Tiba-tiba nyonya ini teringat akan suaminya dan tak tertahankan pula ia menangis tersedu-sedu sambil menggunakan kedua tangan nya menutupi mukanya.
Melihat ini, Thio Sui Kiat lalu mengundurkan diri dan membiarkan isterinya menghibur nyonya yang sedang bersedih itu. Nyonya Thio pun lalu memeluk pundak tamunya dan membawanya ke kamar di mana Thio-hujin menghibur tamunya dengan kata-kata halus. Karena hari telah menjadi gelap, maka malam itu Kwee Cin Hwa bermalam di situ, dijamu dan dilayani oleh tuan dan nyonya rumah dengan hormat dan ramah sekali sehingga nyonya janda ini merasa berterima kasih dan terharu.
Sebagai jawaban atas usul perjodohan yang diajukan oleh keluarga Thio, Nyonya Lim Ek berkata, “Budi kalian sungguh besar sekali hingga aku merasa malu untuk menerimanya. Orang macam apakah anakku itu dan keluarga apakah kami ini hingga kalian memberi kehormatan sebesar itu dan sudi menerima Kong Lee sebagai menantu? Ah, bagaimana aku bisa menolak dan tidak menyetujuinya? Puterimu demikian cantik jelita dan pandai, sedangkan kalian begini manis budi dan hartawan besar. Akan tetapi, biarpun aku sendiri menyetujui sepenuhnya atas usul kalian ini, aku harus bertanya dulu kepada puteraku Kong Lee!”
Thio Sui Kiat dan isterinya membenarkan pernyataan ini dan sementara ini, sebelum mendapat keputusan tetap, maka kedua anak itu akan dianggap calon tunangan dulu dan sebelum ada keputusan maka kedua pihak takkan mengikat anak masing-masing dengan tali perjodohan lain.
Dengan membawa kesan yang mendalam akan kebaikan dan keramahan keluarga Thio, nyonya janda itu pulang ke Bi-ciu dengan hati girang dan ia mengambil keputusan hendak membujuk Kong Lee supaya suka menerima ikatan jodoh dengan Thio Eng itu. Akan tetapi, ketika ia tiba di rumah, ternyata Kong Lee tidak ada di situ! Anak muda itu benar telah pulang, akan tetapi hanya untuk meninggalkan surat yang menyatakan bahwa ia hendak pergi merantau mencari guru yang pandai sehingga cita- cita almarhum ayahnya tercapai, yakni hendak belajar sampai menjadi seorang pandai yang tidak hanya memiliki kepandaian serba tanggung-tanggung!
Tentu saja Kwee Cin Hwa hanya menghela napas dan berdoa semoga perantauan anaknya itu takkan memenuhi rintangan sehingga tercapai cita-citanya.
-***-
Dengan membawa perbekalan tipis tapi dengan semangat dan ketabahan besar sekali, Kong Lee mulai dengan perantauannya. Banyak tempat dikunjungi dalam perantauannya yang tidak mempunyai tujuan tertentu ini, dan setiap kali masuk ke dalam sebuah kota, tentu ia mencari guru silat terpandai di kota itu. Lalu ia sengaja mengajak pibu!
Ia hendak mencari seorang guru silat yang dapat merobohkannya dalam pertempuran kurang dari tiga jurus!
Karena dalam pikirannya, jika ada seorang guru silat yang mampu mengalahkannya dalam pertandingan kurang dari tiga jurus, maka berarti bahwa kepandaian guru silat itu lebih tinggi dari kepandaian Thio Sui Kiat yang baru bisa mengalahkannya setelah bertanding selama tiga jurus!
Akan tetapi ternyata ia mengalami kekecewaan, karena setiap guru silat yang ditemuinya, tidak ada yang dapat merobohkannya kurang dari tiga jurus! Ilmu toyanya telah cukup kuat dan hebat. Telah ada beberapa orang guru silat yang roboh olehnya! Hal ini membuat Kong Lee merasa kecewa sekali dan makin kagumlah ia akan kepandaian Thio Sui Kiat. Mulai timbul penyesalan dalam hatinya mengapa ia dulu tidak mau menerima ketika orang she Thio yang hebat itu hendak mengambil ia sebagai murid.
Beberapa bulan kemudian habislah segala perbekalannya, bahkan untuk dapat mengisi perutnya, terpaksa ia menjual pakaiannya yang masih baik dan menukarkannya dengan pakaian yang buruk. Akan tetapi uang hasil penjualan pakaian inipun habis dimasukkan perut dan kini ia tak memegang uang sedikitpun. Terpaksa ia mencari pekerjaan ke sana kemari, tapi pada waktu itu, di Tiongkok terdapat ratusan tibu orang yang bergelandangan tanpa pekerjaan tetap karena sukarnya mencari pekerjaan! Kong Lee menjadi bingung. Tak disangkanya bahwa untuk mengisi perut saja demikian susahnya! Terpaksa ia selalu menahan laparnya dan pada saat ia tak kuat menahan lagi, ia lalu menebalkan muka dan minta belas kasihan orang. Ia menjadi pengemis!
Namun berkat tenaganya yang besar, dapat juga Kong Lee membantu pekerjaan orang-orang, pekerjaan berat yang hanya menghasilkan sedikit uang untuk makan. Akan tetapi, karena memang bukan cita-citanya untuk tinggal di suatu tempat dan bekerja di situ, ia selalu tidak dapat tinggal lama di sesuatu tempat dan melanjutkan perantauannya lagi. Dan kebiasaannya untuk mengunjungi jago-jago silat guna mencari guru masih harus dilanjutkan sehingga lambat laun namanya menjadi terkenal!
Bukan terkenal karena kehebatannya, akan tetapi terkenal sebagai seorang anak muda yang aneh dan berani dan yang selalu mengajak pibu kepada setiap orang yang dianggapnya mengerti ilmu silat! Banyak guru silat yang melihat keuletan dan bakat baik yang ada pada dirinya, hendak mengambil ia sebagai murid, tapi karena guru- guru silat itu tidak dapat menjatuhkannya kurang dari tiga jurus, Kong Lee hanya mengucapkan terima kasih dan selalu menolak.
Kemudian ia mendengar bahwa di daerah barat banyak terdapat ahli silat, maka ia memutuskan untuk melanjutkan perantauannya ke daerah barat.
Pada suatu hari, Kong Lee tiba di kota Kwi-teng, sebuah kota yang besar. Ia kemudian mencari keterangan tentang siapa saja guru silat di kota itu dan juga orang- orang yang ahli silat. Setelah mendapat keterangan, iapun memutuskan untuk mengunjungi Tan-kauwsu.
Ketika sampai di depan bu-koan milik Tan-kauwsu, ia dihadang oleh seorang penjaga pintu yang sombong.
Penjaga pintu itu ketika melihat seorang pengemis muda datang menghampiri bu- koan milik majikannya, memandang rendah kepada orang itu, lalu menghardik si pengemis itu dan bertanya apa keinginannya berkunjung ke tempat itu.
“Aku ingin bertemu dan mengajak Tan-kauwsu untuk berpibu!” kata si pengemis itu. “Ha-ha-ha, jembel busuk, kurang ajar kau! Majikanku adalah seorang yang terkenal, dan orang seperti kau ini mengajak dia pibu? Ha, ha! Dengan penjaga pintunya saja tak mungkin kau dapat menang.”
Kini Kong Lee menganggap bahwa orang ini keterlaluan dan patut diberi hajaran agar lain kali jangan berani mengganggu orang lagi.
“Ah, kalau begitu aku berhadapan dengan seorang penjaga pintu yang hebat ilmu silatnya? Maaf, maaf, aku berlaku kurang hormat!” kata Kong Lee sambil memandang tubuh orang yang tinggi besar yang agaknya bertenaga besar pula.
Penjaga pintu itu memang pernah belajar silat maka ia sangat girang mendengar pujian ini, apalagi melihat ada beberapa orang melihat peristiwa ini.
“Maka jangan kau berani main gila di sini dan lekaslah kau pergi sebelum kepalan loyamu (tuan besarmu) menghajar kau!” katanya tekebur.
“Aku sudah datang di sini dan memang aku ingin sekali mencoba kepalan tangan orang. Cobalah kau jatuhkan kepalanmu yang besar itu kepadaku.” Kong Lee menantang dengan sikap sabar.
Penjaga pintu itu marah sekali.
“Kau agaknya sudah bosan hidup!” kata-kata ini disusul dengan ayunan kepalan tangannya yang besar, menghantam dada Kong Lee. Anak muda ini dengan tenang lalu mengerahkan lwee-kangnya dan memusatkan tenaganya di tempat yang menerima pukulan.
“Dukk!”
Pukulan itu tepat menghantam dada, tapi Kong Lee masih berdiri tetap bagaikan tak merasakan sesuatu. Sebaliknya penjaga pintu itu meringis-ringis dan mengaduh-aduh sambil memegangi kepalan tangannya yang sakit. Ternyata kepalan tangannya telah menjadi merah biru dan bengkak.
Orang-orang yang menonton peristiwa itu tertawa geli dan penjaga pintu itu memaki- maki Kong Lee tanpa berani mencoba untuk menyerang lagi!
Mendengar ramai-ramai itu, dari dalam rumah keluar seo rang setengah tua yang bertubuh pendek, tapi bersikap gagah. Melihat keadaan tangan pelayannya dan mendengar ceritanya bahwa anak muda yang berdiri di depannya ini yang melakukannya, orang itu memandang anak muda itu dengan pandangan mata tajam dan menyelidik.
“Siapakah kau anak muda dan apa maksudmu datang di sini dan berbuat keributan ini?” tanyanya.
“Saya bernama Lim Kong Lee dan saya datang hendak bertemu dengan Tan-kauwsu dan mengajaknya untuk berpibu. Adapun tentang keributan itu, saya tidak bermaksud membuat keributan, tapi penjaga pintu itu terlalu sombong dan telah menghinaku, maka aku hanya memberi sedikit pelajaran kepadanya,” kata Kong Lee sambil memberi hormat.
“Lim Kong Lee, akulah yang bernama Tan-kauwsu dan engkau hendak mengajakku berpibu bagaimana? Apakah syaratnya?” tanya orang tua itu yang ternyata adalah Tan-kauwsu sendiri.
“Syaratku hanyalah kalau kauwsu dapat mengalahkan saya kurang dari tiga jurus, saya bersedia menjadi murid dari kauwsu,” kata Kong Lee.
“Ha-ha, anak muda, kau yang mempunyai syarat seberat itu! Ha, ha, ha! Dan, kalau aku sampai dapat merobohkanmu sebelum tiga jurus, dan kau hendak berguru kepadaku, kau dapat membayar berapa?”
“Siauw-te seorang miskin dan tidak kuat membayar dengan uang. Akan tetapi, siauw- te akan melakukan apa saja perintah kauwsu untuk diterima sebagai murid dan siauw- te tunduk terhadap segala macam syarat yang ada, kecuali membayar uang!”