Pada keesokan harinya, ketika pelayan wanita memasuki kamar Tin Eng, ia mendapatkan kamar itu kosong karena Tin Eng telah pergi tak meninggalkan bekas. Gegerlah di dalam gedung itu dan ternyata kemudian bahwa Tin Eng telah minggat dari rumahnya malam tadi, membawa beberapa potong pakaian, tanpa meninggalkan pesan sesuatu!
Liok-taijin merasa marah dan malu sekali maka ia lalu memberi perintah kepada para pelayan dan penjaga di gedung agar hal ini jangan sampai tersiar di luar. Kemudian ia lalu memanggil Gan Bu Gi dan memberi perintah kepada calon menantu ini untuk membawa beberapa orang perwira dan pergi mencari Tin Eng. Juga dipesan kalau bertemu dengan Gwat Kong supaya dibunuh saja pelayan yang menimbulkan kekacauan itu.
****
Bun Gwat Kong yang melarikan diri terus ke selatan tiba di dalam hutan dan ia duduk beristirahat. Setelah berlari dan keluar peluh, pusingnya akibat arak itu lenyap dan ketika duduk di tempat teduh dan mendapat siliran angin lalu, terkenanglah ia akan segala peristiwa yang terjadi dan timbul penyesalan hebat di dalam hatinya. Ia merasa lengannya yang tertusuk ujung pedang Tin Eng, dan tersenyumlah dia. Luka itu telah mengering, tanda bahwa tiap luka tentu lambat laun akan sembuh, sebagaimana juga dengan hatinya yang terluka pada saat itu. Ia maklum bahwa dengan terjadinya peristiwa itu, Tin Eng tentu amat membencinya. Ah, ini lebih baik lagi, agar ia tidak selalu memikirkan gadis itu karena bukankah gadis itu akan menjadi isteri orang lain, isteri Gan-ciangkun?
Mendengar siliran angin dan karena perutnya amat lapar, ia lalu berpindah tempat, mencari tempat yang enak di bawah pohon, tertutup oleh serumpun alang-alang dan sebentar saja ia sudah tidur pulas.
Belum beberapa lama ia tidur, tiba-tiba terdengar suara ribut tak jauh dari tempat itu sehingga Gwat Kong terbangun dengan terkejut. Ketika ia memperhatikan, terdengarlah suara senjata tajam beradu, tanda bahwa di dekat situ terdapat orang-orang sedang bertempur. Dengan heran Gwat Kong mengintai dari balik rumpun alang-alang itu dan terkejutlah ia ketika ia melihat bahwa yang bertempur itu adalah seorang tosu tua yang ia kenal sebagai Bong Bi Sianjin, guru Gan Bu Gi yang dulu datang di gedung Liok-taijin. Tadinya ia menyangka bahwa kakek itu sedang bertempur dengan dua orang pemuda yang gagah perkasa. Gwat Kong belum pernah melihat pemuda-pemuda itu, akan tetapi melihat wajah mereka yang tampan itu membayangkan kegagahan, begitu melihat ia telah merasa suka.
Sebetulnya, pertandingan yang sedang berlangsung itu hebat sekali karena gerakan Bong Bi Sianjin dan kedua orang lawannya yang muda itu benar-benar lihai dan cepat. Kalau orang biasa yang melihatnya tentu ia akan menjadi pening dan pandang matanya menjadi kabur. Akan tetapi, Gwat Kong tanpa menyadari keadaannya sendiri, dapat melihat jalan pertempuran itu dengan jelas. Ia melihat betapa kedua orang muda itu terdesak hebat oleh sepasang tangan Bong Bi Sianjin, sungguhpun keduanya menggunakan senjata pedang.
Kedua pemuda itu bertubuh tegap dan berwajah tampan, seorang di antara mereka berbaju biru dan yang seorang pula berbaju putih. Ilmu pedang mereka gesit dan kuat sehingga pedang yang dimainkan merupakan gulungan sinar yang menyambar-nyambar. Akan tetapi Bong Bi Sianjin yang menghadapi mereka dengan tangan kosong itu dengan tenang dapat menghindarkan semua serangan pedang dengan ginkangnya yang tinggi hingga tubuhnya dapat melayang di antara sinar pedang dan membalas dengan pukulan-pukulan yang digerakan dengan tenaga khikang.
Kadang-kadang tangannya mencengkeram dengan Ilmu Eng-jiauw-kang dan angin pukulannya ternyata kuat sekali. Kini sepasang pemuda itu telah terdesak hebat, dan tibalah tendangan Siauw-cu-twi yang datangnya bertubi-tubi dan berhasil mengenai tangan pemuda baju putih yang memegang pedang sehingga pedang itu terlempar ke atas! Akan tetapi, pemuda itu ternyata hebat juga, karena ia dapat melompat ke atas dan menangkap kembali gagang pedang itu!
“Bagus, anak muda murid Hoa-san tidak mengecewakan!” Tosu itu memuji dan mengirim serangan lagi makin hebat sehingga kedua anak muda itu kini hanya dapat menangkis saja, karena kedua ujung lengan tosu itu kini dugunakan sebagai senjata yang mengirim pukulan dan totokan luar biasa!
Gwat Kong yang melihat guru Gan Bu Gi, merasa tidak senang karena betapapun juga ia menganggap bahwa Gan Bu Gi adalah perusak kebahagiaannya. Ia mengambil tiga buah uang tembaga dari buntalannya dan dari tempat sembunyinya ia menyambit ke arah tubuh Bong Bi Tosu di tiga bagian!
Pada saat itu, Bong Bi Sianjin telah mendesak amat hebatnya dan telah dapat dibayangkan bahwa tak lama kemudian tentu kedua orang muda itu akan roboh ditangannya. Tiba-tiba nampak berkelebat tiga cahaya menuju ke tosu itu yang menjadi amat terkejut oleh karena belum juga benda itu sampai, anginnya telah menyambar tiba terasa olehnya!
Dengan cepat Bong Bi Sianjin melompat ke kiri, akan tetapi sebuah di antara tiga senjata rahasia itu malah melayang ke arah dada sehingga dengan cepat ia menyampoknya dengan ujung lenagn bajunya. “Brett!” dan terkejutlah Bong Bi Sianjin karena biarpun senjata yang ternyata hanya sebuah uang tembaga itu dapat dipukul ke samping akan tetapi ujung lengan bajunya menjadi berlubang.
Padahal ketika menyampoknya tadi, ia telah mengerahkan lweekangnya dan jangankan baru sebuah uang logam, bahkan baja sekalipun tak mungkin dapat membikin ujung baju itu berlubang! Ia maklum bahwa pasti ada seorang sakti yang membela kedua pemuda lawannya itu, maka sambil melompat mundur ia berseru, “Sahabat, terima kasih atas pertunjukkanmu tadi. Harap suka keluar untuk bertemu muka.”
Akan tetapi, Gwat Kong diam saja dan hanya mengintai dari balik alang-alang itu tanpa berani bergerak. Bong Bi Sianjin merasa marah sekali dan menganggap bahwa orang sakti itu tentu memandang rendah kepadanya, maka ia lalu menjura dan berkata, “”Biarlah, kalau ada orang pandai melindungi anak murid Hoa-san, lain kali pasti bertemu lagi!” Setelah berkata demikian, Bong Bi Sianjin melempar pandang mengejek ke arah kedua orang muda itu, lalu tubuhnya berkelebat dan pergi dari tempat itu.
Kedua orang muda itu lalu memandang ke arah rumput alang-alang dan sambil mengangkat kedua tangan memberi hormat, si baju biru yang lebih tua berkata, “Inkong (tuan penolong), kami menghaturkan terima kasih dan harap inkong sudi memperlihatkan diri.”
Akan tetapi tidak ada jawaban sehingga kedua orang muda itu saling pandang dan mengangkat pundak masing-masing.
“Mungkin dia sudah pergi lagi, “ kata pemuda baju putih. “Mari kita lihat,” kata yang berbaju biru.
Mereka lalu melangkah maju dan menyingkapkan rumpun alang-alang itu dan bukan main heran hati mereka ketika melihat di situ hanya ada seorang pemuda yang berpakaian pelayan sedang berbaring dengan sebuah buntalan digunakan sebagai bantal!
“Kaukah yang menolong kami tadi?” tanya si baju putih dengan ragu-ragu, karena ia tidak percaya kalau anak muda ini yang berhasil mengusir tosu yang amat lihai itu.
“Siapa yang menolong?” balas Gwat Kong dengan sikap tak acuh. “Aku tidak suka kepada tosu yang mengganggu tidurku itu dan setelah kuberi tiga potong uang tembaga barulah pengemis tua itu pergi.” Setelah berkata demikian, Gwat Kong lalu bangun duduk dan mengambil buntalannya.
“Ah, kalau begitu benar kau yang telah menolong kami. Terima kasih, sahabat, marilah kita bicara di tempat yang lebih enak,” kata pemuda yang berbaju biru sambil mempersilahkan berdiri. Sedangkan si baju putih lalu memegang buntalan Gwat Kong untuk dibawakan.
“Biarlah siauwte membawakan bungkusanmu,” katanya, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa beratnya bungkusan yang dipegang oleh Gwat Kong itu. Ia merasa penasaran dan mengerahkan tenaganya untuk mengambil bungkusan itu, akan tetapi bungkusan yang terpegang oleh pemuda berpakaian pelayan itu sama sekali tak dapat ia gerakan. Ia maklum bahwa pemuda pelayan itu memiliki kepandaian tinggi dan tenaga lweekang yang luar biasa maka ia lalu melepaskan buntalan itu dan membungkuk-bungkuk memberi hormat sambil berkata, “Maaf, maaf!”
Mereka lalu keluar dari tempat itu dan berjalan menuju ke tempat dua ekor kuda yang ditambatkan pada sebatang pohon. Ternyata bahwa kedua pemuda itu datang menunggang kuda.
“Saudara yang gagah perkasa, kami telah berhutang budi kepadamu, karena kalau tidak ada kau yang menolong, tentu tosu tadi tidak mau memberi ampun dan akan membinasakan kami. Bolehkah kami mengetahui namamu yang mulia dan dari perguruan manakah kau datang?” Gwat Kong merasa bingung karena tidak tahu harus menjawab bagaimana, dan tiba-tiba ia teringat akan rasa lapar yang menyerang perutnya, maka ia bahkan balas bertanya, “Apakah di dekat ini ada yang menjual makanan? Perutku lapar sekali!”
Kedua orang muda itu saling pandang lagi dengan mata terheran karena mereka merasa betapa anehnya sikap Gwat Kong itu.
“Kau lapar? Ah, kebetulan sekali kami membawa arak dan roti kering.”
“Bagus! Kalau begitu biarlah aku akan membeli makananmu itu,” kata Gwat Kong sambil mengeluarkan uang dari buntalannya.
“Ah, mengapa kau berlaku sungkan-sungkan,” kata si baju biru dan si baju putih segera mengambil makanan dan seguci arak dari punggung kuda.
“Marilah, sahabat, makanlah roti dan arak kami ini.”
Gwat Kong menggeleng-geleng kepala. “Tidak, kalau tidak mau menerima uangku, aku tidak berani makan makanan orang lain.”
“Akan tetapi kami bukanlah orang lain lagi, sobat baik!”
Si baju biru berseru, “Kami adalah kakak beradik, namaku Pui Kiat dan ini adikku Pui Hok dan sudilah kau memberi tahukan namamu yang mulia.”
“Namaku Bun Gwat Kong dan aku adalah seorang bekas pelayan biasa saja. Tentang makanan kalau kalian menawarkan dengan rela, aku takkan menolaknya!” Dengan girang
Pui Kiat dan Pui Hok lalu mengajak Gwat Kong duduk di atas rumput dan makan roti kering bersama arak.
Melihat betapa lahapnya Gwat Kong minum arak, kedua saudara Pui itu menjadi makin kagum.
“Mengapa kalian bertempur dengan tosu itu?” tanya Gwat Kong. Pui Kiat lalu menceritakan sebab-sebab pertempuran tadi. Kedua saudara Pui ini adalah anak murid Hoa-san-pai dan dalam beberapa bulan akhir-akhir ini pihak Hoa-san-pai memang menanam permusuhan dengan pihak Go-bi-pai. Mula-mula hanya terjadi karena perkelahian antara anak murid saja, akan tetapi lama kelamaan menjalar sampai ke tokoh-tokohnya, sehingga bertandinglah Seng Le Hosiang tokoh Go-bi-pai melawan Sin Ceng Cu tokoh Hoa-san-pai yang berakhir dengan kekalahan bagi Seng Le Hosiang.
Hwesio ini merasa penasaran dan mencari sahabat untuk membantunya, yakni Bong Bi Sianjin tokoh Kim-san-pai itu. Oleh karena itulah, maka tiap kali Bong Bi Sianjin bertemu dengan murid-murid Hoa-san-pai, ia selalu menyerang dan membikin malu mereka! Karena kedua pihak tidak ada yang mau mengalah maka permusuhan itu makin menjalar, bahkan sudah ada yang saling bunuh di antara anak murid Hoa-san-pai melawan anak murid Go-bi- pai! “Ah, tak kusangka sama sekali bahwa tokoh-tokoh persilatan itu tak lain hanya anak-anak kecil yang nakal dan gemar berkelahi saja!” kata Gwat Kong terheran-heran dan menghela napas panjang.
Kedua saudara Pui itu merasa amat heran melihat pemuda yang berkepandaian demikian lihai, akan tetapi yang kelihatannya seperti orang bodoh dan tidak berpengalaman. “Bolehkah kami mengetahui, Bun-taihiap ini anak murid cabang manakah?”