Halo!

Pendekar Wanita Baju Putih Chapter 04

Memuat...

“Kalau begitu siaute persilahkan jiwi mampir dan bermalam saja di rumahku untuk sekedar balas budi.”

Tiba-tiba suara sastrawan tua itu terdengar sungguh-sungguh: “Tuan, kalau kau masih bicara soal hutang budi dan balas budi, lebih baik kami terus saja.”

Ong Kang Ek memandang sastrawan itu dengan heran, tapi ia lalu tersenyum karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang terpelajar yang jujur. “Kalau begitu biarlah sekedar jembatan perkenalan.”katanya.

Wajah sastrawan itu bersinar di bawah cahaya obor yang masih dipegang oleh sastrawan yang muda. “Nah, kalau begitu, bolehlah.”

Mereka lalu lanjutkan perjalanan, menuju ke rumah Ong Kang Ek. Kedua tamu itu merasa terkejuut dan malu-malu ketika melihat bahwa rumah yang mereka datangi ternyata adalah sebuah gedung besar dan mewah. Mereka mendapat kamar istimewa dan ketika mereka dipersilahkan makan malam, hidangan yang dikeluarkan mewah dan lezat.

Pada saat mereka makan sama-sama, gadis itu makan bersama pula. Tapi agaknya hal yang tidak seperti lazimnya ini tak mengherankan kedua tamu itu yang terus saja sikat habis semua hidangan. Memang Ong Kang Ek tidak suka memakai banyak peraturan dan Giok Cu dilepas sesukanya, berbeda dengan gadis- gadis pingitan lain.

Mereka lalu berkenalan. Ternyata sastrawan tua itu adalah seorang sastrawan pengembara bernama Gan Im Kiat dan sastrawan muda yang baru berusia kurang lebih dua puluh tahun itu adalah puteranya yang bernama Gan Kam Ciu. Menurut pengakuan Gan Im Kiat, ia dahulu adalah seorang pemangku jabatan negeri, tapi karena tidak suka melihat kawan-kawan sejawatnya, baik yang lebih tinggi atau lebih rendah kedudukannya, hampir semua menjalankan korupsi dan menindas si kecil asal mendapat sogokan ia lepaskan kedudukannya dan pergi merantau menghabiskan uangnya yang dapat ia kumpulkan selama menjadi pegawai negeri. Puteranya, Gan Kam Ciu adalah anak tunggal. Anak muda itu agaknya pemalu dan tidak banyak cakap. Wajahnya sederhana dan biasa saja, tidak sangat cakap, juga tidak buruk. Kulitnya agak kehitam-hitaman. Tapi sepasang matanya lebar dan tajam, terutama sinar matanya memandang lepas ke depan, menentang apa saja yang tampak olehnya. Dengan beranimatanya dapat menentang pandangan mata Ong Kang Ek hingga orang tua inipun merasakan tajamnya sinar mata Kam Ciu, tapi tiap kali pandang matanya bertemu dengan Giok Cu, entah mengapa, ia segera tundukkan muka dan tak berani memandang!

Ternyata, biarpun hanya seorang kutu buku, Gan Im Kiat luas sekali pengetahuannya dan banyak pengalamannya. Ia dapat bercerita tentang orang-orang gagah, patriot-patriot pembela negara, dapat mengutuk para dorna yang mengacau pemerintahan dan yang menindas rakyat. Dari percakapan ini, Ong Kang Ek dapat mengetahui dengan siapa berhadapan, yakni, dengan seorang patriot tulen. Diam-diam ia merasa malu kalau ia mengenangkan keadaannya sendiri. Ia merasa seakan-akan disindir oleh segala kata-kata bersemangat yang yang diucapkan oleh tamunya, seorang sasterawan yang lemah. Sedangkan ia sendiri yang terkenal mempunyai kegagahan, ternyata tidak ambil perduli sedikit juga tentang nasib rakyat, karena hidupnya terlampau penuh oleh persoalan-persoalan pribadi!

Sampai jauh malam mereka mengobrol, walaupun Kam Ciu dan Giok Cu hanya menjadi pendengar- pendengar bisu saja.

Akhirnya pertemuan itu dibubarkan juga dengan kata-kata terakhir dari Gan Im Kiat yang berkata sambil tertawa riang: “Ah, Saudara Ong, sungguh hatiku senang sekali telah dapat berkenalan dengan seorang seperti kau. Bukan karena keindahan rumahmu, bukan karena kelezatan hidanganmu, tapi benar-benar hatiku senang. Sebagai tuan rumah, kau baik dan ramah, demikianpun puterimu, cantik jelita dan baik budi!” Ucapan ini dikeluarkan demikian sewajarnya bagaikan seorang kenalan lama atau seorang yang masih ada hubungan keluarga hingga Giok Cu merasa senang berbareng malu hingga ia tundukkan muka dengan wajah merah.

Ong Kang Ek pun merasa suka akan kejujuran orang, karena baru juga berkenalan sudah menyebut dengan aku dan kau saja bagaikan kenalan lama, berbeda dengan kebanyakan orang jika berhadapan dengan seorang kaya lalu tiba-tiba saja berlaku sangat hormat, menyebut twaya dan bersikap segai seekor anjing penjilat! Maka iapun menjawab dengan tertawa:

“Gan twako, kau baik sekali. Kuharap saja kau tidak pergi besok, tinggallah di sini barang sepekan agar kita puas mengobrol.”

Gan Im Kiat tidak menjawab; hanya tertawa berkakakan sambil memandang kepada puteranya. “Coba katakan, adakah orang kaya yang lebih baik dari pada dia ini?” Puteranya hanya tersenyum sedikit hingga dagunya yang berlekuk dan keras itu bergerak. Kemudian Ong Kang Ek sendiri antar kedua tamunya ke kamar mereka.

Demikianlah, sastrawan she Gan berdua anaknya itu tinggal di gedung Ong Kang Ek selama sepekan. Pada hari terakhir, Gan Im Kiat minta bicara empat mata dengan tuan rumah. Ketika mereka duduk berdua di dalam kamar menghadapi air teh, Gan Im Kiat langsung saja utarakan maksudnya.

“Begini, saudara Ong Kang Ek. Kita telah berkanalan cukup lama untuk mengetahui keadaan masing- masing walaupun banyak sekali keadaan dari fihakmu yang belum kuketahui jelas karena kau ternyata tidak kalah dengan aku dalam hal menyimpan rahasia. Tapi, baiklah kukatakan terus terang saja. Kau dan anak perempuanmu cukup menarik hatiku hingga di dalam kalbuku timbul perasaan mesra sekali. Sekarang timbul niat dalam hatiku untuk minta tangan nona Giok Cu untuk dijodohkan dengan Kam Ciu, bagaimanakah pendapatmu?”

Kalau ia diserang dengan tusukan pedang pusaka, mungkin ia takkan sedemikian terkejut dan kesima. Memang Ong Kang Ek cukup tahu kejujuran hati tamunya ini, tapi sama sekali tak ia sangka di dunia ini ada orang yang begitu polos hatinya, hingga perkara perjodohan dan lamaran dibicarakan dengan demikian sederhananya seakan-akan orang bicarakan urusan biasa saja. Seumur hidupnya belum pernah ia melihat atau menemui seorang yang begini aneh.

Biarpun hatinya tergoncang dan untuk sesaat ia menjadi bingung, tak mengerti harus bersikap bagaimana tapi ia tidak bisa menjadi marah menghadapi sikap orang yang benar-benar terbuka ini. Setelah tenangkan pikiran, ia menjawab: “Ah, Gan Twako sungguh tak kunyana bahwa kau demikian taruh perhatian kepada keadaan kami. Banyak-banyak terima kasih atas kasih sayangmu ini, Gan twako. Tapi ketahuilah bahwa urusan perjodohan bagi puteriku tidaklah sedemikian mudah. Pertama, semenjak dulu aku telah ambil keputusan tetap bahwa calon suami Giok Cu haruslah seorang yang mahir akan bun dan bu, yaitu selain terpelajar, juga seorang muda yang gagah dan yang dalam hal kedua kepandaian itu tidak kalah dengan Giok Cu sendiri. Kedua soal itupun harus ada persetujuan dari Giok Cu. Dia adalah anakku tunggal, hingga tentang perjodohannya aku tidak mau berlaku sembrono, Gan Twako.

“Gan twako, jangan kau kecewa. Bukan sekali-kali aku hendak nyatakan bahwa Gan Kam Ciu hianati kurang baik. Ia cukup terpelajar dan terus terang saja anakku kalah jauh dalam hal ilmu surat darinya, tapi dalam hal ilmu silat...”

Gan Im Kiat tiba-tiba jebikan bibir. “Hm kau orang kang-ouw memang selalu begitu. Begitu tinggikah kau hargai ilmu silat? Apakah bukan sebaliknya bahwa ilmu silat hanyalah mendatangkan cekcok dan bunuh membunuh belaka.

“Hal ini harus dilihat orangnya dulu, Gan twako.”jawab Ong Kang Ek membela golongannya, walaupun di dasar hatinya ia terpaksa membenarkan pernyataan tamunya.

“Jadi pendek kata kau tolak lamaranku, saudara Ong.

Ong Kang Ek menghela napas. Ia menjadi serba salah menghadapi seorang demikian polos dan minta segala hal diurus secara terang-terangan tanpa sungkan-sungkan lagi.

Ia mengangguk, “Demikianlah, Gwan twako. Aku tolak lamaranmu karena kuanggap tidak cocok juka Giok Cu dijodohkan dengan Kam Ciu.”

“Boleh aku tanyakan pendapat anakmu? Karena bukankah kau tadi katakan bahwa hal inipun tergantung dari pendapatnya sendiri?”

Kalau yang berkata demikian ini orang lain, mungkin Ong Kang Ek akan marah sekali tapi karena ia tahu bahwa kata-kata ini diucapkan terdorong oleh kejujuran orang, maka ia terpaksa menjawab: “Tentu saja boleh.” Kemudian ia berteriak memanggil Giok Cu dan berbareng pada saat itu juga Gan Im Kiat berkaok memanggil Kam Ciu yang sedang berkemas di dalam kamarnya, siap untuk melanjutkan perjalanan.

Kedua anak muda itu datang hampir berbareng, keduanya masuk dengan heran memandang ayah masing-masing.

Gan Im Kiat langsung saja berkata kepada Giok Cu. “Nona, barusan aku melamar kau untuk dijodohkan dengan anakku ini, tapi ayahmu menolak karena anakku seorang sastrawan lemah. Dan kau sendiri bagaimana, nona? Benarkah kau hendak mencari jodoh seorang dari kalangan persilatan?”

Tentu saja Giok Cu merasa setengah mati mendengar pertanyaan ini. Mukanya sebentar pucat, sebentar merah dan ia hanya dapat sebentar tunduk dan sebentar memandang kepada ayahnya dengan bingun dan heran, tak tahu harus menjawab bagaimana!

Ong Kang Ek kasihan melihat anaknya dengan malu dan bingung tapi sebelum ia menyela, Gan Im Kiat sudah berkata lagi:

“Ayah, hampir lupa aku bahwa kau sebagai seorang gadis tentu mudah bagimu. Kau jawab saja dengan geleng dan angguk. Kalau setuju mengangguk, kalau menolak menggeleng. Baik ini” Giok Cu sambil tunduk mengangguk!

“Nah, nah, bagus! Sekarang pertanyaan pertama: Betulkah bahwa kau ingin dijodohkan dengan seorang ahli silat dan surat yang kepandaiannya lebih tinggi darimu? Jawablah ya atau tidak!” Dengan wajah merah Giok Cu mengangguk.

“Hm...kalau pemuda itu hanya pandai ilmu surat dan tidak pandai ilmu silat, kau tidak suka? Jawablah, kalau suka mengangguk, kalau tidak menggeleng.” Dan Giok Cu menggeleng kepalanya!

“Sama benar dengan ayahnya! Kalau begitu, ini yang terakhir, perhatikan! Kau kulamar untuk menjadi jodoh Kam Ciu, suka tidak?”

Post a Comment