“Baik, saudara Oey, tapi karena kita harus menghadapi Ong siocia dengan senjata mari kita main-main dengan gunakan senjata pula.
Keduanya lalu menghampiri pojok panggung untuk taruh baju luaur yang mereka lepas dan sambil bertindak ke tengah panggung mereka keduanya mencabut pedang dari sarung pedang yang tergantung di pinggang. Tanpa banyak upacara lagi si gemuk segera kirim serangan dengan pedangnya. Nyata gerakannya gesit dan berat dan para ahli tahu bahwa pemuda gemuk itu mainkan ilmu pedang Liang Gie Kiamhoat dari cabang Butong. Si baju putih tidak kalah gesitnya. Ia menangkis dan balas menyerang. Ilmu pedangnya adalah Tat Mo-kiamhoat yang telah banyak berubah hingga kehilangan keasliannya dan perubahan gerakannya tidak sehebat Tat Mo kiamhoat asli. Namun permainannya cukup kuat untuk mengimbangi permainan si gemuk. Mereka bertempur dengan ramai dan seimbang. Masing-masing tidak berlaku sungkan lagi dan kerahkan tenaga mereka keluarkan untuk dapat merobohkan lawan. Rasa persaudaraan lenyap yang ada keinginan untuk menang, untuk dapat menghadapi gadis cantik jelita itu. Dalam pertempuran yang keadaan atau tingkat kepandaiannya seimbang bagaimanakah dapat berlaku mengalah? Mengalah berarti kalau yang berarti pula terluka atau mungkin terbinasa! Karena inilah mereka terlibat dalam pertempuran mati-matian tusukan dan sabotan-sabotan bukanlah merupakan permainan biasa lagi karena digerakan oleh hawa maut!
Semua penonton memandang dengan dada berdebar, juga Ong Kang Ek timbul rasa menyesal. Bagaimana kalau seorang di antara mereka mendapat luka berat? Ah, mengapa ia adakan sayembara gila ini? Terang bahwa kedua pemuda itu masih rendah sekali tingkat kepandaiannya dan tak mungkin dapat melawan Giok Cu. Kini kedua pemuda itu saling serang dengan kawan sendiri hanya untuk memperebutkan kemungkinan menghadapi Giok Cu. Ah, gila! Sungguh gila! Tapi, sebaliknya dari pada perasaan hati ayahnya Giok Cu memandang pertempuran itu dengan gembira, pipinya kemerah-merahan, sinar matanya memancarkan seri kebanggaan. Mereka itu bertempur untuk dia! Berkelahi mati-matian untuk memperebutkan dia!
Pada saat keadaan sangat berbahaya, yakni si gemuk menyerang dengan gerakan Hwee-eng-bok-tho atau Elang terbang sambar kelinci, tangan kanan yang memegang pedang dipakai menusuk dan tangan kiri mencengkeram ke arah dada si baju putih, tiba-tiba si baju putih terpeleset ketika hendak berkelit dan ia roboh terguling. Tapi dalam tergulingnya ia masih sempat tusukkan pedangnya dari bawah ke arah perut si gemuk! Bahaya tak dapat dielakkan lagi dan agaknya kedua bilang pedang itu akan menembus tubuh masing-masing! Tapi pada saat itu dari ruang tampak pemuda berkelebatlah bayangan biru ke atas panggung dengan gerakan Koay-liong-hoan atau Siluman naga berjumpalitan sebelum kedua kaki bayangan itu turun ke lantai panggung tampak terayun sebuah benda hitam yang meluncur dan menghantam ujung pedang si gemuk sedangkan secepat kilat tangan kanannya bergerak menotok pundak si baju putih hingga pemuda baju putih itu merasa tangannya lemas dan pedangnya jatuh berketontangan berbareng dengan jatuhnya pedang si gemuk yang terhantam piauw bayangan itu.
Semua orang terkejut, kecuali beberapa orang cianpwe dan Ong Kang Ek sendiri yang merasa kagum melihat ketangkasan orang itu. Ketika penolong itu sudah tu run dan berdiri tegak, ternyata ia bukanlah adalah pemuda baju biru yang duduk di kanan Kam Ciu tadi.
“Sungguh sayang kalau dua orang kawan menjadi lawan,” kata pemuda itu sambil tersenyum manis hingga wajahnya yang tampan itu hampir menyerupai seorang wanita cantik.
Ong Kang Ek heran melihat pemuda itu karena ia merasa tidak kenal dengan tamunya ini, pula ia tidak pernah melihat kedatangan tamu ini! Tentu saja tidak berani bertanya, hanya memandang dengan kagum dan diam-diam menjaga segala kemungkinan. Kedua pemuda she Bu dan Oey yang dipisah itu pungut pedang mereka dengan wajah merah. Mereka merasa malu dan penasaran sekali, karena mereka merasa terhina oleh pemuda baju biru ini.
“Tuan kau sungguh lancang dan tak memandang orang. Apa perlunya kau ikut campur kami?” tanya si gemuk.
Pemuda baju biru itu tersenyum, biarpun ia mendongkol juga mendengar kata-kata kasar ini. “Eh, jangan buru-buru marah, saudara. Aku tidak ikut campur, hanya sayang kalau perutmu tertembus pedang karena demikianlah akan terjadi kalau tidak buru-buru memisah.”
“Kau menghina orang! Saudara Oey bukanlah orang yang sedemikian mudah termakan pedang! Kau ini orang dari mana tidak kenal aturan? Apakah kau hendak mengacau pesta ini dan mengandalkan kepandaianmu sendiri? Pemuda baju putih membela si gemuk.
Si baju biru tertawa geli. “Nah, begini baru baik! Kau bela saudara gemuk ini yang baru saja hendak kau tusuk perutnya, sedangkan lehermu sendiri hampir tertembus pedangnya. “Tuan siapakah kau? Dan apa maksudmu menghentikan permainan kami?”
Baju biru itu tidak menjawab, tapi matanya mencari tuan rumah, setelah berbtemu ia menghadapi Ong Kang Ek sambil menjura dalam, lalu berkata:
“Ong lo-enghiong, mohon beribu maaf jika saya berani menganggu permainan ini. karena tadi saya melihat seorang tamu yang terhormat maju mengajukan usul, maka perkenankanlah saya mengajukan usul pula. Saya merasa tidak setuju kalau diadakan permainan silat dengan senjata tajam karena biarpun sifatnya hanya main-main, namun permainan senjata tajam yang dilakukan oleh orang-orang bukan ahli adalah berbahaya sekali dan mungkin mengakibatkan kecelakaan hebat. Jika kiranya lo-enghiong tidak keberatan, perkenankanlah saya menjadi batu ujian bagi mereka ini. Biarlah saya lawan mereka dan bilamana ada yang dapat menangkan saya barulah dihadapkan Ong siocia. Bagaimana pendapatmu, Ong lo-enghiong?”
Ong Kang Ek telah merasa suka dan kagum kepada pemuda yang selain tampan dan pandai bicara juga kepandaian silatnya cukup tinggi in. Dia inikah jodoh anakku? Demikian pikirnya.
“Aku memang setuju kalau tidak sampai terjadi peristiwa berdarah,” katanya perlahan.
Tapi kedua pemuda di atas panggung itu merasa marah dan mendongkol sekali. Terang-terangan baju biru ini menghina dan memandang rendah mereka. Mereka disebut bukan ahli! Juga dua orang pemuda lain yang masih berada di bawah panggung merasa marah sekali. Bagaikan menerima komando, mereka loncat naik dan berkata kepada dua orang yang sudah bertempur itu.
“Saudara-saudara yang sudah lelah turunlah, biar aku yang menghadapi dia!” berkata seorang dari pada kedua pemuda yang baru naik. Dia ini bersenjata golok besar yang tajam.
“Tidak, biarkan siauwie menghadapinya lebih dulu!” bentak pemuda kedua yang bersenjata siangkiam atau sepasang pedang.
Melihat mereka ini si baju biru tersenyum dan ia pergi ke pinggir panggung dan menjenguk ke bawah lalu berkata kepada para muda yang duduk di sana: “Cuwi, masih ada lagikah yang hendak mengadu kepandaian. Kalau ada, silahkan naik sekalian agar urusan lekas selesai!” Tapi tak seorangpun menjawab, mereka memandang dengan ingin tahu bagaimana jadinya urusan tegang ini. Juga Kam Ciu kelihatan berseri dan tertarik sekali hingga anak muda sastrawan ini lupa minum arak dalam cawannya yang sejak tadi dipegangnya di depan mulut!
Kemudian si baju biru menghadapi keempat pemuda yang berdiri di atas panggung. Dua orang pertama masih belum turun karena mereka masih penasaran.
“Saudara-saudara, kata si baju biru, terus terang saja kunyatakan bahwa kepandaian kalian masih belum dapat mengimbangi kiam-han Ong siocia. Biarpun kalian berempat maju berbareng kerasa kalian masih tak mampu memenangkan dia. Kalau kalian tidak percaya, silahkan tanya kepada para locianpwe yang terhormat dan duduk di sana itu.
Jangan banyak cakap. Aku naik bukan tidak melawan siapa juga, tapi hendak merubah kepandaianmu, kau orang sombong ini!” kata pemuda bergolok.
Si baju biru menghela napas. “Aah, kalian masih penasaran. Biarlah sekarang diatur begini. Kalian berempat boleh baju bersama dan mengeroyokku. Kalau aku sampai kalah, nah baru kalian boleh satu demi satu merasai ketajaman pedang Ong siocia. Bagaimana?”
“Sombong!” teriak si gemuk sambil pegang pedangnya dengan erat. “Terangkan namamu, hei orang sombong!”
“Aku bernama Souw Thian In.”jawabnya sederhana. Nah, bersiaplah kalian, mari kita bermain-main sebentar!”
“Cabut pedangmu!” teriak pemuda yang bersenjata siang-kiam.
Souw Thian In menghadap ke arah Ong Kang Ek yang kini mendekat dan menjura kepada orang tua itu: “Ong Lo-enghiong bolehkah saya pinjam sebatang mauwpit (pensil bulu) yang agak besar dan sekalian tinta baknya?”
Ong Kang Ek segera menyuruh seorang pelayan mengambilkan barang yang dimaksud itu, lalu ia sendiri loncat naik ke panggung.
“Souw sicu, kami telah menyaksikan kepandaianmu. Perlukah pertempuran yang tidak ada artinya ini dilanjutkan? Aku orang tua telah merasa kecewa dan menyesal akan gara-gara sendiri!”
“Ong Lo-enghiong, jangan cemas. Bukankah saat ini adalah waktu yang baik dan gembira? Nah, biarlah saja yang muda dan bodoh ikut meramaikan pesta ini dengan keempat saudara ini. Kita hanya akan main- main, bukan demikian, cuwi?” Kata-kata terakhir ini ditujukan kepada keempat pemuda yang berdiri di depannya dengan muka merah.
Pemuda baju putih yang agaknya lebih dapat kendalikan diri berkata kepada Ong Kang Ek. “Ong Lo- enghiong. Benar kata-kata tuan Souw ini, kami hanya main-main. Memang kami berempat yang tidak punya guna ini bukan tandingan puterimu yang terhormat, maka biarlah kami bergembira dengan minta pelajaran dari tuan Souw yang gagah perkasa ini.” Ucapan merenduk ini mengandung ancaman hebat.
Ong Kang Ek menghela napas dan loncat turun dari panggung sedangkan Souw Thian In terima sebatang mauwpit dan secawan tinta bak dari seorang pelayan. Sambil pegang pit dengan tangan kanan sedangkan cawan tinta dengan tangan kiri, ia berkata kepada keempat lawannya:
“Nah, marilah kita mulai, kawan-kawan,” katanya sambil tersenyum. “Mana senjatamu?” tanya si gemuk.
Souw Thian In angkat tangan kanan-kiri yang pegang mauwpit dan bak itu sambil menjawab sederhana: “Inilah senjataku.”
“Apa??” keempat pemuda itu bertanya hampir berbareng. Mereka merasa dipermainkan dan kemarahan mereka memuncak, tapi si pemuda baju putih masih dapat menekan perasaannya dan berkata:
“Orang she Souw! Jangan kau terlalu sombong dan menghina kami. Masak kau hendak hadapi kami hanya dengan alat tulis itu di tanganmu?”
“Cuwi, sekarang aku telah terlibat di atas panggung ini hingga mau tak mau aku harus penuhi permintaan Ong Lo-enghiong yang menghendaki agar pemenang menghadapi Ong siocia. Kalau tidak salah, tadi ada yang menceritakan padaku bahwa Ong siocia hanya mau melayani main senjata dengan orang yang pandai menulis membaca! Na, biarlah dengan kesempatan ini aku perlihatkan pula bahwa aku tidak buta huruf! Sambil main-main dengan cuwi aku akan menuliskan keempat huruf Tung-Si-Nam-Pay (Timur-Barat- Selatan-Utara) di baju saudara-saudara.”
Kata-kata ini sungguh-sungguh merupakan kejumawaan yang jarang bandingannya, hingga membuat seorang jago tua yang duduk di kalangan locian-pwee menjadi tak senang juga. Ia ini adalah seorang cabang atas dari cabang Kwie-san seorang pertapa yang bernama Hoan Tin-cu dan yang terkenal karena ilmu pedangnya Kwie san kiamhoat. Suaranya terdengar kecil tinggi dan nyaring ketika ia berkata:
“Bagus, biar aku menjadi saksi. Kalau Souw sicu dapat penuhi janjinya tadi, aku kagum sekali. Tapi kalau tidak, dia harus main-main dengan aku barang sepuluh jurus!”