Halo!

Pendekar Tongkat Dari Liong-san Chapter 09

Memuat...

“Ha, ha! Sungguhpun kau aneh, tapi kau jujur dan keras hati, anak muda. Soal syarat- syarat itu mudah, sekarang coba hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu!” Kong Lee lalu mengikuti guru silat itu menuju ke lian-bu-thia tempat berlatih silat.

Setelah tiba di situ, Tan-kauwsu lalu memasang kuda-kuda dan berkata, “Nah, maju dan seranglah, anak muda!”

Tapi Kong Lee menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak demikian maksudku, Tan- kauwsu. Aku tak hendak menyerangmu dengan toyaku ini dan kau boleh mengusahakan senjata apa saja untuk melayaniku, atau lebih tepat kau seranglah aku dengan senjata apa saja sedangkan aku hendak membela diri dengan toya ini.” Kembali Tan Ngo tertawa lebar dan ia lalu mengambil sebuah golok putul yang biasa dipakai berlatih dari rak senjata. “Kalau demikian maksudmu, baiklah. Bersiaplah aku hendak mulai menyerang!” Dengan hati gembira Kong Lee lalu menggerakkan tongkatnya dan memutarnya dengan gerakan Bendungan Baja Menahan Banjir untuk melindungi seluruh tubuhnya. Perlu diketahui bahwa anak muda ini telah berkali-kali menghadapi guru- guru silat yang pandai dan selama perantauannya yang dua tahun lamanya itu ia telah memperoleh pengalaman banyak dan ilmu silatnya telah banyak mendapat kemajuan pula, maka kini gerakannya lebih cepat dan kuat sehingga toyanya berputar-putar menyelimuti tubuhnya dan agaknya memang sukar untuk diserang. Kalau orang memercikkan air ke arah pemuda itu, maka sedikitpun takkan dapat membasahi tubuhnya karena tertahan oleh putaran toya yang telah merupakan dinding baja yang kuat!

Melihat permainan toya anak muda itu, Tan Ngo menjadi terkejut sekali karena tak disangkanya bahwa anak muda jembel ini telah memilki kepandaian sehebat itu. Ia maklum bahwa tidak mungkin baginya untuk dapat mengalahkan anak muda itu hanya dalam tiga jurus saja. Akan tetapi karena merasa telah berjanji, terpaksa Tan Ngo mulai menyerang dengan hebat, mengeluarkan ilmu goloknya yang hebat.

Pertama-tama ia menyerang dengan gerak tipu Hong-sauw Pai=yap atau Angin Sapu Daun Rontok. Ketika goloknya terpukul kembali oleh toya Kong Lee, guru silat itu lalu menyerang untuk kedua kalinya dengan tipu Hong-cui Pai-hio atau Angin Tiup Daun Tua. Akan tetapi, kembali goloknya tak dapat menembus bentang baja yang melindungi tubuh Kong Lee. Tan Ngo mulai merasa panas dan ia lalu mengeluarkan ilmu golok Lo-han-to dari cabang Siauw-lim. Ilmu golok ini memang hebat akan tetapi sampai sepuluh jurus lebih belum juga ia dapat menembus pertahanan Kong Lee!

“Sudahlah, kauwsu, sudahlah ... ” kata Kong Lee dengan kecewa, karena seperti guru- guru silat yang lain, Tan Ngo inipun tidak mampu menjatuhkannya dalam tiga jurus! Tapi Tan Ngo yang merasa panas sekali, terus saja menyerang sehingga terpaksa Kong Lee melayaninya dengan sepenuh tenaga. Setelah mereka bertempur sampai lima puluh jurus barulah Tan Ngo berhasil membabat lengan Kong Lee dengan golok tumpulnya sehingga anak muda itu merasa kesakitan dan terpaksa ia melepaskan tongkatnya. Kong Lee menggosok-gosok lengannya yang terpukul golok dan kulit lengannya menjadi matang biru hingga ia meringis-ringis kesakitan. Kalau golok itu tajam, tentu sebelah lengannya telah putus!

“Tan-kauwsu, mengapa kau menyerang terus?” tanya Kong Lee sambil menggosok- gosok lengannya.

Tan Ngo menghela napas.

“Anak muda, terus terang saja kukatakan bahwa ilmu toyamu sudah cukup hebat. Kau mencari orang yang dalam tiga jurus dapat mengalahkan ilmu toyamu itu, kukira biarpun kau menjelajahi seluruh negeri, kau tak mungkin akan menemukan orang itu!”

Kong Lee memungut toyanyaa lalu berkata, “Kau tidak tahu, Tan-kauwsu. Ada orang yang dengan mudah sekali dapat mengalahkan ilmu toyaku ini dalam tiga jurus!” kemudian ia menjura dan menyeret tongkatnya keluar dari tempat itu.

Biarpun lengan tangannya masih terasa sakit sekali, namun Kong Lee terus saja mencari guru silat kedua yang bernama Oei Sin. Juga guru silat ini tidak dapat mengalahkannya dalam tiga jurus, bahkan setelah bertempur seratus jurus, belum juga Oei Sin dapat merobohkannya. Maka dengan jengkel sekali Kong Lee meloncat mundur dan pergi dari situ. Kalau saja lengan tangannya tidak kena pukul oleh Tan Ngo tadi, agaknya ia bahkan akan dapat merobohkan Oei Sin!

Hatinya jengkel dan kecewa sekali karena di dalam kota sebesar Kwi-teng ini hanya ada guru-guru silat serendah itu. Pengharapannya kini tinggal pada orang ketiga yang dianggap gagah perkasa di kota itu, yakni Gan-piauwsu. Ketika Kong Lee tiba di rumah piauwsu itu, kebetulan Gan-piauwsu berada di rumah dan tidak sedang mengantar barang kiriman. Ia lalu dipersilakan masuk dan ketika Gan-piauwsu mendengar bahwa anak muda ini hendak mengajak pibu, ia lalu mengajak Kong Lee masuk ke dalam kebun bunganya di belakang rumah yang cukup luas dan dikelilingi pagar tembok.

Gan-piauwsu adalah seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun, tapi tubuhnya masih tegap dan kuat dan sikapnya peramah. Ternyata piauwsu ini sudah mempunyai banyak sekali pengalaman karena sudah dua puluh tahun menjalankan pekerjaan mengantar kiriman barang-barang berharga, ia telah mengalami banyak sekali pertempuran dan bentrokan-bentrokan dengan para penjahat yang hendak merampas barang-barang berharga yang berada di bawah tanggung jawabnya itu. “Anak muda, hatimu keras sekali,” katanya ketika mendengar penuturan Kong Lee betapa telah dua tahun lebih ia berkelana mencari guru. “Kalau sampai selama itu belum ada orang yang mampu menjatuhkanmu dalam tiga jurus, maka tentu kepandaianmu sudah lumayan juga. Aku sendiri tidak mempunyai murid, dan agaknya akan senang hatimu kalau aku dapat merobohkanmu dalam tiga jurus, karena kau selain akan menjadi murid, juga dapat kuharapkan menjadi pembantuku yang kuat!”

Memang dengan pandang matanya yang tajam, Gan Sin Hap ini telah maklum bahwa anak muda di hadapannya mempunyai bakat yang baik sekali serta memiliki semangat yang besar. Oleh karena merasa suka kepada pemuda ini, maka sebelum mereka mengukur kepandaian, Gan-piauwsu memerintahkan pelayannya untuk menjamu makan kepada Kong Lee, hingga anak muda ini merasa berterima kasih sekali kepada piauwsu yang baik hati ini.

Hari telah sore ketika mereka berdua memasuki taman untuk mulai mencoba ilmu kepandaian, Gan-piauwsu memegang sebatang toya kuningan untuk melayani tongkat Kong Lee.

“Nah, hati-hatilah, anak muda, aku hendak mulai menyerang dengan jurus pertama,” katanya.

Kong Lee telah siap sedia dan ia mainkan toyanya dengan cepat. Seperti guru-guru silat yang pernah didatangi Kong Lee, Gan-piauwsu kagum melihat permainan toya anak muda itu dan merasa bahwa iapun tak sanggup menjatuhkan dalam tiga jurus. Demikianlah, tiga jurus telah dimainkan dan Kong Lee hanya merasa tiga kali gempuran yang menyebabkan kedua tangannya merasa gemetar karena kerasnya sambaran toya orang tua itu, akan tetapi belum cukup untuk menjatuhkannya. Pada jurus kelima, Gan-piauwsu melompat mundur dan menyimpan toyanya.

“Anak muda, ilmu toyamu sudah cukup baik, hanya perlu diperdalam dengan latihan- latihan saja. Kalau kau suka, aku akan merasa girang sekali memberi petunjuk- petunjuk padamu dan kau boleh bekerja di sini, mewakili aku mengantar barang- barang pada jarak dekat.”

“Terima kasih banyak atas budi kebaikanmu, Lo-enghiong,” kata Kong Lee. “Tapi bukan itu cita-citaku.”

Pada saat anak muda itu hendak mengundurkan diri dan pergi, tiba-tiba dari atas pagar tembok terdengar bentakan nyaring dan halus, “Orang she Gan! Akhirnya aku dapat menemukan kau!”

Bentakan itu disusul dengan melayangnya bayangan seorang gadis berpakaian hijau dari atas tembok dengan gerakan yang ringan dan gesit sekali. gadis baju hijau itu memegang sebatang pedang di tangannya dan sekali lompat saja ia telah tiba di depan Gan-piauwsu dan Kong Lee. Gadis itu cantik sekali dan matanya menyatakan bahwa ia sangat cerdik, tapi sinar matanya itu membayangkan kegenitan. Ia mengerling sekilas kepada Kong Lee dan mulutnya terenyum manis. Kemudian ia menghadapi Gan-piawsu dan bertolak pinggang dengan sikap menantang.

Melihat gerakan-gerakan ini, Gan-piauwsu maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang yang berkepandaian tinggi, maka ia lalu memberi hormat dan bertanya, “Harap aku orang tua dimaafkan karena tidak mengenal Li-enghiong yang telah sudi mengunjungi tempatku yang buruk ini.”

“Gan Sin Hap, mana kau kenal aku? Kalau kau kenal aku, tentu ketika lewat di bukit Kim-ke-san kau takkan lewat begitu saja, bahkan telah melukai beberapa orang dari anak buah suhengku.”

Terkejutlah Gan Sin Hap mendengar ini. Pada beberapa bulan yang lalu, ia memang mengantar barang kiriman berharga melewati gunung Kim-ke-san dan di situ ia telah diserang oleh beberapa orang perampok yang dapat dipukulnya mundur. Akan tetapi, ketika ia telah turun dari bukit itu, ia mendengar dari seorang kenalan bahwa tai-ong (raja perampok) dari bukit itu adalah Pauw Kian yang berjuluk Iblis Tangan Hitam, seorang perampok yang amat terkenal dan ditakuti orang karena selain berkepandaian tinggi, juga berhati kejam. Ia merasa menyesal sekali karena daripada bermusuhan dengan orang ini, jauh lebih baik kalau sebelum lewat di situ, ia mengunjunginya terlebih dahulu sebagai kunjungan kehormatan dan mengirim bingkisan untuk belajar kenal. Kini sudah terlambat dan bentrokan telah terjadi, maka apa boleh buat, ia hanya menanti dengan waspada dan hati-hati.

Ternyata kini yang datang adalah sumoi dari Iblis Tangan Hitam itu dan iapun sudah mendengar akan kehebatan Kim-gan-eng atau Garuda Bermata Emas, yakni julukan gadis baju hijau ini yang bernama Coa Kim Nio.

Akan tetapi piauwsu tua itu dapat menenangkan hatinya dan ia berkata, “Ah, kiranya Coa-lihiap yang datang. Maaf bahwa aku orang tua tidak mengetahui lebih dulu dan tidak siang-siang mengadakan penyambutan sebagaimana layaknya.”

“Orang she Gan! Janganlah banyak menggunakan kata-kata halus untuk menenangkan keadaan. Tahukah kau akan dosa-dosamu?” gadis cantik itu membentak sambil menuding dengan pedangnya.

Melihat kegalakan gadis itu, diam-diam di dalam hati Kong Lee timbul niat hendak membantu tuan rumah yang peramah, karena ia tidak suka akan sikap gadis itu, walaupun kecantikannya memang mengagumkannya.

“Coa-lihiap, kau tentu maksudkan peristiwa perampokan di bukit Kim-ke-san itu, bukan? Harap dimaafkan karena sesungguhnya pada waktu itu aku sama sekali tidak menyangka bahwa yang menjadi pemimpin adalah suhengmu yang gagah perkasa. Dan anak buah suhengmu itu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk mencegah terjadinya pertempuran. Akan tetapi, aku orang tua memang tidak suka menanam permusuhan. Kalau saja kau dan suhengmu dapat memberi maaf, aku Gan Sin Hap bersedia menganti kerugian yang diderita oleh anak buah suhengmu itu!”

“Enak saja kau bicara! Setelah kau menghina kami, apakah kami mau melepaskan kau begitu saja? Sampai di manakah kepandaianmu maka kau berani berlagak? Ambil senjatamu kalau kau memang seorang ksatria, jangan hanya berani berlagak di depan anak buah kami yang tak berkepandaian!”

Kong Lee tak dapat menahan kesabarannya lagi, sambil memutar tongkatnya ia maju menyerang sambil membentak, “Dari mana datangnya perempuan hutan yang kurang ajar?”

Post a Comment