“Sungguh mati, Tuan, majikanku tidak berada di rumah. Harap Tuan suka datang lagi nanti sore atau besok pagi saja!” kata pelayan yang bekerja di perguruan silat Lim Ek dengan gemas karena telah berkalo-kali ia menyatakan kepada tamu yang datang itu bahwa majikannya tidak berada di rumah, tapi masih juga tamu itu mendesak dan tidak percaya.
“Ke manakah perginya Lim-kauwsu (Guru Silat Lim)?”
“Saya tidak tahu, tuan. Majikan saya tak pernah memberi tahu kepada saya ke mana dia pergi.”
Jawaban yang terdengar kaku ini membuat tamu itu merasa tidak senang. Ia menarik keluar sebuah toya kecil yang terselip di pinggang, lalu berkata dengan suara menghina sambil menuding ke arah papan nama yang tergantung di depan rumah silat itu.
“Hm, papan nama tidak ada harganya!” lalu ia ayun toyanya yang kecil memukul papan itu dan “krak!” maka papan itupun terbelah dua, bergoyang-goyang di bawah tali penggantungnya!
Pelayan itu terkeju dan hendak marah, tapi melihat sikap tamu yang mengancam itu, menjadi takut dan tak berani berbuat sesuatu atau mengeluarkan sepatah katapun. “Beritahu kepada majikanmu she Lim itu bahwa aku Thio Sui Kiat dari Lam-sai hendak bertemu dan nanti sore aku akan datang lagi!”
Tamu yang mengaku bernama Thio Sui Kiat ini lalu menyelipkan kembali toyanya di pinggang dan pergi dengan penuh lagak sambil mengangkat dada.
Tak lama kemudian guru silat she Lim yang memiliki perguruan silat itu datang. Si pelayan segera memberi laporan akan peristiwa yang terjadi tadi dan memperlihatkan papan nama yang sudah pecah.
Lim Ek adalah seorang guru silat yang telah bertahun-tahun membuka bu-koan (perguruan silat) di kota Bi-ciu dan namanya telah terkenal sebagai seorang guru yang baik dan pandai. Juga ia telah lama merantau di dunia kang-ouw hingga pengalamannya sangat luas. Wataknya baik dan sabar hingga banyak orang menyukainya dan memandang hormat kepadanya sebagai seorang yang berkepandaian tinggi serta beradat sopan dan baik. Karena para murid yang belajar di bawah pimpinannya merasa puas dan mendapat kemajuan pesat, maka untuk menyatakan terima kasih mereka, para murid ini membuat sebuah papan nama yang berbunyi: “Bu-koan ini diasuh oleh Lim-kauwsu, jago toya nomor satu di Bi-ciu.” Papan nama ini digantung di depan bu-koan dan tak seorangpn berani mencela atau menyangkal pernyataan itu, karena memang Lim Ek adalah seorang ahli toya yang mahir sekali.
Kini melihat ada orang yang begitu kurang ajar berani merusak papan nama itu, Lim Ek merasa sangat terhina dan marah sekalo. Akan tetapi ia masih dapat menindas perasaannya dan bertanya kepada pelayannya dengan suara tenang, “Siapakah orang itu? Bagaimana macamnya dan apakah ia meninggalkan nama?”
“Orangnya kurus tinggi, bermuka kuning, matanya lebar dan liar. Ia membawa sebatang toya kecil dan mengaku bernama Thio Sui Kiat.” Pelayan itu memberi keterangan.
Terkejutlah, hati Lim Ek mendengar nama ini, karena ia tahu bahwa Thio Sui Kiat adalah seorang jagoan dari Lam-sai dan terkenal sebagai seorang yang berkepandaian tinggi karena orang she Thio itu pernah mempelajari ilmu toya dari Liauw In Hwesio, yakni saudara tertua dari Kang-lam Cit-hiap atau Tujuh Pendekar dari Kang Lam! Biarpun belum pernah saling bertemu maka, namun nama Thio Sui Kiat telah lama didengar oleh Lim Ek dan sungguh tak pernah disangkanya bahwa orang she Thio itu mau datang di Bi-ciu untuk mengganggunya!
Ketika mendengar dari pelayannya bahwa Thio Sui Kiat hendak datang lagi sore nanti, Lim Ek berlaku tenang saja dan tidak berkata apa-apa, lalu masuk ke dalam rumahnya. Kedatangannya disambut oleh isterinya yang memondong seorang anak kecil berusia setahun. Anak laki-laki ini adalah anak tunggal dan bernama Lim Kong Lee.
Isteri Lim Ek bernama Kwee Cin Hwa dan nyonya inipun seorang ahli silat toya, karena mendiang ayahnya adalah susiok (paman guru) dari Lim Ek sendiri, hingga mereka ini sebenarnya ada hubungan saudara seperguruan. Akan tetapi ilmu kepandaian Lim Ek lebih tinggi tingkatnya dari kepandaian isterinya.
Begitu melihat suaminya datang, Nyonya Lim segera bertanya, “Siapakah tamu kurang ajar yang diceritakan oleh A-sam tadi?”
“Dia adalah Thio Sui Kiat dari Lam-sai yang agaknya hendak mengganggu pekerjaanku,” jawab suaminya sambil menghela napas.
“Memang dulu aku pun sudah menyatakan tidak setuju dengan dipasangnya papan itu yang bagi mata orang lain tentu dapat menimbulkan sangkaan bahwa kau menyombongkan kepandaianmu.” Isterinya mencela.
Sekali lagi Lim Ek menarik napas panjang.
“Habis bagaimana baiknya? Para murid itu mempunyai maksud baik dan mereka menganggap aku sebagai ahli toya nomor satu di kota ini. Apakah salahnya? Thio Sui Kiat bukan orang Bi-ciu, maka tidak pantas kalau ia merasa tersinggung membaca papan nama itu. Memang agaknya ia sengaja hendak memusuhi kita!”
“Aku pernah mendengar nama orang she Thio ini dan kalau tidak salah ia pernah menerima didikan ilmu toya dari Liauw In Hwesio yang lihai, lalu tindakan apa yang akan engkau ambil?”
“Isteriku, untuk apa kita harus bingung karena soal ini? Kau pun telah cukup maklum bagaimana kedudukan seorang guru silat. Bukan sekali saja ada ahli silat datang hendak menguji kepandaianku dan di antara mereka itu ada yang mengandung maksud baik dan hanya ingin berkenalan atau ingin mengukur kepandaian seperti lazimnya yang sering terjadi di dunia persilatan, tetapi ada pula yang mengandung maksud buruk karena terdorong oleh rasa iri hati melihat kemajuanku. Yaah, apa boleh buat, aku harus menghadapi orang she Thio dengan tenang dan berani, tak peduli apakah dia mengandung maksud baik maupun buruk.”
“Tapi maksud tamu yang baru datang itu tentu buruk, kalau tidak mengapa ia pecahkan papan namamu?” berkata isterinya dan Lim Ek hanya menghela napas saja. Sementara itu, Thio Sui Kiat yang berwatak sombong dan tekebur sekali, seperginya dari bu-koan Lim Ek, lalu mengunjungi kenalan-kenalannya di kota Bi-ciu, yakni para piawsu (pengawal-pengawal kiriman barang) dan orang-orang lain yang mengerti ilmu silat. Memang nama Thio Sui Kiat cukup dikenal oleh orang-orang yang mengerti ilmu silat. Kepada mereka ini Thio Sui Kiat menceritakan bahwa sore nanti ia akan mendatangi Lim Ek untuk mengajak pibu.
Tak usah disebutkan lagi bahwa setiap orang yang mengerti ilmu silat, tentu suka sekali melihat pertandingan silat untuk menambah pengalaman dan pengertian mereka. Lagipula, di antara mereka memang ada yang merasa iri hati kepada Lim Ek karena pernah dirobohkan oleh Lim-kauwsu dalam pertandingan pibu. Oleh karena ini, orang-orang yang mengandung iri hati ini sengaja menambah semangan Thio Sui Kiat dengan menyatakan bahwa Lim Ek memang pantas diberi pelajaran agar jangan terlalu sombong dan menganggap diri sendiri terpandai di kota Bi-ciu.
Demikianlah, Thio Sui Kiat dijamu oleh kawan-kawannya itu dan di antara mereka itu sengaja menyiarkan berita bahwa sore nanti di bu-koan Lim Ek akan diadakan pibu yang hebat antara Lim-kauwsu dan Thio Sui Kiat dari Lam-sai, hingga tak lama kemudian berita itu telah terdengar oleh hampir seluruh penduduk kota Bi-ciu.
Tidak mengherankan bila pada waktu sore hari itu, berbondong-bondong orang mendatangi bu-koan dari Lim Ek untuk menonton pertandingan itu. Lim Ek dan isterinya dapat menduga bahwa hal ini tentu sengaja dilakukan oleh Thio Sui Kiat dengan maksud, apabila Lim Ek berhasil dapat dirobohkan, maka semua penduduk Bi-ciu akan menjadi saksi akan kehancuran nama Lim-kauwsu!
sAkan tetapi, sebagai tuan rumah yang ditantang pibu, Lim Ek tak dapat menolaknya dan ia menyambut kedatangan Thio Sui Kiat dengan penghormatan selayaknya. “Lim-kauwsu, namamu telah terkenal sebagai jago silat toya kelas satu dan belum bertemu lawan yang dapat menandingimu. Kabar ini sangat menarik perhatianku dan hari ini aku hendak membuktikan sendiri sampai di mana kehebatanmu!”
Lim Ek tersenyum tenang. “Memang telah menjadi hak setiap orang untuk mengajak pibu, saudara Thio, dan akupun telah mendengar namamu yang besar. Akan tetapi sayang sekali, sikapmu yang memukul pecah nama orang itu tak dapat dikatakan perbuatan yang terhormat!”
Mendengar sindiran ini, Thio Sui Kiat bangun berdiri dari duduknya.
“Orang she Lim! Cobalah kau meraba punggung sendiri sebelum mencela orang lain! Kalau kau tidak sesombong itu dan memasang papan menonjolkan kepandaianmu, siapa akan sudi mencampuri urusanmu? Sekarang aku sudah datang, keluarkanlah toyamu, marilah kita buktikan apakah betual kau adalah jago nomor satu yang tiada taranya!”
Karena maklum bahwa orang ini sengaja datang hendak mencari perkara, Lim Ek lalu menyuruh seorang muridnya mengambil senjatanya. Pada saat itu, puluhan anak murid Lim Ek telah berkumpul di situ karena mereka telah mendengar berita tentang akan diadakannya pibu itu. Sementara itu, para penonton menyerbu masuk dan oleh Lim Ek yang peramah mereka dipersilakan berdiri mengelilingi kalangan pertempuran.
Setelah menerima toyanya yang besar dan beratnya tak kurang dari luma puluh kati itu, Lim Ek lalu berdiri dengan gagah dan berkata kepada Thio Sui Kiat, “Orang she Thio, majulah kau!”
Dengan lagak sombong dan dada terangkat tinggi, Thio Sui Kiat melepaskan jubah luarnya dan mencabut keluar toya kecil yang terselip di pinggang. Kemudian dengan gerakan Burung Walet Menyambar Kupu-kupu ia melompat ke depan Lim Ek dan memutar-mutar toyanya dengan cepat di tangan kirinya.
“Lim-kauwsu, sambutlah seranganku!” serta merta tamu ini menggerakkan senjatanya menyerang dan tak lama kemudian mereka bertempur dengan sengit dan hebat.
Lim Ek memiliki ilmu toya yang hebat, karena suhunya adalah seorang tokoh kenamaan dari Siauw-lim-si. Tenaganyapun besar sehingga toya yang berat dan besar itu terputar-putar bagaikan kitiran dan angin dan suaranya bersuitan ketika ia melakukan serangan balasan!