Halo!

Pendekar Tongkat Dari Liong-san Chapter 13

Memuat...

Maka mengertilah Kong Lee bahwa betapapun juga, suhunya ini masih mempunyai nafsu untuk membalas kekalahan muridnya, hanya saja, orang tua ini tidak mau bertindak sendiri dan mengharapkan dia untuk mewakilinya.

“Baik, suhu. Akan teecu coba untuk memperlihatkan bahwa ilmu kepandaian suhu tidaklah serendah yang mereka duga!”

Kemudian, setelah banyak-banyak menerima nasihat dan pesan suhunya yang aneh tapi baik hati itu, Kong Lee meninggalkan puncak Liong-san. Ia mengenakan pakaian sutera warna kuning yang indah sehingga tampak seperti seorang putera hartawan sedang melancong!

Beberapa hari kemudian pada suatu pagi yang terang indah Kong Lee yang melakukan perjalanan menuju ke Bi-ciu yang sangat jauh letaknya dari Liong-san, memasuki sebuah hutan setelah singgah di sebuah kampung untuk menanyakan jalan menuju ke Bi-ciu. Ternyata bahwa perantauannya sebagai pengemis dulu ketika ia mencari-cari guru, berjalan jauh sekali sehingga untuk pulang kembali ke Bi-ciu, ia harus melewati dua propinsi yang besar dan luas! Karena ia memang sengaja hendak meluaskan pengalaman, maka ia berjalan dengan perlahan dan tidak terburu-buru, sungguhpun hatinya telah sangat rindu kepada ibunya.

Ia meniru kebiasaan suhunya dan sebelum turun dari Liong-san, ia membuat sebatang tongkat bambu kuning yang tumbuh di puncak Liong-san. Tongkat ini kadang-kadang ia pegang, kadang-kadang ia selipkan diikat pinggangnya seperti sebatang pedang.

Ketika ia tiba di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar suara beradunya senjata dan suara teriakan-teriakan. Ia segera menggunakan ilmu kepandaian lari cepat dan tak lamu kemudian ia telah tiba di tempat pertempuran yang sangat dahsyat. Seorang gadis cantik berpakaian hijau sedang dikeroyok oleh lima orang yang berpakaian sebagai piauwsu, dan gadis yang bersenjata sebatang pedang itu nampak terdesak sekali. Harus ia akui bahwa ilmu pedang nona itu hebat sekali dan ia teringat akan seorang nona yangg dulu sering ia kenangkan karena pernah menjatuhkannya dalam dua jurus!

Kong Lee memandang dengan penuh perhatian karena gerakan-gerakan gadis yang lincah dan gesit sekali itu membuat wajahnya sukar dilihat. Tetapi akhirnya ia kenali juga gadis itu! Tidak lain adalah Kim-gan-eng Coa Kim Nio Si Garuda Bermata Emas yang dulu pernah menyerang dan menjatuhkan Gan-piauwsu!

Kelima piauwsu yang mengeroyok gadis itupun rata-rata memiliki ilmu silat tinggi dan keadaan gadis itu benar-benar berbahaya. Nona yang cantik itu telah mulai mundur-mundur saja dan mencari jalan keluar untuk melarikan diri, tapi lima orang pengeroyoknya mengurung rapat sekali sehingga ia tidak mendapat kesempatan untuk lari. Jidat yang halus kulitnya itu telah mulai berpeluh!

Kong Lee tidak tega melihat keadaan ini, maka ia lalu melompat ke tengah lapangan pertempuran sambil berkata, “Cu-wi sekalian, harap bersabar dulu dan tahan senjata!” Akan tetapi, kelima orang piauwsu yang agaknya sedang marah sekali itu tidak mempedulikan seruan Kong Lee, bahkan karena mereka menyangka bahwa pemuda ini tentu kawan dari Kim-gan-eng yang mereka keroyok, seorang di antara mereka menggunakan goloknya menyerang Kong Lee dengan gerak tipu Harimau Menyambar Hati!

Kong Lee cepat mengelak dan sekali ia ulurkan tangan kanannya, penyerangnya itu merasa lengannya yang memegang golok menjadi lumpuh dan goloknya itu telah berpindah tangan!

Terkejutlah kawanan piauwsu itu melihat kehebatan Kong Lee, dan tiba-tiba mereka menahan serangan. Kesempatan itu digunakan oleh Kim-gan-eng untuk melompat keluar dan lari secepatnya meninggalkan tempat itu!

Kawanan piauwsu itu hendak mengejar, tapi gadis yang dikejarnya telah lenyap di antara pohon-pohon yang memenuhi hutan hingga mereka kembali ke tempat pertempuran sambil menyumpah-nyumpah.

“Tuan, kau sungguh tidak adil dan sembrono sekali! Apakah kau juga kawan dari penjahat wanita itu maka berani memusuhi kami?” kata seorang di antara mereka yang menjadi pemimpin.

Kong Lee cepat-cepat mengangkat tangan memberi hormat.

“Harap cu-wi suka memaafkan karena sesungguhnya siauw-te hanya kebetulan lewat saja di sini dan tidak mengenal siapa-siapa. Hanya karena melihat betapa seorang wanita, seorang diri pula, dikeroyok oleh lima orang gagah perkasa seperti cu-wi dan keadaannya terdesak sekali, maka siauw-te berlaku lancang untuk memisah, bukan maksud siauw-te membantu siapa-siapa.”

“Kalau saja kau tahu siapa adanya wanita setan yang kami keroyok itu, tentu kau tidak akan sudi ikut campur apalagi membantunya!”

“Siapakah dia dan mengapa kalian mengeroyoknya?” tanya Kong Lee pura-pura tidak tahu.

“Dia adalah Kim-gan-eng Coa Kim Nio Si Garuda Bermata Emas yang sangat terkenal karena kejahatannya.”

“Apakah kejahatannya dan apakah ia mengganggu kalian?”

“Ah, anak muda. Kau nampaknya berkepandaian tinggi, tapi ternyata kau belum mengenal orang-orang di dunia kang-ouw! Dia telah merampas lima ratus tail emas yang menjadi tanggungan kami! Dua hari yang lalu, ketika pembantu-pembantu kami mengawal segerobak barang berharga menuju ke Tit-le, perempuan itu mencegat di hutan ini dan merampas sekantung emas sebanyak lima ratus tail! Dan kami berlima sengaja mencarinya untuk menghajarnya. Hampir saja kami dapat membekuknya, tapi kau yang tidak mengerti apa-apa tiba-tiba telah menggagalkan usaha kami hendak mendapatkan kembali uang yang menjadi tanggungan kami itu,” pemimpin piawsu itu menghela napas dan nampaknya jengkel sekali.

Kong Lee buru-buru menjura dan minta maaf, “Ah, sungguh menyesal sekali siauw-te telah berlaku lancang, dan perbuatan siauw-te ini harus dihukum! Sekarang kuharap cu-wi suka mengantarkan siauw-te mengunjungi sarang perampok wanita itu dan siauw-te akan mencoba menebus dosa siauw-te tadi dan mendapatkan kembali emas kalian itu.”

Kelima orang piawsu itu saling pandang, dan pemimpin mereka berkata, “Kongcu, kau nampaknya seperti seorang sastrawan, tapi kami telah mengetahui bahwa kau berkepandaian tinggi karena dalam sekali serang saja dapat merampas golok suteku. Akan tetapi kau ketahuilah bahwa pada waktu ini penjahat perempuan tadi tentu telah kembali ke sarangnya dan kau harus tahu bahwa di sarangnya terdapat suhengnya yang berkepandaian hebat sekali dan sukar dilawan! Kalau tidak mengingat suhengnya itu, kami berlima tentu sudah siap-siap pergi menyerbu ke sana.” “Siapakah suhengnya itu?” Kong Lee pura-pura tidak tahu, padahal ia telah dapat menduga bahwa suheng dari nona cantik itu tentu Hek-ciu-mo Pauw Kian. “Suhengnya adalah seorang iblis yang amat hebat dan tinggi ilmu silatnya dan kami berlima terus terang saja bukanlah tandingannya. Namanya Pauw Kian dan julukannya Hek-ciu-mo Si Iblis Tangan Hitam.”

Mengingat betapa dulu ia pernah dihina oleh Coa Kim Nio ketika minta berguru kepadanya, dan betapa ia hendak mencari Si Iblis Tangan Hitam untuk diangkat sebagai guru, maka makin besar keinginan Kong Lee hendak bertemu kepala rampok yang ditakuti orang itu.

“Biarlah, akan siauw-te coba menghadapi Pauw Kian. Kalau sampai terjadi pertempuran, biar siauw-te melawan Pauw Kian dan cu-wi dapat menghadapi nona tadi,” katanya.

“Tapi harus diingat bahwa mereka itu mempunyai anak buah yang banyak pula,” seorang piauwsu berkata.

Kong Lee menjadi gemas dan berkata, “Kalau tuan berlima tidak berani, tunjukkanlah saja tempatnya dan siauw-te akan pergi sendiri. Kalau siauw-te berhasil mendapatkan kembali lima ratus tail emas itu, akan kuserahkan kepada kalian!”

“Kongcu, siapa sebenarnya engkau maka bicaramu begini besar?” pemimpin piauwsu itu bertanya.

“Siauw-te she Lim bernama Kong Lee.”

“Dan kepandaian apakah yang kauandalkan untuk menghadapi Pauw Kian?” Kong Lee tersenyum dan mengeluarkan tongkat bambunya.

“Inilah yang kuandalkan. Marilah kita berangkat kalau kalian memang berani.” Kelima orang piauwsu itu heran sekali melihat bahwa senjata anak muda itu hanya sebatang tongkat bambu! Akan tetapi melihat sikap anak muda itu begitu tenang dan berani, timbul pula semangat dan keberanian mereka lalu mengantar Kong Lee menuju ke sebuah bukit kecil yang penuh dengan hutan dan tidak jauh dari hutan itu letaknya.

Memang benar penuturan kelima piauwsu tadi. Dua hari yang lalu, ketika pembantu- pembantu mereka mengantarkan barang-barang berharga menuju ke Tit-le dan lewat di hutan itu, tiba-tiba dari belakang pohon melompat keluar seorang nona berbaju hijau yang memegang sebatang pedang. Nona ini adalah Coa Kim Nio yang lalu membentak para piauwsu itu supaya berhenti.

Pembantu-pembantu dari piauw-kiok (Perusahaan Pengantar Barang) Naga Kuning itu merasa heran melihat pencegat mereka, tapi mereka berhati tabah karena Oei-liong Piauw-kiok sudah terkenal dan jarang sekali ada perampok berani mengganggu karena segan berhadapan dengan para pimpinan piauw-kiok itu, yakni lima saudara seperguruan yang dijuluki Ngo-oei-liong atau Lima Naga Kuning. Akan tetapi, melihat sikap dan pakaian nona itu, mereka menduga bahwa nona itu tentulah Kim- gan-eng yang terkenal dan yang memang biasa melakukan perampokan seorang diri saja!

Pemimpin rombongan piauwsu itu menjura dan menegur, “Kalau kami tidak salah duga, Li-hiap ini tentulah Kim-gan-eng yang terkenal!”

Coa Kim Nio tertawa-tawa.

Post a Comment