Gan Kam Chiu menjura sambil menjawab perlahan: “Menyesal sekali ayah tak dapat datang, hanya menyuruh saya menyampaikan pernyataan selamatnya dengan doa supaya lopeh mendapat berkah panjang umur.”
Ong Kang Ek balas menjura. “Terima kasih terima kasih Gan hianti silakan duduk. Setelah menghaturkan terima kasih Gan Kam Ciu ambil tempat duduk di bagian para tamu muda.
Pada saat itu tak seorangpun memperhatikan sastrawan itu karena semua mata ditujukan kepada Giok Cu yang masih berdiri di panggung dengan pedang di tangan. Kam Ciu juga tujukan pandangan matanya ke sana dan kagumlah ia melihat gadis manis yang pernah menolak lamarannya itu berdiri dengan gagah dan cantiknya di atas panggung. Maka mengertilah ia bahwa Giok Cu hendak memperhatikan ilmu pedangnya. Dengan gembira ia duduk dan memandang dengan penuh perhatian.
Setelah menjura ke sekeliling sekali lagi Giok Cu mulai bersilat. Pertama-tama ia gerak-gerakkan pedangnya dengan perlahan dengan gerakan yang indah dan lemas hingga ia tidak mirip seorang wanita gagah bermain pedang, tapi lebih pantas seorang penari tengah menarikan tari pedang yang indah gerak- geriknya dan sedap dipandang. Semua tamu kagum akan keindahan tubuh dan gerakannya, dan para tamu hendak mengukur tenaganya merasa lega karena menurut ilmu pedangnya dan tak sukar dilawan. Tapi mereka tidak tahu bahwa Giok Cu sedang mainkan ilmu pedang turunan dari keluarganya pada bagian yang lemas dan yang disebut ilmu pedang Bi-jin-kiamhwat, yaitu ilmu pedang yang sebenarnya hanya digunakan untuk berlatih kelemasan tubuh dan tenaga dalam sesuai dengan namanya yang berarti ilmu pedang wanita cantik. Hanya para locian-pwe yang duduk di golongan terhormat saja yang mengerti akan kelihaian ilmu ini dan mereka mengangguk-angguk karena dari permainan ini mereka telah dapat mengukur ketinggian lweekang dan ilmu pedang Giok Cu.
Setelah mainkan sebagian dari Bi-jian-kiam hwat, tiba-tiba Giok Cu berseru nyaring dan gerakan pedangnya berubah. Kini ia tidak lagi merupakan seorang penari yang lincah dan lemas, tapi seakan-akan seekor naga yang baru keluar dari sarangnya! Pedangnya berputar cepat dan sebentar saja pedang itu hanya merupakan gulungan sinar panjang yang bergerak ke sana kemari menutupi tubuh gadis itu hingga yang tampak hanya kakinya saja. Terkejutlah sebagian besar anak muda yang tadinya naksir dan yang memandang rendah Giok Cu. Diam-diam mereka menghapus keringat dingin yang keluar dijidat. Dan pada saat itu juga mereka yang ingin mengajukan diri hanya tinggal tiga orang lagi saja! Yang lain-lain telah mundur teratur karena maklum bahwa mereka bukanlah lawan Giok Cu.
Pada saat orang-orang sedang mengagumi ilmu pedang Giok Cu tiba-tiba gadis itu berseru nyaring sekali lagi dan sebuah benda merah panjang tahu-tahu telah berada di tangannya dan benda itu ini bergerak- gerak bagaikan ular menyambar-nyambar mengikuti gerak pedang itu. Itu adalah sehelai angkin sutera warna merah! Dan sampai di sini gadis itu telah keluarkan kepandaian yang paling diandalkan oleh keluarga Ong, yaitu ilmu pedang Hwee-liong-kiamhoat dimainkan oleh pedang di tangan kanan, dan dibantu dengan permainan hui-angkin di tangan kiri! Kepandaian inilah yang membuat Ong Kang Ek diberi julukan Pedang-dewa-tanpa-tandingan! Dan ternyata bahwa anak gadisnya tak kalah lihainya ketika mainkan ilmu hebat ini. Pandangan mata para tamu menjadi silau karena sinar pedang yang putih perak itu kini diselang seling warna merah dara sabuk sutera itu. Diam-diam para anak muda leletkan lidah karena ngeri dan kagum. Ternyata bunga yang indah jelita itu mengandung duri yang tajam dan berbahaya hingga tak mudahlah agaknya untuk memetiknya.
Setelah Giok Cu hentikan permainannya, maka riuh rendah suara tepuk tangan dan sorak sorai yang memenuhi udara taman itu. Bahkan para locianpwe yang alim-alim itu juga ikut bertepuk tangan tanda memuji. Ong Kang Ek segera naik ke panggung dan menjura keempat penjuru sambil berkata:
“Cuwi sekalian yang mulia. Harap maafkan kebodohan anakku yang kedangkalan ilmu pedangnya. Sekarang kami persilahkan para saudara yang budiman untuk meramaikan pesta ini dengan memberi pertunjukan silat guna menambah pengertian anakku dan juga untuk meluaskan pengalaman kita bersama. Ucapan ini walaupun dikeluarkan di hadapan semua tamu, namun semua orang mengerti bahwa yang dimaksud oleh tuan rumah ialah golongan para pemuda yang duduk di sebelah kiri. Setelah Ong Kang Ek berkata demikian dari golongan ini berdirilah tiga orang pemuda yang cakap dan gagah. Agaknya mereka ini hendak mencoba-coba. Tapi sebelum mereka melangkah maju, tiba-tiba Kam Ciu mendahului berdiri dan dengan suara nyaring keras tapi bernada menghormati ia berkata:
“Maaf, Ong lopeh, bolehkah siauwtit gunakan hak sebagai tamu untuk majukan usul?
Heranlah semua tamu, tapi lebih-lebih lagi Ong Kang Ek sendiri dan Giok Cu. Apakah kehendak pemuda kutu buku ini dan apakah usulnya? Demikian mereka pikir sambil memandang tajam.
“Terima kasih atas perhatianmu, Goan Hiantit. Tentu saja segala usul yang baik diterima. Coba katakan, apakah usulmu itu?” Suara Ong Kang Ek mengandung teguran, karena ia merasa kurang senang dan khawatir kalau-kalau putera orang aneh ini akan bertindak ganjil seperti ayahnya.
Kam Ciu menjura lagi lalu berkata, suaranya keras dan nyaring. “Biarpun siauwit tidak becus main silat dan tidak mengerti akan ketajaman pedang, namun melihat permainan Ong siocia tadi, mudah saja diterka betapa tinggi ilmu pedang Ong siocia. Kepandaian setinggi ini harus dihargai, juga harus diingat kedudukan Ong siocia sebagai seorang gadis dan puteri tuan rumah yang kita hormati, maka tidak pantaslah kiranya kalau Ong siocia harus bermain silat dengan segala orang yang masih rendah tingkat ilmu silatnya! Karena itu, siauwtit usulkan agar mereka yang hendak mempertunjukkan ilmu silatnya, bermain dulu d e ngan sesama tamu kemudian setelah ketahuan siapa yang terkuat dan yang terlihai, barulah yang terkuat ini menghadapi Ong siocia mengadu kepandaian. Bukankah ini berarti menghormati tuan rumah, terutama Ong siocia?”
Ucapan ini walaupun agak merendahkan mereka yang hendak menguji kepandaian, tapi tak dapat disangkal lagi bersifat meringankan tugas Giok Cu dan juga mengangkat gadis itu ke tempat tinggi. Oleh karenanya, maka diam-diam Ong Kang Ek kagum akan kecerdikan orang itu dan dengan ucapan terima kasih ia menerima baik usul itu. Para locian-pwe juga menyetujui usul ini hingga Giok Cu lalu disuruh turun oleh ayahnya. Gadis itu lalu loncat turun dan pergi duduk di bagian tamu wanita yang terdiri dari ahli-ahli silat pula itu dengan puji dan kagum Giok Cu diam-diam merasa berterima kasih kepada Kam Ciu. Bukankah pemuda itu semata-mata membelanya? Sayang pemuda itu tidak mengerti ilmu silat, pikirnya.
Empat orang pemuda yang tadinya mengharapkan dapat menghadapi Giok Cu, walaupun dengan kemungkinan dijatuhkan, merasa kecewa dan mereka memandang ke arah Kam Ciu dengan penasaran. Tapi yang dipandang pura-pura tidak tahu, lalu duduk di bangkunya dengan tenang. Seorang pemuda lain yang berpakaian biru muda dan berwajah tampan serta gerak geriknya gesit memandang Kam Ciu dengan curiga dan kagum. Ia adalah seorang tamu yang baru saja datang. Tak seorangpun menyambutnya karena pada saat itu ia datang semua orang sedang mengagum permaian pedang Giok Cu. Tapi tanpa perdulikan segala upacara penyambuta, pemuda itu terus saja memilih kursi kosong di sebelah kanan Kam Ciu yang melihat kedatangannya dan mengangguk serta tersenyum ramah padanya.
Seorang di antara keempat pemuda gagah itu melangkah maju dan dengan tindakan gagah menghampiri panggung. Kemudian ia berloncat dengan gerakan Hwee-niau-coan-in atau Burung terbang terjang mega dan tubuhnya melayang bagaikan seekor burung ke atas panggung di mana ia turun dan berdiri dengan tegak. Gerak loncat indah ini disambut dengan tepuk tangan memuji. Pemuda ini berpakaian putih dan wajahnya tampan. Belum habis tepuk tangan pemuda kedua yang bertubuh agak gemuk loncat menyusul dengan gerakan Cian-liong-seng-thian atau Naga-naik-ke langit. Gerakannya tak kalah gesitnya dengan pemuda pertama dan biarpun tubuhnya agak gemuk, namun wajahnya cukup tampan dan gagah.
Kedua orang pemuda di atas panggung itu saling menghormat dengan tertawa karena mereka ini sesungguhnya teman sekolah yang telah kenal baik.
“Saudara Bu mari kita main-main sebenar,” kata yang gemuk.