Halo!

Pendekar Tongkat Dari Liong-san Chapter 02

Memuat...

Akan tetapi Thio Sui Kiat telah mempelajari ilmu toya yang luar biasa dari Liauw In Hwesio. Dan karena ia menggunakan toya yang kecil dan ringan maka gerakannya jauh lebih gesit daripada Lim Ek. Selain itu, walaupun toyanya hanya kecil saja, namun berkat lwee-kangnya (tenaga dalam) yang terlatih baik, maka tiap serangan yang ia lakukan, tak boleh dipandang ringan, karena ujung toyanya yang kecil itu mengandung tenaga yang cukup kuat untuk menghancurkan kepala dan mematahkan tulang. Juga, dengan gin-kangnya (ilmu meringankan tubuh) yang hebat, ia berkelebat dan selalu mengerahkan serangan toyanya ke tempat berbahaya yang dapat mengakibatkan kematian. Ujung toyanya yang kecil itu ia gunakan untuk menusuk dan menyodok ke arah jalan darah lawan dan ujungnya tergetar-getar sedemikian rupa oleh lwee-kangnya hingga terpecah bagaikan menjadi belasan buah!

Baru bertempur tiga puluh jurus saja, maklumlah Lim Ek bahwa musuhnya ini benar- benar hebat dan memiliki kepandaian ilmu toya yang lebih tinggi tingkatnya dari kepandaiannya sendiri. Akan tetapi, karena tak mungkin untuk mundur lagi, ia berlaku nekad dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Diputarlah toyanya dan memainkan gerakan yang disebut Bendungan Baja Menahan Banjir, hingga di sekeliling tubuhnya seakan-akan tertutup oleh lapisan baja yang kuat, yang dibust oleh putaran toyanya! Oleh karena inilah maka Thio Sui Kiat belum dapat mendesaknya, walaupun Lim Ek juga sama sekali tidak ada kesempatan untuk balas menyerang.

Sementara itu, Kwee Cin Hwa atau Nyonya Lim, juga berdiri di pinggir lingkungan pertempuran dan menonton dengan hati kuatir. Ia maklum bahwa suaminya menghadapi lawan yang sangat berat dan yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dan suaminya berada dalam bahaya. Akan tetapi, nyonya muda ini tak dapat berbuat lain kecuali mengepal-ngepalkan kedua tangannya dengan hati cemas.

Gerakan Bendungan Baja Menahan Banjir hanya dapat dilakukan dengan menggunakan sepenuh tenaga agar toya yang di putar itu benar-benar menjadi benteng baja atau bendungan yang kuat dan rapat. Kalau mengendur sedikit saja putaran toya itu, maka akan terdapat lowongan dan dapat dimasuki serangan lawan. Tapi karena ia selalu dihujani serangan-serangan maut, Lim Ek menjadi lelah sekali dan gerakannya mulai mengendur!

Tiba-tiba Sui Kiat berseru keras dan ia menggunakan gin-kangnya melompat tinggi dan menyerang dari atas ke arah kepala Lim Ek!

Lim Ek menjadi terkejut dan cepat-cepat ia merobah gerakannya dan toya yang tadi berputar melindungi tubuhnya, kini diputar ke atas melindungi kepala. Namun, baru saja Lim Ek merobah gerakannya, Thio Sui Kiat telah melompat turun kembali dan mengirim serangan Naga Hitam Terjang Ombak dan ujung toyanya yang kecil meluncur menusuk leher.

Dengan mengertakkan gigi, Lim Ek mengelak ke samping dan toyanya lalu menyambar dengan sabetan hebat ke arah pinggang Thio Sui Kiat! Akan tetapi, orang she Thio yang sangat hebat ini seakan-akan tidak mempedulikan datangnya sabetan toya ke arah pinggangnya, bahkan secepat kilat ia lalu menggerakkan toyanya menusuk ke arah ulu hati Lim Ek, sedangkan tangan kirinya menampar ke arah pundak kanan lawannya itu.

Terdengar Lim Ek berseru kesakitan ketika ujung toya kecil dari Thio Sui Kiat menotok jalan darah di dadanya. Sementara itu, karena pundaknya telah kena tampar, maka tenaganya yang digunakan untuk menyerang pinggang Sui Kiat, mengendur hingga ketika toyanya menyerang pinggul Thio Sui Kiat yang telah mengerahkan tenaga dalamnya, toya itu terpental dan terlempar dari tangan Lim Ek!

Muka Lim Ek yang sekali serang terkena dua pukulan di ulu hatinya dan pundak itu menjadi pucat sekali. Ia tersenyum-senyum menahan sakit dan malu, tapi sambil mendekap dada ia lalu muntah darah dan roboh pingsan!

Thio Sui Kiat menyelipkan kembali toyanya di pinggang dengan lagak sombong dan mukanya nampak puas sekali.

“Bangsat keji, rasakan pembalasanku!” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Kwee Cin Hwa, Nyonya Lim Ek, melompat ke depan Thio Sui Kiat sambil menyerang dengan toyanya!

Tapi Thio Sui Kiat dengan sikap dingain dan tenang sekali mengulurkan tangan kanannya dan sekali bergerak ia telah berhasil merampas senjata nyonya muda itu. “Apa yang harus engkau dendamkan dalam sebuah pibu yang adil?” orang she Thio ini membentaknya dan karena merasa bahwa ia tidak mampu berbuat sesuatu untuk melampiaskan dendam hatinya, Nyonya Lim lalu menuburuk suaminya yang rebah dengan muka pucat. Dengan dibantu oleh beberapa orang murid, Lim Ek digotong ke dalam rumah. Thio Sui Kiat meninggalkan tempat itu, dipuji-puji oleh para penonton yang menganggapnya hebat sekali.

Pada keesokan harinya, Lim Ek berkeras mengajak isteri dan anaknya pindah dari Bi- ciu dan menutup bu-koannya. Para muridnya menahannya dan menyatakan bahwa kekalahan itu bagi mereka tidak berarti apa-apa. Akan tetapi Lim Ek yang merasa malu sekali maklum bahwa ucapan ini hanya di mulut saja akan tetapi di dalam hatinya ia dapat menduga bahwa kejatuhannya yang disaksikan oleh semua penduduk Bi-ciu tentu membuat namanya merosot dan ia dapat meramalkan bahwa jika ia terus membuka bu-koannya, tentu jumlah muridnya akan berkurang dan banyak yang keluar untuk pindak kepada guru silat yang belum jatuh namanya. Pula, ia tentu akan dijadikan bahan ejekan dan tetawaan. Maka sebelum semu ini terjadi, lebih baik ia pergi dari situ!

Kwee Cin Hwa menghibur suaminya dan berkata, “Apakah artinya kekalahan dalam pibu? Kauajak aku pindah, hendak pindah ke mana?”

“Ke mana saja ... asal jangan di Bi-ciu ... ” kata Lim Ek yang masih payah keadaan tubuhnya yang terluka dalam.

“Tapi, tunggulah dulu sampai kesehatanmu pulih kembali, suamiku,” kata Kwee Cin Hwa bingung, tapi Lim Ek tidak mau dibantah lagi dan ia paksa isterinya untuk berkemas dan hari itu juga pindah dari Bi-ciu menuju ke barat!

Sebagai seorang isteri yang setia dan patuh kepada suami, Kwee Cin Hwa akhirnya menurut. Maka setelah menyerahkan semua sisa perabot rumah kepada pelayan mereka yang setia, yakni A-sam, untuk dijual, mereka lalu berangkat meninggalkan Bi-ciu.

Kekerasan hati Lim Ek ini harus ditebus dengan mahal sekali, kerena ketika mereka tiba di kota Lam-bu, Lim Ek jatuh sakit dan tak dapat bangun lagi. Isterinya merasa sangat bingung dan cepat-cepat minta pertolongan sinshe (ahli obat), tapi terlambat! Luka di dalam dada Lim Ek yang cukup berat itu ditambal lagi dengan perasaan sakit hati dan jengkel yang membuat jantungnya terpukul hebat menjadikan penyakitnya semakin parah. Guru silat yang berusia tiga puluh tahun ini dapat bertahan untuk semalam saja dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ia telah menghembuskan nafas terakhir!

Sebelum meninggal dunia, ia meninggalkan pesan kepada isterinya.

“Isteriku, kau latihlah anak kita Kong Lee baik-baik. Jadikanlah ia seorang yang benar-benar gagah perkasa, jangan hanya memiliki kepandaian setengah-setengah seperti aku! Kalau tidak bisa memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, lebih baik jangan kau perkenalkan dia dengan dunia kang-ouw agar dia jangan sampai terhina seperti aku pula. Dan jangan ia kelak mencari Thio Sui Kiat untuk membalas dendam, karena aku jatuh di tangannya dalam pertempuran yang adil!”

Dapat dibayangkan betapa hebatnya kesedihan yang diderita oleh Kwee Cin Hwa. Terpaksa nyonya muda ini membawa jenazah suaminya kembali ke Bi-ciu dan ia disambut oleh penduduk Bi-ciu dengan hati iba. Siapakah orangnya yang takkan merasa kasihan melihat nasib nyonya muda ini!

Dan semenjak suaminya meninggal, Nyonya Lim jarang sekali kelihatan keluar dari rumahnya, seakan-akan mengasingkan diri. Bu-koan ditutup dan untuk belanja hidupnya sehari-hari ia menerima beberapa orang anak murid wanita dan mengajar silat dengan diam-diam. Selain itu, di waktu senggang, ia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mendidik dan memelihara putera tunggalnya, Lim Kong Lee, yang ditinggal mati ayahnya ketika baru berusia setahun!

Thio Sui Kiat adalah seorang kelahiran Lam-sai dan semenjak kecil memang suka sekali mempelajari ilmu silat. Ia berguru ke sana sini dan sangat suka mempelajari ilmu silat toya. Ketika mendengar akan kehebatan Liauw In Hwesio, ia mencari-cari hwesio itu dan akhirnya, berkat kekerasan dan keteguhan hatinya, Liauw In Hwesio berkenan memberi petunjuk-petunjuk dan menurunkan beberapa ilmu pukulan toya kepadanya. Semenjak kecilnya, Sui Kiat memang suka sekali akan sifat kejantanan dan pergaulannya di kalangan kang-ouw juga cukup luas. Di mana saja ia mendengar ada muncul seorang jago, terutama jago ahli toya, ia tentu akan mendatanginya dan mencoba kepandaiannya. Kalau ia kalah ia tidak merasa malu-malu untuk minta petunjuk dari jago silat yang telah merobohkannya itu!

Akan tetapi, karena ia adalah seorang anak hartawan dan semenjak kecilnya terlalu dimanja orang tuanya, maka ia mempunyai watak tekebur dan tinggi hati. Ia selalu ingin menang di dalam segala hal.

Setelah menerima pelajaran dari Liauw In Hwesio, ilmu toyanya maju pesat luar biasa dan semenjak itu belum pernah ia dikalahkan lawan! Hal ini tentu saja membuat wataknya yang tekebur menjadi-jadi. Ketika ia berhasil merobohkan Lim Ek, ia merasa bahwa kini ilmu kepandaian toyanya tak ada bandingannya di muka bumi ini! Pada waktu itu, Thio Sui Kiat telah beristeri, bahkan telah mempunyai seorang anak perempuan yang baru berusia beberapa bulan saja. Isterinya adalah seorang terpelajar yang tidak suka akan segala kekasaran orang bersilat dan beberapa kali ia sudah memperingatkan suaminya agar jangan suka mencari musuh dan menimbulkan perkara dengan mengajak pibu orang lain. Akan tetapi ia tidak mau menurut nasihat isterinya ini. Bukankah ketika ia pergi ke Bi-ciu untuk mengukur kepandaian Lim Ek, isterinya tak diberitahunya sama sekali!

Dan setelah menjatuhkan Lim Ek, Thio Sui Kiat lalu menjelajahi kota-kota seluruh propinsi dan di mana saja ia tiba, tentu ia mencari jago cabang atas kota itu dan diajaknya pibu!

Post a Comment