Halo!

Pendekar Wanita Baju Putih Chapter 02

Memuat...

Semenjak saat itu, penduduk Kam Leng merasa bangga mempunyai seorang warga kota seperti Ong Wan- gwe. Mereka sangat kagum dan menghormat. Tapi ternyata bahwa Ong Kang Ek seakan-akan menjauhkan diri dari pergaulan umum hingga orang-orang di sekitarnya merasa segan untuk mendekatinya. Mereka hanya menduga-duga saja dan keadaan Ong Kang Wk dan gadisnya merupakan rahasia yang tak mudah mereka selami.

Berbeda dengan ayahnya yang jarang keluar dari rumah, gadis she Ong yang cantik jelita dan bernama Giok Cu itu sering keluar rumah, berbelanja atau melihat-lihat. Hal ini pun membuat penduduk Kam Leng merasa heran karena biasanya, gadis hartawan jarang sekali mau keluar rumah, kecuali di dalam kereta atau joli. Giok Cu selalu keluar tanpa pengiring. Pakaiannya indah hingga membuat wajahnya yang telah cantik itu menjadi makin menarik. Rambutnya yang hitam halus dan gemuk itu digelung ke atas hingga nampak leher yang berkulit putih dan halus. Wajahnya kemerah-merahan dengan sepasang mata lebar yang bening dan tajam, hidungnya kecil manis, dan bibirnya segar merah berbentuk indah. Potongan tubuhnya ramping dan berisi. Tidaklah mengherankan bahwa tiap laki-laki, baiku ia masih muda maupun sudah tua, sukar melepaskan pandangan matanya dari Giok Cu bila gadis itu lewat dengan tindakan kaki yang wajar menarik. Tapi tak seorangpun di antara mereka berani main gila atau coba-coba menganggunya karena segan dan takut kepada Ong Wan-gwe yang mereka ketahui kelihayannya. Bahkan beberapa orang ahli silat yang berada di kota itu, dengan yakin menyatakan bahwa gadis itu bukanlah wanita sembarangan, karena dalam gerak-geriknya yang lemah-lemah dan halus itu tersembunyi tenaga hebat seorang ahli lweekeh. Tentu saja banyak yang tidak percaya mendengar pernyataan ini, karena selain mereka ini tidak dapat membedakan ahli atau bukan, juga mereka merasa tak mungkin bahwa seorang gadis secantik dan selembut itu kulitnya dapat menjadi seorang ahli silat.

Pada senja hari itu, di dalam kebun bunganya yang penuh dengan bunga mekar indah mengharum, Giok Cu duduk di atas sebuah bangku seorang diri sambil melamun. Ia merasa seakan berada dalam dunia lain dan hidup seorang diri, hanya dengan kembang-kembang, kupu-kupu dan burung-burung. Duduk bertopang dagu di tengah-tengah lautan bunga yang beraneka warna itu, Giok Cu nampak seakan-akan seorang bidadari yang cantik jelita. Tapi sayang, gadis yang baru berusia tujuh belasan tahun itu tampak berduka. Kulit jidatnya berkerut dan sepasang matanya memandang jauh tanpa melihat sesuatu. Ia betul- betul tenggelam dalam lamunannya.

Ia tidak merasa bahwa ia telah lama sekali berada di kebun itu, dan ia tidak tahu kupu-kupu telah pergi meninggalkan kembang walaupun beberapa kali kembali lagi sebelum pergi seakan-akan tidak rela atau tidak tega meninggalkan kembang yang penuh madu manis itu, tidak tahu pula bahwa burung-burung yang tadi berkicau riang telah kembali ke sarang masing-masing, tinggi di dahan paling atas dari pohon cemara, untuk melewati malam gelap dan menakutkan.

Apakah yang disusahkan oleh anak gadis itu? Sebenarnya Giok Cu tidak menyedihkan suatu yang tertentu. Ia hanya merasa kesunyian, satu perasaan yang sering timbul dan mengganggu hatinya semenjak ia ditinggal mati ibunya beberapa tahun yang lalu. Ayahnya, walaupun sangat sayang kepadanya, namun terlampau kaku dan canggung dan tak dapat bergaul dan tak dapat menggembirakannya. Lebih-lebih karena ia tahu bahwa ayahnya mempunyai ganjelan hati dan mempunyai rahasia yang agaknya membuaat ayahnya selalu bermuram durja dan kadang-kadang bersikap galak dan mudah marah.

Pada waktu itu udara telah gelap tapi Giok Cu belum juga beranjak dari tempat duduknya. Tapi tiba-tiba gadis yang duduk diam bagaikan patung itu seakan-akan kemasukan tenaga ajaib dan dengan sangat cepatnya gadis itu loncat berdiri dan tubuhnya terbalik dengan pasangan kuda-kuda yang kuat sekali! Ketika sedang melamun tadi, telinganya yang telah terlatih baik dapat menangkap gerakan orang asing yang meloncati dinding kebun. Benar saja, ketika ia berbalik, ta mpak olehnya dua bayangan hitam yang gesit sekali gerakannya bergerak di dalam kebunnya yang luas.

Giok Cu cepat sambar sebilah pedang yang ia taruh di atas tanah karena tadinya ia bawa untuk dipakai berlatih tapi urung karena terganggu oleh lamunannya. Kemudian sekali loncat tubuhnya melayang ke arah dua bayangan yang hendak menuju ke rumahnya.

“Orang-orang kurang ajar dari mana berani masuk kebun orang tanpa permisi!” tegurnya dengan suara nyaring.

Dua orang itu berhenti dan memandang dengan heran dan kagum. Mereka merasa seakan-akan tiba-tiba ada puteri kahyangan turun dari angkasa. Ternyata mereka itu adalah seorang saykong dan seorang hwesio tua. Kedua-duanya memandang gadis itu dengan pandangan cabul hingga Giok Cu menjadi marah sekali dan membentak:

“Kalian ini pendeta-pendeta dari mana dan apa kehendak kalian?” Ia masih menaruh hormat melihat bahwa yang datang adalah dua orang pertapa tua. Ia tidak tahu sama sekali bahwa saykong yang berada di depannya itu pada tiga hari yang lalu telah berkenalan dengan kelihayan ayahnya karena ayahnya tak pernah ceritakan hal itu padanya.

Saykong itu baru sadar dari kesimanya dan sambil tertawa menyeringai ia bertanya “Nona ini siapakah? Pernah apa dengan Ong Kang Ek?

“Dia adalah ayahku. Apakah suhu hendak berjumpa dengan ayah?”

“Ah, tak nyana Ong Wan-gwe mempunyai seorang gadis semanis ini.” kata hwesio tua yang memegang kebutan. Tentu saja Giok Cu menjadi marah dan menaruh curiga.

“Katakanlah, apakah kalian hendak berjumpa dengan ayah? Kalau demikian halnya, silahkan masuk dari pintu depan!‟ katanya mengurangi hormatnya.

“Ha, ha, haa! Eh, Bong toyu, daripada melayani segala orang she Ong tak berguna, bukankah lebih baik main-main dengan bidadari ini?” Hwesio itu bertanya kepada kawannya.

Saykong itu tertawa. Usulmu baik juga, Hok losuhu, dengan demikian kitapun sudah sudah dapat membalas sakit hatiku!”

Kemudian saykong itu berkata kepada Giok Cu yang sudah merah wajahnya dan berapi-api sinar matanya. “Nona manis kau ikutlah kami!” “Bangsat tua bangka. Kau cari mampus!” Tanpa banyak cakap lagi dan dengan marah yang meluap-luap, Giok Cu gerakkan tangan kanannya yang memegang pedang dengan tusukan maut ke arah tenggorokkan saykong itu dan tangan kirinya dengan cepat sekali telah merogoh saku dan sekali terayun maka sebuah pelor kunigan melayang ke arah dada si hwesio!

Kedua pertapa cabul itu terkejut sekali. Tak mereka sangka bahwa gadis muda itu dapat bergerak sedemikian cepatnya. Namun keduanya dengan mudah dapat kelit serangan Giok Cu dan saykong itu sambil tertawa berkata kepada kawannya: “Hok suhu, gadis ini lihai. Mari kita keluar, lihat ia berani kejar atau tidak!” Hwesio tua itu maklum akan maksud kawannya maka sambil tertawa ia meloncat ke arah tembok kebun diikuti oleh kawannya yang sambil menengok berkata kepada Giok Cu:

“EH, nona manis, biar lain kali saja kita main-main!”

Tentu saja Giok Cu tidak sudi biarkan kedua pertapa cabul itu lari begitu saja. Sambil memaki: “Bangsat- bangsat tua jangan lari!” ia enjot tubuhnya dan mengejar ceat.

Ternyata ilmu lari cepat kedua pertapa itu tinggi juga, tapi mereka sengaja menanti Giok Cu karena memang maksud mereka memancing gadis itu meninggalkan kebunnya. Betapapun juga, mereka masih sangsi dan gentar menghadapi Ong Kang Ek. Gadis itu masih terlalu muda dan belum cukup pengalaman untuk dapat mengetahui muslihat kedua lawannya. Pula seandainya ia tahu, tetap ia akan mengejar mereka karena hatinya panas karena marah mendengar ucapan-ucapan yang menghinanya itu. Ia ambil keputusan untuk mengejar dan membunuh mereka.

Ketika di luar kota di mana tak terdapat rumah orang dan keadaan sunyi sekali, dua pertapa itu berhenti sambil tertawa menjemukan. Cepat sekali Giok Cu sudah sampai pula di situ dan ia telah siap menerjang. Tapi saykong itu angkat tangannya dan berkata:

“Tahan pedangmu dulu, nona. Barangkali kau belum kenal siapa kami maka kau berani kurang ajar. Dengar baik-baik aku adalah Bong Hay Tojin dan Iosuhu ini adalah Hok Hok Hwesio dari Kwa Thian Si. Hayo kau lekas memberi hormat dan ikut kami pergi dengan patuh, tentu kau takkan menyesal!”

Alis mata Giok Cu berdiri karena marahnya. “Pendeta-pendeta bangsat aku Ong Giok Cu tidak takut segala tua bangka, tak tahu diri macam kalian!” sebagai penutup kata-katanya ia putar pedangnya mengirim serangan-serangan maut. Hok Hok Hwesio gerakkan kebutnya, tapi Bong Hay Tojin berkata:

”Hok suhu, biarkan pinto tangkap dia!” Kemudian saykong ini cabut keluar pedangnya dan menangkis serangan Giok Cu. Biarpun Giok Cu masih sangat muda dan belum banyak pengalaman dalam pertempuran, namun ia telah mewarisi ilmu pedang tunuggal dari ayahnya, juga semenjak kecil ia telah menerima latihan lweekang hingga tidak saja ia dapat melayani Bong Hay dengan baik, bahkan sebentar saja saykong itu tak berani main-main pula karena tahu bahwa ilmu pedang gadis manis itu tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya sendiri! Bahkan beberapa kali ujung pedang Giok Cu hampir saja melukainya.

Melihat betapa kawannya demikian tak punya guna hingga menghadapi seorang gadis muda saja sampai terdesak, Hok Hok Hwesio gerakkan kebutannya dan berkata: “Bong Toyu, mundurlah, biarkan pincong menangkap gadis liar ini!”

Tapi sebelum dapat bergerak, tiba-tiba tampak bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu Ong Kang Ek telah berdiri di hadapan Hok Hok Hwesio sambil tersenyum sindir dan kedua matanya berkilat, Hok Hok Hwesio tidak tahu bahwa kalau sudah tersenyum sindir macam itu Ong Kang Ek bagaikan harimau berdarah, maka biarpun ia merasa terkejut melihat kegesitan Ong Kang Ek, hwesio itu masih menyombong dan bertanya dengan suara jumawa:

Post a Comment