“Kau mencari mampus sendiri!” teriaknya dan menyerang dengan pukulan Raja Naga Sambar Mustika.
Pukulan ini berbahaya sekali dan tak mudah dielakkan karena selain gerakannya cepat, juga yang diserang adalah bagian pinggang musuh sehingga terlalu tinggi untuk dilompati dan terlampau rendah untuk dielakkan ke bawah. Jalan satu-satunya hanya menangkis dan Sui Kiat sengaja hendak menundukkan hwesio ini, karena ia maklum bahwa sekali serangannya ditangkis, maka tentu akan berhasil memukul potongan toya itu terlepas dari pegangan Ho Sim Hwesio.
Akan tetapi, terjadilah hal yang sama sekali di luar dugaannya!
Memang hwesio itu mengangkat tangan menangkis serangan dengan tongkat yang sepotong itu, akan tetapi begitu potongan toya itu menempel dengan toya Sui Kiat yang menyambar cepat, tiba-tiba hwesio itu menggunakan tenaga sabetan Sui Kiat untuk melompat ke atas dan melewati kepala Thio Sui Kiat dengan gerakan gesit sekali!
Semua hwesio, termasuk hwesio kepala, Ceng Sin Hwesio, menonton pertempuran ini dengan kagum. Mereka tidak pernah menduga sama sekali behwa hwesio penunggu dapur yang kerjanya setiap hari hanya mengambil air, mencari kayu dan menjaga api di dapur ini ternyata memiliki kepandaian silat yang luar biasa tingginya!
Juga Thio Sui Kiat merasa kaget melihat kegesitan hwesio itu yang dengan secara cerdik sekali dapat meminjam tenaga pukulannya untuk mengelak dan melayang melewati kepalanya. Ia merasa panas dan hendak menjatuhkan hwesio yang dianggapnya kurang ajar ini. Sambil membalikkan tubuh, Thio Sui Kiat memutar dan mengayun toyanya ke belakang dengan gerakan menyabet. Inilah gerakan Ular Sakti Gerakkan Kepala. Toyanya dari kiri menyabet ke kanan menyerang leher lawan dan jika dapat dielakkan maka dari kanan toya itu akan menyambar pula ke kiri agak ke bawah hingga serangan ini sukar sekali dihindari.
Akan tetapi, kali ini ia menemui seorang yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri. Hwesio itu menggunakan potongan toya menangkis dan heran sekali, ketika dua toya itu beradu toya Thio Sui Kiat seakan-akan disedot oleh kekuatan besi sembrani dan menempel pada potongan toya yang dipegang oleh hwesio itu. Ia berusaha untuk melepaskan toyanya, namun sia-sia belaka. Tiba-tiba Ho Sim Hwesio mengirim tendangan ke arah pergelangan tangan Thio Sui Kiat.
Tendangan ini keras dan bertenaga sehingga mendatangkan angin, maka Thio Sui Kiat terpaksa melepaskan toyanya untuk menyelamatkan pergelangan tangannya! Karena gerakan inilah maka toyanya itu berpindah tangan!
Hampir saja Thio Sui Kiat tak percaya kepada mata sendiri. Di dalam dua jurus saja, toyanya telah terampas oleh hwesio yang hanya bersenjata potongan toya itu!
“Ha, ha, bukanlah benar kata-kataku tadi bahwa ilmu toyamu sedikitpun tidak ada gunanya?” Ho Sim Hwesio tertawa geli, dan melihat betapa Thio Sui Kiat memandangnya dengan mata tak percaya, hwesio itu lalu mengembalikan toya yang dirampasnya dan berkata, “Kau belum yakin benar? Nah, ini toyamu, kau boleh serang aku lagi, dalam sejurus toyamu pasti akan dapat kurampas!”
Bagaikan sedang mimpi, Thio Sui Kiat menerima kembali toya itu lalu ia siap hendak menyerang dengan sebuah pukulan yang dulu dipelajarinya dari Liauw In Hwesio. “Ha, kau hendak menyerang dengan Tipu Burung Merak Buka Sayap? Bagus, seranglah!”
Bukan main terkejut dan heran Thio Sui Kiat ketika melihat betapa hwesio buruk rupa itu dengan sekali pandang dapat mengetahui bahwa ia hendak menyerang dengan gerak tipu itu! Tapi ia teruskan juga serangannya dengan hati-hati sekali dan mengerahkan seluruh kekuatannya. Tapi Ho Sim Hwesio mengangkat potongan toya di tangannya menangkis dan ia membuat gerakan memutar. Thio Sui Kiat hampir berteriak karena terkejut. Ia merasa telapak tangannya sakit sekali karena tiba-tiba toyanya dengan tak tertahan lagi ikut berputar hingga membuat tangannya yang memegang menjadi sakit dan terpaksa ia lepaskan toyanya! Toya itu terlepas dan terlempar, tapi sebelum tiba di lantai, telah disambar tangan kiri Ho Sim Hwesio sambil tertawa bergelak-gelak!
Benar saja, dalam satu jurus saja hwesio itu telah berhasil merampas toya Thio Sui Kiat!
Kini Thio Sui Kiat tidak ragu-ragu lagi. Ia maklum bahwa betapapun buruk rupa hwesio penjaga dapur ini, namun jelas bahwa ia adalah seorang yang berilmu tinggi. Maka ia lalu menjatuhkan diri berlutut.
“Lo-suhu yang mulia. Mohon diampunkan mata teecu yang buta hingga tidak mengenal Gunung Thai-san di depan mata dan telah berlaku kurang hormat. Mohon sudilah kiranya Lo-suhu menerima teecu sebagai murid!”
“Bagus, bagus, Thio Sui Kiat! Memang kau berbakat sekali dan perlu pula merubah adatmu yang kurang baik. Sudah menjadi tugasku untuk mendidikmu menjadi seorang yang berguna dan benar-benar hebat!”
Sejak saat itu, Thio Sui Kiat telah menjadi murid Ho Sim Hwesio dan setiap hari ia bekerja di kelenteng itu membantu pekerjaan gurunya memikul air, membelah kayu dan menjaga api! Sebaliknya, hwesio yang aneh itu tiap hari mengajarnya ilmu toya yang luar biasa tingginya. Pada sore hari itu ia kembali ke rumah, untuk kembali pula pada keesokan harinya. Semenjak ia menjadi murid Ho Sim Hwesio, ia telah merubah wataknya yang sombong, karena selain menerima gemblengan ilmu toya yang tinggi, ia juga mendapat gemblengan ilmu batin sehingga ia menjadi insyaf dan menyesal akan perbuatannya yang terlalu tekebur dulu. Akhirnya ia mendengar pengakuan suhunya, bahwa Ho Sim Hwesio sebetulnya adalah seorang tokoh besar dari daerah Pantai Laut Timur yang kini mengasingkan diri dan bersembunyi di kota Lam-sai dan menjadi penjaga dapur kelenteng Hok-thian-tang.
Setelah belajar dengan tekun selama tiga tahun, kepandaian Thio Sui Kiat telah maju luar biasa. Ia telah memiliki kepandaian ilmu toya yang tinggi sekali. ketika suhunya meninggalkan Lam-sai untuk melanjutkan perantauannya, Thio Sui Kiat lalu rajin berdagang dan tidak mau memperlihatkan kepandaiannya lagi. Ia mulai mendidik anak perempuannya yang bernama Thio Eng. Maka, namanya sebagai seorang ahli silat lambat laun dilupakan orang dan tak lama kemudian, orang-orang di kota Lam- sai sendiri tidak tahu bahwa di kota itu terdapat seorang ahli silat yang memiliki kepandaian tinggi sekali!
-***-
Kwee Cin Hwa atau Nyonya Lim, di samping mengajar silat kepada empat orang anak perempuan di kota Bi-ciu, juga mendidik puteranya sendiri, Lim Kong Lee. Kong Lee semenjak berusia empat tahun telah mempunyai kesukaan yang aneh, yakni ia suka sekali memegang-megang toya mendiang ayahnya, hingga ibunya membuatkan sebatang toya kecil untuknya. Dan ketika Nyonya Lim mulai mengajar silat kepadanya, ternyata otaknya cerdas dan memang berbakat. Ibunya menjadi girang sekali dan terus mengajarnya dengan penuh ketekunan dan hati-hati hingga anak itu cepat sekali maju dalam ilmu silat sehingga tak lama kemudian keempat anak perempuan yang menjadi murid-murid ibunya tersusul olehnya.
Tubuh Kong Lee seperti ayahnya, tinggi tegap, wajahnya gagah dan tampan. Ketika ia berusia tiga belas tahun seluruh kepandaian ibunya telah diturunkan kepadanya, dan bahkan ibunya sendiri sekarang tak sanggup lagi mengalahkannya! Dalam hal gin- kang maupun lwee-kang Kong Lee mempunyai keistimewaan karena anak ini rajin sekali melatih diri.
Tentu saja hal ini membuat ibunya girang sekali. Kepandaian anaknya yang baru berusia tiga belas tahun itu telah melampauinya hingga kalau dibandingkan dengan ayahnya dulu, hanya kalah sedikit saja dan tentu saja, kalah pengalaman. Ia maklum apabila puteranya itu berlatih terus maka pesan mendiang suaminya bahwa puteranya harus menjadi seorang yang berkepandaian tinggi, tentu akan terpenuhi! Akan tetapi, ibu yang mencintai anaknya ini bingung karena ia tak sanggup lagi mengajar silat kepada Kong Lee karena semua kepandaian yang dimilikinya telah dapat dimainkan dengan lebih baik oleh anak itu!
Pada suatu hari, sebagaimana biasa seorang anak yang telah menanjak dewasa dan dapat memikirkan sesuatu secara mendalam, Kong Lee bertanya kepada ibunya tentang mendiang ayahnya.
“Ibu, aku mendengar dari twa-suci (kakak perempuan seperguruan yang tertua) bahwa almarhum Ayah adalah seorang jago ilmu toya yang jarang bandingannya, betulkan?” Ibunya tersenyum sedih, “Ayahmu adalah suhengku dan kepandaiannya hanya sedikit lebih tinggi dari kepandaianku, mana bisa disebut jago silat yang jarang bandingannya? Akan tetapi ia mengharapkan agar kau menjadi seorang yang tidak memiliki kepandaian tanggung-tanggung, maka kau harus melatih diri dengan giat.” “Ibu, mengapa ayah meninggal dunia dalam usia muda? Sakit apakah dia?” Ibunya terharu mendengar ini dan menyeka air matanya yang hendak mengalir keluar. Tiba-tiba ibu ini merasa bahwa ada baiknya kalau ia menceritakan riwayat suaminya kepada anak ini agar dapat dijadikan cermin.
“Kong Lee, ayahmu meninggal dunia karena terlalu menuruti hati sedih yang sebenarnya adalah menjadi akibat dari kesalahannya sendiri. Dan oleh karena insyaf akan kesalahan itulah maka ia berpesan agar kau menjadi seorang yang berkepandaian tinggi dan jangan sekali-kali mencari permusuhan dengan orang lain.”
Kong Lee sangat tertarik akan cerita ini.
Ia pegang tangan ibunya dan mendesak, “Ibu, ceritakanlah padaku tentang mendiang ayah.”
Maka diceritakanlah semua peristiwa yang menimpa mendiang suaminya kepada anaknya. Tapi untuk menjaga agar anaknya jangan sampai menaruh dendam kepada Thio Sui Kiat sebagaimana pesan suaminya dulu, ia menutup penuturannya dengan kata-kata, “Kong Lee, kau dapat mengerti bahwa ayahmu roboh di tangan orang karena kesalahan sendiri. Kalau ayahmu dapat memperdalam kepandaiannya atau kalau ia dapat menyembunyikannya, tentu ia takkan mengalami nasib seperti itu. Oleh karena itu, sudah menjadi kehendak ayahmu agar kau memilih jalan benar dan jangan berlaku seperti ayahmu. Kalau mungkin perdalamlah kepandaianmu hingga kau memiliki kepandaian yang tinggi dan tidak mudah dihina oleh orang lain dan kalau hal ini tidak mungkin, kau harus bersi kap tahu diri dan jangan sekali-kali memperlihatkan kepandaianmu, apalagi berlaku sombong, karena kalau kau bersikap seperti itu, tidak urung kaupun dapat dirobohkan lawan yang lebih ulung!”