“Anak baik, kalau kau berkeras hendak menguji aku orang tua, marilah kita pergi ke lian-bu-thia (ruang berlatih silat) di belakang.”
Thio Sui Kiat mendahuluinya melangkah masuk, dan Kong Lee tanpa ragu-ragu lagi dan dengan hati tabah sekali mengikuti orang tua itu menuju ke ruang dalam, melewati ruangan yang penuh dengan perabot-perabot rumah yang indah sekali.
Ketika mereka tiba di lian-bu-thia yang luas dan indah di mana terdapat sebuah rak senjata baik dan mengkilat, Kong Lee melihat bahwa di tengah ruang tempat berlatih silat itu terdapat seorang anak perempuan sedang berlatih silat seorang diri. Anak itu berpakaian serba biru dan dua batang kuncirnya yang panjang diikat pita merah dan dililitkan di lehernya. Ia sedang berlatih silat dengan siang-kiam (sepasang pedang) di tangan kiri kanan dan gerakan-gerakannya lincah sekali. Ketika mengetahui bahwa ayahnya datang bersama seorang lain, anak perempuan itu segera menghentikan permainannya dan menyimpan siang-kiam itu di rak senjata. Kemudian anak perempuan itu berdiri di dekat dinding dengan kaki terpentang dan kedua lengan tersembunyi di belakang punggung, memandang ke arah Kong Lee dengan sepasang matanya yang lebar dan bening, sama sekali tidak kelihatan malu-malu seperti biasanya seorang anak gadis bila melihat tamu yang belum pernah dilihatnya, apalagi seorang pemuda!
Kalau anak perempuan lain tentu akan cepat-cepat lari pergi dan menyembunyikan diri di dalam kamarnya dengan hati berdebar!
“Eng, ini adalah Lim Kong Lee dari Bi-ciu, putera dari almarhum Lim-kauwsu yang terkenal di kota Bi-ciu,” kata Thio Sui Kiat kepada puterinya.
Mendengar ini, Kong Lee tahu bahwa Thio Sui Kiat tidak pernah menceritakan kepada anaknya itu tentang kekalahan ayahnya. Hal ini membuat Kong Lee merasa lega karena tak usah merasa malu menghadapi gadis itu karena kekalahan ayahnya tak pernah diketahuinya!
“Hian-te karena kau sudah sampai di sini dan hendak bermain-main sebentar menambah pengalaman ilmu silat, maka tidak ada salahnya bila anakku Thio Eng ini melayanimu sebentar memainkan senjata. Ingin kulihat sampai di mana kemajuan anakku ini.”
Kong Lee tidak berani menolak, karena ia pikir kalau ia telah lebih dulu mengalahkan anak perempuan ini, maka nanti kalau ia sampai dikalahkan oleh Thio Sui Kiat, ia tak usah menderita malu yang besar!
Mendengar kata-kata ayahnya ini, Thio Eng tersenyum gembira dan memandang Kong Lee seperti hendak menaksir-naksir sampai di mana kehebatan calon lawannya ini.
“Sebagai putera Lim-kauwsu, kau tentu biasa mempergunakan toya, bukan?” tanya Thio Sui Kiat dan Kong Lee lalu menghampiri rak senjata dan memilih sebatang toya yang cukup berat.
Sementara itu, tanpa diminta dan tanpa mengeluarkan kata-kata Thio Eng sudah mengambil lagi siang-kiam yang tadi ia mainkan. Kemudian, dengan senyum menghias bibir, gadis kecil itu siap sedia di tengah lian-bu-thia dan menyilangkan sepasang pedangnya dengan sikap yang hati-hati sekali!
“Lim-hiante, kau perlihatkanlah kepandaianmu dan coba-coba layanilah siang-kiam anakku!” kata Thio Sui Kiat dengan gembira dan kedua matanya berseri-seri.
Setelah menjura kepada Thio Sui Kiat dan kepada Thio Eng, Kong Lee lalu melompat ke depan gadis itu dan menggerakkan toyanya. Biarpun baru berusia tiga belas tahun, namun Kong Lee memiliki tenaga besar dan ia telah mendapat gemblengan ilmu silat semenjak kecil, maka gerakannya inipun luar biasa hingga ujung toyanya mengeluarkan angin.
Melihat gerakan anak muda ini, diam-diam Thio Sui Kiat memuji dan sambil mengangguk-anggukan kepala, ia berkata, “Hati-hati, anakku. Lawanmu bukanlah orang lemah!”
Tapi Thio Eng juga maklum akan hal ini karena tubuhnya segera melayang ke samping menghindari sambaran toya, lalu dengan gerak tipu Garuda Sakti Pentang Sayap, ia balas menyerang dengan sebuah tusukan pedang tangan kanan sedangkan tangan kiri diluruskan ke belakang.
Kong Lee memutar toyanya untuk menangkis sekerasnya dengan maksud memukul pergi pedang kanan gadis itu, tapi Thio Eng cukup cerdik dan tahu akan kekuatan lawan, maka ia tidak mau mengadu tenaga dan cepat menarik kembali pedang kanan sedangkan secepat kilat pedang kirinya diluncurkan ke depan dalam sebuah tikaman yang dahsyat!
Kong Lee terkejut sekali karena tak pernah disangkanya bahwa Thio Eng mempunyai kecepatan sehebat itu. Terpaksa ia melompat mundur untuk mengelak, kemudian dengan sungguh-sungguh ia lalu menyerang maju sambil memutar toyanya dengan cepat bagaikan kitiran angin. Thio Eng dengan tenang dan gesit menyambut serangannya dengan gerakan kedua pedang yang tak kalah hebatnya itu hingga sesaat kemudian kedua anak muda itu telah bertempur dengan seru dan sengit.
Thio Sui Kiat diam-diam merasa heran sekali karena ternyata bahwa kepandaian anak muda itu cukup lumayan, bahkan mempunyai bakat-bakat yang lebih baik daripada Lim Ek sendiri! Ia maklum bahwa Thio Eng takkan dapat mengalahkan Kong Lee, kecuali kalau anaknya mengeluarkan ilmu pedang Ngo-eng Siang-kiam-hoat. Dan benar saja, karena mendapat kenyataan bahwa anak muda itu benar-benar kuat dan hebat, terpaksa Thio Eng mengeluarkan kepandaian simpanan yang baru saja dipelajari seperempat bagian itu. Ia kini bersilat dengan ilmu pedang pasangan Lima Garuda, gubahan ayahnya yang merupakan ilmu pedang yang hebat sekali. Tubuh anak gadis itu berlompat-lompatan ke atas dengan gesitnya hingga laksana garuda menyambar-nyambar. Kedua pedangnya diputar-putar di kedua tangan dan menyerang lawannya dari semua jurusan!
Kong Lee mengeluarkan seruan kaget dan cepat-cepat ia rubah tipu silatnya dan terpaksa keluarkan ilmu toya Bendungan Baja Menahan Banjir!
Thio Sui Kiat kagum melihat gerakan yang telah dikenalnya ini, karena dulu ketika menghadapi Lim Ek, guru silat itu pernah mengeluarkan ilmu toya ini dan membuatnya untuk beberapa lama tak berdaya karena ilmu toya pelindung diri ini memang banar-benar hebat dan sukar diserang!
Demikianlah, kedua anak muda itu bertempur sambil mengeluarkan kepandaian masing-masing dan agaknya pertempuran akan berjalan lama sekali, karena keduanya tidak mau mengalah. Pertahanan Kong Lee kuat sekali sedangkan serangan-serangan Thio Eng pun gencar dan bertubi-tubi hingga anak muda itu tidak mampu balas menyerang! Thio Sui Kiat maklum bahwa jika pertempuran itu diteruskan, maka seorang dari mereka pasti akan terluka. Maka ia segera melompat ke tengah dan menggerakkan kedua tangan nya sambil berseru, “Tahan!”
Kong Lee merasakan sebuah tenaga besar sekali mendorongnya ke samping hingga tubuhnya terhuyung mundur. Untung ia masih dapat mempertahankan kakinya hingga tidak sampai terguling. Juga Thio Eng segera melompat ke belakan sambil berguling- guling.
“Lim-hiante, kepandaianmu sungguh hebat! Puteriku tidak kuat menghadapimu!” Kong Lee merasa tidak puas. Menghadapi anak perempuan yang masih kecil itu saja ia tidak mampu mengalahkannya, apalagi kalau menghadapi Thio Sui Kiat. Dari tenaganya ketika memisah tadi saja ia maklum bahwa orang tua itu memiliki lwee- kang yang luar biasa hebatnya dan sama sekali bukan lawannya!
Akan tetapi semangatnya yang menggelora membuat ketabahannya tebal sekali. ia lalu menjura dan berkata kepada Thio Sui Kiat, “Thio Lo-enghiong, sesungguhnya kedatanganku ini dengan maksud ingin merasai dan berkenalan dengan kehebatan ilmu toyamu, maka harap kau orang tua suka berlaku murah dan memberi sedikit petunjuk!” sambil berkata demikian, Kong Lee bersiap dengan toya di tangan dengan sikap menantang sekali!
Thio Sui Kiat tertawa dan di dalam hatinya geli melihat kenekatan dan beraninya Kong Lee yang dianggapnya seperti seorang anak yang menantang seekor harimau! Akan tetapi, tiba-tiba ia mendapat pikiran baik. Ia pernah menghina Lim Ek dan boleh dibilang bahwa ia mempunyai hutang kepada orang she Lim itu. Kini melihat anak muda ini, hatinya suka sekali, maka apakah salahnya kalau ia mengambil anak muda ini sebagai murid?
Dengan jalan demikian, berarti ia akan menebus kesalahannya dulu terhadap Lim Ek dan pula ia tidak mempunyai murid lain kecuali Thio Eng anaknya sendiri. Dan yang lebih baik lagi, ia dapat melihat bahwa anak muda ini memiliki bakat yang baik sekali. Ia beranggapan ini adalah pemecahan yang terbaik karena ia kuatir kalau anak muda ini akan menaruh dendam kepadanya atas kekalahan ayahnya dulu. Maka ia mengambil keputusan untuk memperlihatkan kehebatannya kepada Kong Lee agar anak muda ini menjadi kagum dan suka menjadi murdinya.
“Hiante, kau agaknya suka sekali mempelajari ilmu silat toya! Biarlah kau perhatikan baik-baik cara bagaimana bersilat dengan toya agar kelak kau mudah mempelajarinya!” sambil berkata demikian orang tua itu mengambil sebatang kayu kecil yang disandarkan di sudut ruangan itu.
“Nah, kau mulailah menyerang, Hian-te. Dan aku akan mencoba mengalahkan kau dalam tiga jurus!”
Bukan main panas hati Kong Lee mendengar ucapan ini yang dianggapnya sangat memandang rendah padanya! Ia masih muda sekali dan pikirannya belum matang serta pemandangannya belum luas, lagipula darahnya masih sedang panas-panasnya. Ilmu silatnya telah dipelajari sejak ia bisa berjalan hingga sebetulnya sudah cukup tinggi. Sekarang orang tua ini hendak menjatuhkannya dalam tiga jurus!
“Baik, Lo-enghiong,” katanya dan ia lalu bersiap sambil memutar otak.
Ia tidak mempunyai harapan untuk dapat mengalahkan orang tua ini, karena baru anak perempuannya saja sudah berkepandaian sehebat itu. Akan tetapi ia hendak mengambil keuntungan dari kata-kata orang tua itu. Kalau saja ia bisa bertahan sampai tiga jurus, bukankah itu berarti ia telah menang dan orang tua itu akan merasa malu?
Oleh karena pikiran inilah maka ia lalu memutar toyanya dan sengaja memainkan gerakan Bendungan Baja Menahan Banjir. Pertama-tama karena memang ilmu toya inilah yang dianggap terkuat untuk melindungi diri, dan kedua ia hendak mengetahui dengan cara bagaimana ayahnya dulu yang juga mempergunakan ilmu ini sampai dapat dikalahkan!
Melihat betapa anak muda itu hanya memutar-mutar toyanya dalam gerakan Bendungan Baja Menahan Banjir tanpa maju menyerang sedikitpun, Thio Sui Kiat maklum dan tahu akan akal Kong Lee dan diam-diam ia merasa kagum dan memuji kecerdikan anak itu.
“Ha-ha! Kau memang cerdik, Hian-te. Nah, awaslah aku hendak menyerangmu sampai tiga jurus. Kalau dalam tiga jurus aku tak dapat mengalahkan kau, boleh kau anggap bahwa kepandaianmu sudah jauh lebih tinggi dari kepandaian ayahmu dulu dan anggap pulalah bahwa aku orang tua tidak berguna dan tidak pantas memberi pelajaran kepadamu!”