Halo!

Pendekar Pemabuk Chapter 12

Memuat...

Ia masuk ke dalam kamar itu dan isterinya segera berdiri melihat ia masuk, akan tetapi Tin Eng diam saja sambil terisak-isak di atas pembaringannya.

“Tin Eng, sungguh aku tidak mengerti melihat sikapmu tadi. Mengapa kau marah-marah dan hendak membunuh Gwat Kong di depan para tamu?” Liok-taijin menegur puterinya.

Mendengar pertanyaan ini, bukannya menjawab bahkan Tin Eng menangis makin keras. Ayahnya menggeleng-geleng kepala dan berkata kepada isterinya, “Coba kau lihat betapa keras kepala anak kita ini! Sebetulnya mengapa pula ia menangis?”

“Entahlah, semenjak tadi aku bertanya akan tetapi ia hanya menangis saja, memang sukar sekali mengurus Tin Eng!”

Kedua orang tua itu tentu saja tidak dapat tahu betapa hati dara itu merasa sakit sekali. Ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Gwat Kong masih bergema di telinganya dan biarpun hal ini masih membuatnya marah akan tetapi kemarahannya tidak sebesar penyesalannya teringat akan sikapnya sendiri yang hampir saja membunuh pelayan itu, bahkan telah melukai lengannya. Gwat Kong selama ini berlaku amat baik kepadanya dan apakah pembalasannya? Ia teringat betapa ia pernah menyatakan berhutang budi kepada pelayan itu dan belum membalasnya. Ia merasa kasihan kepada Gwat Kong, terutama kalau ia kenangkan ucapan- ucapan pemuda tadi yang dengan terang-terangan menyatakan cinta kasihnya!

“Tin Eng,” ayahnya berkata keras. “Jangan kau berlaku seperti anak kecil! Ketahuilah, usiamu telah enam belas tahun lebih dan kau telah menjadi seorang dewasa. Perlakuanmu terhadap Gwat Kong tadi tidak seharusnya dilakukan oleh seorang gadis bangsawan seperti engkau.

Boleh jadi pelayan itu membuat kesalahan, akan tetapi kau tidak berhak untuk turun tangan sendiri kepadanya di depan susiok-couw dan calon suamimu.”

Mendengar sebutan terakhir ini tiba-tiba Tin Eng serentak bangun duduk dan memandang kepada ayahnya dengan mata masih merah. Ibunya menaruh tangannya di atas pundak Tin Eng. “Anakku, kau telah dipinang untuk dijodohkan dengan Gan-ciangkun dan menurut pandangan mata kami berdua, pemuda itu sudah pantas untuk menjadi suamimu.”

Sebetulnya, hati Tin Eng memang amat tertarik oleh Gan Bu Gi yang selain tampan dan gagah, juga memiliki kepandaian yang lebih tinggi darinya. Akan tetapi, sama sekali belum terpikir olehnya tentang perjodohan, maka ia merasa terkejut sekali mendengar ini. Pula, ucapan-ucapan Gwat Kong yang masih bergema di telinganya itu membuyarkan sama sekali perasaan hatinya yang agak condong kepada Gan-ciangkun.

“Ayah, aku tidak ingin menikah dengan siapapun juga!” jawabnya keras dan dengan suara tetap.

“Anak bodoh! Ayah ibumu telah menerima pinangan itu. Siapa lagi kalau bukan Gan Bu Gi yang pantas menjadi menantuku?”

“Ya, pantas menjadi menantumu, ayah, akan tetapi aku tidak ingin menjadi isterinya, atau isteri siapapun juga!” jawab Tin Eng bersikeras.

Marahlah Liok Ong Gun melihat kebandelan anaknya ini. “Tin Eng! Jangan kau berkeras kepala! Kurang apakah pemuda seperti Gan Bu Gi? Ia cukup tampan, berkepandaian tinggi, berkedudukan baik, dan beradat baik pula!”

Teringat dara itu kepada ucapan dan sindiran-sindiran Gwat Kong, maka dengan muka merah ia menjawab, “Boleh jadi ia cakap, gagah, kaya, berkedudukan tinggi. Akan tetapi aku bukanlah gadis yang tergila-gila akan kekayaan dan kedudukan maupun ketampanan dan kegagahan. Ayah, aku tidak mau!”

Maka meluaplah kemarahan dalam hati Liok Ong Gun. Ia mengangkat tangan dan menampar muka Tin Eng sehingga gadis itu menekap pipinya yang tertampar dan air matanya mengalir kembali. Belum pernah ia ditampar oleh ayahnya dan hal ini amat menyakitkan hatinya. “Anak tidak berbakti! Kau terlalu dimanja sehingga menjadi keras kepala! Aku memberi waktu sampai malam nanti untuk kau menyehatkan kembali pikiranmu yang tersesat! Malam nanti aku menanti jawabanmu yang memastikan dan sekali-kali kau tidak boleh banyak berbantah dalam hal ini!” Setelah berkata demikian, Liok-taijin tinggalkan kamar itu dan menutup pintu kamar anaknya keras-keras.

Tin Eng menjatuhkan diri di atas pembaringannya dan menangis sedih. Ibunya memeluknya dan membujuk-bujuk. Akan tetapi gadis itu tak dapat dihibur dan menangis tersedu-sedu sehingga habis air matanya ditumpahkan membasahi bantalnya.

SEMENTARA itu Liok-taijin lalu memanggil kedua orang pelayan yang tadi melayani Seng Le Hosiang. Ia menyuruh kedua pelayan ini menceritakan segala peristiwa yang terjadi pada waktu keributan tadi. Karena takut untuk menyembunyikan sesuatu, kedua pelayan itu lalu menceritakan segala yang mereka dengar dan lihat.

Bukan main marahnya hati Liok Ong Gun mendengar akan kekurang ajaran Gwat Kong dan ia merasa menyesal mengapa tadi ia membiarkan pemuda itu pergi. Kalau ia tahu akan menghukumnya. Dan yang paling menyebalkan hatinya ialah pernyataan-pernyataan dan ucapan-ucapan Gwat Kong yang seakan-akan menyindirkan keadaan Tin Eng dan menyatakan cinta kasihnya terhadap anaknya. Puteri tunggalnya seorang dara puteri Kepala daerah, bangsawan dan kaya raya. Orang paling berkuasa di kota Kiangsui, dicinta oleh seorang bujang pelayan yang rendah dan hina? Kurang ajar sekali anak itu!

Dan ketika memikirkan hal ini, teringatlah ia akan penolakan Tin Eng terhadap perjodohan itu, maka ia menduga-duga apakah hubungannya penolakan ini dengan kekurang ajaran Gwat Kong? Makin marahlah ia dan dengan mata terbelalak ia berkata kepada dua orang pelayan itu, “Kalian berdua harus dapat menutup mulut dan jangan diceritakan segala peristiwa yang terjadi tadi kepada siapapun juga! Aku akan mencari dan menjatuhi hukuman kepada Gwat Kong si keparat, dan kalau sampai ada orang luar mendengar tentang peristiwa memalukan itu, tentu kaulah yang bocor mulut dan awas! Aku takkan memberi ampun kepadamu!”

Kedua orang pelayan itu lalu mengundurkan diri dengan ketakutan dan tentu saja mereka tidak berani membuka mulut tentang peristiwa yang terjadi pagi tadi, jangankan kepada orang lain, kepada isteri mereka sendiri mereka tidak berani menceritakan!

Pada malam hari itu, dengan hati penuh harapan, Liok Ong Gun masuk ke dalam kamar puterinya bersama isterinya untuk meminta jawaban dari gadis itu. Mereka mendapatkan Tin Eng masih duduk di atas pembaringan sambil termenung.

“Tin Eng, pikirkan baik-baik bahwa kami berdua hanya ingin menunjukkan jalan kebahagiaan untukmu, maka sebagai seorang anak berbakti kau pun harus mendatangkan kesenangan dalam hati orang tuamu dengan jawaban yang baik,” kata Liok Ong Gun dengan suara halus sungguhpun hatinya masih merasa marah karena teringat akan cerita kedua pelayan tadi.

Sampai lama Tin Eng tidak menjawab, hanya memandang kepada kedua orang tuanya. Kemudian, setelah berkali-kali menarik napas panjang, ia berkata. “Ayah, aku masih belum bersedia untuk terikat oleh perjodohan, harap kau suka maafkan, ayah.”

Timbullah lagi kemarahan dalam hati Liok-taijin, akan tetapi ditahan-tahannya ketika ia bertanya dengan muka merah, “Sudah kau pikirkan baik-baik?”

“Sudah, ayah,” jawab gadis itu sambil menundukkan kepalanya.

“Apakah alasanmu maka kau menampik? Apakah tidak suka kepada Gan-ciangkun?”

Tin Eng menggeleng kepalanya. “Tidak ada alasan apa-apa, ayah. Hanya aku belum ada pikiran untuk menikah. Aku tidak suka mengubah keadaan hidupku dan ingin tinggal seperti biasa saja.”

“Anak bandel!” Liok-taijin membentak dan kini ia tidak dapat menahan marahnya yang tadi ditekan-tekannya. Kemarahannya meluap dan ia berkata, “Kau anak tidak berbakti yang hanya mengecewakan dan membikin malu orang tua! Diatur baik-baik kau tidak menurut, dan membiarkan dirimu dihina oleh cinta seorang pelayan rendah!”

“Ayah!” Tin Eng memandang ayahnya dengan mata terbelalak.

“Hmm, kaukira aku tidak tahu? Anjing she Bun yang hina dina itu telah berani menyatakan di depan pelayan lain dan susiok-couw bahwa ia mencintaimu! Alangkah rendahnya, sungguh memalukan! Dan kau kau sekarang menolak pinangan Gan-ciangkun, bukankah ini

menimbulkan dugaan seakan-akan kau .... membalas cinta anjing itu ??”

“Ayah !!”

“Tutup mulutmu, aku tidak menyangka bahwa kau membalas cintanya karena tadi pun kau hendak membunuhnya. Akan tetapi, kalau kau menolak pinangan ini, tentu akan timbul dugaan seperti itu dalam hatiku. Pendeknya kau harus menerima pinangan ini dan hari pernikahan akan ditetapkan kemudian, dan kau tidak boleh membantah. Aku telah menerima pinangan itu dan tak boleh dibatalkan lagi!”

“Ayah ...!” Akan tetapi Liok Ong Gun telah melangkah pergi, diikuti oleh isterinya yang takut kalau-kalau suaminya marah apabila ia tinggal di kamar puterinya.

Tin Eng menangis lagi dengan sedihnya. Ia merasa mendongkol dan gemas sekali kepada Gwat Kong karena pemuda itulah yang menimbulkan gara-gara ini. Kalau saja Gwat Kong tidak bersikap seperti pagi tadi, tentu ia lebih mudah untuk menolak pinangan itu. Apa daya? Ayahnya telah memaksa dan ia cukup maklum akan kekerasan hati ayahnya.

Post a Comment