Halo!

Pendekar Tongkat Dari Liong-san Chapter 10

Memuat...

Dengan gerak tipu Harimau Lapar Menerkam Kambing ia hantamkan tongkatnya ke arah leher nona itu, tapi dengan mudah saja gadis baju hijau itu mengelak sambil membentak dengan suaranya yang merdu, “Eh, eh, orang she Gan! Apakah pengemis busuk ini muridmu?” lalu ia balas menyerang yang juga dapat ditangkis oleh toya Kong Lee.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya anak muda itu ketika sebelum toyanya dapat membentur pedang nona itu, tiba-tiba ujung pedang berkelebat dengan sebuah putaran yang tak terduga sekali hingga tahu-tahu ujung pedang itu telah mengarah pundaknya. Sebelum hilang kagetnya, nona itu memiringkan pedangnya hingga ujung pedang hingga tidak menembus kulit dada Kong Lee tapi hanya menyambar bajunya dan dengan suara “brett!” pakaiannya telah terobek oleh ujung pedang sehingga nampaklah dadanya yang bidang!

Dan sebelum Kong Lee dapat bergerak lebih jauh tahu-tahu Kim-gan-eng Si Garuda Bermata Emas itu telah melompat maju dan tangan kirinya yang berkulit halus menepuk pundak Kong Lee yang telanjang. Seketika itu juga Kong Lee merasa seluruh tubuhnya lemas dan pandangan matanya berkunang-kunang lalu roboh tak sadarkan diri!

Ketika tak lama kemudian Kong Lee siuman kembali, ia teringat bahwa dalam dua jurus saja nona baju hijau itu telah merobohkannya!

Inilah orang yang dicari-carinya selama ini!

Nona baju hijau ini lebih ulung dan hebat daripada Thio Sui Kiat. Ia cepat bangun dan berpaling. Ternyata nona baju hijau yang hebat itu tengah berkelahi dengan Gan- piauwsu dan orang tua itu tampak terdesak sekali. Pada suatu saat, pedang di tangan nona itu berkelebat cepat sekali dan Gan Sin Hap sambil berteriak kesakitan melepaskan toyanya dan meloncat mundur. Tangan kanannya berdarah dan lengan itu telah terluka memanjang sehingga darah mengalir keluar banyak sekali!

“Ha, ha, hanya demikian saja kepandaianmu, orang she Gan. Nah, pelajaran ini harap kau buat sebagai tanda peringatan agar lain kali kau tidak menghina orang lain pula!” setelah berkata demikian, nona baju hijau itu meloncat ke atas tembok.

“Coa-lihiap, terima kasih atas kemurahan hatimu!” teriak Gan Sin Hap, tapi nona itu tidak menjawab, dan terus melompat menghilang.

Kong Lee cepat lari mengejar dan melompati tembok itu. “Li-hiap, tunggu ... ! Nona, tunggu sebentar ... !”

Kim-gan-eng Coa kIm Nio menahan kakinya dan menengok, Kong Lee lalu menjatuhkan diri berlutut di depan nona itu dan berkata memohon, “Li-hiap yang perkasa! Mohon kau sudi menerima aku sebagai murid!”

Nona baju hijau itu memandangnya dengan mata terbelalak heran lalu ia tampak marah.

“Hai, anak muda, jangan kau berlaku kurang ajar!” lagaknya seperti orang tua saja yang sedang memarahi seorang anak kecil.

“Li-hiap, aku tidak main-main. Dengan sungguh hati aku mohon diterima menjadi murid. Apapun yang li-hiap perintahkan tentu akan saya lakukan asal saya boleh belajar silat kepadamu.”

Tadinya Coa Kim Nio menduga bahwa anak muda itu hendak berlaku kurang ajar karena melihat kecantikannya, tapi melihat bahwa Kong Lee bersungguh-sungguh, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Kau hendak menjadi muridku? Cih! Tak tahu diri, mukamu kotor dan pakaianmu menjijikkan. Siapa sudi berkenalan dengan kau?” Setelah berkata demikian, Kim Nio menggerakkan tubuh melompat pergi dan gerakannya demikian cepat sehingga Kong Lee tak dapat mengejarnya, dan hanya berdiri melongo dengan hati kecewa. Baru sekarang, setelah lebih dari dua tahun merantau, ia bertemu dengan sorang yang dapat merobohkannya dalam dua jurus saja, tapi ia tidak diterima menjadi murid, bahkan dihina! Ia lalu teringat kepada Gan-piauwsu yang terluka, maka ia cepat kembali dan melompat pagar tembok itu. Di situ ia melihat Gan-piauwsu sedang membalut lengannya dengan sobekan pakaiannya.

“Bagaimana lukamu, Lo-enghiong?” tanya Kong Lee. Orang tua itu tersenyum.

“Memang hebat sekali Kim-gan-eng Coa Kim Nio. Untung sekali ia berlaku murah hati, kalau tidak, sedikitnya lenganku ini tentu telah terpotong oleh pedangnya. Ia sengaja memiringkan pedang sehingga aku hanya mendapat guratan dan terluka di kulit saja. Kalau Hek-ciu-mo Si Iblis Tangan Hitam yang datang sendiri, belum tentu aku dapat terlepas dari bahaya maut, karena suhengnya itu sangat kejam!”

“Apakah suhengnya memiliki kepandaian silat yang lebih hebat dari nona tadi?” tanya Kong Lee dengan kagum.

Gan Sin Hap menghela napas.

“Pada waktu ini banyak sekali terdapat orang-orang hebat, akan teatpi agaknya sukar mencari tandingan kedua orang itu!”

Dengan hati tetap kecewa karena tidak bisa mengangkat guru kepada nona yang ulung itu, Kong Lee lalu mengambil keputusan nekad. Ia hendak mencari Hek-ciu-mo Pauw Kian untuk mengangkat guru kepada Iblis Tangan Hitam itu. Maka ia lalu berpamit dan menuju ke bukit Kim-ke-san.

Ketika ia tiba di dusun kecil di kaki bukit Kim-ke-san, ia berhenti mengaso di sebuah kuil rusak. Di situ terdapat beberapa orang pengemis sedang beristirahat. Tubuh mereka kurus kering dan keadaan mereka sungguh menyedihkan. Akan tetapi yang mengherankan hati Kong Lee, seorang di antara mereka yang tertua dan paling kurus tubuhnya sehingga tulang-tulangnya yang menjenguk keluar dari lubang di bajunya tampak nyata sekali, sedang bernyanyi dengan suara parau dan wajah berseri-seri!

Pengemis-pengemis lain mengelilinginya dengan wajah gembira, agaknya mereka ini terhibur oleh suara nyanyian yang sama sekali tak dapat dikatakan merdu itu.

Kong Lee tidak memperhatikan mereka karena tubuhnya lelah sekali dan selain perutnya terasa lapar, ia juga mengantuk sekali karena semalam tadi ia sama sekali tidak dapat tidur memikirkan nasibnya!

Ia lalu duduk menyandarkan diri pada dinding kuil yang sudah bobrok agak jauh dari para pengemis yang sedang bersukaria itu. Teringatlah ia kepada ibunya dan tak terasa pula naik sedu sedan dari dadanya karena ia merasa bersedih. Telah dua tahun lebih ia pergi merantau meninggalkan ibunya yang sudah janda untuk memenuhi cita- cita ayahnya agar ia belajar dan menjadi orang pandai, tapi apa jadinya dengan dia?

Sebagai seorang pengemis terlantar! Apakah ia selamanya akan begini saja? Ia telah bersumpah bahwa kalau ia belum dapat belajar silat hingga kepandaiannya melebihi kepandaian Thio Sui Kiat, ia takkan mau kembali ke kotanya.

Ketika dua matanya telah ia pejamkan dan hampir saja ia tertidur, tiba-tiba ia mendengar suara hiruk-pikuk. Cepat ia membuka mata, ternyata kuil yang bobrok dan tua itu mengalami keruntuhannya dan pada saat itu sebuah tiang besar yang melintang di atas para pengemis itu telah patah karena ujungnya yang menyambung kepada tiang besar telah habis dimakan bubuk! Balok besar yang berat itu jatuh menimpa ke arah sekumpulan pengemis tadi!

Kong Lee terkejut sekali, tapi ia tak berdaya menolong, maka ia hanya memandang dengan hati penuh kengerian. Ia dapat membayangkan betapa tubuh-tubuh orang pengemis itu pasti akan hancur tertimpa balok. Tapi pada saat itu terjadi keanehan yang luar biasa. Pengemis tua renta yang kurus kering bagaikan kerangka itu dan yang tadi bernyanyi sambil memukul-mukulkan sebatang tongkat bambu ke atas lantai untuk memberi irama kepada lagunya, dengan tenang sekali mengangkat tongkat bambunya. Dengan ujung tongkat bambu ini pengemis itu menahan jatuhnya balik besar, lalu ia putar-putar tongkatnya hingga balik itupun ikut terputar-putar.

Kemudian dengan sekali menggerakkan tangan yang memegang tongkat, balok besar itu terlempar jauh ke depan kuil mengeluarkan suara keras sekali!

Semua pengemis bersorak girang dan berkata, “Bagus, bagus!” mereka menganggap itu sebuah permainan yang bagus sekali.

Akan tetapi Kong Lee yang bermata tajam dapat melihat betapa hebat tenaga dan ilmu kepandaian pengemis tua itu, maka ia maklum bahwa pengemis ini tentulah seorang yang berkepandaian tinggi. Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu berdiri dan menghampiri pengemis tadi. Akan tetapi, pengemis tua itu sudah bernyanyi lagi seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu dan sama sekali tidak mempedulikan kedatangan Kong Lee! “Orang tua yang gagah, aku orang muda mengharap dengan sangat sukalah kiranya kau memberi sedikit petunjuk tentang ilmu tongkat!” kata Kong Lee sambil menjura. Tapi pengemis itu tidak mempedulikan hingga ia ditegur oleh pengemis-pengemis lain yang mengatakan bahwa ada seorang muda mengajak ia bicara.

“Ah, dia adalah seorang pemuda yang sesat, yang hendak berguru kepada seorang perampok jahat, untuk apa kita berkenalan dengan dia?” pengemis tua itu berkata tanpa memandang kepada Kong Lee.

Terkejutlah anak muda itu mendengar ucapan ini. Bagaimana orang tua aneh bisa mengetahui maksudnya mencari Iblis Tangan Hitam untuk berguru? Akan tetapi, mendengar ucapan pengemis tua yang terus terang mencela dan menghinanya itu, timbul juga rasa ingin tahu di hatinya. Ia minta dengan baik-baik untuk menjadi murid, tapi jembel tua itu bahkan menghinanya.

Lagipula, apakah pengemis jembel ini akan dapat merobohkannya dalam tiga jurus? Kong Lee berdiri dan berkata, “Orang tua yang perkasa, kau memaki aku sebagai seorang sesat, apakah kau dapat merobohkan aku dalam tiga jurus?”

Pengemis itu tertawa, “Apa susahnya merobohkan orang seperti kau? Untuk merobohkan orang yang keras kepala, sejurus saja sudah cukup!”

Hati Kong Lee merasa panas karena ia anggap pengemis tua yang bertubuh kurus kering itu terlalu sombong.

“Berdirilah dan coba jatuhkan aku dalam satu jurus saja,” tantangnya sambil memutar-mutar toyanya.

Tapi jembel tua itu masih saja duduk di atas lantai sambil tersenyum menghina. Pengemis-pengemis lain melihat betapa Kong Lee memutar-mutar toyanya dengan gerakan yang kuat dan cepat sekali, hingga mereka menjadi kagum dan berkata kepada jembel tua itu.

“Awas, Lo-kai (pengemis tua), anak muda ini hebat sekali!”

Akan tetapi kini pengemis tua itu tertawa bergelak-gelak, kemudian dengan tiba-tiba sekali tubuhnya yang kurus melompat ke arah Kong Lee yang masih memutar-mutar toyanya. Sekali ia gerakkan tongkat bambunya, maka terdengar suara benturan keras dan toya Kong Lee terlempar jatuh!

Entah apakah yang telah terjadi. Kong Lee hanya merasa betapa toyanya terbentur dengan tenaga yang luar biasa sekali hingga ia tak kuasa memegangnya lagi. Benar saja, dalam satu jurus saja toyanya telah terlempar!

Post a Comment