Halo!

Pendekar Tongkat Dari Liong-san Chapter 14

Memuat...

“Matamu awas juga sahabat. Sekarang setelah kau tahu berhadapan dengan Kim-gan- eng, jangan banyak cerewet lagi dan serahkan kantong yang berisi lima ratus tail emas itu kepadaku sebagai tanda penghormatan!”

Tentu saja para piauwsu itu tidak sudi mengalah karena walaupun nama Kim-gan-eng Coa Kim Nio sudah sangat termahsyur, namun pertanggungan jawab mereka berat sekali kalau harus menyerahkan harta yang mereka kawal itu. Maka terjadilah pertempuran hebat dan dengan mudah saja Coa Kim Ni menghajar semua piauwsu itu hingga mereka tak berdaya dan luka-luka.

Dengan enak saja Coa Kim Nio lalu mengambil sekantong emas itu sambil berkata, “Katakan kepada Ngo-oei-liong bahwa yang mengambil emas ini adalah Kim-gan- eng, dan jika mereka merasa marah, boleh mereka datang di tempat ini. Aku menanti kedatangan mereka di sini selama dua hari. Kalau dalam dua hari mereka tidak muncul, maka emas ini menjadi milikku yang sah!” lalu pergilah wanita itu.

Demikianlah, maka dua hari kemudian, kelima piauwsu itu datang di tempat itu dan bertempur melawan Kim-gan-eng Coa Kim Nio dan hampir saja mereka dapat merobohkan wanita itu kalau tidak keburu datang Kong Lee yang menggagalkan kemenangan mereka. Akan tetapi, karena ia memang jujur, pemuda itu merasa menyesal sekali atas gangguan yang tidak disengaja dan ia sanggup untuk merampas kembali emas itu deri tangan Kim-gan-eng, hingga bersama-sama kelima naga kuning itu ia pergi ke sarang Kim-gan-eng dan suhengnya yakni Hek-ciu-mo Si Iblis Tangan Hitam.

Kedatangan Kong Lee dan kelima piauwsu itu agaknya telah diketahui oleh Pauw Kian dan sumoinya, karena ketika mereka tiba di luar hutan yang menjadi sarang kawanan perampok itu, mereka telah disambut oleh segerombolan perampok yang dikepalai oleh seorang yang bertubuh pendek gemuk. Pemimpin perampok ini dengan sikap hormat lalu mempersilakan mereka masuk ke dalam hutan di mana Pauw Kian dan Coa Kim Nio telah menanti. Coa Kim Nio mengenakan pakaian serba hijau yang baru dan indah sedangkan dirambutnya terhias bunga warna merah sehingga ia sama sekali tidak pantas disebut seorang perampok yang ganas.

Kong Lee melihat laki-laki yang berdiri di dekat Coa Kim Nio. Ternyata Pauw Kian adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, wajahnya tampan dan cambang bauknya terpelihara baik. Tapi yang paling menyeramkan adalah telapak tangannya, karena tangan itu dari pergelangan ke bawah berwarna hitam!

Diam-diam Kong Lee terkejut karena ia teringat akan penuturan suhunya bahwa memang ada orang di rimba hijau (perampok) dan sungai telaga (kaum bajak) yang memiliki kepandaian-kepandaian tinggi dan melatih tangan mereka sedemikian rupa sehingga mereka benar-benar hebat dan berbahaya sekali. Di antara ilmu-ilmu yang aneh itu terdapat ilmu-ilmu untuk membuat kedua tangan menjadi ampuh, kuat, dan bahkan mengandung bisa yang berbahaya! Latihan-latihan menguatkan tangan ini ada yang disebut Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah), Pek-see-ciang (Tangan Pasir Putih), dan lain-lain. Kalau melihat tangan Pauw Kian yang kehitam-hitaman dan mengeluarkan cahaya terang ini, Kong Lee dapat menduga bahwa kepala rampok ini tentu telah melatih tangannya dengan ilmu Tiat-see-ciang (Tangan Pasir Besi) yang sungguhpun tidak mengandung bisa, namun kekuatan dan kehebatannya luar biasa karena kedua tangan itu dengan tenaga penuh merupakan senjata yang berbahaya dan bahkan sanggup digunakan untuk melawan senjata tajam tanpa terluka!

Pauw Kian telah mendengar dari sumoinya bahwa kelima Naga Kuning telah mengeroyoknya dan hampir ia mendapat celaka, tapi untung keburu tertolong oleh seorang pemuda sasterawan.

Kini melihat betapa pemuda itu datang bersama-sama dengan para piauwsu, tentu saja Pauw Kian dan Coa Kim Nio menjadi heran sekali.

“Ha, ha, ha! Ngo-oei-liong sungguh tabah sekali, berani memasuki tempatku. Apakah barangkali karena sudah dapat mendesak sumoiku, lalu kalian menganggap bahwa kalian boleh saja memperlihatkan kepandaian di sini?” Pauw Kian menyambut kedatangan mereka dengan kata-kata menyindir.

Ngo-oei-liong memang sudah maklum akan kehebatan kepandaian kepala rampok itu, maka mereka lalu menjura dan yang tertua berkata merendah, “Pauw-tai-ong, harap dimaafkan kami berlima yang lancang dan tidak tahu diri. Kedatangan kami ini sebetulnya hendak mohon kemurahan hati tai-ong untuk mengembalikan emas yang menjadi tanggung jawab kami, karena kalau tidak, nama piauwsu kami akan rusak dan tak seorangpun mau mengirimkan barang melalui kami lagi.”

“Ha, ha, enak saja kau bicara! Kalian tadi sudah berani berlaku begitu kurang ajar menyerang sumoiku dan hampir saja melukainya. Kalau aku tidak menghajar kalian untuk kekurangajaran kalian itupun sudah boleh dibilang aku berlaku murah.

Sekarang biarlah emas itu untuk menebus kekurangajaranmu tadi!”

Tentu saja kelima piauwsu itu merasa marah dan tidak senang mendengar ucapan ini, akan tetapi mereka masih merasa takut-takut terhadap Pauw Kian hingga mereka kini hanya memandang ke arah Kong Lee untuk minta bantuan.

Ternyata pada saat itu Kong Lee tengah memandang kepada Coa Kim Nio dengan mata kagum, karena dalam pandangan matanya, tak pantas nona itu menjadi seorang perampok. Juga ia merasa heran sekali mengapa nona itu tidak kelihatan menjadi tua dan tetap seperti gadis yang dulu merobohkan Gan-piauwsu ketika ia berusia lima belas tahun atau lima tahun yang lalu. Masih tetap muda, cantik dan jelita.

Kini melihat semua mata kelima piauwsu itu ditujukan ke arahnya, Kong Lee lalu menjura kepada Pauw Kian dan berkata dengan suara halus, “Lo-enghiong, aku sebagai orang luar seharusnya tidak boleh mencampuri urusan ini, akan tetapi karena kebetulan sekali aku terlibat, apa boleh buat aku berlaku lancang. Memang sebetulnya, di dalam pertempuran antara kelima piauwsu ini dengan adikmu, adalah kehendak adikmu sendiri yang menantang kepada mereka. Dan di dalam pertempuran itu, adikmu yang kalah, maka sudah sepantasnya kalau ia mengembalikan barang yang dirampasnya. Aku, tanpa kusengaja telah memisah dan karenanya membikin rugi kepada piauwsu-piauwsu ini, maka untuk menebus kesalahanku ini, kuharap dengan sangat supaya kau dan adikmu berlaku bijaksana dan adil serta menginsyafi akan kekalahan adikmu dan mengembalikan emas itu kepada yang berhak.”

Tiba-tiba kedua mata Pauw Kian berputar-putar dan alis mata bangun berdiri. Untuk sebutan ‘lo-enghiong’ saja ia sudah marah sekali, karena sungguhpun usianya sudah empat puluh tahun, namun ia belum kawin dan karenanya tidak suka disebut orang tua. Apalagi mendengar kata-kata Kong Lee yang biarpun halus tapi bersifat menasihatinya itu, ia menjadi marah bukan main.

“Eh, eh, anak muda kurang ajar. Siapa kau maka berani-berani ikut datang membela para piauwsu ini?”

Kong Lee tersenyum tenang.

“Aku Lim Kong Lee dan orang biasa saja yang mengharap kejujuran dan keadilanmu terhadap sesama manusia.”

Pauw Kian membanting-banting kakinya karena gemas. “Kau tadi bilang bahwa adikku kalah oleh kelima piauwsu ini? Baik, sekarang emas itu telah berada di tanganku dan jika kelima piauwsu ini dapat mengalahkan aku, baru aku mau menyerahkan emas itu. Atau barangkali kau sendiri hendak maju? Boleh!” dengan sikap sombong sekali Pauw Kian Si Iblis Tangan Hitam menantang.

Kelima piauwsu tak berani menjawab karena mereka tidak ada harapan untuk dapat mengalahkan Pauw Kian.

Dengan sikap masih tenang dan bibir tersenyum, Kong Lee maju dan berkata, “Biarlah aku yang maju mencoba-coba, karena aku harus menebus kesalahanku terhadap kelima piauwsu ini.”

“Baik, majulah!”

Pauw Kian tertawa menghina lalu membuka jubah luarnya hingga nampak tubuhnya yang tegap dan besar hanya terbungkus oleh pakaian yang ringkas dan tipis. Kini kedua lengannya nampak dan ternyata bahwa lengan itu dari pergelangan tangan ke atas, berkulit putih bersih sehingga kedua tangan yang hitam itu kelihatan mengerikan sekali.

Kong Lee menarik keluar tongkat bambunya dan mengencangkan ikat pinggangnya dengan gerakan perlahan dan lemah lembut hingga melihat sikap ini, kelima piauwsu itu berdebar-debar kuatir. Mereka sungguh ragu-ragu untuk percaya bahwa pemuda yang halus ini akan berani melawan Pauw Kian Si Iblis Tangan Hitam!

Sementara itu Coa Kim Nio yang semenjak tadi memandang kepada Kong Lee dengan penuh ekakguman akan kecakapan dan kehalusan perangai pemuda itu, melangkah maju dan berkata kepada Pauw Kian.

“Suheng, biarkan aku sendiri yang menghadapi siucai (pemuda pelajar) ini. Tadi aku dikalahkan oleh para piauwsu curang itu dengan keroyokan, kalau satu sama satu, belum tentu aku kalah.”

Pauw Kian maklum di dalam hatinya bahwa sumoinya ini tertarik akan kebagusan pemuda ini dan selain tahu akan keberanian sumoinya yang memiliki kepandaian cukup tinggi, juga Si Iblis Tangan Hitam ini menduga bahwa pemuda sasterawan itu tentu berkepandaian tinggi pula. Maka apa salahnya kalau sumoinya mencoba-coba dulu agar ia dapat mengukur sampai di mana kehebatang Kong Lee!

Maka ia mengangguk dan berkata sambil tertawa.

“Majulah, sumoi, tapi jangan kauhabiskan sendiri! Biarlah kau main-main dengan dia sebentar dan nanti biar aku sendiri yang menyelesaikannya!” sungguh ia sangat tekebur dan memandang rendah, hingga Kong Lee menjadi mendongkol dan mengambil keputusan untuk memperlihatkan kehebatannya!

“Kongcu, majulah!” dengan suara yang merdu dan kerlingan mata tajam, Coa Kim Nio mencabut pedangnya dan melintangkan pedang itu di depan dadanya.

“Baik, dan kau hati-hatilah!” kata Kong Lee.

Kemudian ia mengirim serangan pertama dengan tongkat bambunya ke arah pundak nona itu. Melihat datangnya serangan yang dilakukan dengan sembarangan dan perlahan ini, tidak saja para piauwsu yang tadinya menaruh harapan besar kepada Kong Lee menjadi mendongkol dan kecewa, tapi juga Pauw Kian tidak dapat menahan hatinya untuk tidak tertawa. Sementara itu, Coa Kim Nio juga memandang ringan lawannya. Sambil tersenyum dan mengeluarkan suara tertawa yang ditahan, ia mengelak lalu balas menyerang dengan sebuah tikaman ke arah dada Kong Lee.

Sungguh mengherankan sekali, pemuda itu seakan-akan tidak tahu bahwa dirinya diserang dan sama sekali tidak mengelak!

Coa Kim Nio semenjak tadi telah tertarik sekali hatinya kepada pemuda yang ganteng ini, maka hatinya tidak tega untuk melukainya. Melihat bahwa pemuda itu sama sekali tidak mau mengelak atau menangkis, nona ini segera memiringkan pedangnya agar tidak sampai melukai Kong Lee.

Kong Lee tersenyum dan di dalam hati ia berterima kasih kepada nona ini. Agaknya Coa Kim Nio ini tidak mau melukainya.

Maka ia lalu berkata, “Nona, seranglah yang betul, kalau tidak, dalam tiga jurus saja pedangmu akan terampas olehku!”

Terdengar suara tertawa keras dari Pauw Kian karena Si Iblis Tangan Hitam ini merasa geli sekali mendengar ucapan Kong Lee.

“He, Ngo-oei-liong, mengapa kalian membawa seorang anak yang masih keluar ingusnya ke sini? Suruhlah ia pulang kepada ibunya untuk minum air susu lebih dulu!”

Hinaan ini tak dipedulikan oleh Kong Lee dan pada saat Coa Kim Nio menyerang lagi, seperti tadi ia tidak mengelak, akan tetapi begitu ujung pedang telah mendekati kulit dadanya, tiba-tiba tongkat bambunya berputar sedemikian rupa dan “traang!!” pedang di tangan Coa Kim Nio terlepas dan terlempar ke atas! Dengan sabar dan tenang Kong Lee menggerakkan tongkatnya yang dapat “menangkap” gagang pedang itu dan diputar-putarnya sehingga gagang pedang itu seakan-akan menempel pada ujung tongkat sambil terputar bagaikan sebuah kitiran! “Mari, terimalah kembali pedangmu, nona!” katanya sambil menyodorkan pedang itu kepada Coa Kim Nio yang berdiri melongo dengan muka merah.

Post a Comment