Kini Kong Lee tidak ragu-ragu lagi. Ia lalu maju dan berlutut di depan pengemis itu sambil berkata dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, “Suhu yang mulia, ampunkan teecu yang berani kurang ajar!”
Pengemis tua itu terbahak-bahak, “Eh, anak bengal. Kapan aku telah ambil kau sebagai murid?”
Namun Kong Lee berkeras berlutut sambil menyebut-nyebut suhu, sehingga pengemis tua itu yang sebenarnya memang suka kepada Kong Lee dan telah tahu akan keadaan dan riwayat pemuda itu, akhirnya berkata dengan suara tetap.
“Kau ingin menjadi muridku? Baik! Tapi di sini di kelenteng ini dan disaksikan oleh enam orang kawan-kawanku para pengemis ini, kau harus bersumpah. Ingat, kau tidak boleh main-main di depan Liong-san Lo-kai (Pengemis Tua dari Liong-san), karena sekali saja kau melanggar sumpahmu, jangan menyesal aku akan mencari dan menghukummu!”
Bukan main girang dan terkejut hati Kong Lee mendengar bahwa gurunya ini adalah Liong-san Lo-kai, seorang tokoh persilatan yang termasuk golongan tua dan sangat dihormati orang karena kepandaiannya yang luar biasa. Ia lalu berlutut di depan meja sembahyang yang bobrok dan bersumpah seperti yang diajarkan suhunya, yakni, 1.
Selama belajar ia harus menurut kata gurunya dan sedikitpun tidak boleh membantah.
2. Sebelum disuruh oleh gurunya, ia tidak boleh meninggalkan tempat di mana ia belajar silat. 3. Setelah turun gunung, ia harus menggunakan kepandaiannya untuk berbuat kebajikan dalam menolong sesama hidup. 4. Ia dilarang menggunakan kepandaiannya untuk membunuh orang, betapa jahatpun orang itu.
Setelah bersumpah, Kong Lee lalu diajak pergi oleh suhunya berjalan kaki menuju ke bukit Liong-san. Di sepanjang jalan, gurunya ini tak pernah mengajak bicara dengannya kecuali di waktu suhunya ini merasa lapar. Liong-san Lo-kai minta kepadanya untuk mengemis makanan, atau bahkan mencuri makanan!
Karena biarpun ia seorang pengemis jembel, namun Liong-san Lo-kai bukan seperti pengemis biasa dan ia teliti sekali dalam memilih makanan. Jangan kata makanan sisa orang, bahkan makanan yang sederhana saja ia tidak sudi makan! Caranya Liong-san Lo-kai mengemis makanan dengan minta masakan tertentu yang diingininya.
Pengurus-pengurus rumah makan yang dapat menduga bahwa mereka berhadapan dengan orang pandai tentu memberinya dan tidak akan ada perkara apa-apa lagi. Tapi para pengurus rumah makan yang tidak tahu, tentu saja menjadi marah dan mengusirnya. Kalau diusir Liong-san Lo-kai akan pergi dengan tak banyak cakap, tapi tak lama kemudian tentu rumah makan itu akan kehilangan masakan yang diingininya tadi dengan cara yang aneh sekali!
Karena tidak tampak ada orang yang mencuri, tapi makanan itu lenyap begitu saja! Kini setelah berjalan bersama Kong Lee, Liong-san Lo-kai selalu menyuruh muridnya ini yang mengemis makanan atau bahkan mencurinya. Tentu saja Kong Lee merasa heran sekali, akan tetapi ia tidak berani membantah dan melakukan perintah suhunya dengan patuh.
Karena tidak kuasa menahan keinginan hati hendak mengetahui pikiran suhunya mengenai hal ini, pernah ia bertanya, “Suhu, mengapa kita harus mencuri makanan? Bukankah kata orang-orang tua mencuri adalah pekerjaan yang tidak baik?”
Liong-san Lo-kai tertawa geli, lalu menjawab, “Memang, memang tidak baik untuk menjadi pencuri. Tapi kita bukan pencuri! Orang yang mengambil makanan untuk mengisi perutnya yang kosong, bukanlah pencuri namanya. Pencuri adalah mereka yang mengambil barang orang untuk dapat hidup mewah dan senang.”
Di dalam lubuk hatinya, Kong Lee tidak setuju dengan pandangan suhunya ini yang dianggapnya picik, karena baginya, pencuri tetap pencuri, baik yang dicurinya itu barang kecil atau besar, berharga mau pun tidak. Akan tetapi karena ia maklum bahwa gurunya adalah seorang tua yang aneh dan menuntut penghidupan secara luar biasa, maka ia tak berani banyak cakap. Ia hendak belajar silat, bukan belajar filsafat, juga tidak hendak belajar mencuri!
Kurang lebih dua bulan kemudian sampailah mereka di kaki gunung Liong-san. Tiba- tiba berubahlah sikap suhunya yang tadi seperti tidak bersemangat dan acuh tak acuh kepadanya, ketika orang tua itu berkata, “Kong Lee, ayo kau kejar aku naik ke atas gunung!” setelah berkata demikian, Liong-san Lo-kai lalu lari mendaki bukit itu dengan tindakan cepat, Kong Lee maklum bahwa suhunya hendak menguji kepandaiannya, maka ia lalu mengeluarkan gin-kangnya dan menggunakan ilmu lari cepat Hui-heng-sut yang dulu dipelajarinya dari ibunya.
Akan tetapi, betapa cepatnya ia lari, tetap saja ia tak dapat mengejar pengemis tua yang kelihatannya hanya berjalan perlahan itu! Liong-san Lo-kai sengaja melalui jalan yang sukar dan penuh batu-batu karang yang tajam hingga kaki Kong Lee telah merasa lelah dan sakit sekali. Batu-batu karang telah menembus sepatunya dan telapak kakinya terluka oleh batu-batu yang runcing itu. Namun, anak muda yag keras hati itu tidak mau berhenti berlari, dan sedikitpun tidak ada keluhan keluar dari mulutnya. Semangatnya tetap besar hingga setelah berlari-lari setengah hari, sampailah ia di puncak bukit itu.
Suhunya telah berdiri di atas sebuah batu karang dengan wajah kemerah-merahan dan jenggotnya yang putih berkibar-kibar tertiup angin gunung. Sedikitpun orang tua itu tak nampak lelah. Sebaliknya, Kong Lee ketika tiba di situ, hampir saja tak kuat berdiri karena lelahnya. Napasnya tersengal-sengal dan ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan suhunya.
Liong-san Lo-kai lalu mengajak muridnya ke sebuah kuil tua yang berada di puncak sebelah barat, di mana pengemis tua itu melewatkan waktunya sambil bersamadhi. Adakalanya sampai bertahun-tahun ia berada di puncak Liong-san dan tidak meninggalkan tempat itu sebentar pun juga. Tapi adakalanya ia tinggalkan tempat itu dan merantau sampai bertahun-tahun, dan hidup sebagai seorang pengemis di kota- kota besar. Jika ia berada di puncak bukit itu, ia tak usah kuatir tidak mendapat makan, karena tanah pegunungan itu subur sekali dan kakek ini telah mengcangkuli beberapa petak sawah yang ditanami sayur dan lain-lain.
Setelah Kong Lee berada di situ, maka segala pekerjaan harus dilakukan oleh anak muda itu. Mencari air di lereng gunung, mencangkul dan menebang kayu untuk bahan bakar dan lain-lain pekerjaan pula. Setiap hari anak muda itu harus mengambil air dari sebuah pancuran yang berada di lereng gunung, agak jauh dari kuil itu. Dan sampai setahun lebih Kong Lee tak pernah menerima pelajaran sedikitpun. Jangankan pelajaran praktek bersilat, teorinya tak pernah dibicarakan oleh suhunya yang aneh itu.
Akan tetapi, suhunya mengadakan peraturan yang ganjil baginya dalam pekerjaan- pekerjaannya. Pertama kali ketika ia mengambil air dari pancuran di bawah puncak, ia tidak boleh mempergunakan pikulan biasa, akan tetapi ia diberi pikulan yang terbuat dari puluhan batang rotan digabung menjadi satu dan diikat kuat-kuat. Dan ia harus memikul dua kaleng air yang beratnya tidak kurang dari lima puluh kati itu dengan pikulan istimewa ini. Tentu saja ia harus berlaku hati-hati sekali, karena pikulannya ini, walaupun sangat kuat dan ulet, namun tetap mempunyai sifat lemas hingga kalau saja ia berlaku kurang hati-hati maka air di dalam kedua kaleng itu pasti akan habis tumpah di jalan.
Sedangkan jalan antara kuil sampai ke tempat air terjun itu jauhnya tidak kurang dari lima li, dan melewati jalan naik turun, juga harus melewati beberapa jurang kecil yang harus diseberanginya sambil melompat! Selain itu masih juga harus melewati jalan berbatu-batu yang tajam dan dapat menembus sepatunya.
Pada permulaan kali, sangat sukarlah bagi Kong Lee untuk dapat membawa dua kaleng air itu sampai ke kuil dengan masih penuh, dan dalam beberapa hari ia hanya dapat menyelamatkan airnya paling banyak setengah kaleng saja. Padahal keperluan yang dibutuhkan untuk menyiram tanaman dan untuk keperluan lain tidak kurang dari sepuluh kaleng atau lima pikul penuh!
Betapapun sukarnya pekerjaan itu, Kong Lee berlaku sabar dan hati-hati sehingga dalam beberapa bulan saja ia berhasil membawa air itu dengan jalan agak cepat dengan selamat sampai di puncak dan air di dalam pikulannya masih penuh tanpa ada yang tumpah!
Akan tetapi, setelah melihat bahwa anak muda itu dapat membawa air di pikulannya dengan baik dan tidak ada yang tumpah di jalan, gurunya lalu mencabut sebatang rotan yang tergabung di dalam pikulan itu!
Dan demikianlah, pada saat Kong Lee berhasil membawa air dengan selamat tanpa tumpah sedikitpun sampai ke kuil, guru yang aneh ini selalu mencabut sebatang rotan lagi hingga setahun kemudian, rotan yang berada dalam pikulan Kong Lee hanya tinggal beberapa belas batang saja!
Namun, berkat keuletan dan ketekunannya, anak muda itu sanggup memikul dua kaleng air itu dengan pikulannya yang makin mengecil ini dengan selamat, bahkan kini ia sanggup memikulnya sambil berlari-lari sedang air di dalam kaleng itu tidak tumpah setetespun!
Selain cara mengambil air yang aneh ini, juga dalam hal membelah kayu, gurunya mempunyai peraturan yang lebih aneh lagi. Entah untuk apa maka Kong Lee diperintahkan membelah kayu setiap hati sehingga belahan kayu menjadi bertumpuk- tumpuk di belakang kuil. Kayu yang dipilihnya adalah kayu yang terkenal keras dan ulet, sedangkan kapak yang digunakan adalah kapak tumpul yang sudah tua dan yang tadinya terletak di dapur kuil hingga mata kapak itu sudah berkarat!