Halo!

Pendekar Tongkat Dari Liong-san Chapter 07

Memuat...

Muka Kong Lee menjadi merah mendengar ucapan orang tua yang menyatakan bahwa pikirannya dapat dibaca oleh Thio Sui Kiat, tapi ia heran mendengar kata-kata terakhir seakan-akan orang tua itu hendak memberi pelajaran silat kepadanya! Akan tetapi, benar ia berlaku hati-hati sekali dan memutar-mutar toyanya dengan gerakan yang lebih cepat lagi.

“Awas serangan pertama!” tiba-tiba Thio Sui Kiat berseru dan sebatang kayu di tangannya itu meluncur cepat sekali seakan-akan hendak menerobos bendungan baja yang dibuat oleh putaran toya Kong Lee!

Anak muda itu mengerahkan tenaganya dan menangkis. Kedua telapak tangannya tergetar oleh tenaga yang keluar dari kayu itu, akan tetapi ia mempererat pegangannya hingga kayu itu, dapat tertangkis ke atas!

“Bagus!” Thio Sui Kiat memuji, tapi bersamaan dengan terpentalnya kayu di tangannya itu ke atas, tubuhnya juga ikut melayang ke atas dan dari atas, orang tua itu berseru, “Awas serangan kedua!” dan tubuh itu menyambar turun dengan ujung kayunya meluncur hendak menotok pundak Kong Lee!

Anak muda itu terkejut sekali karena memang gerakan Bendungan Baja Menahan Banjir hanya digunakan untuk melindungi sekeliling tubuh, tapi tidak melindungi kepalanya dari serangan yang dilakukan dari atas! Ia lalu menggulingkan tubuh ke samping dan memutar toyanya ke atas sehingga sekali lagi ia dapat menyelamatkan diri!

“Pandai sekali kau, Hian-te!” Thio Sui Kiat memuji lagi dan dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa sekali, tahu-tahu orang tua itu telah berada di sebelah kiri Kong Lee!

“Awas serangan ketiga!” teriaknya dan kayu di tangannya kini menyerang dari kiri dengan gerakan memutar, Kong Lee yang sudah merasa girang karena dapat menyelamatkan diri dari dua buah serangan dan kini hanya tinggal asatu serangan lagi untuk mendapatkan kemenangan, segera memutar toyanya menangkis serangan yang agaknya lambat sekali datangnya itu!

Tapi ketika toyanya menempel tongkat kayu di tangan Thio Sui Kiat tiba-tiba ia terkejut sekali karena kayu itu lalu berputar cepat dan toyanya tak tertahan lagi ikut terputar-putar dan ia tidak kuat lagi menahan pegangannya karena kedua tangannya pun ikut terputar! Toyanya lalu terlepas dan terpental ke udara dalam keadaan masih terputar-putar, tapi disambut oleh Thio Sui Kiat dengan tersenyum!

“Nah, Hian-te, sekarang bagaimana pendapatmu?”

Setelah berdiri melongo untuk beberapa lamanya, dengan kagum sekali anak muda itu menjura.

“Lo-enghiong, ilmu toyamu memang benar-benar luar biasa. Tidak heran kalau almarhum ayahku pernah jatuh di tanganmu! Aku masih bodoh sekali dan biarlah lain kali kalau sudah belajar lagi, aku akan kembali ke sini untuk minta pelajaran lebih jauh!”

Terkejutlah hati Thio Sui Kiat mendengar ini. Benar-benar anak muda ini keras hati dan masih belum puas sehingga masih mengandung maksud hendak membalas kelak setelah menambah ilmunya!

Buru-buru ia berkata, “Lim-hiante, ayahmu adalah seorang gagah perkasa dan aku kenal baik kepadanya. Kalau saja kau ingin belajar ilmu toya, aku bersedia untuk memberi pelajaran kepadamu. Percayalah, dengan menjadi muridku dan menerima pelajaran dariku, kau akan menjagoi di seluruh propinsi dan jarang mendapat tandingan! Aku akan mengajarkan semua kepandaianku kepadamu.”

Kong Lee merasa terharu sekali. Tak ia sangka sama sekali bahwa orang yang pernah merobohkan ayahnya demikian baik hatinya kepadanya.

Ia menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum.

“Terima kasih banyak atas budi kecintaan Lo-enghiong. Tapi maafkan karena saya tidak dapat menerima tawaran Lo-enghiong dan saya tidak berani mengganggu lebih jauh. Harap Lo-enghiong tidak salah paham, bukan sekali-kali maksudku hendak membalas dendam karena sekali-sekali saya tidak menyimpan dendam atau sakit hati terhadap Lo-enghiong. Saya hanya ingin sekali memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari Lo-enghiong dan menebus kekalahan ayah yang dulu. Hanya itu saja dan sekali- kali saya tidak bermaksud buruk. Sekali lagi maaf, Lo-enghiong, dan sampai bertemu pula beberapa tahun kemudian!” setelah berkata demikian anak muda itu melangkah pergi dengan langkah lebar.

Thio Sui Kiat berdiri tercengang karena ia sama sekali tidak menyangka bahwa anak muda itu akan menolak tawarannya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas.

“Ayah, untuk apa orang yang kurang ajar seperti dia itu diberi hati? Kulihat ia sama sekali tidak memandang hormat kepada kita!” tiba-tiba Thio Eng berkata marah.

Ayahnya hanya memandang puterinya dengan senyum sedih, lalu berkata, “Anakku, kau tidak tahu bahwa ayahnya dulu meninggal dunia karena malu dan sakit hari setelah kurobohkan di depan orang banyak!”

“Tapi, bukankah telah ayah katakan bahwa ayah dapat mengalahkan ayahnya dalam sebuah pibu yang adil?” bantah anaknya.

Thio Sui Kiat mengangguk-angguk dan menghela napas lagi.

“Memang ... memang ... tapi aku dulu tekebur sekali ... ah, kau mau tahu? Aku merasa kasihan kepada anak muda itu. Ia berbakat baik ... ”

Dan pada sore hari itu, pada saat Thio Sui Kiat sedang duduk termenung memikirkan Kong Lee, tiba-tiba pelayannya memberitahukan bahwa di luar ada seorang tamu wanita. Thio Sui Kiat segera keluar dengan heran karena menduga bahwa tamu wanita itu katanya minta bertemu dengan dia!

Wanita siapakah yang hendak bertemu dengan dia? Sungguh hari ini banyak terjadi hal-hal yang mengherankan!

Ketika ia keluar, ia berhadapan dengan seorang wanita setengah tua yang cantik dan gagah. Dari pakaiannya yang ringkas ia maklum bahwa wanita ini tentu seorang ahli silat, maka ia segera mengangkat kedua tangan memberi hormat yang dibalas sepantasnya pula oleh nyonya itu.

“Siapakah Li-enghiong dan ada keperluan apa?” tanyanya.

“Thio-taihiap, lupakah kau kepadaku? Aku adalah Kwee Cin Hwa, janda dari Lim Ek!”

Terkejutlah Thio Sui Kiat mendengar bahwa ia berhadapan dengan ibu anak muda yang siang tadi mengunjunginya. Apakah artinya ini semua? “Lim-toanio, apakah kau juga berpemandangan singkat seperti anakmu?” tanyanya kemudian.

Muka nyonya itu tampak berubah terang.

“Ah, jadi benar-benar Kong Lee datang ke sini? Thio-taihiap, di manakah anakku?” Melihat bahwa kedatangan nyonya itu hanya untuk mencari anaknya, Thio Sui Kiat menjadi sabar kembali dan ia persilakan nyonya itu masuk ke dalam. Thio Sui Kiat lalu memanggil isterinya dan memperkenalkan Nyonya Lim Ek sebagai ibu Kong Lee, karena tadi ia telah berbicara dengan isterinya perihal pemuda itu. Nyonya Thio yang peramah dan terpelajar itu menarik hati Nyonya Lim.

Kemudian, setelah Thio Eng mengeluarkan air teh yang dibawa oleh seorang pelayan, Thio Sui Kiat lalu menceritakan tentang kedatangan Kong Lee. Ia ceritakan pula bahwa ia tadinya hendak mengambil anak itu sebgai muridnya, tapi agaknya anak muda yang keras hati itu tidak suka menjadi muridnya.

“Aku merasa menyesal sekali, Lim-toanio, bahwa anakmu itu agaknya menaruh dendam dan ingin sekali mengalahkan aku. Ia berjanji hendak kembali dan mengajak pibu lagi setelah ia belajar lagi beberapa tahun! Hal ini sungguh-sungguh membuat aku merasa menyesal sekali!”

Nyonya Lim menghela napas.

“Saya sendiripun tidak tahu akan kepergiannya ke sini, karena ia pergi tanpa pamit. Aah, memang anak itu berhati keras seperti ayahnya ... akan tetapi, saya merasa bersukur sekali bahwa Thio-taihiap sudi memberi pelajaran kepadanya dan suka memaafkan kekurang ajarannya.”

Melihat bahwa nyonya ini tidak menaruh dendam kepadanya, hati Thio Sui Kiat merasa terharu sekali dan juga girang karena ia menganggap wanita ini berhati bijaksana. Ia lalu memberi isyarat dengan mata kepada isterinya, dan isterinyapun mengerti akan tanda ini, karena tadi ia telah bicara banyak sekali tentang diri Kong Lee dengan suaminya. Biarpun ia sendiri belum melihat anak muda itu, tapi ia percaya kepada suaminya yang memuji-muji Kong Lee.

“Cici yang baik,” katanya kepada Nyonya Lim. “Berapa tahunkah usia puteramu itu?” Karena menyangka ahwa pertanyaan ini bersifat biasa saja sebagai percakapan antara nyonya rumah dan tamunya, ia menjawab bahwa anaknya itu berusia tiga belas tahun. “Apakah anakmu itu sudah kau tunangkan dengan nona lain?” tanyanya.

Mendengar pertanyaan ini, barulah Kwee Cin Hwa merasa terkejut dan memandang dengan heran sambil menggelengkan kepala.

“Jangan terkejut, cici. Ketahuilah, suamiku dan aku merasa suka sekali kepada puteramu itu, dan karena kamipun hanya mempunyai seorang puteri yang telah berusia dua belas tahun dan belum ditunangkan, maka kami telah mendapat pikiran untuk menjodohkan anak kami yang bodoh itu dengan putera cici. Bagaimanakah pendapatmu, cici?”

Untuk beberapa lama Kwee Cin Hwa tak dapat menjawab. Hal ini sungguh-sungguh sama sekali tak pernah disangkanya!

Kalau dulu ia merasa benci melihat kesombongan Thio Sui Kiat, sekarang ia melihat betapa orang she Thio itu sopan santun, ramah dan pada mukanya terbayang sifat-sifat sabar. Karena keramahan Nyonya Thio ini, hatinya telah dapat ditundukkan dan merasa suka sekali. Tadipun ia telah melihat Thio Eng yang selain cantik, juga bersikap sopan dan sekali pandang saja ia maklum bahwa gadis itu tentu memiliki kepandaian silat yang tinggi. Kini orang yang dulu menghina suaminya, orang yang memiliki kepandaian tinggi, hartawan dan mempunyai sebuah gedung dengan perabotnya serba indah ini, hendak mengambil anaknya sebagai menantu?

Benar-benar Nyonya Lim tak dapat menjawab karena hatinya berdebar-debar dan tidak tahu bagaimana harus menjawab! Ia adalah seorang miskin dan seorang janda pula, sedangkan keluarga Thio begini kayanya!

Post a Comment