Halo!

Pendekar Tongkat Dari Liong-san Chapter 05

Memuat...

Akan tetapi, agaknya Kong Lee tidak memperhatikan kata-kata ini, karena tiba-tiba ia bertanya, “Ibu, apakah kepandaian silat dari Thio Sui Kiat itu hebat sekali?”

Ibunya memandang heran dan timbul kekuatiran dalam hatinya.

“Kalau tidak tinggi kepandaiannya, mana ia mampu menjatuhkan ayahmu? Tapi betapapun juga, ayahmu dirobohkan dalam sebuah pibu yang adil dan secara sejujur- jujurnya ayahmu telah mengakui kekalahannya.”

Memang ketika menuturkan riwayat itu, Nyonya Lim tidak menyebut-nyebut tentang sikap Thio Sui Kiat yang sombong ketika bertempur dengan suaminya dulu.

“Tolong tuturkan yang jelas, ibu. Dengan cara bagaimanakah ayah dirobohkannya?” Terpaksa Nyonya Lim menuturkan tentang jalannya pertempuran antara suaminya dan Thio Sui Kiat yang masih terbayang jelas di muka matanya.

“Ayahmu memang kalah tinggi ilmu toyanya karena Thio Sui Kiat pernah menerima pelajaran dari Liauw In Hwesio yang hebat. Karena sudah terdesak setelah bertempur puluhan jurus, ayahmu lalu menggunakan ilmu toya Bendungan Baja Menahan Banjir.”

“Ilmu gerakan ini hebat sekali. Aku bersusah payah mempelajarinya dan baru setelah belajar keras setengah tahun lebih barulah aku dapat memainkannya dengan agak baik,” kata Kong Lee.

“Ya, dan karena itu maka dapat kau bayangkan betapa tingginya kepandaian Thio Sui Kiat. Biarpun ayahmu telah memainkan gerakan itu dengan cepat dikalahkannya.

Entah apa namanya gerakan pukulan itu, karena kedua tangannya maju bersama-sama tangan kanan menusuk dengan toya merupakan totokan di dada, sedangkan tangan kiri menampar pundak!”

Setelah berdiam untuk beberapa saat, Kong Lee berkata, “Sayang sekali aku tidak dapat menyaksikan pertempuran itu,” katanya menyesal.

“Mengapa, Kong Lee?” tanya ibunya.

“Aku ingin sekali melihat bagaimana ayah dijatuhkan oleh orang she Thio itu!” Ibunya lalu memberi nasihat agar ia belajar dan melatih diri lebih rajin agar mendapat kemajuan, dan menasihatkan supaya anak itu jangan sekali-kali memamerkan kepandaian yang tak berapa tingginya itu.

“Anakku, kau harus selalu ingat bahwa di dunia ini banyak sekali orang pandai dan tak seorang pun berhak menganggap dirinya sendiri terpandai. Betapapun pandainya seseorang pasti ada yang melebihinya lagi!”

Kong Lee mengangguk-angguk tapi dalam hatinya timbul pertanyaan besar karena ia masih merasa belum puas bagaimana orang dapat memecahkan gerakan Bendungan Baja Menahan Banjir!

Pada malamnya, setelah ibunya tidur pulas, dengan diam-diam Kong Lee keluar dari kamarnya terus keluar dari rumah. Kemudian dengan cepat ia menuju ke rumah Lo- sam, yakni pelayan tua yang dulu bekerja di bu-koan ayahnya. Ia masih mengenal orang tua ini, karena ia pernah diajak oleh orang tua itu ketika Lo-sam sengaja datang mengunjungi bekas nyonya majikannya.

Lo-sam merasa heran melihat Kong Lee malam-malam datang mengunjunginya. “Eh, kongcu, ada keperluan apa maka kau datang pada saat seperti ini? Apakah kau disuruh ibumu?”

Kong Lee menggeleng-gelengkan kepala, lalu ia berkata, “Lo-peh, apakah kau dulu menyaksikan ketika ayahku dirobohkan oleh seorang bernama Thio Sui Kiat?” Terkejutlah Lo-sam mendenga pertanyaan ini dan ia hanya bisa mengangguk-angguk. “Nah, aku minta tolong kepadamu, Lo-peh. Di manakah rumah orang she Thio itu? Di kota mana ia tinggal?”

Lo-sam pernah dipesan oleh Nyonya Lim supaya menyimpan rahasia ini dan jangan sekali-kali memberitahukannya kepada Kong Lee, maka ia menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah beruban itu dan menjawab, “Aku tidak tahu di mana rumah orang she Thio itu.”

Kong Lee lalu memegang pergelangan lengan Lo-sam dan menekannya keras-keras sehingga orang tua itu meringis kesakitan.

“Lo-sam, jangan kau membohong kepadaku. Kalau kau tidak mau memberi tahu, akan kupatahkan lengan tanganmu!”

Terpaksa Lo-sam dengan muka ketakutan berkata, “Jangan, kongcu, jangan patahkan tanganku ... ”

Kong Lee melepaskan pegangannya dan berkata, “Siapa yang suka mematahkan lenganmu? Asal saja kau mau memberitahukan di mana tempat tinggal orang yang merobohkan mendiang ayah itu ... ”

“Kongcu, apa perlunya kau hendak mengetahuinya? Ia sangat hebat, ayahmu sendiripun tak dapat mengalahkannyaa. Kau akan celaka di tangannya, kongcu ... ” “Sudahlah, Lo-peh, jangan banyak ribut. Beritahukan saja!”

“Dulu Thio Sui Kiat mengaku bahwa ia tinggal di kota Lam-sai. Tapi aku belum pernah ke sana dan tidak tahu ia tinggal di sebelah mana.”

“Itu tak perlu, dapat kucari sendiri. Nah, terima kasih, Lo-peh, dan maafkan aku!” Kong Lee lalu berlari pergi menuju ke kota Lam-sai!

Dengan ketakutan, malam hari itu juga Lo-sam berlari-lari menuju ke rumah Nyonya Lim Ek untuk memberitahukan tentang pengalamannya dengan Kong Lee tadi. “Celaka! Anak bengal itu tentu pergi ke sana untuk mencari celaka di rumah Thio Sui Kiat!”

Semalam penuh Nyonya Lim Ek tak dapat tidur dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia berganti pakaian ringkas dan pergi ke kota Lam-sai menyusul anaknya.

Karena semalam penuh tak berhenti dan berjalan cepat menuju ke kota Lam-sai maka pada keesokan harinya, menjelang tengah hari, Kong Lee sudah sampai di tempat tujuannya. Begitu masuk kota itu, ia langsung mencari rumah keluarga Thio. Thio Sui Kiat merasa heran sekali ketika diberitahu oleh pelayannya bahwa di luar ada seorang pemuda berkeras hendak minta bertemu dengan dia. Pada saat itu, Thio Sui Kiat sedang berada di ruang belakang dan mengajar silat kepada Thio Eng, puterinya yang baru berusia dua belas tahun.

Dengan hati menduga-duga siapa gerangan anak muda yang hendak bertemu dengannya, Thio Sui Kiat menuju keluar. Keheranannya bertambah ketika ia melihat seorang anak laki-laki yang tampan dan bertubuh tegap berdiri dengan tolak pinggang. Seorang pemuda yang baik pikirnya, sikapnya gagah dan wajahnya tampan. Begitu melihat seorang tua tinggi kurus yang bermuka kuning keluar dari ruang dalam, Kong Lee lalu menjura dan memberi hormat sepantasnya yang dibalas oleh tuan rumah dengan senang.

“Hiante siapa dan ada keperluan apa mencari aku?”

“Apakah Lo-enghiong ini bernama Thio Sui Kiat?” tanya Kong Lee sambil memandang muka orang itu dengan matanya yang tajam.

Thio Sui Kiat terkejut. Telah lama ia menyembunyikan kepandaiannya dan selama itu biasanya ia disebut Thio-wangwe (Hartawan Thio) dan jarang orang yang menyebutnya Lo-enghiong (Orang Tua Gagah), kecuali beberapa orang sahabat lama yang tahu akan kepandaiannya. Tapi anak ini datang-datang menyebutnya Lo- enghiong!

“Benar, anak muda. Aku adalah Thio Sui Kiat. Kau siapa?” dalam hatinya timbul dugaan bahwa anak muda ini tentu hendak minta belajar silat padanya.

“Aku bernama Lim Kong Lee, dan Lo-enghiong tentu masih ingat akan nama Lim Ek dari Bi-ciu!”

Wajah Thio Sui Kiat berubah mendengar nama ini.

“Ah, jadi kau adalah putera Lim-kauwsu? Bagus! Kau memang patut menjadi putera guru silat yang gagah itu!”

“Aku tidak tahu apakah Lo-enghiong ini memuji atau menyindir. Sepanjang pengetahuanku, mendiang ayahku pernah roboh dalam tanganmu. Dan kedatanganku ini tak lain ialah mohon petunjuk darimu, Lo-enghiong. Akupun ingin sekali merasakan kehebatan toya yang pernah merobohkan ayahku itu!”

Thio Sui Kiat berdiri dari duduknya. Ia suka sekali melihat anak muda yang selain tampan dan gagah, juga bersifat jujur dan berani ini. Jarang ada anak muda yang setabah ini dan diam-diam ia menyesal sekali akan kesombongannya dulu yang telah menjatuhkan Lim Ek dan menimbulkan sakit hati. Karena ia menduga bahwa anak muda di depannya ini tentu menaruh dendam karena kekalahan ayahnya dulu!

Tetapi suara Thio Sui Kiat masih mengandung penuh kesabaran ketika ia bertanya, “Lim-hiante, jadi kedatanganmu hendak membalas dendam yang terkandung di hatimu karena ayahmu pernah kurobohkan dalam sebuah pibu?”

Muka Kong Lee merah, tapi ia menjawab tegas, “Tidak ada kata-kata dendam dalam hal ini, Thio Lo-enghiong, yang ada hanya rasa kurang puas. Aku hanya ingin merasakan sendiri sampai di mana ketinggian ilmu toyamu dan sampai di mana kehebatanmu agar hatimu puas dan dapat mengerti mengapa ayah dulu sampai kalah olehmu. Kuharap saja kau orang tua suka memenuhi permintaanku ini!”

Thio Sui Kiat semakin tertarik dan suka kepada anak muda ini. Ternyata anak muda ini sangat bangga kepada ayahnya dan hatinya kecewa mendengar bahwa ayahnya pernah dikalahkan orang dan kini anak ini hendak menyaksikan sendiri kehebatan orang yang pernah menjatuhkan ayahnya dulu! Sungguh seorang anak yang berhati jantan dan keras!

“Anak muda, kau pernah belajar silat dari siapa?” “Dari ibuku sendiri,” jawab Kong Lee. Thio Sui Kiat makin heran. Ia tahu bahwa ilmu kepandaian Nyonya Lim masih berada di bawah tingkat kepandaian Lim Ek sendiri, maka bagaimana anak yang hanya mendapat latihan silat dari Nyonya Lim berani datang menantangnya pibu? Ia menganggap bahwa Nyonya Lim Ek sangat sembrono hingga membiarkan anaknya datang mencari ribut.

Akan tetapi Thio Sui Kiat sekarang bukanlah jagoan muda yang sombong seperti dulu. Ia telah menerima gemblengan ilmu batin dari Ho Sim Hwesio dan kepandaiannya juga telah mencapai tingkat tinggi. Ia tidak menjadi marah dengan kedatangan Kong Lee yang hendak menguji kepandaiannya ini, bahkan diam-diam ia merasa suka sekali kepada pemuda ini.

Post a Comment