Halo!

Pendekar Pemabuk Chapter 15

Memuat...

Bukan main terkejut dan herannya semua perwira yang mengepungnya, bahkan Thio Sin memandang dengan melongo! Tambang yang digunakan untuk mengikat tangan Gwat Kong itu adalah tambang yang kuat dan besar, maka mana mungkin pemuda itu dapat memutuskan dengan sekali renggut saja?

Akan tetapi Gan Bu Gi yang sudah dapat menduga bahwa Gwat Kong memiliki ilmu kepandaian tinggi karena dulu pernah menyaksikan kepandaian ginkang pelayan muda itu, tak mau membuang waktu lagi dan segera menyerangnya dengan pedang di tangannya. Serangan ini cepat dan hebat sekali dan pedangnya menyambar ke arah leher Gwat Kong. Begitu cepat datangnya pedang yang menyambar ini sehingga semua perwira yang lain menyangka bahwa leher Gwat Kong tentu akan putus seketika, akan tetapi bukan main heran dan terkejutnya hati mereka ketika melihat betapa dengan amat mudahnya Gwat Kong melompat ke samping sambil berseru, “Ayaaaa ...” dan sabetan pedang itu mengenai tempat kosong!

“Kurung, tangkap atau bunuh dia!” teriak Gan Bu Gi. “Jangan biarkan dia lolos!” Mendengar perintah ini, barulah lima orang perwira Sayap Garuda itu menjadi sadar dan segera bergerak maju dengan kedua tangan bermaksud untuk menangkap Gwat Kong. Mereka masih merasa ragu-ragu untuk mempergunakan senjata, karena mereka merasa malu untuk mengeroyok seorang pelayan muda yang bertangan kosong itu dengan senjata, padahal mereka semua berenam! Akan tetapi, segera mereka merasa terkejut sekali oleh karena tubuh Gwat Kong tiba-tiba berkelebat dan melompat tinggi sekali melewati kepala mereka dan pemuda itu hendak melarikan diri.

“Kejar!” teriak Gan Bu Gi sambil melompat dan mengirim sebuah tusukan ke arah punggung Gwat Kong. Pemuda ini yang belum menyadari betapa tinggi ilmu silatnya, mendengar suara angin tusukan pedang dan otomatis tubuhnya yang sudah terlatih itu miring untuk mengelak serangan tadi. Kemudian mengikuti gerakan tubuhnya yang sudah dapat bergerak dengan otomatis menurut pelajaran yang dilatihnya selama ini, kaki kirinya menendang ke arah pergelangan tangan Gan Bu Gi. Tendangan ini tak terduga sekali datangnya dan selain cepat, juga dilakukan dalam kedudukan yang sukar sehingga Gan Bu Gi tak dapat mengelak lagi. Ia berteriak kesakitan dan pedangnya terlepas dari pegangannya karena pergelangan tangannya tertendang dengan cepat sekali oleh ujung kaki Gwat Kong!

Sementara itu lima orang perwira Sayap Garuda telah memburu dengan senjata masing- masing di tangan, lalu maju menyerbu ketika melihat betapa Gan Bu Gi dalam sekali gebrak saja telah kehilangan pedangnya! Kini mereka tidak merasa ragu-ragu lagi karena dapat menduga bahwa diluar sangkaan, pelayan muda itu ternyata memiliki ilmu silat yang lihai!

Melihat hasil kelitan dan tendangannya, Gwat Kong menjadi gembira sekali. Gan Bu Gi yang gagah perkasa itu dapat dibikin tak berdaya dalam sekali gebrakan saja! Kini dengan sikap berani ia lalu menghadapi kelima orang perwira itu, bahkan hendak menguji kepandaian sendiri dan menghadapi mereka dengan tangan kosong dan sikap tenang sekali.

Ketika lima orang perwira itu maju dengan senjata mereka, menyerang Gwat Kong dari semua jurusan, tiba-tiba Gwat Kong berseru keras dan tubuhnya berkelebat cepat sekali ke arah para penyerangnya. Sambil menyampok tiap senjata yang meluncur ke arahnya, ia menggunakan tangan kiri yang digerakan ke arah kepala penyerangnya dan lima kali ia bergerak, ternyata ia telah dapat merampas semua bulu garuda yang menghias topi para perwira tadi! Kelima lawannya belum mengetahui hal ini akan tetapi ketika Gwat Kong melompat jauh lalu berdiri sambil menjura dan memperlihatkan bulu-bulu itu, mereka terkejut sekali lebih-lebih ketika mereka meraba topi mereka dan tidak mendapatkan lagi penghias topi yang merupakan tanda pangkat itu!

“Thio-ciangkun, tanpa bulu garuda topimu, kau kelihatan seperti seorang petani saja.” Gwat Kong menggoda. Sambil berkata demikian tiba-tiba ia menggerakkan tangannya yang memegang bulu-bulu itu dan lima batang bulu yang bergagang runcing itu meluncur bagaikan anak panah dan sebelum kelima orang perwira itu dapat mengelak, bulu-bulu itu dengan tepatnya telah menancap ke topi mereka.

Mereka segera menanggalkan topi masing-masing dan ketika melihat betapa bulu-bulu itu menancap dengan tepat seperti semula, mereka merasa makin terkejut dan heran sehingga kini mereka memandang dengan mulut ternganga ke arah pelayan muda itu seakan-akan belum percaya kepada pandang matanya sendiri. Topi mereka masih terpegang di tangan masing- masing!

MELIHAT hal ini, Gan Bu Gi merasa marah sekali. Dia adalah anak murid yang tersayang dari Bong Bi Sianjin. Tokoh ternama dari Kim-san-pai yang telah membuat nama besar, maka kalau kini ia sampai dikalahkan dengan secara demikian mudahnya oleh seorang pelayan muda yang tidak ternama dan bodoh, alangkah akan malunya! Ia telah memungut kembali pedangnya yang tadi terlepas karena tendangan Gwat Kong dan sambil berseru keras ia lalu menubruk maju sambil putar-putar pedangnya dengan gerakan hebat sekali.

Memang tadi dalam segebrakan saja ia kena tertendang oleh Gwat Kong dan hal ini sebetulnya karena ia tidak pernah menyangka bahwa Gwat Kong akan dapat bergerak sedemikian cepatnya dan karena ia tadinya memandang rendah maka ia sampai terkena tendangan. Akan tetapi sekarang ia telah tahu bahwa Gwat Kong bukanlah orang sembarangan, maka selain berlaku hati-hati, iapun lalu mengeluarkan ilmu pedang Kim-san Kiam-hoat yang memang kuat dan cepat gerakan itu. Sambil menyerang, tak lupa ia mengerahkan tenaga lweekangnya sehingga serangannya makin lihai.

Melihat betapa sinar pedang di tangan Gan Bu Gi amat kuat dan cepat menyambar-nyambar ke arah tubuhnya, Gwat Kong terkejut juga. Biarpun ia kini telah dapat mengetahui akan tingkat kepandaiannya sendiri yang boleh diandalkan. Akan tetapi ia belum pernah bertempur melawan musuh tangguh, dan boleh dibilang semua kepandaian itu masih terpendam dan belum pernah digunakan.

Ia sama sekali belum mempunyai pengalaman bertempur, maka kini menghadapi Gan Bu Gi yang tangguh, ia merasa jerih dan segera mengeluarkan kepandaian yang dianggapnya paling hebat di antara semua pelajaran yang telah dipelajari dari kitab kuno itu, yakni ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat. Ia berseru keras dan mencabut sulingnya yang tersembul keluar ujungnya dari buntalan pakaian. Memang suling inilah yang selalu ia gunakan dalam latihan pedang di kamarnya, karena sebagai seorang pelayan, dari mana ia bisa mendapatkan pedang?

Ketika ia telah memegang suling itu, hatinya menjadi tetap kembali karena memang ia telah biasa mainkan suling ini sebagai pedang dalam latihan-latihan. Suling adalah benda yang amat ringan. Maka ketika ia mainkan Sin-eng Kiam-hoat yang lihai, tentu saja suling itu lalu terputar-putar hebat dan cepat sekali merupakan segulung sinar kekuning-kuningan yang mengurungi tubuhnya sendiri.

Kagetlah Gan Bu Gi melihat ini dan ia lalu menyerbu dengan hebat. Akan tetapi gerakan Gwat Kong amat cepatnya sehingga sukar untuk diikuti dengan pandang mata. Pedang Gan Bu Gi tidak berdaya karena ia telah menjadi bingung ke arah mana ia harus menyerang.

Tubuh lawannya sebentar-sebentar berpindah tempat dan tanpa mengetahui bagaimana lawannya itu bergerak, tahu-tahu ujung suling telah mengancam semua jalan darahnya sehingga Gan Bu Gi merasa pening dan bingung.

Kelima orang perwira yang tadi telah dipermainkan oleh Gwat Kong, makin kagum dan terheran-heran melihat sepak terjang pelayan itu. Mereka tidak dapat melihat lagi tubuh pemuda itu karena tertutup oleh sinar sulingnya yang digerakan secara luar biasa. Mereka hanya melihat betapa Gan Bu Gi terdesak dan terkurung oleh sinar kuning itu sehingga panglima yang mereka anggap sudah amat gagah perkasa itu berkelahi sambil mundur dan hanya dapat menangkis dan mengelak saja tanpa dapat membalas lawannya! Tiba-tiba mereka mendengar Gan Bu Gi menjerit keras dan tubuh panglima itu terhuyung mundur sedangkan pedangnya sekali lagi terpental dan terlepas dari pegangannya. Terdengar suara Gwat Kong tertawa girang dan pemuda pelayan itu lalu melompat pergi dan berlari cepat meninggalkan mereka.

Kelima orang perwira itu segera maju menolong dan mengangkat bangun pada Gan Bu Gi yang menolak pertolongan mereka dengan muka bersungut-sungut dan marah sekali. Ternyata tadi bahwa ketika ujung suling Gwat Kong secara aneh sekali dan bertubi-tubi menyerang dan mengancam jalan darahnya, dengan marah dan nekad panglima muda ini lalu memukul suling itu sekerasnya dengan pedang untuk mengadu tenaga. Akan tetapi. Bukan suling lawan yang terpental, bahkan telapak tangannya merasa gemetar karena ternyata bahwa tenaga lweekang lawannya luar biasa sekali kuatnya! Kemudian, selagi ia masih belum dapat mengembalikan dan menenangkan keadaannya, ujung suling itu telah meluncur cepat dan mengetuk pundak kanannya sehingga ia merasa pundaknya sakit sekali sampai terasa di hulu hati! Pedangnya terpental dan terlepas sedangkan tubuhnya terhuyung ke belakang!

Dengan marah dan bersungut-sungut, Gan Bu Gi mengajak kawan-kawannya untuk kembali ke Kiang-sui. Ia memesan kepada kelima orang perwira itu agar jangan menceritakan peristiwa tadi kepada siapapun juga dan hanya melaporkan kepada Liok-taijin bahwa mereka tidak berhasil menangkap Gwat Kong yang telah melarikan diri entah ke mana. Kelima orang perwira itu setuju karena mereka telah dipermainkan oleh bekas pelayan itu.

Sementara itu, Gwat Kong dengan hati girang sekali melanjutkan larinya ke arah selatan karena ia hendak pergi ke Lam-hwat untuk mencari musuh besarnya, yaitu Tan-wangwe yang telah mendatangkan mala petaka kepada orang tuanya! Ia merasa girang sekali oleh karena sekarang ia tidak ragu-ragu lagi akan kepandaiannya yang telah terbukti dengan perlawanannya terhadap Gan Bu Gi tadi. Ia masih belum tahu bahwa sebenarnya bukan Gan Bu Gi kurang lihai, akan tetapi adalah ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat yang dipelajari itulah yang luar biasa.

Setelah melakukan perjalanan selama tiga hari, sampailah Gwat Kong di kota Lam-hwat, tempat kelahirannya dan di mana dulu ayahnya menjadi tihu yang disegani karena jujur dan adil. Akan tetapi oleh karena ia telah dibawa pergi oleh ibunya dari kota ini ketika ia masih amat kecil maka ia tidak ingat sama sekali tentang kota ini dan memasuki kota Lam-hwat sebagai seorang asing yang belum pernah melihatnya.

Gwat Kong lalu mencari sebuah kamar di hotel dan oleh karena pakaiannya sebagai seorang pelayan itu, membuat para pengurus dan pelayan hotel memandangnya dengan curiga karena jarang sekali ada seorang pelayan bermalam di sebuah hotel, maka ia lalu keluar dan membeli pakaian di toko pakaian. Dengan pakaian barunya walaupun yang dibeli hanyalah pakaian sederhana, ia nampak lebih gagah. Rambutnya yang panjang dan hitam itu ia ikat dengan sehelai sapu tangan biru yang lebar sehingga keningnya nampak lebar menambah kegagahan wajahnya. Setelah ia mengenakan pakaian dan sepatu baru, maka semua pelayan di hotel tempat ia bermalam itu bersikap lebih hormat kepadanya sehingga diam-diam Gwat Kong merasa geli melihat kepalsuan ini.

Pada keesokan harinya, Gwat Kong mulai mencari keterangan tentang rumah keluarga Tan- wangwe, akan tetapi ia merasa kecewa sekali oleh karena di kota Lam-hwat tidak ada seorang hartawan bernama Tan-wangwe, sungguhpun banyak sekali bernama keturunan Tan tinggal di kota itu. Gwat Kong tidak putus asa dan terus menyelidiki bertanya ke sana kemari, bahkan ia mulai bertanya tentang nama ayahnya, yakni Bun Tiang Ek yang dulu menjadi tihu di kota Lam-hwat. Akan tetapi, oleh karena hal itu telah terjadi belasan tahun yang lalu dan kota Lam-hwat telah banyak kedatangan orang-orang baru, maka agaknya nama ini telah dilupakan orang! Tak seorangpun menyatakan pernah mendengar Bun-tihu ataupun Tan-wangwe.

Gwat Kong mulai merasa putus harapan dan dengan kecewa sekali ia masuk ke dalam sebuah rumah makan dan memesan makanan. Seorang pelayan tua mengantarkan makanan yang dipesannya. Melihat pelayan tua ini, teringatlah Gwat Kong bahwa ia telah melakukan kesalahan, ketika mencari keterangan tadi tidak seharusnya ia bertanya kepada orang-orang muda, yang mengetahui atau mengenal ayahnya serta Tan-wangwe tentulah orang-orang tua yang telah lama tinggal di Lam-hwat. Maka ketika pelayan itu hendak meninggalkan mejanya ia menahan dan bertanya,

“Lopeh (uwak), apakah lopeh sudah lama tinggal di kota ini?” Ia sengaja bertanya sambil lalu seakan-akan untuk mengadakan percakapan biasa saja.

Pelayan tua itu memandangnya dengan bibir tersenyum. Ia menganggukan kepalanya dan menjawab, “Tentu saja, kongcu, selama hidupku aku tinggal di kota ini, bahkan aku dilahirkan di Lam-hwat.”

Mendengar pengakuan ini, giranglah hati Gwat Kong, akan tetapi sungguhpun ia merasa betapa dadanya berdebar, ia berusaha agar wajahnya tetap biasa saja.

“Lopeh, marilah kau temani aku makan minum. Harap kau menambah sebuah mangkok kosong dan sepasang sumpit lagi untukmu.”

Pelayan itu memandang heran, belum pernah ada seorang tamu minta seorang pelayan makan bersama, dan selama puluhan tahun menjadi pelayan, baru kali ini ia mengalami pengalaman ganjil itu.

Post a Comment