Lama sekali Giok Cu hanya t unduk saja, tak menggeleng tak mengangguk hingga ayahnya berkata: “Giok Cu! Jawablah pertanyaan Gan twako agar ia merasa puas. Aku tahu kau sungkan menjawab, tapi kalau kau setuju jawablah dengan menggelengkan kepala. Gan twako orangnya jujur, dia tidak akan merasa menyesal!”
Kali ini Giok Cu menggeleng kepala. Ia be rdiri dan lari pergi ke kamarnya! Gan Im Kiat menarik napas panjang, ya dasar kau yang sial Kam Ciu!”
Kini pemuda yang jarang bicara itu tersenyum memandang ayahnya: “Ayah, kaulah yang aneh. Tentang perjodohanku, semua orang ditanya, sedangkan aku sendiri orang yang bersangkutan sama sekali tak pernah kau tanya!” Ayahnya memandang anaknya heran. “Lho, Kam Ciu bukankah dalam segala hal pendapatmu sama dengan pendapatku? Coba katakan kalau kau berani, bukankah kau setuju sekali pada nona Giok Cu?”
Kam Ciu terpukul kalah dan tak berdaya. Pemuda itu kini tunduk dengan wajah kemerah-merahan. Ong Kang Ek hanya terbelalak heran saja melihat ayah anak yang ganjil dan berbeda dengan orang lain itu. Namun diam-diam ia merasa kagum dan suka melihat ketulusan dan kejujuran hati mereka, sedikitpun tidak dinodai kepalsuan dan kesopanan pura-pura yang hanya baik di luar tapi yang mungkin di dalamnya mengandung kekotoran yang menjijikkan!
Gan Im Kiat lalu berpamit kepada tuan rumah dan mereka berdua tinggalkan gedung. Ong Kan Ek diantar oleh tuan rumah sampai di depan pintu. Ketika hendak berpisah Ong Kan Ek berkata:
“Gan twako sungguh menyesal kita tak berjodoh untuk menjadi besan! Kuharap kau suka mengunjungi pesta yang hendak kuadakan bulan depan hari kedua.”
“Kau hendak adakan pesta apakah, saudara Ong?”
“Aku hendak merayakan ulang tahunku ke lima puluh dan sekalian mengadakan pemilihan jodoh anakku.” Gan Im Kiat mengangguk-angguk maklum. “Jadi kau hendak mengadakan sayembara adu silat?”
Ong Kang Ek tersenyum dan mengulang undangannya. Gan Im Kiat geleng-geleng kepalanya. “Aku tak dapat mengikuti jejakmu, saudara Ong. Entah mengapa tapi aku tetap tidak dapat merasa suka pada tukang pukul. Tapi misalnya aku tak dapat datang, tentu aku akan wakilkan kepada Kam Ciu. Kemudian ayah dan anak she Gan itu sekali lagi angkat tangan memberi selamat tinggal kepada tuan rumah mereka yang baik hati dan ramah.
Adapun Giok Cu semenjak dilamar oleh Gan Im Kiat secara demikian luar biasa dan terang-terangan hingga ia menjadi sangat bingung, jengah dan malu, tak pernah menemui lagi kedua tamunya. Bahkan ketika mereka tinggalkan rumahnya, iapun tidak pergi menjumpai mereka. Ia merasa sangat marah dan benci kepada Kam Ciu. Sungguh tak tahu diri, pikirnya! Orang lemah dan tidak mengerti silat sedikitpun macam dia itu mau melamarnya? Giok Cu kalau teringat akan hal ini lalu jebikan bibirnya. Kutubuku- kutubuku yang demikian lemah hingga tertiup angin besar saja mungkin tak kuat berdiri lempeng mau memperisteri dia? Ia harus akui bahwa sikap pemuda itu cukup sopan santun, lemah lembut dan tidak kurang ajar. Belum pernah pandang mata pemuda itu menatap dirinya seperti yang dilakukan oleh tiap laki- laki, tua dan muda, jika mereka ini bertemu dengannya. Wajah pemuda itu memang tidak sangat tampan, tapi cukup tampan, terutama sepasang matanya yang bersinar tajam. Sayang ia hanya seorang kutubuku demikian Giok Cu akhiri lamunannya dengan narik napas dalam-dalam. Tapi sebentar saja ia telah lupakan pemuda dan ayahnya yang ganjil itu.
Ong Kang Ek sebar undangan dan pemberitahuan melalui kawan-kawan dari kalangan persilatan. Biarpun undangannya hanya khusus untuk merayakan hari ulang tahunnya, tapi dengan berita lisan ia tambahkan tentang maksudnya hendak memilih mantu.
Bulan depan pada hari kedua, gedung Ong Kang Ek dihias indah. Bangku-bangku dan meja-meja diatur dalam taman karena Ong Wangwe hendak mengadakan pesta taman. Pada waktu itu musim bunga masih belum lewat hingga kebun bunga itu masih indah dan penuh dengan bunga mekar beraneka warna yang harum baunya. Di tengah-tengah taman empang ikan yang penuh bunga teratai didirikan sebuah panggung untuk main silat dan meja-meja diatur di sekeliling panggung itu.
Tamu-tamu mulai datang dari segala penjuru hampir semua terdiri dari golongan tokoh persilatan tapi sebagian besar dari mereka-mereka datang dari Utara karena nama Ong Kang Ek dengan julukannya Sian-kiam-bu tek atau Pedang dewa tanpa tandingan amat terkenal di bagian itu.
Ong Kang Ek sebetulnya dulu adalah seorang panglima perang pada kerajaan B eng-tiauw. Tapi ketika kerajaan itu dipukul jatuh ke dalam tangan bangsa Boan, ia lari ke dalam hutan dan menjadi kepala berandal terkenal di bukit Hek-houw-san. Berkali-kali tentara kaisar Boan mencoba untuk memukul hancur barisan berandal ini, tapi mereka tak berhasil, karena selain barusan itu gagah berani dan berada di bawah pimpinan seorang ahli peperangan, juga kedudukan bukit itu baik sekali untuk tempat pertahanan. Akhirnya tentara Boan menjadi bosan sendiri dan selama kaum berandal itu tidak menganggu pemerintah, mereka didiamkan saja.
Setelah memimpin barisan berandal untuk lima bulan lamanya dan menjagoi di daerah situ, Ong Kang Ek merasa bosan dan mengundurkan diri. Memang ia telah menjadi berandal dengan terpaksa, yaitu ketika ia dan keluarganya pergi mengungsi, telah dicegat dan diserang perampok yang dipimpin oleh seorang kepalanya bergelar Hek-houw-ong. Dalam pertempuran melawan Ong Kang Ek, kepala berandal ini tewas. Melihat kegagahan Sian-kiam-bu tek, para anggota berandal lalu mengangkatnya sebagai kepala. Ong Kang Ek terpaksa menerimanya karena ia pikir bahwa jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri dengan keluarganya dari kejaran bala tentara musuh ialah bersembunyi di situ. Namun, isterinya yang tidak biasa tinggal di tengah hutan, menjadi sa ngat menderita dan jatuh sakit. Karena jauh dari obat dan ahli, penyakit ini membawanya ke lubang kbur. Bukan main sedih hati Ong Kang Ek hingga ia makin tidak kerasan tinggal di situ.
Akhirnya ia angkat seorang yang paling gagah di antara mereka sebagai kepala yang menggantikan kedudukannya, sedangkan ia sendiri bersama gadisnya lalu tinggalkan tempat itu. Para berandal yang merasa hutang budi dan yang telah menerima banyak kebaikan dari Ong Kang Ek, segera mengumpulkan emas danperak, dan berikan itu sebagai hadiah kepadanya. Demikianlah maka Ong Kang Ek tiba di kota Kam Leng sebagai hartawan.
Ketika pesta dimulai, maka taman bunga itu telah penuh dengan para tamu. Taman itu dihias dengan kertas-kertas berwarna yang menambah indah keadaan. Meja-meja yang dipasang mengitari panggung dibagi tiga bagian: bagian terkecil adalah untuk para tamu wanita, karena di antara tamu terdapat pula beberapa belas pendekar-pendekar wanita dari utara seperti Soh Kwan Lian, Han Lian Hwa, Song Lian Eng dan lain-lain, juga terdapat beberapa orang pendeta wanita. Bagian kedua adalah untuk orang tua dan di sinilah ditempatkan kursi-kursi kehormatan untuk para locianpwe yang tersohor. Bagian ketiga yang terbesar adalah untuk golongan para muda. Hampir semua tokooh persilatan datang menghadiri pesta itu, karena mereka ini menaruh hormat kepada bekas panglima yang tidak mau menyerah kepada musuh dan yang terkenal gagah perkasa.
Setelah hidangan disuguhkan dan keadaan menjadi gembira karena pengaruh arak. Ong Kang Ek dengan suara merendah menyatakan bahwa untuk menggembirakan para tamu yang terhormat, ia hendak suruh puterinya bermain pedang di atas panggung dengan harapan hendaknya setelah anaknya bersilat, lain-lain tamu juga suka memberi sumbangan berupa pertunjukan silat untuk menggembirakan suasana. Tentu saja pernyataan ini disambut dengan tepuk tangan gembira, terutama dari para muda, karena mereka tahu akan maksud tuan rumah.
Tak lama kemudian keluarlah Giok Cu dari dalam, berpakaian warna hijau dengan angkin merah yang ujungnya melambai ditiup angin, di pinggangnya tergantung pedang pusaka keluarganya Kim-hong-kiam. Pakaiannya serba ringkas sederhana, mukanya yang jelita tak berbekas pupur atau yanci, nampak kesederhanaannya itu tak mengurangi kecantikannya, bahkan kejelitaannya nampak asli dan segar. Dengan tindakan ringan, gadis itu jalan menuju ke panggung, kemudian dengan gesit bagaikan burung walet ia loncat ke atas panggung, disambut tepuk tangan sopan tapi cukup meriah.
Melihat kecantikan gadis itu, dikalangan muda terbit hasrat untuk mencoba kepandaian Giok Cu, siapa tahu kalau-kalau mereka akan kejatuhan bintang dan cukup beruntung untuk dapat berhasil menundukkan gadis jelita itu, menundukkan kemahiran silat dan menundukkan hatinya pula! Sedikitnya ada dua puluh pe muda yang telah gatal tangan hendak mencoba kepandaian Giok Cu.
Sebelum Giok Cu mulai bersilat. Ong Kang Ek naik ke atas panggung dan sambil berdiri di sebelah puterinya, ia menjura ke empat penjuru.
“Cuwi sekalian yang terhormat, harap saja cuwi suka memberi maaf sebelumnya atas kelancangan anakku. Sebenarnya bukanlah maksud kami untuk menyombongkan kebiasaan yang tak berapa banyak, tapi ialah karena anakku yang manja ini telah berjanji kepadaku bahwa pada hari ulang tahunku ini dia hendak menyumbangkan tenaga meramaikan pesta dengan bersilat pedang dan mengambil kesempatan ini untuk minta tambahan pelajaran dari cuwi sekalian. Hanya saja memang adat anakku aneh, dia hanya melayani main pedang dengan mereka yang tidak saja pandai pegang senjata tajam, tapi juga yang pandai pegang dan mainkan pit dan pandai membaca!”
Mendengar uraian ini, kembali para muda bertepuk tangan, tapi di antara dua puluh orang anak muda yang gatal tangan tadi, kini hanya paling banyak sepuluh orang saja yang masih tetap hendak mencoba gadis itu karena mereka merasa cukup pengertian mereka dalam ilmu surat. Pada saat itu datanglah seorang tamu dari luar yang diantar oleh pelayan yang mewakili Ong Kang Ek menjaga di luar.
Ong Kang Ek yang sudah selesai bicara, lalu menjura lagi dan cepat-cepat turun dari panggung untuk sambut tamu-tamunya, seorang muda berpakaian sastrawan dan yang mendatangi dengan sikap lemah lembut dan sopan.
“Ah, Gan Hianti, kau akhirnya datang juga! Mana ayahmu?”