Halo!

Pendekar Wanita Baju Putih Chapter 01

Memuat...

Di dalam kebun bunga di belakang gedung Ong Wangwe, bunga-bunga sedang mekar indah menyiarkan keharuman yang sedap. Bunga-bunga beraneka warna yang tertiup angin senja bergoyang perlahan-lahan ke kanan-kiri itu bagaikan putri-putri jelita tengah menarikan tari selamat datang menyambut datangnya musim bunga. Kupu-kupu dengan sayap kuning keemasan saling kejar di atas bunga-bunga, sedikitpun tidak menghiraukan atau menakuti suara burung yang bernyanyi merdu di atas pohon-pohon cemara yang mengelilingi taman itu.

Ong Wangwe adalah seoraung hartawan yang baru beberapa bulan pindah ke kota Kam Leng, di mana ia membeli sebuah gedung besar dengan taman bunganya yang indah itu. Orang tidak tahu darimana ia datang dan perdagangan apakah yang diusahakannya, karena semenjak pindah ke Kam Leng, Ong Wangwe tidak berdagang apa-apa.

Ia datang telah merupakan seorang hartawan. Rumah tangganya hanya terdiri dari dia seorang diri, seorang anak perempuannya yang telah berusia kurang lebih delapan belas tahun dan beberapa orang pelayan. Ong Wangwe ternyata adalah seorang duda. Yang mengherankan orang ialah bahwa kadangkala datang beberapa orang tamu di rumah wartawan itu. Hal ini sebenarnya tak perlu diherankan kalau saja tamu-tamu itu tidak menarik perhatian orang dengan keadaan mereka. Hampir semua paratamu itu bertubuh tegap dan bersikap gagah, sedangkan ditubuh mereka selalu tergantung senjata tajam. Jelas terlihat bahwa mereka adalah ahli-ahli silat.

Barulah penduduk Kam Leng tahu lebih banyak akan keadaan Ong Wangwe ketika sebulan yang lalu terjadi hal yang cukup mengherankan dan yang membuka rahasia hartawan itu. Pada waktu itu, entah dari mana datangnya, seorang saykong berjubah lebar dengan kepala licin gundul mengacau kota Kam Leng. Saykong itu membawa sebuah gentung arak dari besi yang tingginya tiga kaki lebih! Ia berjalan dari rumah ke rumah untuk meminta derma, tapi permintaannya itu berbeda dengan kebiasaan para pendeta yang minta derma secara sukarela. Ia tetapkan bahwa orang harus mnderma padanya setengah tail perak! Ia letakkan guci besar itu di pintu, dan takkan mengangkatnya sebelum tuan rumah memberiya derma setengah tail. Ada beberapa orang yang mencoba untuk mengusirnya, tapi tak seorangpun dapat mengangkat dan menyingkirkan guci besar itu. Jangankan mengangkat, bahkan menggerakkan saja tak seorangpun mampu lakukan. Guci besi itu demikian berat hingga untuk mengangkatnya sedikitnya dibutuhkan tenaga sepuluh orang.

Demikianlah, terpaksa orang memberi derma seperti yang dimintanya karena orang tak berani melawan saykong yang tampak kuat dan kejam itu. Kepala kampung telah diberi laporan dan dengan ramah dan manis kepala kampung minta agar saykong itu tidak mengganggu penduduk Kam Leng dan sudi menerima uang derma secara sukarela.

“Aku pungut derma untuk membangun kelenteng, bukan untukku sendiri. Pula aku bukanlah pengemis, maka tak sudi aku menerima kurang dari setengah tail!” jawab saykong itu dengan menyeringai kurang ajar.

Mendengar jawaban itu kepala kampung menjadi marah. Penjaga keamanan kota yang ikut datang dengan kepala kampung lebih marah lagi. Ia diajak empat orang kawannya menghampiri saykong itu.

“Pendeta palsu, pergilah kau dari kota ini dan jangan ganggu kami!” katanya. “Kalau aku tidak mau pergi, kalian mau apa?” jawab saykong.

“Jangan menyesal kalau kami gunakan kekerasan!” “Kamu mau apa?” saykong itu berkata dengan sikap menantang.

“Twako, pukul saja anjing gundul ini!” teriak seorang kepada kepala penjaga. Lima orang itu lalu ayun tangan mereka ke arah tubuh saykong itu dan segera terdengar suara “bak! bak! bak! bak!” ketika tangan mereka memukul tubuh saykong yang gemuk berdaging itu. Tapi suara pukulan itu segera disusul suara teriak kesakitan dan kelima orang itu membungkuk sambil pegang-pegang tangan yang dipakai memukul. Ternyata tangan mereka pada bengkak seperti juga barusan mereka bukan memukul tubuh orang tapi memukul besi yang keras!

Saykong itu tak perdulikan mereka, hanya tertawa haba-hibi sambil seret gucinya di atas tanah hingga guci itu keluarkan suara tangtang-tungtung melanggar batu. Agaknya saykong tiu sudah cukup banyak mendapat uang derma karena ia tidak menghampiri pintu rumah orang lagi tapi langsung menuju ke sebuah jembatan kayu yang melintang di atas anak sungai. Ia taruh gucinya di tengah jembatan, lalu ia berdiri duduk bersila di dekat gucinya bagaikan orang bersemadhi. Tentu saja gucinya yang besar dan tubuhnya yang gemuk itu telah memenuhi dan menutup jembatan hingga menghalangi orang yang hendak lewat jembatan itu. Sedangkan jembatan itu hanyalah satu-satunya yang ada di situ dan menghubungkan kiri kanan sungai.

Orang-orang hendak lewat dan mereka mempunyai keperluan penting lalu beranikan hati dan minta permisi kepada saykong itu untuk diperbolehkan lewat.

“Boleh boleh tapi yang hendak lewat di sini harus bawa sepuluh mangkokk arak untuk diisikan ke dalam guciku ini. Setelah guciku penuh arak baru aku akan t inggalkan jembatan dan kota ini!”

Orang-orang merasa gelisah mendengar permintaan gila-gilaan ini. Untuk memberi sepuluh mangkok arak sih masih bisa diusahakan tapi sampai kapankah guci sebesar itu bisa penuh? Demikianlah keadaan menjadi semakin kacau. Yang dapat membeli arah segera membawa sepuluh mangkok untuk diperkenankan lewat, yang tidak punya uang berdiri saja bingung di dekat jembatan dan tak berani lewat. Bahkan ada beberapa orang yang pandai renang lalu ambil jalan aman tanpa keluarkan biaya, yaitu mereka buka baju dan menyeberangi sungai dengan tenang.

Pada saat orang sedang bingung dan yang datang di jembatan untuk nonton keadaan itu makin banyak, datanglah Ong Wangwe dari jurusan barat hendak menyeberang jembatan itu. Ketika ia melihat keadaan yang kacau dan melihat seorang saykong gemuk duduk di tengah jembatan dan di dekatnya berdiri sebuah guci besi yang besar, ia mencari keterangan kepada orang-orang yang berada di situ. Setelah mendengar akan kekurangajaran saykong itu tiba-tiba kedua matanya memancarkan cahaya berkilat. Dengan tenang, ia hampiri saykong itu dan berkata:

“Toyu minggirlah, orang-orang hendak lewat.”

Saykong itu mendengar suara orang yang keras memerintah, segera melirik. “Kau datang membawa arak atau tidak?” tanyanya. “Kalau membawa, tuang saja ke dalam guci, kalau tidak kembalilah!”

“Beberapa banyak yang kau kehendaki? Tanya Ong Wangwe.

Kini saykong memandang penuh perhatian dan ia tersenyum ketika melihat pakaian Wangwe yang mewah. Oh, oh, gudang uangkah yang hendak lewat di sini?” kata saykong itu sambil berdiri kalau begitu, sekali ini penuhlah guciku. Hayo, kau ambil arak dan penuhi guciku ini, baru kau boleh lewat.

“Kau hendak penuh? Boleh, tak usah aku pergi ambil, di sini sudah tersedia banyak!”

Sebelum saykong itu atau orang-orang yang makin banyak datang menonton mengrti maksud Ong Wangwe, hartawan itu sudah lepaskan sehelai sabuk sutera dari pinggangnya. Cepat sekali ia ikat leher guci dengan ujung sabuknya lalu dengan gerak yang ringan seakan-akan tanpa kerahkan tenaga ia angkat sabuknya hingga guci tergantung di udara!”

Saykong itu terbelalak dan wajahnya berubah pucat sedangkan orang-orang yang berdiri di kedua tepi jembatan bersorak, kemudian Ong Wangwe gerakkan tangannya hingga guci itu terayun dan terlempar ke dalam sungai. Ia pegang ujung sabuk sambil membungkuk dan biarkan guci itu tenggelam sampaai terisi penuh air, kemudian sambil keluarkan serruan keras yang mengagetkan semua orang, ia sendal sabuknya. Ajaib! Guci besar yang berat dan yang kini terisi air sungai sampai penuh itu terlempar dengan cepat ke atas dan dengan gerakan kedua guci itu meluncur dari atas ke bawah dengan mulut di bawah! Sekali lagi Ong Wangwe gerakkan tangannya yang memegang ujung sabuk dan guci itu kini meluncur ke arah kepala saykong itu! Saykong itu berseru keras karena tahu akan bahaya yang mengancamnya, lalu dengan pasang kuda-kuda ia ulurkan kedua lengan menyambut datangnya guci itu. Tapi karena guci telah terjungkir dengan mulut di bawah, walaupun saykong itu telah dapat menangkap dengan baik, tak kurang isi guci tertuang ke bawah dan menyiram kepalanya yang licin gundul, hingga sebentar saja seluruh tubuhnya basah kuyub!

Semua orang yang mel ihat peristiwa ini selain merasa heran tercengang hingga untuk sesaat tak dapat mengeluarkan suara hanya memandang dengan mata terbelalak, juga merasa girang sekali hingga sesaat kemudian gemuruhlah tepuk sorak dan tertawa riuh rendah sebagai pernyataan rasa kagum terhadap Ong Wangwe dan ejekan puas kepada saykong itu.

Sementara itu Ong Wangwe telah tarik kembali sabuknya yang tadi melibat guci dan ikatan itu di pinggangnya, kemudian dengan suara keras dan pandang mata tajam ia berkata kepada saykong itu:

“Sudah puaskah kau sekarang? Kalau belum puas, aku dapat tenggelamkan kau di sungai ini dan kau takkan timbul kembali!”

Saykong itu dengan napas terengah dan wajah merah turunkan gucinya dan angkat ke dua tangan memberi hormat sambil membongkok di depan Ong Wangwe. “Tak tersangka di tem pat ini terdapat seorang gagah seperti congsu Pinto telah merasakan pelajaran yang kauberikan, terima kasih, terima kasih. Bolehkah pinto ketahui nama dan tempat tinggal congsu agar di hari kemudian pinto tak lupa lagi dan dapat membalas budi ini?”

Ong Wangwe tertawa menyindir. “Alangkah banyaknya pertapa-pertapa palsu seperti kau di dunia ini. Mana kau dapat mengenal budi? Yang kau maksudkan budi itu tentu dendam ” Ong Wangwe menghela

napas lalu melanjutkan, “tapi biarlah, aku takkan mundur setapakpun. Aku she Ong bernama Kang Ek. Rumahku di kota ini.”

Mendengar nama ini tiba-tiba mata saykong itu berkitalt dan ia memandang Ong Kang Ek dari kepala sampai ke kaki lalu ia menggerutu seorang diri: “Hm......baik sekali.....kebetulan sekali....biarlah, lain kali kubalas budi. “Kemudian ia balikkan tubuh dan seret gucinya lalu melangkah cepat dengan tindakan lebar. Ong Kang Ek bagaikan tak pernah terjadi sesuatu lalu pulang.

Post a Comment