasa terkejut dan bingung sekali. Kadang-kadang mereka melihat lawan mereka berdiri sambil tersenyum, tapi pada saat mereka menubruk maju sambil melakukan serangan, tahu-tahu pemuda baju biru itu telah lenyap dari pandangan mata dan entah dengan cara bagaimana telah berada di belakang mereka pula! Demikianlah Souw Thian In permainkan keempat lawannya hingga mereka menjadi pusing dan pandangan mata mereka berkunang-kunang. Hal ini mengakibatkan kendornya permainan silat mereka dan kesempatan baik itu digunakan oleh Thian In untuk maju mendesak. Ia hanya kirim serangan-serangan dengan kedua kakinya yang menentang ke sana kemari, tapi serangan ini cukup hebat. Keempat lawannya merasa angin keras terbawa tendangan itu hingga mereka kaget sekali, tapi ternyata bahwa serangan tendangan itu hanya gertakan belaka. Ketika empat orang itu berkelit, maka Thian In bergerak maju cepat dengan kerjakan mauwpit di tangan kanannya yang sudah dicelupkan dalam tinta bak. Tiap kali ia gerakkan mauwpitnya, tentu mauwpit itu dengan cepat mencolek baju lawan di bagian dada hingga dalam beberapa kali serang saja dada keempat orang itu semua telah terdapat tanda-tanda hitam!

Souw Thiak In percepat gerakannya dan ia menyerang lagi beberapa kali. Kemudian ia loncat mundur sambil berseru:

“Saudara-saudara tahan!!”

Keempat lawannya yang telah mandi keringat dan kini berdiri dengan terengah-engah segera tunda senjata mereka, si gemuk yang paling payah masih mencoba menggertak:

“Kau mengaku kalah?”

Tapi gertakannya ini disambut suara tertawa riuh rendah dari penonton. Se gemuk heran dan memandang kepada seorang kawannya. Alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat bahwa di dada kawannya yang berbaju putih itu terdapat tulisan hitam yakni sebuah huruf “Barat.” Demikianpun di dada kedua pemuda yang bersenjata golok dan siangkiam tertulis huruf “Selatan” dan “Utara”. Maka menggigillah tubuh si gemuk dan ia hanya dapat terbelalak memandang ketiga kawannya yang kesemuanya saling pandang dengan wajah pucat.

Pemuda yang bersenjata golok segera lempar goloknya dan dengan menangkapkan tangan di dada ia memberi hormat:

“Souw enghiong, sekarang ternyata oleh kami bahwa sikapmu yang memandang rendah tadi memang beralasan. Kami berempat masih jauh dan rendah sekali kepandaian kami dan tidak pantas dibandingkan dengan kepandaian Ong siocia atau dengan kepandaianmu. Kami mengaku kalah dan terima kasih atas pelajaran yang kau berikan kepada kami juga ketiga kawannya memberi hormat dengan muka panas merah.

Souw Thian In balas hormat mereka dengan berkata merendah:

Cuwi harap maafkan banyak-banyak atas sikapku yang boleh jadi kalian anggap sombong tadi. Sebenarnya masih lebih baik terjatuh dalam tanganku dari pada di tangan Ong siocia, bukan?” Keempat orang itu setelah saling pandang lalu mengerti akan maksud Thian In. Memang, kalau sampai kalah da lam tangan Ong siocia, karena betapapun juga mereka adalah laki-laki. Kalah dalam tangan seorang pemuda segagah Thian In bukanlah hal yang sangat memalukan. Maka mereka lalu menjura kembali dan rasa dendam dalam hati mereka lenyap. Langsung mereka minta diri dari tuan rumah yang segera menahan mereka dan memohon agar mereka suka duduk kembali. Terpaksa keempat pemuda itu lalu duduk kembali karena sebenarnya merekapun ingin sekali menonton pertandingan antara Thian In dan Giok Cu.

Ong Kang Ek melihat kehebatan ilmu silat Thian In, merasa girang dan kagum karena ia telah merasa suka sekali kepada pemuda itu. Juga Giok Cu merasa tertarik oleh pemuda yang tampan dan gagah itu. Ong Kang Ek lalu naik ke panggung dan sambil tertawa berkata kepada Thian In:

“Souw sicu sungguh gagah perkasa. Bolehkah aku tahu nama gurumu yang mulia?” “Siauwtit mempelajari sedikit ilmu dari Gak Bong Tosu.”

Ong Kang Ek mengangguk-anggukkan kepala karena telah mendengar akan nama pendeta yang berilmu tinggi itu. Makin tertarik hatinya terhadap pemuda itu.

Pada saat itu Ong Kang Ek dan Thian In mendengar angin loncatan orang dan ketika mereka cepat memandang, ternyata di atas panggung telah berdiri Hoan Tia-cu, tokoh dari Kwie-san. Orang tua ini bertubuh tinggi kurus dengan wajahpucat dan kelihatan lemah. Tapi biarpun ia telah berusia sedikitnya enam puluh tahun rambutnya masih hitam dan mukanya licin dan tak terhias kumis maupun jenggot. Tubuhnya yang agak lurus dan sinar matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli silat tinggi.

Melihat pemuda baju biru itu berpaling dan memandangnya. Hoan Tin Cu tertawa dan berkata dengan suara memuji: “Souw sicu sungguh membuat aku orang tua merasa kagum sekali dan insaf bahwa kami golongan tua sungguh tertinggal jauh olehpara muda. Tapi setelah mendengar bahwa kau adalah murid dari Gak Bong tosu, keherananku berkurang banyak. Sudah lama aku mendengar akan ilmu silat Gak Bong Tosu yang terkenal sebagai ilmu silat kelas satu masa kini. Biarlah aku melupakan usiaku yang tua dan tubuhku yang lemah dan minta Souw sicu suka bermurah hati memberi sedikit petunjuk. Ingin sekali aku menjajal Kwie san kiamhwat pada seorang murid dari Gak Bong Tosu yang lihai!”

Mendengar disebutnya Kwie-san tahulah Thian In bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang tokoh Kwie-san-pay. Ia pernah mendengar dari suhunya bahwa pendiri Kwie-san-pay adalah lima orang yang berilmu silat tinggi dan bahwa mereka itu bertabiat aneh tapi jujur hingga disebut Kwie-ian-ngokway atau Lima orang aneh dari Kwie-san. Terutama sekali mereka itu tidak mau kalah da lam hal ilmu silat dan selalu menganggap bahwa ilmu silat cabang mereka adalah yang paling sempurna! Pernah dulu tiga orang tokoh dari Kwie-san sengaja naik ke tempat kediamman Gak Bong Tosu, khusus untuk mencoba kepandaian silat tosu itu. Tapi ketiga-tiganya kalah jauh terhadap Gak Bong Tosu, dan mereka pulang dengan penasaran, karena biarpun telah dikalahkan, mereka tetap tidak mau menerima kalah! Thian In maklum bahwa kini setelah ia bertemu dengan seorang tokoh dari Kwie-san, mau tak mau ia harus pertahankan nama suhunya. Ia segera menjura kepada pendeta kurus kering itu.

“Totiang aku yang sudah pernah mendengar akan kelihaian Kwie-san-pay, tapi di antara kelima paycu, tidak tahu totiang ini yang ke berapakah?”

Hoan Tin-cu keluarkan suara jengekan. Aku bukanlah seorang di antara ketiga sutee ku yang pernah berjumpa dengan suhumu. Di bukit kami masih ada twasuhengku.” Dengan jawaban ini mengertilah Thian In bahwa dia berhadapan dengan tokoh kedua dari Kwie-san!

Post a Comment