Gwat Kong tersenyum, bangkit berdiri sambil menyambar buntalan pakaiannya dan menjawab, “Aku tidak mempunyai guru!” Dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah lari jauh sekali!
Kedua saudara Pui itu hanya dapat saling pandang dengan bengong dan tiada hentinya mereka membicarakan kehebatan dan keanehan pemuda itu, yang telah menolong mereka dari desakan Bong Bi Sianjin.
“Bukan main!” akhirnya Pui Hok berkata. “Siapakah sebenarnya orang aneh tadi? Ia masih muda, jauh lebih muda dari pada kita, paling banyak baru delapan belas tahun, akan tetapi lweekang dan ginkangnya sudah sehebat itu! Suhu sendiri belum tentu dapat mengatasinya!”
Demikianlah, kedua saudara Pui itu menduga-duga kagum dan heran.
****
Sambil berlari terus menuju ke kota Kihong, Gwat Kong mulai merasa tertarik akan penghidupan merantau. Ia kagumi kedua saudara Pui yang gagah perkasa dan merasa gembira telah dapat berkenalan dengan dua orang pemuda itu. Kini ia maklum mengapa Seng Le Hosiang begitu mati-matian membela Bong Bi Sianjin dan muridnya, tidak sedan-segan mempergunakan pengaruhnya terhadap cucu muridnya, yaitu Liok Ong Gun untuk memberi kedudukan baik kepada Gan Bu Gi serta memungut menantu pemuda itu.
Ia dapat menduga bahwa Seng Le Hosiang tentu mengharapkan bantuan Bong Bi Sianjin dalam usahanya menghadapi pihak Hoa-san-pai, sebagaimana terbukti dari penuturan kedua saudara Pui tadi. Karena ia memang tidak suka kepada Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin yang timbul karena tidak sukanya kepada Gan Bu Gi, maka otomatis ia berpihak kepada kedua saudara Pui atau kepada pihak Hoa-san-pai.
Dengan ginkangnya yang di luar pengetahuan sendiri telah mencapai tingkat tinggi itu, Gwat Kong berlari cepat sekali hingga setelah hari mulai menjadi gelap ia tiba di kota Kihong. Ia masih ingat di mana jenazah ibunya dimakamkan, maka ia langsung menuju ke tempat kuburan itu dan ketika melihat betapa makam ibunya kini ditumbuhi rumput alang-alang yang tinggi dan liar sehingga kuburan itu terlantar karena tidak terawat, ia menjadi terharu dan bersedih. Ia merasa berdosa kepada ibunya, teringat akan segala kenakalannya ketika ia masih tinggal bersama ibunya di Kihong. Ia menjatuhkan diri berlutut di depan kuburan ibunya dan menangis sedih.
Pada keesokan harinya, ia menggulung lengan baju dan mulai membabat dan mencabut rumput alang-alang itu, membersihkan kuburan ibunya. Kemudian ia pergi ke kota dan membeli hio-swa dan kembang untuk bersembahyang di depan makam ibunya. Dua hari dua malam ia tinggal di situ dan tidak tidur sedikitpun, hanya duduk bersila di depan kuburan sambil mengenangkan semua peristiwa di waktu ia masih kecil dan yang masih dapat teringat olehnya. Ia teringat akan pesan ibunya untuk membalas dendam kepada Tan-wangwe (hartawan Tan) yang tinggal di Lam-hwat dan yang telah memfitnah ayahnya sehingga orang tuanya itu menerima bencana hebat yang menyebabkan semua keluarganya menderita.
Pada hari kedua, karena lelah dan mengantuk, Gwat Kong tak dapat bertahan lagi dan ia merebahkan tubuhnya di atas tumpukan rumput alang-alang yang dibabatnya. Angin pagi berselir membuat matanya sukar untuk menahan ngantuknya sehingga tak lama kemudian ia tertidur dengan nyenyak.
Ia tidak tahu bahwa belum lama setelah ia jatuh pulas, enam orang yang berpakaian perwira Sayap Garuda datang di tempat itu dan kini keenam orang itu berdiri memandangnya dan dengan lagak mengancam. Mereka ini bukan lain ialah Gan Bu Gi sendiri dengan lima orang kepala perwira dari gedung Kepala daerah Kiang-sui yakni Thio Sin, Lie Bong, dan Kiang-sui Sam-eng ketiga jago dari Kiang-sui!
Melihat Gwat Kong tertidur di dekat segunduk tanah kuburan, Gan Bu Gi yang mendapat perintah dari calon mertuanya untuk membunuh Gwat Kong segera mencabut pedangnya dan hendak menikam dada pemuda itu.
“Tahan dulu, ciangkun!” kata Thio Sin yang melihat gerakan ini sehingga perwira muda itu menahan pedangnya dan memandang dengan heran.
“Mengapa, Thio-twako? Liok-taijin telah memberi perintah kepada kita untuk membunuhnya, bukan?”
“Sesungguhnya kurang sempurna kalau kita yang disebut orang-orang gagah dari Kiang-sui harus membunuh seorang pelayan lemah yang sedang tidur pulas! Bagaimana kalau sampai terlihat oleh orang-orang gagah di dunia kang-ouw? Biarpun tidak akan mereka ketahuinya setidaknya kita akan merasa malu terhadap batin sendiri!”
Bu Gi yang muda itu menjadi serba salah dan mengangkat pundak. “Habis, bagaimana baiknya ? Aku hanya hendak memenuhi tugas yang diperintahkan oleh Liok-taijin.”
“Lebih baik kita tangkap padanya, kalau dia melawan, barulah kita mempunyai alasan untuk membunuhnya. Biarpun hendak dibunuh harus dalam keadaan sadar dan tidak sedang tidur seperti ini!” Thio Sin lalu menghampiri Gwat Kong yang sedang tidur dan mengeluarkan sehelai tambang yang kuat. Dengan bantuan Lie Bong dan kawan-kawan lain ia lalu mengikat kedua lengan Gwat Kong yang masih tidur nyenyak itu dengan erat. Ternyata Gwat Kong yang terlampau lelah dan mengantuk itu tidak merasa sama sekali betapa kedua lengannya ditelikung ke belakang dan dibelenggu erat-erat bagaikan kerbau hendak disembelih itu.
“He, Gwat Kong! Bangunlah!” Thio Sin menggoyang-goyang tubuhnya dan ketika pemuda itu belum juga terbangun, timbullah gemasnya. “Dasar orang malas, malas dan tolol!”
Gan Bu Gi tertawa geli, menertawakan Thio Sin yang dianggap mencari kerepotan sendiri. Mengapa harus berlaku sungkan-sungkan terhadap seorang pelayan seperti Gwat Kong?
Sekali tusuk dengan pedang dan habis perkara! “Kau memang terlampau lemah, Thio-twako. Biarlah aku tamatkan saja pelayan malas agar kita tidak pusing-pusing lagi.” Kembali Gan Bu Gi mencabut pedangnya, akan tetapi pada saat itu Lie Bong telah datang membawa tempat air yang dibekalnya dalam perjalanan.
Perwira muka hitam yang tinggi besar ini lalu membuka tutup mulut tempat air itu dan menyiram muka Gwat Kong yang telentang. Usaha ini ternyata berhasil baik karena Gwat Kong segera terjaga dari tidurnya dengan gelagapan! Ia bermimpi naik perahu dengan ibunya dan ketika tiba di tengah-tengah telaga, perahu itu terguling hingga ia dan ibunya tenggelam ke dalam air yang membuatnya gelagapan.
“Tolong ...!” teriaknya sambil menggerak-gerakan tangan. Akan tetapi karena kedua tangannya dibelenggu, maka ia membuka mata dan memandang di sekelilingnya dengan terheran-heran. Ia melihat enam orang perwira mengelilingi sambil tertawa bergelak-gelak karena merasa geli melihat ia gelagapan dan minta tolong tadi.
Begitu melihat orang-orang ini, maklumlah Gwat Kong bahwa ia berada dalam bahaya. Kedatangan mereka ini tentu tidak mengandung maksud baik, pikirnya.
“Cuwi-ciangkun, kalian datang mengganggu tidurku dengan maksud apakah?” tanyanya sambil memandang kepada Thio Sin yang sudah dikenalnya baik-baik.
“Gwat Kong, menurut perintah Liok-taijin, kau harus ditangkap,” jawab Thio Sin.
“Bukan hanya ditangkap, bahkan harus dibunuh!” kata Gan Bu Gi dengan gemas karena ia teringat akan Tin Eng yang melarikan diri dari rumah. Dalam kesedihan dan kekecewaannya, panglima muda ini menyalahkan Gwat Kong dalam hal ini, maka timbullah kebenciannya semenjak Gwat Kong membuka rahasia hatinya dalam keadaan mabok itu.
Mendengar ucapan mereka yang hendak menangkap dan membunuhnya, Gwat Kong menjadi terkejut sekali. Tanpa sengaja ia mengerahkan tenaganya dan menggerakkan kedua lengannya yang diikat erat-erat. “Kreekkk!” dengan sekali renggut saja, putuslah semua tali yang mengikatnya dan ia melompat berdiri lalu menyambar buntalan pakaian yang tadi ia gunakan untuk bantal kepala!”