Halo!

Pendekar Wanita Baju Putih Chapter 03

Memuat...

“Siapakah yang datang ini? Kaukah yang disebut Ong Kang Ek?!!

“Jangan banyak cerewet. Mari kuantar jiwamu yang kotor ke neraka!” Ong Kang Ek segera lepaskan sabuk suteranya dan dengan tangan kiri ia gerak-gerakkan sabuk itu yang berbunyi berciutan, lalu sambil berseru keras ia maju menyerang! Hok Hok Hwesio adalah seorang ahli pedang Butong dan ia selalu usulkan kepandaian silatnya sebagai kepandaian yang jarang ada tandingan. Tapi kini melihat ujung sabuk sutera itu bergerak bagaikan ular menyerang ke arah uluhatinya ia sangat terkejut. Sambil loncat mundur dan gunakan kebutnya menangkis, ia cabut pedang dan balas menyerang. Tapi Ong Kang Ek yang pegang pedang di tangan kanan dan sabuk sutera di tangan kiri merupakan lawan yang luar biasa. Gerakan pedangnya bagaikan kilat menyambar, ditambah pula dengan bantuan sabuk suteranya yang lihai, maka sebentar saja Hok Hok Hwesio berteriak kaget kebutan di tangan kirinya kena terbelit oleh sabuk sutera itu! Ia kerahkan tenaga untuk melepaskan kebutan dari ujung sabuk tapi sia-sia saja karena sabuk itu seakan menjadi satu dengan kebutan. Sekali lagi Hok Hok Hwesio kerahkan tenaga dalamnya. Karena ia terlalu curahkan perhatian dan tenaga ke tangan kiri, maka hal ini hampir saja membuat ia binasa karena tiba-tiba Ong Kang Ek kendorkan sabuknya dan pedang di tangan kanannya meluncur cepat ke dada lawan! Hwesio itu berseru kaget dan berkelit miringkan tubuh, tapi tak urung ujung pedang menyambar bajunya dan “breeett!” baju luarnya terobek lebar! Hok Hok Hwesio terpaksa lepaskan kebutan dan loncat mundur berjumpalitan karena takut kalau-kalau serangan kedua menyusul sedangkan keadaannya sedemikian sulit.

Tapi Ong Kang Ek tidak mengejar, hanya memandangnya dengan tertawa bergelak. Dengan kaki kiri ia tendang kebutan lawannya hingga terpental jauh, lalu berkata: “Hwesio kotor! Serangan pedangku yang kedua kalinya akan merobek kulitmu, bukan bajumu. Bersiaplah untuk mampus!” Dan ia maju menyerang kembali dengan sengit.

Sementara itu, Bong Hay Tojin merasa gentar dan bingung sekali. Keadaannya sendiri pun cukup payah karena menghadapi ilmu pedang gadis itu, ia hanya dapat bertahan dan menangkis saja, kini ditambah lagi dengan keadaan kawannya yang tadinya amat diandalkan ternyata tak mampu berbuat apa-apa di depan Ong Kang Ek! Untung baginya bahwa Ong Kang Ek tidak memperhatikannya, karena sekilas saja bahwa orang tua itu maklum bahwa keadaan gadisnya tak perlu dikhawatirkan, dan bahwa Giok Cu pasti akan dapat merobohkan saykong jahat itu.

Tapi siapa sangka, Bong Hay Tojin tak percuma menjadi seorang saykong palsu yang kejahatan dan kelicinannya ditakuti orang dan sudah tersohor di kalangan kang-ouw. Melihat keadaan yang berbahaya dan tidak menguntungkan itu, tiba-tiba ia rogoh sakunya dan keluarkan bungkusan kertas. Dengan gunakan tenaga tangannya meremas kertas itu hingga pecah dan isinya yang berbubuk putih keluar. Kemudian sambil menangkis pedang Giok Cu yang menyambar leher, ia gerakkan tangan yang mengepal bubuk itu ke arah Giok Cu.

Gadis itu mengira bahwa lawan gunakan senjata rahasia, maka cepat-cepat ia membungkuk. Benar saja, bubuk yang merupakan asap putih itu melewati atas kepalanya, tapi tiba-tiba gadis itu mencium bau yang ganjil, manis dan harum tapi tajam menyengat hidung. Belum sempat ia pulihkan semangatnya yang seakan dilumpuhkan oleh bau itu. Bong Hay Tojin telah gaet kakinya hingga ia roboh terguling tak sadarkan diri! Bong Hay Tojin melirik ke arah kawannya yang didesak hebat oleh Ong Kong Ek. Tojin pengecut ini bukan main takutnya, dengan cepat ia pondong tubuh Giok Cu dan lari secepat mungkin tinggalkan tempat itu.

Ong Kang Ek yang sedak desak lawannya ketika mendengar pertempuran di sebelahnya berhenti dan mendengar suara kaki berlari, segera mengerling dan alangkah terkejutnya melihat betapa saykong jahat berhasil melarikan anak gadisnya! Kemarahannya memuncak. Pada saat itu Hok Hok Hwesio tengah menyerang dengan tipu Han-ya-pok-cui atau gerak menyambar air, pedangnya menyambar dari kanan dan kebutannya dari kiri, kedua senjata itu merupakan sayap yang menghantam ke arah iganya. Serangan ini adalah serangan maut, tapi biarpun sedang marah. Ong Kang Ek masih cukup gesit dan waspada. Ia putar pedangnya sedemikian rupa hingga sekaligus kedua senjata lawan terpukul, kemudian sebelum Hok Hok Hwesio tahu apa yang akan terjadi tiba-tiba sabuk sutera yang lemas halus itu telah melilit pinggangnya! Ong Kang Ek berseru keras dan tahu-tahu dengan sekali sentak saja tubuh Hok Hok Hwesio telah terlempar ke atas. Bagaikan bernyawa sabuk itu melejit dan membawa tubuh hwesio itu terkatung-katung kemudian terdengar seruan keras sekali dan tahu-tahu tubuh hwesio itu terlempar keraas ke arah sebuah batu besar di pinggir jalan. Hwesio bernaisb buruk itu tak sempat berteriak, kepalanya terbentur batu dan pecah seketika itu juga.

Ong Kang ek tak sempat melihat apakah lawannya telah mati ataukah masih hidup. Ia terus saja gerakkan kakinya loncat mengejar ke arah larinya Bong Hay Tojin yang membawa Giok Cu. Tapi karena malam telah tiba dan keadaan gelap, ia menjadi bingung dan ragu-ragu karena sukar baginya untuk memilih jalan yang tepat mengikuti jejak musuh. Akhirnya, dengan hati berdebar cemas ia lari mengikuti jalan yang menuju ke kiri. Ia percepat larinya hingga yang tampak hanya berkelebatnya bayangan saja.

Bong Hay Tojin dengan hati berdebar percepat larinya dengan tubuh Giok Cu yang lemah lunglai di pundaknya. Ia merasa takut dan juga girang. Takut kalau-kalau sampai dapat dkejar oleh Ong Kang Ek. Girang karena biarpun ia tidak berhasil membalas dendamnya kepada orang she Ong itu, namun anak gadis musuhnya telah dapat ia tawan!

Bong Hay Tojin tidak tahu sama sekali bahwa di sebelahnya ada bayangan yang berkelebat. Bayangan ini bagaikan bergeraknya angin saja dan sama sekali tak mengeluarkan suara hingga Bong Hay Tojin tidak tahu sama sekali. Tiba-tiba bayangan itu tertawa perlahan di sebelah saykon itu hingga Bong Hay sangat terkejut lalu menengok. Pada saat itu pundak Bong Hay Tojin terasa demikian sakitnya hingga ia terpaksa lepaskan tubuh Giok Cu yang menggelinding dan rebah di atas tanah. Masih saja Bong hay merasa pundaknya linu dan sakit sekali hingga iia tak kuasa gerakkan sebelah tangannya. Ia takut sekali dan menyangka bahwa ini tentu perbuatan Ong Kang Ek, maka tanpa banyak pikir lagi ia segera percepat larinya sambil menahan sakit!

Sementara itu Giok Cu yang telah agak siuman kembali, merasa betapa ia dilepaskan oleh saykong jahat itu. Ia bangun, duduk dan memandang ke sekeliling. Tapi keadaan gelap dan yang tampak hanya bayangan pohon-pohon yang hitam dan bergoyang-goyang tertiup angin malam. Ia tidak tahu mengapa Bong Hay Tojin melepaskannya, tapi betapapun juga ia merasa sangat bersyukur. Kemudian ia bangun berdiri dan berjalan. Tiba-tiba ia kaget karena tidak tahu harus pergi ke mana. Ia tidak tahu jalan sama sekali dan tidak tahu ia berada di mana dan ke mana ia harus pergi untuk pulang ke rumahnya.

Tengah ia berdiri bimbang, tiba-tiba di depan terdengar suara orang berbicara. Giok Cu bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan karena mungkin juga saykong jahat itu kembali membawa kawan. Tapi ternyata yang datang adalah dua orang yang menunggang kuda dengan perlahan. Seorang di antara mereka membawa sebuah obor kecil. Melihat Giok Cu berdiri di situ keduanya lalu loncat turun menghampiri.

Giok Cu melihat seorang tua dan seorang pemuda, kedua-duanya berpakaian segai golonga sastrawan. Yang tua ketika melihat bahwa orang yang berdiri di pinggir jalan adalah seorang wanita muda segera menghampiri dan bertanya:

“Eh, nona, kemana kau hendak pergi? Mengapa malam-malam berada seorang diri di sini?” tanyanya. “Aku....aku sesat dan tak taju jalan jawab Giok Cu bingung dan malu-malu.

“Di manakah rumahmu, nona?” “Di Kam Leng ”

“Ohh.....kebetulan sekali. Kamipun hendak pergi ke Kam Leng. Mari, mari....kita jalan sama-sama. Kau salah jalan, seharusnya ke sana. Dapatkah kau berkuda?”

Giok Cu mengangguk, tapi cepat menjawab: “Ah, biarlah, jangan merepotkan tuan, saya dapat berjalan sendiri.”

Orang tua itu pelototkan matanya. Berjalan sendiri? Malam-malam begini? Ah, siocia, itu kurang pantas. Biar kami antar, marilah. Kau boleh naiki kudaku, biar aku berdua dengan Kam Ciu!!

Melihat kebaikan orang, Giok Cu merasa tak enak menolak terus. Ia ucapkan terima kasih lalu loncat ke atas kuda dengan gerakan yang ringan dan gesit sekali. Orang tua itu memandang kagum dan memuji: “Kau pandai sekali, siocia.” Dan ia sendiri dengan hati-hati naik ke atas kuda anak muda itu dan duduk di belakangnya. Demikianlah, dengan perlahan mereka majukan kuda dan berjalan menuju ke kota Kam Leng yang sebenarnya tidak sangat jauh.

Sementara itu, setelah lari jauh, barulah Ong Kang Ek merasa bahwa ia telah salah mengambil jalan. Ia segera lari kembali dan mengejar ke jurusan lain. Ia merasa bingung dan khawatir sekali akan nasib puterinya. Berkali-kali ia kertak giginya dan menggerutu: “Kalau aku dapat susul saykong itu, akan kuhancur leburkan kepalanya! Akan kubeset kulitnya, kucabut keluar jantungnya. Dan ia berlari makin cepat.

Tiba-tiba ia melihat sinar api kecil dari depan, ia percepat larinya tak lama kemudian melihat dua ekor kuda dengan 3 orang penumpangnya. Ia kenali anak yang duduk di kuda pertama, sedangkan kuda kedua ditumpaki oleh dua orang yang berpakaian sastrawan. Ia merasa heran sekali dan segera ia pegang kendali kuda Giok Cu dan bertanya:

“Giok Cu kau tidak apa-apa? Kemana larinya dia ?”

Giok Cu tersenyum kepada ayahnya dan simpangkan pertanyaan ayahnya dengan menunjuk kepada kedua sastrawan yang masih duduk di atas kuda itu. “Ayah, aku telah sesat jalan dan bingung tak tahu jalan pulang. Baiknya aku bertemu dengan kedua sianseng ini yang telah begitu baik hati untuk memberi pinjam kuda mereka dan antar aku pulang.”

Ong Kang Ek memandang kedua orang itu lalu menjura:

“Jiwi sianseng, sungguh siaute merasa berterima kasih sekali atas budi jiwi.”

Mereka berdua membalas hormat dari atas kuda. “Aah, hal itu biasa saja, tuan. Bukankah selamanya kaum pria harus menolong kaum wanita?” Sastrawan tua itu menjawab sambil tertawa.

“Jiwi hendak ke manakah?” tanya Ong Kang Ek.

“Hendak ke kota Kam Leng, tapi terpaksa bermalam di Kam Leng.”

Post a Comment