Halo!

Pendekar Tongkat Dari Liong-san Chapter 12

Memuat...

Akan tetapi, ketika Kong Lee hendak mengasah kapak itu, suhunya melarang sehingga ia terpaksa menggunakan kapak tumpul itu untuk membelah kayu! Mula- mula memang sukar sekali karena dengan sebuah kapak tumpul, sebatang kayu tak dapat diputuskan dalam tiga puluh kali bacokan! Akan tetapi, lambat laun ia dapat juga membelah sebatang kayu dengan dua tiga kali bacokan saja, padahal kapaknya makin hari makin tumpul saja!

Kong Lee bukanlah seorang anak muda yang bodoh. Walaupun mula-mula ia merasa heran dan tidak mengerti akan peraturan suhunya yang aneh dan yang seakan-akan sengaja menyiksa dirinya itu, lambat laun ia maklum bahwa pekerjaan-pekerjaan tiap hari dilakukannya itu, bukanlah semata-mata pekerjaan biasa, akan tetapi adalah latihan-latihan yang ternyata mendatangkan kemajuan besar pada dirinya.

Pengambilan air dengan menggunakan pikulan rotan itu membuat gin-kangnya maju pesat dan mengapak kayu dengan kapak tumpul itu mendatangkan tambahan tenaga yang hebat dan tidak kentara kemajuannya.

Pada suatu hari, setelah ia berada di kuil itu hampir satu setengah tahun lamanya, Liong-san Lo-kai ikut dengan ia mengambil air. Orang tua itu juga membawa pikulan dengan dua kaleng kosong untuk mengambil air dan alangkah herannya Kong Lee ketika melihat bahwa pikulan suhunya hanya terdiri dari sebatang rotan saja!

Ia merasa ragu-ragu apakah sebatang rotan itu akan cukup kuat untuk menahan dua kaleng air? Sedangkan ia sendiri yang masih menggunakan sepuluh batang rotan pada pikulannya, harus menggerakkan seluruh tenaga lwee-kangnya untuk dapat memikul air itu tanpa tumpah di jalan.

Akan tetapi, setelah mereka mengisi air pada kaleng masing-masing, sambil tersenyum Liong-san Lo-kai berkata, “Muridku, dulu ketika kau pertama kali mengambil air, pikulanmu terbuat dari empat puluh batang rotan. Sekarang dengan sepuluh batang rotan saja kau sudah sanggup melakukan pekerjaan ini. Hal ini berarti bahwa gin-kang dan lwee-kangmu telah bertambah empat kali lipat daripada dulu.

Apa kau kira segala macam pekerjaan yang kaulakukan itu tidak ada gunanya? Ha, ha, muridku, kalau demikian halnya, maka aku tentu akan merasa malu menjadi suhumu!”

Kemudian kedua orang itu memikul air masing-masing dan naik ke puncak, walaupun Liong-san Lo-kai hanya menggunakan pikulan yang terbuat dari sebatang rotan saja, namun Kong Lee tidak mampu menyamai kecepatan gurunya yang jauh mendahuluinya! Hal ini membuat hati anak muda itu makin tunduk dan kagum.

Ketika ia mengapak kayu dengan kapak tuanya yang sudah tua dan tumpul sekali, dengan sekali ayun saja ia telah dapat membelah sebatang kayu yang besar. Liong-san Lo-kai tertawa senang melihat kemajuan muridnya. Orang tua ini lalu maju menghampiri sebatang kayu yang besar dan sekali mengayunkan tangannya yang dimiringkan, maka kayu itu terbelah menjadi dua!

Kong Lee memandang dengan mata kagum sekali dan ia buru-buru menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.

“Suhu, teecu mohon petunjukmu lebih jauh,” katanya.

Liong-san Lo-kai mengelus-elus jenggotnya yang panjang. “Muridku, untuk dapat melakukan apa yang kaulihat tadi, kau harus berlatih ladi dengan rajin. Dan selain itu, kau harus melatih hawa dan tenaga di dalam tubuhmu dengan jalan bersamadhi dan mengatur jalan pernapasanmu.”

Kemudian orang tua itu memberi pelajaran kepada muridnya tentang bersamadhi dan mengatur jalan pernapasan, akan tetapi sama sekali tidak menyebut-nyebut tentang pelajaran ilmu silat. Biarpun begitu, Kong Lee mendengarkan dengan penuh perhatian dan semenjak hari itu, ia mempergiat latihan-latihannya yang berupa pekerjaan itu sambil melatih diri dengan bersamadhi dan mengatur pernapasan!

Setahun telah lewat pula tanpa terasa dan Kong Lee telah berdiam di puncak Liong- san lebih dari dua tahun bahkan hampir tiga tahun. Akan tetapi kini ia telah dapat memikul air dengan menggunakan sebatang rotan saja dan dapat membelah kayu dengan kedua telapak tangannya!

Setelah melihat kemajuan muridnya ini, barulah Liong-san Lo-kai memberi pelajaran ilmu silat!

Akan tetapi karena Kong Lee telah mempelajari dasar-dasar silat, maka orang tua itu hanya memberi dua macam ilmu silat saja, yakni ilmu silat tangan kosong yang disebut Liong-san Kun-hoat, dan ilmu tongkat yang disebut Liong-san Koai-tung- hwat atau Ilmu Tongkat Aneh dari Liong-san! Kalau ilmu silat tangan kosong Liong- san Kun-hoat sudah aneh dan hebat sekali gerakan-gerakannya, adalah Liong-san Koai-tung-hwat benar-benar luar biasa! Karena di dalam ilmu tongkat ini terdapat pukulan dan gerakan mirip dengan gerakan pedang atau toya, hingga boleh dibilang bahwa ilmu tongkat ini adalah semacam ilmu gabungan dari ketiga macam senjata itu! Dan karena ilmu ini diciptakan oleh Liong-san Lo-kai sendiri maka hebatnya bukan main. Ketika mencipta ilmu tongkat ini, Liong-san Lo-kai dengan secara cermat sekali memasukkan gerakan-gerakan dari semua cabang persilatan hingga dengan demikian, maka Liong-san Koai-tung-hwat ini dapat memecahkan serangan-serangan dari ilmu silat terhebat dari cabang-cabang persilatan yang terkenal seperti Siauw-lim- pai, Bu-tong-pai dan lain-lain lagi.

Dengan penuh ketekunan, Kong Lee melatih diri sampai dua tahun lagi sehingga ia telah belajar ilmu silat di atas puncak Liong-san untuk lima tahun lamanya!

Pada suatu hari suhunya memanggilnya, “Kong Lee, muridku. Sekarang telah tiba waktunya bagimu untuk turun gunung dan mempergunakan ilmu kepandaianmu untuk kebajikan.”

“Tapi, suhu, kepandaian teecu belum berarti ... ”

“Ha, ha, ha! Muridku, memang seharusnya demikianlah sifat yang kau miliki. Sederhana dan merendah. Ingatlah bahwa orang yang bodoh selalu memperlihatkan dan menyombongkan kebisaannya yang tak lain hanyalah kebodohannya semata. Kau merasa bahwa kepandaianmu belum berarti? Nah, memang demikianlah adanya.

Kepandaian siapakah yang dapat disebut tinggi dan banyak artinya? Oleh karena itu, maka dengan kepandaianmu yang tak berarti itu kau jangan sekali-sekali berlaku sombong dan sewenang-wenang. Tapi betapapun juga, dibandingkan dengan kepandaianmu sebelum kau datang ke sini dulu kau telah mendapat kemajuan yang bukan sedikit! Ketahuilah bahwa sebelum aku menerimamu sebagai murid dan sengaja menunggumu di kuil rusak yang berada di kaki bukit ini, aku telah menyelidiki keadaanmu dan tahu pula akan riwayatmu. Maka sekarang pulanglah dan lakukan kewajibanmu sebagai seorang putera terhadap ibunya yang telah janda, juga sebagai seorang ksatria yang harus selalu mengulurkan tangan menolong sesama manusia yang ditimpa penderitaan. Tapi jangan sekali-kali melanggar sumpahmu dan dengan alasan apapun jangan sekali-kali kau membunuh orang!”

Kong Lee berlutut dan menyatakan kesanggupannya untuk mentaati semua nasihat dan pesan suhunya.

Liong-san Lo-kai lalu mengambil sebuah peti hitam dan membukanya. Kong Lee tercengang melihat bahwa di dalam peti itu terdapat beberapa potong pakaian yang terbuat dari sutera indah.

“Muridku, pakaian-pakaian ini dulu sengaja kubuat untuk seorang muridku, tapi sayang sekali muridku itu telah tewas dalam sebuah pibu. Sayang sekali ... ! Ia sebetulnya memiliki bakat baik sekali, akan tetapi sayang bahwa kesabarannya kurang besar sehingga ketika ia mendengar betapa pihak Go-bi-pai menantang-nantangku, ia lalu pergi dari sini untuk menyambut tantangan itu. Ketika itu aku sedang pergi dan meninggalkan muridku itu seorang diri di sini. Maka datanglah utusan Go-bi-pai yang menantangku untuk mengadakan pertandingan silat di kota Lam-sun. Muridku itu tidak tahan mendengar ucapan-ucapan tantangan yang dianggapnya sangat menghina sehingga ia mewakili aku pergi ke Lam-sun. Akan tetapi, kepandaiannya belum tinggi, dan ia tak dapat melawan pihak Go-bi. Dan celakanya, ia berdarah panas hingga karena kenekadannya, ia tewas dalam pibu itu!”

Kong Lee heran mendengar hal ini. Di dalam hatinya ia merasa heran sekali mengapa suhunya tidak membalaskan sakit hati muridnya itu?

Agaknya orang tua itu dapat mengetahui suara hatinya, maka lalu berkata, “Aku sendiri sudah tua dan aku tidak ada nafsu lagi untuk bertempur mencari permusuhan. Dan pula, pibu itu terjadi dengan jujur, maka soal kalah menang bukanlah apa-apa. Juga demikian dengan kematian dalam pibu yang sudah sewajarnya. Kau janganlah salah mengerti, muridku. Memang benar kau kularang membunuh orang, akan tetapi, yang kumaksudkan membunuh ialah jika kau menjatuhkan tangan maut kepada seseorang dengan hati sengaja hendak membunuhnya. Kalau kau berada dalam sebuah pertempuran melawan seorang lawan dan dalam membela diri kau sampai

menewaskan lawan itu, aku tidak menganggap kau melanggar sumpahmu. Akan tetapi kalau kau membunuh lawan yang sudah tidak berdaya, nah, itulah yang kumaksudkan membunuh dan melanggar sumpahmu. Mengertikah kau, muridku?”

Kong Lee mengangguk maklum.

“Muridku itu tewas dalam sebuah pibu yang jujur karena ia terlalu terburu nafsu. Oleh karena itu maka ketika menerima kau sebagai muridku, kau kulatih belajar sabar dan menahan nafsu agar kelak jangan sampai kau mengalami nasib seperti muridku itu.

Ketika itu, aku pulang ke gunung ini membawa beberapa potong pakaian ini untuknya, tapi ... ia telah pergi dan takkan kembali lagi. Sekarang pakaian ini kuberikan kepadamu, Kong Lee. Pakailah ini karena tidak pantas kalau kau pulang mengenakan pakaian pengemis, sehingga kau akan membuat malu nama ibumu saja.” Kong Lee menerima pakaiannya itu dengan terharu dan berterima kasih sekali.

“Dan jika ada kesempatan dan waktu, aku ingin sekali mendengar kau naik ke Go-bi- san dan mencoba kepandaian ahli silat di gunung itu. Aku yakin bahwa kau takkan kalah, muridku. Dengan jalan itu sedikitnya kau akan menebus hutang mereka kepadaku dan menggosok namaku yang telah menjadi suram karena jatuhnya muridku dulu.”

Post a Comment