Lebih dari dua puluh tempat telah ia kunjungi dan selama itu ia telah merobohkan lima belas orang guru silat dan piauwsu dengan ilmu toyanya yang hebat. Juga ketika ia lewat di sebuah hutan, dengan toyanya ia berhasil mengobrak-abrik kawanan perampok yang lancang mencegatnya!
Tiga bulan kemudian, barulah ia pulang ke Lam-sai, disambut oleh isterinya yang telah merasa cemas dan takut kalau-kalau suami yang doyan berkelahi itu mendapat celaka.
Isterinya segera menegurnya, tapi Thio Sui Kiat tertawa sambil memeluk isterinya, lalu berkata sombong, “Isteriku, apa yang kau kuatirkan? Suamimu tak mungkin dapat dicelakakan orang, jangankan hendak membinasakan aku, sedangkan melawan toyaku saja tak seorangpun mampu!” sambil berkata demikian ia menarik keluar toyanya yang telah menjatuhkan banyak lawan itu dan mengelus-elusnya dengan bangga sekali.
Untuk merayakan kemenangan-kemenangannya yang berkali-kali itu, Thio Sui Kiat mengadakan perjamuan dan pesta ini dikunjungi oleh sahabat-sahabatnya yang kesemuanya terdiri dari ahli-ahli silat di dalam dan di luar kota. Ia menggunakan alasan ulang tahun yang ke tiga puluh tahunnya untuk pesta itu. Akan tetapi karena isterinya tidak menyetujui jika ia mengadakan pesta itu di rumahnya, maka terpaksa Thio Sui Kiat meminjam tempat di kelenteng Hok-thian-tang yang letaknya di tengah- tengah kota. Kelenteng ini cukup besar dan mempunyai ruangan tamu yang luas sekali.
Di antara para tamu yang datang menghadiri pestanya, terdapat kawan-kawan baik Thio Sui Kiat dan kepada mereka inilah ia berterus terang bahwa pesta ini sebenarnya khusus diadakan untuk merayakan kemenangan-kemenangannya di dalam pertarungannya selama tiga bulan!
Pesta berjalan dengan gembira sekali, karena sebagai seorang hartawan, Thio Sui Kiat dapat menghidangkan arak yang baik serta daging dan sayur yang banyak macamnya. Para tamu memberi selamat dengan secawan arak hingga Thio Sui Kiat yang terpaksa melayani sekian banyak tamu itu, telah minum arak banyak sekali hingga menjadi setengah mabuk!
Kawan-kawan yang mengetahui rahasia pesta kemenangan itu lalu dengan suara keras berkata sambil mengangkat cawan, “Cu-wi sekalian yang terhormat! Secara kebetulan sekali siauw-te mengetahui bahwa Thio-taihiap baru saja pulang dari perantauan selama tiga bulan dan selama dalam perantauannya ini, Thio-taihiap telah menjatuhkan lebih dari lima belas orang jago-jago ternama! Maka, marilah kita menggunakan kesempatan untuk mengucapkan selamat kepada Thio-taihiap dan sudah sepantasnya bila merasa bergembira mempunyai seorang warga kota yang sehebat Thio-taihiap!”
Ucapan ini disambut dengan sorak memuji dan Thio Sui Kiat dengan gembira sekali berkata merendahkan diri, “Ah, sebenarnya siauw-te hanya memiliki sedikit kepandaian yang tak berarti, dan tidak pantas dipuji-puji. Orang-orang yang siauw-te jatuhkan itu memang sengaja mengalah dan berlaku murah hati!”
“Ha-ha! Thio-taihiap pandai sekali merendahkan diri!” kawan yang tadi berpidato berkata, “Siapa yang belum mendengar tentang kehebatan ilmu toya dari Thio- taihiap? Maka, biarlah siauw-te mewakili semua tamu yang terhormat untuk mengajukan permohonan kepada Thio-taihiap yang gagah perkasa, sukalah kiranya membuka mata kami dengan pertunjukan sedikit ilmu toyanya yang hebat itu!” Semua orang bertepuk tangan menyatakan setuju dan terdengarlah desakan-desakan dan bujukan-bujukan di sana sini yang maksudnya meminta Thio Sui Kiat untuk memperlihatkan ilmu silatnya. Hal ini memang diharap-harapkan benar oleh Thio Sui Kiat yang telah mulai mabuk. Kini semua orang minta supaya ia mempertontonkan kepandaiannya, maka jika ia berdemonstrasi, takkan ada seorangpun dapat menganggap bahwa ia sombong dan sengaja memamerkan kepandaiannya.
Sambil mencabut toyanya yang kecil itu, ia menjura kepada semua tamu. “Baiklah, cu-wi yang mulia. Siauw-te hendak memperlihatkan keburukan ilmu
toyaku, akan tetapi mohon jangan ditertawakan karena sesungguhnya siauw-te hanya bisa memainkan sedikit gerak pukulan belaka!”
Ruang tamu itu memang luas sekali dan kawan-kawan Thio Sui Kiat lalu memindah- mindahkan meja kursi dan membuat kalangan di tengah-tengah ruangan. Di situ Thio Sui Kiat lalu berdiri dan mulai bersilat. Semua tamu menonton dan berdiri, bahkan para hwesio kelenteng Hok-thian-teng ketika mendengar bahwa Thio Sui Kiat hendak mengadakan demonstrasi ilmu silat, keluar dan ikut menonton.
Karena sengaja hendak memperlihatkan kehebatannya, begitu menggerakkan toyanya, Thio Sui Kiat lalu mengeluarkan kepandaiannya yang ia pelajari dari Liauw In Hwesio, maka tak lama kemudian tubuhnya lenyap terbungkus sinar yang ditimbulkan oleh gerakan toyanya yang demikian cepat hingga ia dan senjatanya lenyap! Tentu saja semua orang memandang dengan mata terbelalak kagum dan di sana sini terdengar suara orang memuji. Thio Sui Kiat bermata dan bertelinga tajam. Biarpun ia sedang bersilat, namun pandangan dan pujian kagum itu tak lepas dari mata dan telinganya, hingga timbullah kebanggaan yang besar sekali di dalam dadanya. Setelah beberapa lama ia bersilat, ia akhiri pertunjukannya dengan menancapkan toyanya di atas lantai sampai setengahnya lebih. Toya itu bergoyang-goyang bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dari busunya menancap di papan sasaran dan riuh rendahlah tepuk sorak penonton melihat ilmu toya yang hebat serta tenaga yang mengagumkan itu!
Thio Sui Kiat menggunakan dua buah jari tangannya menjepit toyanya yang tertancap di lantai, lalu ia tarik perlahan-lahan. Toya itu dapat keluar dengan mudahnya, lalu ia berkata, “Siauw-te tidak hendak menyombong, akan tetapi semenjak siauw-te mempelajari ilmu toya, sehingga kini belum pernah siauw-te dapat dikalahkan orang!”
Demikianlah, pesta itu berjalan dengan penuh kegembiraaan dan semua tamu makin kagum akan kepandaian Thio Sui Kiat, karena ilmu silat toya yang baru diperlihatkan itu benar-benar menimbulkan kesan yang mendalam. Thio Sui Kiat maklum akan hal ini memang inilah yang ia harapkan agar semua tamu ini dapat menceritakan tentang kehebatannya secara meluas!
Setelah semua tamu meminta diri dan Thio Sui Kiat hendak meninggalkan kelenteng, tiba-tiba seorang hwesio gundul yang bermuka buruk karena penuh luka bekas penyakit cacar, berkata kepadanya, “Maaf, sicu, sebelum pergi, pinceng harap sukalah sicu betulkan dulu lantai kami yang rusak.”
Thio Sui Kiat heran sekali melihat hwesio ini dan ia berpaling kepada hwesio kepala di kelenteng itu yang ia kenal baik.
“Lo-suhu, siapakah hwesio ini dan apa maksudnya?”
Ceng Sin Hwesio tersenyum, “Dia ini adalah seorang pendeta baru yang belum ada sebulan bekerja sebagai tukang dapur di kelenteng ini. Harap sicu maafkan kalau kata-katanya menyinggung, karena dia orang baru.”
“Lantai ruang telah dirusak dan berlubang, pinceng hanya minta dibetulkan, bukankah itu sudah selayaknya?” hwesio muka buruk yang bernama Ho Sim Hwesio itu menggerutu.
Thio Sui Kiat menghadapi hwesio tukang dapur itu dan berkata, “Lo-suhu, kau ini aneh sekali. lantai ini hanya berlubang sedikit bekas tusukan toyaku, mengapa kau ribut-ribut? Panggillah tukang tembok dan suruh ia menambalnya, berapa biayanya nanti kuganti!”
Ceng Sin Hwesio juga membujuk hwesio baru itu, “Ho Sim, biarkan saja lantai itu, nanti kita betulkan sendiri.”
Tapi Ho Sim Hwesio masih saja bersungut-sungut dan berkata perlahan, “Berani merusak tidak mau membetulkan, ini namanya sewenang-wenang! Lantai tidak berdosa ditusuk toya, ini namanya tekebur!”
Thio Sui Kiat merasa kurang senang mendengar ucapan ini dan ia lalu berkata kepada hwesio itu, “Eh, lo-suhu, urusan sekecil ini mengapa harus dibesar-besarkan? Kalau aku bisa membetulkan kerusakan itu, tentu akan kukerjakan.”
“Mengapa tidak bisa?” tiba-tiba Ho Sim Hwesio berkata dan tangannya terulur ke arah pinggang Thio Sui Kiat, dan sebelum Thio Sui Kiat dapat melihat apa yang dikehendaki oleh hwesio buruk itu, tiba-tiba toyanya telah tercabut keluar.
Ho Sim Hwesio memandang toya itu dan berkata perlahan, “Toya buruk, tidak ada gunanya!” lalu ia bawa toya itu dengan langkah lebar menuju ke ruang tamu di mana terdapat bekas tusukan Thio Sui Kiat ketika ia mendemonstrasikan kepandaiannya tadi.
Dengan terkejut dan tercengang Thio Sui Kiat melihat betapa hwesio itu menancapkan toyanya di tempat yang berlubang itu dan sekali hwesio itu menggerakkan tangan maka putuslah toyanya itu, tepat di batas lantai hinga potongan toya itu menutup lubang dengan rapi!
Thio Sui Kiat melompat dengan muka merah.
“Hwesio kurang ajar, kau berani mematahkan toyaku?”
Ho Sim Hwesio memandang potongan toya itu di tengahnya. “Hm, toya seburuk ini, untuk apa diribut-ributkan? Toya ini tak ada gunanya!”
“Apa, kau berani mengatakan bahwa toyaku tidak ada gunanya?” Ho Sim Hwesio mengangguk. “Memang, tidak ada gunanya.” “Berani kau menghadapi toyaku?” Thio Sui Kiat makin marah.
“Apa yang harus ditakuti? Permainan toyamu hanyalah permainan untuk menakut- nakuti anak-anak kecil belaka!”
Bukan main marah Sui Kiat mendengar ucapan ini.
“Kesinikan toya itu! Biar kau berkenalan dengan pukulan toyaku!” “Janga kuatir, tunggu sebentar, akan kucarikan toya untukmu!”
Ho Sim Hwesio lalu berlari ke dalam dan tak lama kemudian ia muncul lagi sambil membawa sebatang toya dan memberikannya kepada Sui Kiat.
“Nah, kalau kau tidak percaya, kau boleh gunakan toya ini untuk menyerangku. Akan kuperlihatkan betapa toyamu ini memang betul-betul tak berguna!”
Thio Sui Kiat mengertakkan giginya hingga mengeluarkan suara berkeretakan. Belum pernah selama hidupnya ia menerima hinaan orang seperti ini, dan belum pernah ilmu toyanya dipandang rendah sedemikian rupa.
“Ambillah senjatamu dan perlihatkan kepandaianmu kalau memang hendak pibu!” bentaknya.
“Pinceng bukan mengajak pibu, hanya hendak membuktikan bahwa ilmu toyamu tidak berguna. Untuk melawan ilmu toyamu, pinceng cukup menggunakan potongan toya ini saja!”
Makin berkobar api yang membakar dada Thio Sui Kiat. Hwesio gundul yang bertampang buruk ini benar-benar mempermainkan dan menghinanya.